Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 23 : Perasaan Terlarang


__ADS_3

Saras mulai membuka kelopak matanya perlahan. Ia merasakan sakit yang amat dahsyat di seluruh tubuhnya saat efek bius mulai hilang.


Leher, kaki dan bahkan punggungnya di pasangi alat penyanggah. Ia bahkan hanya bisa melihat dengan satu matanya, mata kirinya bengkak karena efek robek di bagian pelipis.


"Bulan..." Lirihnya saat pertama kali tersadar. Sejak terhimpit di kepingan mobil, ia hanya memikirkan bagaimana Bulan bisa hidup tanpa dirinya. Walaupun mereka tinggal terpisah, ia tak pernah putus memberikan kasih sayang dan perhatian pada Bulan.


"Ibu..? Ibu sudah sadar? Pasti sakit sekali kan bu?" Tangis Bulan kembali pecah, ia meletakkan dahi di punggung tangan sang ibu sembari menangis sesenggukan.


"Kau sudah makan? Wajah mu pucat sekali nak.." ucap Saras perlahan, ia tak tega melihat wajah putrinya yang seperti sangat kelelahan.


"Dimana ayah mu?" Tanya Saras, kenapa hanya ada Bulan di sana.


Bulan baru tersadar bahwa ia belum memberitahu ayah tirinya itu. Lagi pula ia tak punya nomor Raul. Sedangkan handphone Saras sudah hancur saat kecelakaan tadi siang.


"Aku belum memberitahu dia.."


"Pergilah ke rumah, beritahu ayahmu dan bawakan handphone cadangan ibu yang ada di kamar."


Bulan terdiam sejenak, kemudian ia berpikir untuk pulang. Bagaimanapun ayah tirinya itu harus tau kalau ibunya sedang di rumah sakit.


"Baiklah aku akan pulang, Dokter bilang ibu akan di pindahkan ke ruang rawat. Apa ada hal lain yang harus ku bawakan?"


"Itu saja," sahut Saras merintih, setiap ia bersuara seluruh sel di tubuhnya seperti tercabik-cabik.


"oh iya bu,Arkana, Bima dan ibunya sedang di kantin. Minta bantuan mereka kalau ibu butuh sesuatu selagi aku pulang. Mereka pasti akan kembali sebentar lagi."


"Benarkah..? Ibu harus minta maaf kepada ibunya Bima karena sepertinya sidang akan tertunda..."


"Bu..! Bisa tidak jangan bahas pekerjaan dulu. Ibu baru saja kritis, apa hanya itu yang penting bagi ibu?" Kesal Bulan, baginya keselamatan dan kesehatan ibunya lah yang paling penting. Tapi entah kenapa orang-orang malah memikirkan pekerjaan mereka di banding dengan kesehatan sendiri.


"Maaf..." Lirih Saras, ia salah bicara seperti itu di depan putrinya.


Bulan tak menjawab, ia pergi dengan perasaan gamang tak menentu. Kesal, sedih, dan bersyukur karena sang ibu selamat.

__ADS_1


Tak lama setelah Bulan pergi, Bima dan yang lainnya selesai makan dan berpapasan dengan Dokter yang membawa Saras menuju ruang rawat inap.


"Saras..? Kau sudah siuman? Syukurlah..." Ayana mengiringi ranjang Saras yang tengah di dorong oleh Dua orang Perawat.


"Bulan kemana..?" Arkana mengedarkan pandangannya, ia tak mendapati Bulan di sana.


"Bulan pulang untuk memberitahu ayah nya.." sahut Saras pelan.


"Pulang..?" Langkah Arkana terhenti, itu berarti Bulan akan bertemu dengan Raul seorang diri? Bagaimana jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi?


Arkana langsung berbalik untuk menyusul Bulan. Ia tak mau Bulan sampai kenapa-kenapa, walaupun yang ia tau Raul adalah ayah kandung Bulan. Tetap saja pikirannya tak bisa tenang.


"Hei, kau mau kemana? Kita harus segera pergi..!" Seru Bima, semakin lama lah mereka berangkat ke lokasi syuting.


"Sebentar..!" Jawab Arkana tetap melenggangkan langkah nya.


-


"Ayah..! Ibu kecelakaan, datanglah ke rumah sakit Medisra dan bawakan ponsel cadangan ibu." Pekiknya dari lantai bawah, ia tau Raul bisa mendengar itu.


"Apa..?" Sahut Raul menggema, ternyata ia tidak sedang di kamar, melainkan di dapur.


Bulan terkejut dan berbalik, "ibu... kecelakaan, datanglah ke rumah sakit dan bawakan ponsel cadangan ibu."


"Ponsel ibu mu di kamar, ambillah sendiri." Ucap Raul menatap dalam ke arah Bulan. Anak cantik yang sangat ia rindukan itu akhirnya pulang.


"Aku akan langsung ke sana lagi, aku kesini hanya untuk memberitahu." Bulan berbalik hendak meninggalkan rumah itu.


"Tunggu," Raul menahan lengan Bulan, membuat perasaan Bulan tak enak.


"Kenapa buru-buru? Apa kau tidak merindukan ayah mu?"


"Aku bahkan tidak ingin melihat wajah mu!" Ketus Bulan seraya menepis tangan Raul dengan kuat.

__ADS_1


"Kemarilah, ayah merindukan mu, peluk ayah.." Raul mendekati Bulan, sambil merentangkan tangannya.


"Kau bukan ayah ku! Jangan bertingkah kurang ajar!"


"Apa sangat sulit mengakui ku sebagai ayah? Aku merindukan putri kecilku yang selalu bermanja di pelukanku."


"Kau sendiri yang mengatakan aku tidak berhak memanggilmu ayah. Sekarang kau bersikap seolah pantas di sebut sebagai ayah?"


"Berhenti bertingkah, atau aku akan melaporkan mu ke polisi!" Tambahnya mengecam keras pria berotak miring itu.


"Silahkan.., Menurutmu bagaimana reaksi ibumu kalau aku menyebarkan masalalu nya yang sangat kotor itu?"


Bulan diam seribu bahasa, kedua rahangnya saling beradu. Andai saja ia mempunyai keberanian, ingin sekali ia memutilasi tubuh pria gila itu sekarang juga.


Raul memegang kedua bahu Bulan, sungguh ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang selalu membuat hidupnya bersemangat, gadis yang membuatnya bertahan dalam rasa sakit karena Saras tak pernah mencintainya. Rasa hambar dalam pernikahan itu perlahan berwarna saat tumbuh perasaan terlarang.


"Jika kau ingin ibu mu bahagia, kembali lah ke rumah. Ibu mu sangat menginginkanmu kembali ke rumah ini, begitu pun aku." Bisik pria tua itu dengan senyum iblis nya, ia benar-benar sudah tidak waras. Berungkali ia mencoba berselingkuh agar bisa melampiaskan perasaannya yang tak terbalas, namun ia tak bisa. Ia malah memilih Bulan sebagai tempat pelampiasan perasaan yang terbuang itu.


Bulan meneguk dalam ludahnya, kedua matanya berkaca-kaca. Ia hadir ke dunia ini sebagai anak haram, yang secara tak langsung menjadi penghancur masa depan ibu nya. Padahal seharusnya ia tak berpikir demikian.


Jika ia mengadukan semua ini pada ibunya, apakah ia sanggup melihat ibunya hancur untuk yang kesekian kali? Bagaimana rasanya jika ibunya mengetahui bahwa suami yang selalu ia banggakan ternyata tak lebih dari sesosok iblis jahanam.


"Jika kau merasa kecewa pada ibuku, maka ceraikan dia. Cari wanita yang bisa memuaskan jiwa sesat mu ini..!"


"Aku sudah menemukannya, itu kau.." Lirih Raul, kali ini tatapannya sungguh membuat Bulan jijik.


"Kau benar-benar sudah gila..! Kenapa pria gila seperti mu tidak mati saja..!" Bulan mendorong tubuh Raul menjauh, ia berlari ke arah pintu sambil menangis kencang. Kenapa hidupnya sungguh gila? Kenapa harus begini..? Kenapa...?


Saat membuka pintu, Arkana tiba di sana. Ia baru hendak menekan bel, namun Bulan sudah tiba di sana dengan tangisnya.


"Bulan..? Kau tidak apa-apa? Kenapa kau menangis? Kau tidak apa-apa kan?" Arkana membawa Bulan ke dalam pelukannya, dan Bulan langsung menangis sejadi-jadinya.


...%%%%%%%%%%%...

__ADS_1


__ADS_2