
Ayana menepis dulu rasa khawatirnya pada uang Enam juta dollar yang terancam raib. Ia sadar bahwa apa yang menimpa Saras dan Bulan itu adalah karena dirinya. Untuk itu ia segera menelpon Bima dan memberitahu bahwa Bulan sedang di sekap oleh Bos Scorpio.
Arkana dan Bima yang sudah sampai di gedung Bumantara langsung kembali lagi masuk ke mobilnya untuk meminta bantuan polisi. Akan sangat mustahil mendapat persetujuan pembatalan sidang dalam waktu sesingkat itu.
Para tim yang tak sengaja mendengar kepanikan Bima dan Arkana pun menyebarkan berita bahwa Bulan sedang di sekap. Beberapa dari mereka bahkan merinding karena tak menyadari Bulan di intai saat di Villa kemarin.
-
Kembali pada Bulan yang tengah di seret ke dalam kamar tawanan. Darren melemparkan tubuh yang sudah lemas itu ke lantai, lalu mengunci pintu dari luar.
"Ibu... tolong aku.." tangisnya seraya meringkuk di balik ranjang.
Darren menemui anak buahnya, "Siapkan kuburan."
"Untuk apa Bos?"
"Langsung kubur dia begitu dapat surat pembatalan gugatan." Titah Darren, pria itu memang tak memiliki rasa iba. Ia sudah kepalang murka akibat Bulan menelpon nomor darurat tadi.
Andai saja ia tak menunggu pembatalan gugatan dari Saras, pasti dia akan membunuh Bulan sekarang juga.
Tak lama setelah itu, rombongan mobil pasukan khusus datang mengepung kediaman Darren. Entah siapa yang membawa pasukan khusus itu. Yang pasti orang tersebut menyadari Darren adalah gangster berbahaya.
Puluhan orang berseragam hitam, lengkap dengan senjata laras panjang turun dan memasuki kediaman Darren. Mereka menghabisi anak buah Darren satu persatu. Baku hantam yang amat sengit, suara tembakan dan gemuruh terdengar riuh sampai ke kamar dimana Bulan sedang di sekap.
Di saat yang bersamaan Bima dan Arkana sampai, mereka sangat tepat waktu. Andai saja mereka tiba sebelum pasukan khusus itu, maka mereka pasti sudah babak belur oleh banyaknya antek-antek Darren.
"Kau cari Bulan, aku akan mencari siapa dalang nya." Ucap Bima naik ke lantai atas.
Arkana mengangguk, ia memeriksa satu persatu kamar yang ada di lantai bawah itu.
Tiba lah ia pada suatu pintu yang terkunci, ia mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga, saat pintu terbuka. Ia mendapati Bulan tengah bersembunyi di bawah ranjang karena ketakutan.
"Arka..?" Bulan merangkak keluar saat mengetahui orang tersebut adalah Arkana.
__ADS_1
"Bulan, apa yang terjadi hah? Siapa yang melalukan ini?" Hati Arkana teriris perih saat melihat pangkal bibir Bulan lebam berdarah. Di hidungnya bahkan masih ada bekas darah akibat ulah Darren.
Arkana mengusap bercak darah yang tersisa di pangkal bibir Bulan. Matanya berkaca-kaca, membayangkan betapa takutnya Bulan selama di sekap di sana.
"Aku takut..." Lirih Bulan gemetar, kedua tangannya saling meremas untuk menenangkan diri. Pandangannya goyang, tertunduk ketakutan.
Dari pantulan vas Bunga, Arkana melihat seseorang hendak menyerangnya dari belakang. Ia dengan cepat berbalik dan membekuk orang itu sampai tak bisa bergerak.
Orang yang di bekuk Arkana itu adalah tangan kanan Bos Scorpio, saat mendengar tempat ini terkepung, ia di perintahkan untuk membunuh Bulan, apapun yang terjadi.
Namun sayang ia tak sempat bertindak karena Arkana membekuknya, walau begitu ia masih berusaha mencelakai Bulan dengan menembakkan peluru. Hampir saja Bulan tertembak, untung Arkana segera memelintir tangan pria itu.
"Kau yang memukulinya..?!" Arkana menghajar pria itu tanpa ampun. Wajah pria itu habis babak belur.
Arkana sampai tak sadar tangan kanannya terluka karena sempat menghantam tembok saat pria suruhan itu mengelak. Namun tak cukup sampai di sana, ia juga melayangkan tendangan yang amat keras hingga pria suruhan itu mengeluarkan darah dari mulutnya.
Bulan hanya menutup matanya, ia sangat takut melihat adegan kekerasan seperti itu secara langsung. Perutnya sampai ngilu membayangkan tendangan Arkana yang begitu keras.
Sementara di lantai atas, Bima melihat Bos Scorpio berusaha melarikan diri lewat jendela. Ia pun mengejar Bos penipu itu dan ikut terjun memalui balkon.
Bima berhasil menabrak Darren yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Berguling lah mereka berdua di atas tanah.
Darren menembakkan pistolnya tepat mengenai bahu Bima. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Bima yang terhuyung bersimbah darah.
"sial...!" Pekik Bima merintih kesakitan, hampir saja ia berhasil menghajar penipu itu.
_
_
Di rumah sakit, Bulan mendapatkan penanganan medis, ia di perban bagian tulang hidung karena mengalami retak. Selebihnya ia baik-baik saja, begitu pula dengan Arkana yang hanya mendapatkan perban di ujung tangannya.
Sementara Bima, bahunya di operasi kecil untuk mengeluarkan peluru. Beruntung peluru melesat tak terlalu dalam, tapi Bima tetap di sarankan istirahat selama dua minggu untuk mempercepat pemulihan.
__ADS_1
Kini mereka semua berada di ruang rawat Saras, membahas pembatalan yang sampai saat ini belum di konfirmasi. Ia takut kalau Darren berbuat lebih nekat lagi, kali ini mungkin mereka semua selamat. Tapi tak ada yang bisa menjamin esok hari. Darren tak mungkin tinggal diam saat sarangnya di obrak abrik oleh pasukan khusus itu.
"Sakit..?" Tanya Bulan prihatin kepada Bima. Pria itu tampak bugar walaupun habis kehilangan banyak darah.
"Lumayan, bagaimana keadaan mu? Kenapa kau bisa sampai ke sana? Bukankah kemarin kau berjalan bersama yang lain saat menuju mobil?" Bima mencecar berbagai pertanyaan dengan wajah khawatir, namun nada bicaranya tetap menjengkelkan.
"Entahlah.., tiba-tiba saja ada orang yang membekap mulutku, lalu saat aku sadar aku sudah ada di sana."
"Kalian berdua bukankah seharusnya menjaga Bulan? Kenapa kalian sampai tidak sadar kalau Bulan di culik?" Kesal Saras dari atas ranjang nya.
"Maafkan kami, saat itu kami sangat sibuk karena di kejar waktu." Ujar Arkana dengan tulus, ia sangat merasa bersalah karena tak bisa menjaga Bulan.
"Kalian membuat nyawa Bulan dalam bahaya!" Ucap Raul terdengar marah, ia menatap Bima, Arkana, dan juga Ayana satu persatu dengan wajah jengah.
"Ini semua salah ku, jangan salahkan anak-anak." Ayana sadar akar musibah ini dari dirinya.
"Kalau begitu minta maaflah pada ku dan ibu, jangan malah memikirkan uang saja!" Gerutu Bulan agak keras, sengaja agar di dengar Ayana.
Ayana meneguk ludah mendengar itu, gadis itu sangat tidak sopan. Mulutnya bahkan selalu kurang ajar sedari kecil, membuat Ayana ingin mengikat bibir Bulan dengan tali sepatu.
"Aku sudah melaporkan ini ke polisi, ini sudah tindak kriminal serius karena dia mencoba menbunuh istriku dan menculik Bulan."
Mendengar pernyataan itu Bulan melirik sinis, ia tak menginginkan kepedulian itu. Ia hanya ingin ayah tirinya itu pergi dari hidupnya, tapi tanpa menyakiti ibunya.
"Lalu bagaimana uang ku?" Timpal Ayana panik.
Semua mata langsung menatap jengah ke arahnya, tak terkecuali Bima.
"aisss.. kenapa penipu itu tak menculik ibu saja!" ketus Bima seraya menaik-turunkan pandangannya.
Ayana mengangkat dompetnya untuk memukul Bima, namun bulan mencegah pukulan itu dengan memayungkan tangan di atas kepala Bima.
"Dia sedang sakit..!" Bulan membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Kau membelalak padaku?" Kesal Ayana menaikkan bibirnya.
...%%%%%%%%%%%...