
30 detik Arkana memagutkan bibirnya pada sang mantan kekasih, namun tak ada penolakan. Gadis yang ia cium itu malah mematung di tempatnya dengan kedua tangan mengepal.
Perlahan Arkana melepaskan cium4nnya, ia tersenyum tipis sembari menatap lekat mata gadis yang tengah membeku itu.
Saat tersadar, Bulan langsung berdiri dengan kedua kakinya yang tak bertenaga. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian melangkah secepat mungkin dari tempat itu.
"Kau tak memukulku?" Tuntut Arkana, membuat langkah Bulan terhenti.
"Tanganku sakit..!" Ketusnya kemudian beranjak keluar. Ia benar-benar malu, jantungnya bahkan seperti belum kembali dari awang-awang.
Arkana tertawa kecil, "hhh.., padahal dia bisa menggunakan tangan satunya." ia mengusap bibirnya dengan ibu jari, dan didapati sedikit warna lipstik Bulan.
Bulan memasuki lift dengan tergesa, tubuhnya terasa gersang. Membuatnya ingin sekali berendam ke dalam kubangan es.
"Kau habis berciuman?" Tanya salah satu rekannya dengan tatapan jahil, ia melihat garis lipstik Bulan yang keluar dari jalur.
"Tidak..! Sungguh tidak..!" Sanggah Bulan cepat. Ia langsung mengusap bibirnya menggunakan lengan baju.
"hahahahah.. kenapa wajahmu merah? Aku hanya bercanda. Lain kali pakai lipstik waterproof agar tak belepotan saat kau makan. Beli lah denganku, akan kuberi harga diskon." Ucapnya seraya tertawa, ia percaya tak mungkin ada orang berciuman ditempat kerja.
Saat pintu lift terbuka, Bulan langsung keluar menuju cafe. Ia memesan dua cup es kosong, dan langsung menenggak habis keduanya.
"aaaggrrhh..! Panas sekali, panas...." Keluhnya seraya terduduk lemas, bayangan Arkana tak hilang dari kepalanya. Dadanya terus saja bergemuruh, apalagi saat terlintas di otaknya, Arkana yang dengan lembut mEnciumnya.
"haisss...! Dasar pria penipu itu! Seenaknya dia mencampakkanku, menipuku, lalu sekarang menciumku?! Awas saja kau Arka...!" Rutuknya tak henti-henti, Arkana membuat jiwa damai Bulan bergejolak seperti mau meledak.
ddrrrttt... drrttt...
Ponselnya berdering, Bulan tersenyum saat melihat ibunya yang menelpon. "Ada apa bu..?"
π "Bulan, kau sedang sibuk? Ibu didepan kantor mu." Saras tengah menenteng makan siang, sup kerang kesukaan putrinya. Ia juga berniat berkunjung, karena ia belum pernah mengunjungi tempat kerja sang putri.
"Benarkah? Ibu dimana?"
π "Di depan pintu putar,"
"Aku akan kesana, tunggu ya.." Bulan langsung menutup telepon, lalu berlari menuruni anak tangga.
Hanya melewati satu tangga, Bulan sudah sampai di lobi. Bulan langsung melambaikan tangan saat melihat sang ibu.
"Ibu membawakan sup kerang untukmu." Saras menenteng kantong berwarna coklat itu.
Bulan pun tersenyum lebar, "apa ibu menang sidang?"
"Tidak, tapi ada kabar bahagia. Seorang anonim mengembalikan semua uang para korban, termasuk tante Ayana."
Ibu dan anak itu bergandengan, Bulan hendak membawa sang ibu ke cafe untuk makan siang bersama.
"waahh.. Benarkah? Berarti ibu mendapatkan komisi penuh?"
__ADS_1
"Tentu saja, tante Ayana membayar sesuai yang dia janjikan, yakni 3 kali lipat."
"wahhh..! Bu, belikan aku ponsel baru. Aku malu memakai ponsel usang ini. ya..ya.. pliss...." Rayu Bulan seraya mengguncang lengan sang ibu.
"Kau sudah bekerja tapi masih minta ibu? Kemana gajimu?"
"Kalau ibu yang belikan pasti awet ponselnya hahah.."
"ch, dasar anak ini. Baiklah, nanti sore kita beli ponsel baru." Saras mengusap pucuk kepala Bulan. Anak gadisnya itu langsung bergerak riang seperti cacing kepanasan.
"Bulan..," Panggil Pak Tara dari arah belakang, ia hendak bertanya, kenapa gadis itu belum juga mengirimkan outline naskah Rapuh.
Pak Tara setengah berlari menghampiri Bulan, sekaligus ia ingin memastikan bahwa putrinya itu baik-baik saja.
Bulan dan Saras menoleh bersamaan, langkah Pak Tara pun langsung terhenti. Ia berbalik dengan cepat saat menyadari wanita yang tengah bersama Bulan, adalah Saras.
"Ada apa Pak?" Tanya Bulan, ia bahkan melangkah kearah Pak Tara.
Sementara Pak Tara malah semakin menjauh. Tak pelak Bulan merasa aneh dengan tingkahnya.
"Pak, ada apa manggil Saya?" Bulan semakin penasaran, ia berlari kecil mengejar langkah Pak Tara.
"Pak Tara.." Panggil Bulan dengan suara keras.
Langkahnya terhenti, pria itu menggaruk pelan tengkuknya.
Saras mengamati punggung pria itu, terasa tidak asing. Dan saat Bulan memanggil namanya, Saras semakin yakin itu adalah pria yang ia kenal.
deg...
Pak Tara tak bisa lagi menghindar, Saras mengenalinya. Mau tak mau ia berbalik, dan menatap wajah wanita yang selama 30 tahun ini bersarang dihatinya.
Saras dan Tara bertukar tatapan dalam. Mereka saling pandang, seperti ada banyak hal yang ingin disampaikan.
Melihat itu, Bulan mengerutkan dahinya. "Kalian saling kenal?"
"Tidak.." Ucap Pak Tara.
"Iya..," Sahut Saras.
Tampaknya salah satu diantara mereka tak mau mengulik masalalu.
"Kau lupa denganku? Atau pura-pura tak mengenaliku?" Saras tampak yakin, bukannya ia mau mengungkit masalalu. Hanya saja ia perlu memastikan, apakah Tara mengetahui bahwa Bulan itu putri mereka.
Bulan yang tak tau apa-apa pun mengira ibunya salah mengenali orang.
"Bu, perkenalkan ini Pak Tara, CEO kami."
"Apa..?" Saras terkejut, bertambah lagi tanda tanya dibenaknya. Apakah Tara merekrut Bulan, karena dia tau bahwa itu putri nya?
__ADS_1
Setaunya, Tara adalah anak konglomerat yang bergerak di pertambangan. Lalu kenapa sekarang jadi perfilman? Apakah ia salah mengenali? Tapi wajah itu, benar-benar Tara mantan kekasihnya dulu.
"Bu, aku tinggal ketoilet sebentar ya. Bentar saja.." Bulan berlari ke arah toilet, akibat kebanyakan minum air es kandung kemihnya jadi tak bisa diajak berkompromi.
"Kau.., sungguh tak mengenaliku?" Saras mengulang pertanyaannya, ia tau itu Batara, orang yang selama ini masih tersimpan kekal dihatinya.
Pak Tara mendekat, tak ingin ada orang lain yang salah paham, ia membawa Saras ke ujung lorong. "Ikuti aku.."
"Jujurlah, kau tau siapa Bulan kan? Kau sengaja merekrutnya karena kau tau dia siapa?"
"Iya aku tau..! Dia anak ku, putri kita." Ya, ia tau segalanya. Rumor bahwa Saras hamil diluar nikah, membuat Tara menyelidiki apakah benar itu akibat perbuatannya.
"Sekarang aku bertanya padamu, tau kah dia kalau Raul, ayah tirinya?" Imbuh Pak Tara berbisik.
Saras terdiam, tak disangka ternyata Ayah kandung putrinya itu memonitor kehidupan mereka selama ini. Ia bahkan tau nama Raul.
"Seberapa jauh kau mengawasi kami?"
"Sangat jauh. Jadi mari tetap rahasiakan ini, sampai Bulan bisa menerima semuanya."
"Menerima apa..?" Celetuk Arkana yang tak sengaja mendengar obrolan rahasia itu. Ia sedikit curiga, kenapa ibunya Bulan tampak sangat mengenal Pak Tara.
"Arka, tante membawakan sup kerang. Mari kita makan bersama dengan Bima juga." Saras mengalihkan keadaan, sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk menginterogasi Tara.
"Tante sudah menelpon Bima, dia akan menyusul kita. oh iya, dimana cafe nya?"
"Di lantai dua tante, Bulan kemana?"
Saras baru teringat, kalau Bulan sedang ditoilet. "ahh, itu dia." tunjuknya menggunakan ujung dagu.
"agghh, es sialan itu..!" Rutuk Bulan, ia melepas lega nafasnya sembari mensusgesti diri agar tak lagi buang air kecil.
Pandangan Bulan mengedar di lobi, saat ia mendapati ibunya bersama Arkana, tubuhnya mematung ditempat. Kedua mata nya juga terbelalak.
"Bagaimana ini..?" Ucapnya dalam hati, ia berjalan pelan dengan kepala menunduk.
"Tante.., mana sup kerangnya? Aku lapar.." Seru Bima dari lantai dua.
"Ini...!" Saras mengangkat kantong berisikan sup itu.
Takut Arkana membahas perihal ciuman tadi, Bulan pun mendapatkan ide untuk mengajak Pak Tara. Ia yakin Arkana pasti segan untuk membahas itu. Kalau hanya ada ibunya, bisa saja Arkana menyinggung hal itu tanpa rasa canggung.
"Pak, suka sup kerang?" tanya Bulan kepada Pak Tara, yang hendak pergi melalui lift.
"Suka.." Sahut Pak Tara grogi, ujung mata Saras sudah membidiknya dengan tajam, seolah menyuruh agar menjauh.
"Mau makan bersama? Ibu membawakan porsi banyak, ya kan bu?"
"Tidak, porsinya tidak cukup untuk lima orang." Sahut Saras melenggang pergi, ia dan Arkana berjalan menaiki anak tangga.
__ADS_1
...%%%%%%%%%%%...