Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 47 : Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

hhoooaaammm.....


Bulan menguap lebar, sembari menunggu lembaran demi lembaran naskah yang keluar dari mesin print. Semalaman ia tak bisa tidur, karena memikirkan perkataan Arkana, bisa dibilang itu sebuah lamaran, karena Arkana mengajaknya menikah.


Disela kebimbangan dan rasa kantuk, terselip senyum sipu disudut bibirnya. Ternyata ia dan Arkana telah ditakdirkan saling terikat satu sama lain.


"Sejak dulu perlakuannya memang selalu manis dan tak terduga." Gumamnya membayangkan setiap prilaku Arkana.


"hai, calon istri..." Bima datang dan menyenggol jahil bahu Bulan.


Bulan menoleh dengan tatapan sinis, bibirnya bahkan diangkat sebelah. Lagi membayangkan hal-hal indah, Bima malah membuyarkannya.


"Calon istri..? Otakmu tidak waras?" Geram Bulan sambil melihat sekeliling, ia memastikan tak ada orang yang mendengar itu.


"Ayolah, kau tidak perlu malu sayang.." Bima semakin menggoda gadis itu dengan tatapan jahil, ia bahkan mendongakkan dagu Bulan.


Tak ayal Bulan langsung menepis itu dengan tatapan tajam, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Arkana melihat hal itu.


"Kau sudah gila? Bagaimana kalau ada yang melihat?"


"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat?" Potong Bima sambil mendekatkan wajahnya. Ia bahkan memainkan sebelah mata, sungguh tak menyangka perasaannya dibalas secepat itu.


"Bima, aku..."


"Aku ingin kita menetapkan tanggal lamaran." Sergah Bima dengan yakin, ia melangkah secepat yang ia bisa. Agar tak kehilangan gadis yang berhasil membuat hatinya berdebar setelah puluhan tahun.


"Tanggal apa..?" Bulan terhenyak, kedua matanya membelalak.


"Lamaran, L.A.M.A.R.A.N. Kau tidak tau? Lamaran adalah hari sakral dimana kita bertukar cincin untuk mengikat komitmen sebelum hari pernikahan." Bima menerangkan secara detail, dengan kedua mata berbinar, tatapan lekatnya tak terlepas dari kedua bola mata gadis manis itu.


"Kita..? Lamaran? Kau dan Aku?" Tunjuknya bergantian. "Kau sudah gila?!" Bulan menendang tulang kering Bima, agar ia berhenti meracau.

__ADS_1


Bima merintih pelan, namun secepat kilat tangannya menarik lengan Bulan yang hendak pergi dari sana. Ia mendorong tubuh gadis itu ke dinding lalu memegangi kedua bahunya.


"Berhentilah bersikap canggung, cepat atau lambat orang kantor akan mendengar kabar ini, jadi jangan terlalu kaku..."


"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Bulan memotong, ia sungguh tak mengerti dengan perkataan ngawur Bima.


Melihat wajah Bulan yang serius, Bima perlahan menjauh. Apakah mungkin ia belum mengetahui bahwa ibunya datang kerumah dengan membawa lamaran.


"Ibumu belum cerita?" Tanya Bima menatap ragu.


"Cerita apa? Berhentilah bercanda."


Bima menjadi ragu, benarkah informasi Saras mengenai Bulan yang jatuh cinta kepadanya? Atau sebenarnya Bulan membicarakan orang lain, dan Saras salah tanggap. Jika memang benar Bulan mencintainya, maka Bulan pasti tidak bingung dengan tingkahnya barusan. Apalagi raut wajah Bulan benar-benar menunjukkan, tidak tau apa-apa.


"Apa ...?" Bulan menanyakan kembali, ada apa sebenarnya.


"Pernyataanku waktu itu, apa tanggapanmu?" Wajah Bima tiba-tiba menjadi serius.


Karena bahasa Bima terlalu formal, ia pun malah terpikirkan pekerjaan. "Tentang tayang perdana?"


"Tentang perasaanku," Bisiknya dengan suara dalam.


"Kau...serius dengan itu?" gugup Bulan menundukkan pandangan.


"Kau menganggapku main-main?"


Bulan memejamkan mata sejenak, ia memberanikan diri untuk memberitahu, bahwa sudah ada orang yang mengisi hatinya.


"Sebenarnya aku..dan..."


"Arkana?" Potong Bima, ia sudah bisa menebak. Sahabatnya itu memang selalu selangkah lebih maju dibandingkan dirinya.

__ADS_1


Bulan mengangguk, Bima pun menarik tangannya dan memberi jarak untuk Bulan.


"Padahal aku juga sangat mencintaimu." Ucapnya dengan tatapan goyang, bibirnya tersenyum. Namun tak ada sedikitpun binar dikedua bola mata itu.


"Lagipula sejak awal kau memang miliknya..."


"Maaf," Lirih Bulan, ia pun menatap nanar pria yang semula di anggap cinta pertama itu.


...~~...


Braakkk!


Bulan melemparkan tasnya keatas meja makan. Membuat Saras yang tengah fokus memasak terkejut.


"Ada apa sih Bulan..! Bikin kaget saja.."


"Bu..! Ibu bilang apa pada Bima? Lamaran? Ibu sudah gila? Kenapa ibu tidak bertanya padaku dulu sih..! Yang aku maksud itu Arkana, ibu jadi melukai perasaan Bima dua kali lipat karena tindakan itu.!"


Bulan mengoceh panjang lebar bak burung beo. Suaranya bahkan menggema di rumah mewah itu. Mulutnya bak hendak melahap sang ibu.


"Loh kamu bilang mantanmu, ya Bima kan? Salah ibu dimana? Ibu cuma membantu mempercepat saja agar kalian tidak putus nyambung lagi."


"Salah ibu dimana? Salah ibu itu, karena tidak bertanya kebih dulu padaku..! Mantanku itu Arkana Bu, dia dan Bima membohongiku. Makanya kubilang aku jatuh cinta lagi pada mantanku. Itu Arkana, Bukan Bima... haaggg!!" Bulan menghantukkan kepalanya keatas meja.


"Lah, ya itu berarti salahmu! Kenapa tidak cerita sama ibu kalau begitu kejadiannya. Jadi kenapa bisa Bima yang menemuimu waktu itu?"


"Berhenti mencampuri urusan anak muda!" Bulan melirik tajam, kemudian ia mengambil tasnya hendak memasuki kamar.


"oh iya, Pak Tara ingin makan siang bersama kapan-kapan. Seperti nya dia memang menyukai ibu." Ucapnya malas, namun ia harus menyampaikan itu. Karena permintaan Pak Tara.


"Makam ayahmu bahkan belum kering, kenapa kau membicarakan pria tua itu?" Tukas Saras kesal.

__ADS_1


"Ayahkan jadi abu, dia sudah sangat kering." Cetus Bulan tak menoleh, bagaimana pun ia harus berhasil mendekati Pak Tara dengan cara pribadi, untuk bisa mengorek masalalu sang ibu.


...*************...


__ADS_2