Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 18 : Orang orang masalalu


__ADS_3

"Siapa..?" Tanya Saras,


"Arka, dia bilang ada hal penting jadi dia mau ke sini."


"Hal penting..?" Saras menyipitkan matanya, tidak salah kan jika ia berharap semacam berita asmara dari putrinya itu. Ia berharap di kenalkan dengan seorang pria yang bisa membuat hidup putrinya sedikit berwarna. Karena sejak 9 tahun lalu, ia tak pernah mendengar putrinya membicarakan pria.


-


Setengah jam setelah selesai makan malam, Arkana pun tiba di sana. Bulan langsung keluar menemuinya. Seperti biasa, penampilannya sangat berantakan. Ia bahkan mengenakan hoodie hitam jumbo dengan celana panjang kebesaran. Mungkin konsep hari ini genderuwo jaman now.


Bulan menyuruh Arkana duduk di sofa ruang tengah, dan menyuguhkan kopi susu.


"Kau tidur di sini?" Tanya Arkana, membuat Bulan mengerutkan keningnya.


Bukankah ada sesuatu yang harus di tandatangani, kenapa malah menanyakan hal tidak penting itu?


"Aku.., tidak. Kenapa?" Anehnya Bulan malah tak keberatan menjawab.


"Tidak apa-apa, ini surat pembeliannya. Setelah kau menandatangani ini, karya mu menjadi hak milik Bumantara flims selamanya. Pak Tara sudah menjelaskan alasan mendesak ini kan?"


Bulan membaca dengan teliti, tertulis bahwa ia akan mendapat bagian jika nanti film mereka di tayangkan di televisi nasional, tak hanya itu, lewat pemutaran streaming pun Bulan mendapatkan 10 persen. Cukup menguntungkan, namun setelah peluncuran film ia di haruskan menghapus Judul tersebut di Platform.


Tanpa ragu Bulan menandatangani surat pembelian itu. Tidak ada alasan untuk ia menolak. Dengan harapan semoga ia dan Bumantara films bisa bekerja sama dalam waktu lama.


"Mau pulang bersama?" tanya Arkana selepas Bulan menutup pena nya.


"h..hah?" Bulan ternganga mendengar itu. Arkana seolah ingin Bulan cepat angkat kaki dari sana.


"Kata mu tidak tidur di sini kan? Jadi aku menawarkan tumpangan."


"Boleh, tapi aku masih harus menemani ibu potong kue."


"Jadi sedang ada acara?" Arkana jadi sungkan karena tiba-tiba datang.


"Tidak, hanya anniversary pernikahan. Ngomong-ngomong kau tau alamat ini darimana?" Perasaan ia tak pernah menceritakan alamat ini sebelumnya.


Arkana bingung, ia menatap lurus ke arah Bulan sambil mencari jawaban yang masuk akal. "Dari..."

__ADS_1


"Bulan, cepat kesini. Sudah saatnya memotong kue, ajak juga Arkana..." Seru Saras dari ruang makan.


"Iya...!" Balas nya dengan seruan pula.


"Ayo, tidak usah sungkan." Bulan mengajak Arkana bergabung. Lagipula Arkana sudah pernah bertemu dengan ibunya, jadi mereka pasti tidak akan canggung.


Raul menyambut Arkana layaknya orang tua pada umumnya. Ia bahkan tersenyum lebar melihat Bulan bisa akrab dengan teman kerja nya.


"wahh, teman mu tampan sekali. Bagaimana Bulan di kantor? Apa dia selalu berantakan seperti ini?"


Namun tidak dengan Arkana, ia tak membalas senyum sapa Raul. Hanya gigi nya yang saling beradu.


"Selamat malam.." ucapnya seraya melempar tatapan jengah.


"Bulan, tante, sepertinya aku menunggu di luar saja. Aku tidak ingin menganggu acara keluarga kalian,"


"Pulang lah lebih dulu, aku bisa naik taksi nanti."


"Aku akan menunggu." Ujar Arkana yakin, lalu ia berbalik meninggalkan ruangan itu.


Bulan tak menjawab, hanya rasa bingung yang terlintas di benaknya.


Mereka pun melanjutkan sesi pemotongan kue. Di barengi Saras yang berdoa untuk pernikahannya, sementara Raul, ia hanya menatap Bulan yang ikut memejamkan mata.


Saat Bulan turut memegang pisau kue bersama ibu nya, tiba-tiba Raul menimpakan tangannya di atas tangan Bulan.


"Untuk tahun ini, mari kita potong kue nya bersama." Ujarnya seraya mengusap lembut punggung tangan Bulan.


"Benar, ayo kita lakukan bersama." Imbuh Saras menyetujui, ini kali pertama ia sekeluarga memotong kue bersama. Ia sangat bahagia, menurutnya momen seperti ini sangat sakral dan menyentuh hati.


Bulan tak bergeming, tak ada senyum kebahagiaan di wajahnya. Nafasnya berhembus kuat, dada nya terasa panas. Untuk kesekian kalinya, ayah nya bertingkah. Memperlakukan Bulan tak senonoh, ia tak menganggap itu perlakuan yang pantas untuk seorang ayah kepada anak gadisnya.


Setelah kue terpotong, Bulan langsung pamit. Suasana hatinya langsung buruk, tatapan menjijikan ayahnya benar-benar membuat dadanya terasa sesak.


Bulan berjalan keluar dengan bingkisan dari ibunya, berupa potongan kue, lauk pauk, serta hadiah berupa ikat rambut dari ayahnya.


Ia langsung menuju ke mobil Arkana yang sudah menunggu di depan. "Ayo.." ucapnya dengan nafas tersengal berat, ia berusaha keras mengontrol emosinya.

__ADS_1


Tanpa bertanya Arkana segera melajukan mobilnya. Ia tau apa yang sedang terjadi dengan Bulan. Hal yang sama sering di ceritakan semasa mereka masih berpacaran dulu. Dikala tak ada tempat bersandar, Bulan menumpahkan semua beban nya kepada kekasihnya yang tak lain adalah Arkana.


*


*


Sewaktu Bulan menginjak remaja...


Bulan mulai menyadari ada yang tidak beres saat berusia 16 tahun. Sejak kecil ia sangat akrab dengan ayahnya. Mereka sering bercanda, bermain bahkan selalu tidur bersama.


Saat berusia 12 tahun, ayahnya sering memeluknya, membelai tubuhnya dan selalu bilang bahwa dirinya semakin menggemaskan.


Sebagai anak yang sudah memiliki akal sehat, Bulan mengatakan pada ayahnya untuk mulai membatasi kontak fisik.


"Ayah, aku malu jika ayah mencium ku. Aku kan sudah besar, teman-teman ku bilang aku sangat manja."


"Sayang, kau kan anak ayah. Kenapa harus malu? Mencium anak nya itu hal yang wajar, itu artinya ayah sayang pada mu."


Selalu begitu, bahkan saat Bulan meminta mereka tak lagi tidur bersama, ayahnya menolak. Ia bilang tak bisa membiarkan Bulan tidur sendiri.


Sebagai ibu, Saras tak merasa ada yang aneh melihat interaksi anak dan suaminya. Ia bahagia melihat mereka sangat dekat, bahkan saat Raul memilih menemani Bulan tidur, ia tak keberatan. Ia malah bahagia melihat Raul sangat menyayangi putrinya.


Tahun demi tahun berlalu, semakin bertambah pula rasa was-was Bulan sebagai seorang gadis yang menginjak usia remaja.


Ayah nya tetap memperlakukannya seperti anak kecil, menciumnya, memeluknya, tapi Bulan mulai mengerti dan menerima. Mungkin saja dirinya lah yang memang salah paham dengan kasih sayang sang Ayah.


Hingga pada suatu hari, hal diluar nalar terjadi. Saat Ibu nya sedang ada pekerjaan di luar kota.


Bulan keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk. Ia menuju lemari pakaian, namun betapa terkejutnya ia saat melihat ayah nya ada di sana.


"Ayah sedang apa di sini?" ia perlahan melangkah mundur, kedua tangannya meremas kuat handuk yang membalut tubuhnya.


"Ayah menyetrika baju mu, jadi ayah pikir lebih baik menyimpan nya langsung di lemari agar kau tidak kesulitan mencari."


"Ayah, berhenti masuk ke kamar ku sesuka hati. Aku bukan lagi anak kecil, aku butuh privasi."


"Privasi..? Bulan, tak ada bagian tubuhmu yang belum pernah ayah lihat. Jadi jangan bersikap canggung."

__ADS_1


...%%%%%%%%%%%%...


__ADS_2