
Melihat hal itu, Arkana yang duduk tepat si sebelah menyenggol lengan Bulan. Agar lebih bisa menahan diri.
"Maaf, maafkan aku.." Ucapnya seraya menundukkan kepala kearah para penonton dan awak media.
"Membawa seseorang yang tak profesional ke atas panggung jumpa fans, bukankah itu memalukan?" Cela salah satu wartawan yang seperti nya bekerja untuk acara gosip, itu sebabnya ia melontarkan pertanyaan yang bisa langsung di goreng.
Bulan sekali lagi meminta maaf, sungguh matanya terasa berat sekali. Padahal ia sudah cukup tidur semalaman.
"Kami di sini untuk menyambut para penggemar, mempromosikan judul baru serta mengajak kalian semua mensupport kami. Sebagai salah satu orang yang bekerja keras mewujudkan film ini, apakah tidak wajar jika kami merasa kelelahan?"
Ujar Dania dengan senyum lebar, ia seolah membela Bulan, padahal ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia dan Bulan berada di tingkat yang sangat berbeda.
"Dania..! Kau memang cantik luar dalam, aku sangat mencintaimu...!" Sorak salah satu fans garis keras Dania.
Persoalan kantuk tadi pun seketika tenggelam oleh para fans yang berebutan hendak mendapatkan foto bersama Dania.
Diantara riuhnya suasana itupun, Bulan tetap digerayangi rasa kantuk yang amat berat. Ia benar-benar tak bisa menahan lagi, hingga akhirnya ia terpejam dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Beruntung Arkana sigap menadahkan telapak tangannya, jadi kening Bulan tidak terbentur.
"Bulan..?" Panggil Arkana, ia mengguncang pelan bahu gadis itu, namun tak ada respon.
"Lihat..! Dia benar-benar tertidur disaat seperti ini?" Seru salah satu wartawan, ia langsung mengambil momen tersebut dengan kamera nya.
Seluruh wartawan dan penonton pun langsung berfokus pada Bulan. Sebagian besar dari mereka menghujat Bulan karena tak profesional. Kilatan kamera tak henti-hentinya mengambil gambar, pasti berita ini akan sangat heboh dan memalukan.
"Cepat bawa dia kebelakang." Titah Pak Tara mencoba menutupi kejadian memalukan tersebut.
Arkana langsung menggendong Bulan, membawanya kebelakang panggung. "Dia tidur atau pingsan?" gumamnya.
"aisss..! Kacau sekali..! Berantakan semuanya..!" Geram Bima menggebrak meja.
Sementara Dania, ia tersenyum kecil seraya membujuk Bima agar tak terbawa emosi.
"Tenanglah, jangan terbawa emosi, para wartawan masih merekam kita." Ia tau Bima adalah orang yang sedikit tempramental.
40 menit kemudian...
HOOOAAAAAAHHHHH......
__ADS_1
Bulan menggeliat, sembari menguap lebar. Sepertinya ia telah melepaskan kantuk nya dengan nyaman di atas sofa itu.
Saat ia membuka mata, ia dikelilingi oleh para tim tak terkecuali Bima dan Arkana. Mereka semua menatap masam wajah Bulan.
"Kau benar-benar tidur rupanya? Kami kira kau pingsan." Ucap salah satu dari mereka.
Bulan tertawa kecil, perlahan reka ulang kejadian sebelum ia tertidur tadi melintas di otaknya. Ia sedang dalam acara jumpa fans, dan tertidur di atas meja? Ini benar-benar kacau.
Di hadapannya, Bima duduk tertunduk dengan kedua lengan yang di tumpu ke atas paha.
klik.. klik.. klik... Suara korek api berbahan stainless itu membuat semua orang hening, pasti akan ada ledakan setelahnya.
"Kau bermimpi indah..?" Ia menodong wajah Bulan dengan tatapan tajam.
"Mari kita kembali ke kantor lebih dulu, baru kita bicarakan ini." Potong Arkana, ia sudah hendak beranjak.
"Hei.. Aku bertanya padamu, apa mimpi mu indah?" Bima mengulangi ucapannya, dengan intonasi lebih tajam.
"m..maaf.." Lirih Bulan tertunduk. Ia juga tak tau kenapa bisa tertidur disana. Benar-benar langsung terlelap seperti orang pingsan.
"Kau mengacaukan acara yang kita rencanakan sampai kepala panas hampir meledak. Dan hanya maaf?"
"KENAPA KAU SANGAT BODOH...!" Teriaknya tepat di depan wajah Bulan sambil melemparkan korek api itu ke tembok.
Arkana menarik bahu Bima agar menjauh, ia tak suka melihat pria berteriak, apalagi berkata kasar terhadap wanita.
"Bima.. Jaga sikapmu!"
"Dia merusak reputasi kita, dan kau masih membelanya? Sampai sekarang aku bahkan masih heran kenapa Pak Tara mengambil orang bodoh ini untuk di ajak kerjasama!" Ia menuding wajah Bulan dengan penuh amarah.
"Jaga ucapan mu, bicarakanlah secara pribadi. Kau sengaja mau mempermalukannya?"
"Kita semua sudah dipermalukan olehnya!" Ketus Bima sekali lagi. Membuat air mata Bulan menitik pelan.
"Ku bilang kita bicarakan nanti..!" Arkana mencekam kerah jas Bima.
Para kru yang menonton ketegangan itu tak berani berkutik. Tak ada yang berani mencela perkataan Bima dan Arkana.
"Kenapa? Kau tak ingin mantan kekasihmu dipermalukan?!"
Bulan mendongakkan wajahnya saat mendengar itu, apa ia tak salah dengar? Atau Bima yang salah bicara?
__ADS_1
"Apa katamu?" Sela Bulan dengan nada suara bergetar, rasa bersalah akibat ketiduran seketika berganti menjadi rasa penasaran.
Bima menepis kuat tangan Arkana, lalu menatap Bulan dengan sangat legam. "Lelaki ini, dialah Baraspati yang sesungguhnya!"
"Bima...?" Arkana tak menyangka Bima mengatakan itu sekarang, di waktu dan tempat yang sangat tidak tepat.
"Sial kalian semua..!" Umpatnya lalu beranjak dari sana dengan wajah merah padam.
Para kru pun pergi meninggalkan tempat itu, mereka tak mengerti apa maksud ucapan Bima tadi.
"Benarkah yang dikatakan Bima barusan?" Tanya Bulan tak percaya.
"Bulan.."
"Jawab aku..!" Pekik Bulan dengan tetesan air mata.
Arkana tertunduk, ia tak tega menyampaikan semua kebenarannya. Ia mempermainkan Bulan sejak 9 tahun lalu, bahkan hingga saat ini. Ia tak sanggup menatap wajah gadis itu.
"Maafkan aku..," hanya itu yang bisa ia ucapkan. Ia siap menerima konsekuensi apapun karena telah melakukan ini.
"Maafkan aku Bulan..." Arkana sungguh menyesali ini semua.
Sepatah katapun tak terbesit di benak Bulan. Ia tak menyangka ternyata orang yang mempermainkannya, orang yang membuat jejak luka di hatinya adalah Arkana.
Bulan mengambil tasnya, lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. Ia melepaskan tangis kekecewaan setelah berlalu dari Arkana.
Lalu siapa orang yang selama ini ia cintai? Bima yang selama ini ia tangisi, ia rindukan, bahkan ia benci. Padahal cinta pertamanya itu sosok Arkana, perasaan sesungguhnya adalah pada Arkana, namun raga nya tertipu oleh Bima.
"Kalian sangat hebat telah mempermainkan ku, bahkan sampai detik ini." Lirih Bulan terus berjalan, menyusuri trotoar dengan pandangan mata rimang tergenang air mata.
"Kenapa kalian mempermainkan ku..?"
Jika itu hanya lah masalalu, maka bukankah seharusnya mereka jujur saja sejak awal pertemuan di cafe hari itu? Kenapa tetap bersandiwara?
-
Di tempat lain, Bima melajukan mobilnya untuk melepaskan beban. Rahangnya saling beradu keras. Ia menyesal kenapa terbawa emosi dan mengatakan itu di sana. Bagaimana perasaan Arkana dan Bulan sekarang?
Ia merasa bersalah karena Arkana bahkan belum siap untuk itu. Namun disisi lain ia merasa lega karena tak harus bersandiwara lagi di depan Bulan.
"Andai saja dia tak tertidur tadi. Pasti semua ini tak akan terjadi. haaaishhh... Sial..!" Ia bahkan kesal dengan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga kesabaran.
__ADS_1
...%%%%%%%%%%%...