Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 34 : Keputusan


__ADS_3

Bulan terbangun dari tidurnya, mata bengkak, bibir pun ikut sembab. Ia bahkan tak menjenguk sang ibu malam ini. Semalaman ia benar-benar menangis karena merasa sangat bodoh telah di permainkan dua lelaki itu.


"Acar timun, pewangi jeruk, alamat rumah, dan nomor teleponku. Pantas saja dia tau itu semua, dia bahkan terus bertanya apa aku tidur di rumah. Dia tau semua tentangku, dan aku tak menyadari itu. Bodoh sekali..!"


Ia meracau sambil memijat kedua matanya agar bengkak berkurang. Bagaimana pun ia harus tetap bekerja. Apalagi hari ini syuting terakhir.


Bulan bangkit dan memberi semangat kepada dirinya sendiri. "Ayo Bulan, kau harus profesional. Anggap saja ini tak pernah terjadi..!"


...~~~...


Bulan tiba di kantor sambil membawakan satu kantong berisi kopi premium, kopi terbaik yang ada di cafe. Ia akan memberikan itu kepada Pak Tara sebagai permintaan maaf karena telah mengacaukan acara kemarin.


tok..tok.. Bulan mengetuk ruangan Pak Tara.


"Masuk..." Seru Pak Tara yang baru saja tiba di sana.


Bulan masuk, kemudian membungkukkan badannya. "Selamat pagi Pak."


"Pagi..." Pak Tara menyimpulkan tanya di wajahnya.


"Ada perlu apa Bulan?"


Bulan mendekat, lalu meletakkan kantong berwarna hitam itu di atas meja. "Sebelumnya saya mau minta maaf atas kejadian kemarin Pak. Ini kopi terbaik yang ada di cafe saya. Saya harap bapak menerima ini sebagai permintaan maaf saya. Saya siap menerima surat peringatan, atau potong gaji pun siap Pak."


"ffftt... Kau ini," Pak Tara menahan tawanya.


"Saya akui acara kemarin memang sangat berantakan. Saya juga dengar kamu di marahi oleh Bima habis-habisan. Respon publik tak begitu negatif, mereka bahkan penasaran dengan latar belakang mu. Untuk kali ini saya maafkan, tapi jangan diulangi lagi."


Bulan sangat lega mendengar itu, kedua matanya bahkan langsung berbinar. "Terimakasih pak, terimakasih..."


"By the way, saya tidak minum kopi." Pak Tara tersenyum lebar.


"Bawa pulang saja pak, untuk anak atau istri bapak." Itu kopi rendah kafein, jadi aman bila di konsumsi remaja ataupun ibu-ibu.


"Saya tidak berkeluarga."


"hah..?" Bulan meneguk ludah, sudah tua begini belum berkeluarga? Kasihan sekali.


"Kalau begitu.., saya bawa lagi kopinya?"

__ADS_1


"Silahkan, kasih saja rekan-rekan yang lain."


Bulan membawa kembali kantong hitam itu keluar. Andai saja ia tau kalau Pak Tara tidak suka kopi, pasti dia bisa memberikan yang lain.


"Enak saja kasih yang lain, kopi mahal ini. Mending ku bawa pulang lagi." Bulan menimang-nimang kantong itu sambil bergumam.


Saat memasuki ruangan kerja, ia berpapasan dengan Arkana dan Bima yang baru tiba.


Bulan tak menghiraukan itu, ia lewat saja seolah tak mengenal dua pria menyebalkan itu.


"Ada meeting jam 11 nanti." Ucap Bima kepada Bulan, namun gadis itu acuh.


"Bulan. Kau tak mendengarku? Bersikaplah profesional seperti yang kau katakan."


"Aku sudah tau." Ketus Bulan tanpa berbalik. Ia bersumpah akan bersikap seolah tak pernah mengenal mereka.


--


Tepat jam sebelas siang, berkumpulah mereka di ruangan meeting guna membahas ending. Di novel, Bulan menyusun ending cerita dengan sangat memuaskan pembaca, namun Pak Tara memutuskan untuk dimenit-menit terakhir diberi plot yang sangat membekas di hati para penonton.


"Belakangan ini kisah sad ending banyak digemari, kenapa tidak membuat adegan yang sedikit menyentuh?" Ujar Bima, ia siap menambahkan cerita apabila di setujui Pak Tara.


"Atau ending yang menggantung, ada ketidakpuasan tersendiri, namun membekas. Ending semacam itu juga akhir-akhir ini sedang populer." Timpal Arkana, ia juga merasa hambar dengan kisah ending yang klise seperti ini.


"Benar, akhir bahagia adalah impian semua orang." Ujar Arkana menatap sendu, tatapannya mengandung banyak arti yang tak terucapkan.


"Jadi happy ending?" Tanya Pak Tara memastikan, jika banyak yang memilih begitu. Ia akan menurut saja.


"Iya.." Sahut Bulan tak mengalihkan tatapan dalamnya dari wajah Arkana.


Bima yang menyadari arti tatapan itu hanya bisa menghela nafas berat. Apakah sekarang posisinya sebagai cinta pertama Bulan telah tersingkir? Atau apakah kini ia masih menjadi kenangan buruk bagi Bulan?


"Aku mencintaimu..." Lirih Arkana, "kita akhiri saja dialognya dengan itu." imbuhnya lalu mengalihkan tatapan dari mantan kekasihnya.


"Sudah membuat script penutupan nya?" Tanya Pak Tara pada salah satu tim kreator.


"Sudah Pak." Kepala tim kreator itu memutarkan script penutupan ke layar monitor.


Tertulis dengan huruf besar disana nama-nama orang yang berkontribusi. Serta nama-nama brand yang memasang iklan di film tersebut.

__ADS_1


"Apa itu BAB?" Tanya Arkana, kenapa singkatannya sangat jorok seperti itu? Meskipun hurufnya dihias dengan warna cerah, tetap saja itu singkatan dari hal jorok.


Kepala tim itu tersenyum lebar, "ini nama kalian. Bima, Arkana, Bulan."


Mendengar itu Pak Tara tertawa ngakak. "hahahhahahaha... Kenapa harus BAB? Kan bisa BBA, atau ABB."


"Kau mau membuat orang semakin memandang kita konyol?!" Ucap Bima menatap sinis.


"Pak Tara saja tertawa, kenapa kau selalu marah-marah? Kan bisa kasih tau baik-baik." Gerutu Bulan menyindir.


"Orang-orang seperti kalian ini kalau dihalusin ngelunjak." Ketus Bima tak terima.


Bulan menyulut Bima dengan kedua bola matanya, andai ia punya blender raksasa pasti ia sudah membuat Bima menjadi jus.


"Apa..?" Bima balik melempar raut wajah kesal.


"Apa..?!" Bulan semakin membulatkan matanya.


"Ini bukan saat yang tepat untuk menjalin kisah masalalu, jadi lupakan dendam kalian dan fokuslah pada pembahasan kita." Potong Pak Tara, ya ia sudah dengar bahwa Bulan dan Bima dulu pernah berpacaran.


...~~...


Seharian kantor ini terasa seperti neraka bagi Bulan. Dua pria tak tau malu itu benar-benar menyebalkan. Satu dari mereka pun tak ada yang meminta maaf. Bukankah seharusnya mereka memberikan penjelasan?


"Sial...!" Rutuknya sambil menendang dinding koridor rumah sakit. Ia hendak menjenguk ibunya, tapi pikirannya malah berantakan. Ia tak mau menunjukkan wajah menyedihkan itu kepada sang ibu.


Untuk itu, di depan pintu ruang rawat sang ibu. Bulan melatih otot wajahnya agar terlihat rileks. Ia bahkan berlatih tersenyum lebar, seolah semuanya baik-baik saja.


Saat dirasa senyumnya sudah sempurna. Bulan membuka pintu, namun seketika senyum sumringah itu lenyap kala melihat Bima dan Arkana ada disana.


"Bulan, kemarilah. Ada yang ingin kami bicarakan." Panggil Ayana melambaikan tangan.


Bulan mendekat dengan menyeret langkahnya. Tidak bisakah sehari saja ia mengistirahatkan otaknya dari dua pria tak berperasaan itu?


"Apa?" Tanya Bulan tak penasaran, pasti soal gugatan itu lagi. Ia yakin Ayana pasti kesana untuk membujuk ibunya agar tetap melanjutkan gugatan.


"Jika anda kesini untuk membujukku dan ibu, pergilah. Percuma.." Ketusnya, ia dan ibunya adalah satu watak yang sama, yakni keras kepala, susah dibujuk.


Saras menarik nafas, kemudian mencoba bicara kepada Bulan. "Begini nak, karena ini sudah melibatkan banyak orang. Ibu memutuskan untuk melanjutkan gugatan."

__ADS_1


"APA...??!" Ucap Bima, Arkana, dan Bulan serempak.


...%%%%%%%%%...


__ADS_2