
Pandangan tajam Bulan berubah menjadi gugup. Bola matanya bergerak kesana sini untuk menghindari tatapan dalam Arkana.
"Kenapa diam? Kau begitu marah sampai menuduhku yang tidak-tidak. Memangnya kalau waktu itu kita tetap berpacaran, akan menjamin salah satu diantara kita tetap setia? Jika aku membatalkan pertemuan itu, dan mengatakan aku mendadak pindah krluar negeri memangnya kau percaya?"
"Tanpa saling bertemu pun kita sudah saling percaya, aku bahkan menceritakan semuanya, begitu pula denganmu. Tapi kenapa kau tidak jujur saja waktu itu? Kau tidak mempercayaiku?" Suara Bulan terdengar gemetar.
Bukan berniat mengungkit itu kembali. Hanya saja ia ingin semua nya jelas, alasan Arkana sampai membohonginya.
"Aku sangat percaya padamu, aku melakukan itu karena aku tak mau memberimu ikatan tak pasti. Ku kira kau akan mendapatkan yang lebih baik dariku, tapi kau malah menutup diri seperti ini."
"Tidak ada yang sebaik dirimu.." Ucap Bulan pelan, membuat Arkana mematung.
Dari sudut hatinya, Arkana sangat ingin tau, apakah perasaan Bulan masih sama seperti perasaannya? Setelah mengetahui yang sebenarnya, siapa kah yang sangat berkesan bagi Bulan? Ia yang selalu mengisi hatinya melalui pesan, atau Bima yang mewujudkan pesan cinta itu dengan kebohongan?
"Hei.., apa karena ini kau ingin kedua orang tuamu bercerai?" Serobot Bima tiba-tiba, ia datang dengan naskah ditangannya.
Bima menunjukkan naskah, dimana diceritakan tokoh wanita mengalami pelecehan oleh ayah nya.
Kedatangan Bima pun membuyarkan reuni perasaan Bulan dan Arkana. Pasangan mantan kekasih itu langsung saling membuang muka, seolah tak terjadi apa-apa.
"Ini hanya karangan kan?" Tanya Bima sambil tertawa kecil, ia menarik satu kursi dan bergabung dengan mereka.
Jujur saja ia masih sangat penasaran, kenapa waktu itu Bulan mengatakan ingin orang tuanya bercerai. Dan saat membaca naskah itu, Bima langsung berpikiran kesana.
Melihat Bulan tak memberikan jawaban, senyum Bima memudar. "Bulan?"
"Jangan menyebarkannya, tidak ada yang tau bahwa itu kisah hidupku, selain dirimu."
Bima menutup naskah itu dengan kasar, wajahnya menjadi jengah. Bagaimana bisa seorang ayah bersikap seperti itu? Kini ia bisa menebak, kenapa Bulan begitu menutup diri.
Sementara Arkana menarik nafas berat. Padahal ia hendak mengatakan itu hanya karangan, tapi Bulan malah membenarkan.
"Jadi sejak dulu kau diperlakukan begitu, dan sampai sekarang kau hanya diam saja?!"
brrak..! Arkana menendang kaki kursi yang diduduki Bima.
"Kecilkan suara mu..!" Bisik nya geram.
__ADS_1
Bulan juga tak kalah geram, hampir saja ia menyumpal mulut Bima dengan asbak.
Bima mendekat, lalu berbisik "bagaimana dengan ibumu? Apa kau tidak bercerita padanya?"
"Dia sudah pernah cerita, tapi ibunya tak percaya. Karena memang dia dan ayahnya sangat dekat sejak bayi." Ujar Arkana juga berbisik, bukannya membahas naskah yang hendak di garap, mereka malah jadi membahas kisah hidup Bulan.
"Apa itu alasanmu tinggal dicafe?" Timpal Bima penasaran, padahal Bulan punya rumah yang cukup besar.
Bulan mengangguk, apa kini akhirnya ia punya teman yang bisa diajak cerita. Dan apa mungkin ia bisa menemukan solusi atau bantuan?
Sedikit ragu, namun Bulan memilih bercerita kepada mereka.
"Sebenarnya, dia adalah ayah tiriku. Dan dia mengancam akan membongkar masalalu ibuku, jika aku mengadukan hal itu pada ibu. Masalalu bahwa aku adalah anak diluar nikah. Itulah kenapa aku memilih keluar dari rumah. Aku tak ingin menyakiti ibu..." Tangis Bulan pecah didepan dua pria itu. Ia menyeka derasnya air mata yang mengalir.
Sungguh takdir hidup yang menyedihkan. Lahir sebagai anak diluar nikah, ditinggal pas lagi sayang sayangnya, di lecehkan pula oleh ayah tirinya.
"Jadi dia ayah tiri mu? Kenapa kau tidak menceritakan itu padaku?" Arkana terlihat iba, serta geram terhadap ayah tiri nya Bulan.
"Bagaimana aku mau cerita? Kau menghilang begitu saja seperti hantu!" Jawab Bulan kesal sambil terisak.
Bulan menggeleng, ia sendiri tak pernah tau. Sosok seperti apa pria yang membuat ibunya mengabaikan cinta Raul, hingga Raul memiliki perasaan nyeleweng kepadanya.
Bima inisiatif menyeka air mata Bulan dengan tissu, baru hendak mengusap, tangannya di pukul oleh Arkana.
"Jangan bertingkah sok dekat." Kesal Arkana.
"Loh.., kami memang dekat. Kami sudah berteman dari kecil." Kilah Bima, ia tak suka karena Arkana tak berhak mengatakan itu.
"Teman? Bukankah kalian selalu bertengkar?!" Arkana mengangkat sudut bibirnya, harus diakui, ia memang cemburu.
zzzzrrroootttt.......!
Bulan mendorong kuat ingusnya, sampai dua pria itu menutup mulut dan merasa mual. Kesedihan membuat hidungnya tiba-tiba terpenuhi oleh ingus.
...~~...
Pukul 21:00...
__ADS_1
Bulan turun dari Bus, ia berjalan kaki menyurusi gang untuk menuju ke cafe. Sebenarnya ada jalan ramai yang langsung menuju cafe, tapi itu cukup jauh dan Bus tak bisa masuk. Jadi karena malas berjalan terlalu jauh, Bulan lebih sering melewati gang sepi itu agar lebih dekat.
Kedua matanya masih sembab, ia menumpahkan semua keresahannya selama ini kepada Bima dan Arkana. Dua pria itu menyarankan agar Bulan jujur saja, namun ia tak mau ibunya terluka.
"Aku akan mencari solusi, agar dia bisa menjauh tanpa menyakiti ibu mu." Ucap Bima saat di kantor tadi. Membuat hati Bulan sedikit tenang.
"Kalau kau butuh bantuan, bilang saja pada ku." Ujar Arkana pula saat menenangkan tangis Bulan tadi.
Sepanjang langkahnya, Bulan tersenyum tipis. walaupun masalahnya belum selesai, hatinya sedikit lega karena telah bercerita. Kini ia punya tempat berbagi, ternyata terbuka kepada seseorang tak seburuk itu. Justru ia merasa mendapatkan perlindungan.
drap.. drap... drap...
Langkah Bulan terhenti saat mendengar langkah kaki lain. Langkah itu terdengar berat dan jenjang.
Sesaat Bulan merasa takut, ia menoleh perlahan sembari meremas kuat tali tasnya.
Ia tak mendapati siapapun dibelakang, hanya dedaunan kering yang bergerak karena hembusan angin.
Bulan pun kembali melanjutkan langkah. Kali ini ia berjalan agak cepat. Tiba-tiba sosok tinggi kekar muncul dari balik pepohonan, tepat di depan nya.
Langkah Bulan terhenti, ia mengepalkan kedua tangannya yang dingin akibat terkejut.
"Siapa..?" Bulan tak mengenali orang tersebut, karena dia memakai topi serta masker hitam.
"Good night..." Ujar pria itu dengan suara berat. Ia membuka maskernya, menampakkan wajah sangar brewokan yang tak asing. Ya, dia adalah Darren, Bos Scorpio yang baru saja membebaskan diri dari penjara.
Nafas Bulan berderu cepat, ia sangat ketakutan. Tak membuang waktu, Bulan berbalik arah dan berlari secepatnya.
"TOLONG....!" Teriaknya seraya berlari sekuat tenaga.
"aisss...! sial..! Seharusnya aku tidak lewat sini tadi." Ia terus berlari sejauh mungkin.
Darren hanya mengikuti Bulan dengan langkah jenjang nya. Ia memainkan belati di tangan kanannya.
Saat dirasa Bulan semakin jauh, ia membidik punggung gadis itu kemudian melempar kan belati sekuat tenaga.
...%%%%%%%%%...
__ADS_1