Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 14 : Balas Dendam


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Matahari masih remang, jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 6 pagi. Tapi Bulan sudah duduk di pintu belakang Cafe dengan tatapan tajam. Ia tengah memperhatikan ayam-ayam yang mulai mengais tanah. Beberapa juga berkokok, namun belum ada yang mengeluarkan t4i.


"Astaga..!" Vidia terkejut melihat Bulan jongkok di sana. Kantong sampah yang ia bawa sampai jatuh.


"Bulan? Sedang apa kau sepagi ini?"


"Aku sedang menyusun rencana balas dendam." Sahut Bulan tak menoleh sedikitpun.


"Untuk novel mu? Bukan kah seluruh naskahnya sudah siap.."


"Itu dia...!" Bulan langsung berdiri girang saat seekor ayam jantan mengeluarkan kotoran. Sangat fresh...


"aiishh.. bocah ini tak pernah waras." gumam Vidia, ia beranjak dan tak memperdulikan Bulan yang hendak mengambil t4i ayam itu.


-


07:30....


Bima dan Arkana tiba bersamaan, hari ini mereka memakai mobil sendiri-sendiri karena Arkana akan menghadiri acara salah satu stasiun TV.


"Arka, tunggu aku." Bima berlari mengejar langkah Arkana yang terburu-buru.


"WOY MAKOR..!" Teriak Bulan dengan suara lantang. Membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya.


Bima menoleh dengan mata membelalak, Bulan tengah berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh. Ia hanya mematung, terkejut dan heran tak sempat membuatnya berpikir bahwa Bulan sedang ingin membalas dendam.


Sementara itu, Arkana melihat tangan Bulan yang di balut sarung plastik. Ia pula terkejut mengetahui benda apa yang ada di tangan Bulan. Bulan benar-benar membalas dendam nya?


Bima yang tak tau apa-apa hanya terdiam, hingga saat Bulan tiba tepat di depannya, lalu mengayunkan satu tangan ke arah wajahnya.


SATT...๐Ÿ‘‹


Tangan Bulan menyapu sempurna tepat di pipi... Arkana.


Bulan terbelalak, ia tak bisa mengerem tangannya karena tiba-tiba Arkana berdiri di depan Bima.


Orang-orang pun sangat terkejut karena prilaku Bulan itu.


"Arka..?!!"

__ADS_1


Arkana mual saat aroma tajam itu menusuk hidungnya. Tak habis pikir ia dengan tingkah laku Bulan. Tak terima pipi nya ternodai oleh t4i ayam, ia pun mengambil tangan Bulan yang tak mengenakan sarung plastik, lalu menyapukan tangan itu di pipinya.


"haisss! Jorok sekali kalian ini.. hoeekk.." Bima sungguh geli, namun kejadian ini mengingatkan nya pada suatu momen yang samar.


"Jorok kata mu?!" Dengan cepat Bulan mengoleskan kedua telapak tangannya ke wajah Bima.


"YAAAK...! wanita ini benar-benar sinting! Apa maksud mu hah!" Bima murka dan melepaskan paksa blazer Bulan untuk mengelap wajahnya.


"hei jangan kurang aja kau..!" Pekik Bulan memberontak, namun ia tak bisa mempertahankan blazer nya.


"Kurang ajar katamu? Apa kau sudah tidak waras hah?!"


Bima mengusap kasar wajahnya, setelah partikel kasar hilang tersapu blazer, Bima mengeluarkan air mineral dari dalam tasnya kemudian membasuh wajahnya. Kalau ke toilet keburu kering di wajah tuh kompos basah.


"Apa maksud mu Bulan..?" tanya Arkana pelan, namun matanya menatap tajam. Usia mereka bukan lagi pantas untuk bermain seperti ini. Apalagi tersulut dendam karena masalah masa kecil.


"Arka, pegang dia!" Bima mengambil blazer Bulan yang berlumur t4i, ia hendak mengoleskan itu di wajah Bulan.


Karena kesal dengan prilaku Bulan yang kurang ajar. Arkana pun mengikuti perkataan Bima. Ia mengunci kedua tangan Bulan dari belakang hingga Bulan tak bisa bergerak.


"Kau harus merenungkan perbuatan mu hari ini." Rutuk Arkana kesal, bau tajam itu tak hilang-hilang hingga menembus tenggorokannya.


"Arka.., lepaskan. Aku tidak bermaksud mengotori mu. Aku hanya.."


"Lepaskan Aku... pliss. Bima jangan lakukan itu..!" Ia memberontak seperti sapi mau di sembelih. Namun Arkana tak melepaskannya, Bima pun tak menggubris teriakan gadis gila itu.


"Apa yang kalian lakukan?!" Gertak Pak Tara yang baru tiba di sana. Ia heran saat melihat kerumunan, dan saat mengetahui sumber kerumunan itu, Pak Tara meringis jijik dengan wajah jengah.


-


Beberapa menit berselang....


Setelah membersihkan diri, Arkana, Bima dan Bulan tertunduk di depan meja Pak Tara.


"Berapa usia kalian? Kalian ini bukan anak kecil. Kenapa malah bermain dengan kotoran ayam... menjijikkan..!" gerutunya sembari bergidik jijik.


"Wanita ini yang mulai Pak, dia benar-benar gila..!" Bima menodong wajah Bulan dengan jari telunjuknya.


"Kenapa kau melalukan ini pada kami?" Arkana juga menodongkan tatapan nya, ia tak menyangka dengan perbuatan extrem Bulan tadi.


"Arka, Aku tidak bermaksud mengotori wajahmu, tapi kau tiba-tiba muncul di hadapannya jadi Aku..."

__ADS_1


"Jadi apa alasanmu melakukan ini pada mereka?" Sentak Pak Tara dengan mata melebar. Ia menganggap perbuatan Bulan itu tak sopan, apalagi pada para seniornya.


Mendapatkan bentakan tak membuat Bulan merasa bersalah. Ia bahkan tak berkedip sedikitpun saat Pak Tara menggebrak meja. Hati nya sudah kepalang senang karena akhirnya Bima merasakan aroma sedap t4i ayam. Tapi ia juga merasa bersalah pada Arkana, karena kecerobohannya.


Setelah mendapat rentetan ceramah dari Pak Tara, mereka bertiga pun di persilahkan kembali ke pekerjaan masing-masing dengan peringatan takkan mengulangi kekonyolan itu lagi.


Bulan kembali ke ruangan para Kru, sementara Bima dan Arkana bersama kembali ke ruangan mereka.


Arkana menceritakan alasan Bulan bersikap demikian, yakni untuk membalas dendam. Bima pun syok mendengar itu, jadi anak kecil yang dulu membully nya itu Bulan? Lalu Bulan mengira ia mencampakkannya untuk membalas dendam?


Dan yang lebih tak masuk akal lagi, Pengacara yang akan membantu ibu nya adalah ibunya Bulan?


"Aku tidak percaya dia melakukan ini." Rutuknya mengumpat habis wanita bernama Bulan itu.


"aisss...! Kenapa dunia ini begitu sempit." teriaknya kesal.


Di ruangan Kru, tampak Dania dan Aktor bernama Farrel tengah melalukan latihan. Syuting akan di mulai tiga hari lagi, jadi mereka berlatih membangun chimestry.


"Bulan..!" Panggil kepala kru yang menjabat sebagai ilustrator.


Bulan pun datang menghampirinya.


"Ada apa Pak?"


"Bisa kamu ubah adegan kecelakaan ini menjadi sedikit membekas? Aku sudah mencoba mengubahnya tapi terasa kurang masuk dengan scene selanjutnya. Ku harap kau tidak keberatan."


"Baik Pak..." Sahut Bulan pelan, ia merasa sedikit keberatan. Kecelakaan yang menimpa peran antagonis itu sudah sangat di sukai pembaca, jika ia mengubahnya entahlah pembaca akan komplain atau tidak.


klung..klung..


Ponselnya berbunyi karena ada pesan masuk.


Bulan membukanya, lalu membaca pesan tersebut yang berisikan link aplikasi belanja online. Di pesan tersebut tertulis update pembaruan aplikasi, dengan tinggal klik link berformat APK.


"Perasaan baru di update." gumam Bulan, namun ia tetap menekan link nya. Ia tak berpikir ada yang aneh, padahal seharusnya pembaruan aplikasi adalah melalui playstore.


-


Sementara di tempat lain, seorang hacker berusia muda bersorak girang karena berhasil meretas ponsel Bulan lewat link palsu yang ia kirim. Ia segera mengontrol pergerakan ponsel Bulan, dari mulai ID penulis hingga semua teks yang ada di Platfrom menulis itu di Copy semua.


"Dasar bodoh..!" Ucap pria itu tertawa picik.

__ADS_1


...%%%%%%%%%%%%%...


__ADS_2