
Hari ini semua kru Pangeran Ilusi,bersiap untuk menghadiri Gala Premiere. Mereka semua tampak antusias, menyambut pemutaran perdana ini.
Semula Bulan tak berniat ikut, karena ia telah menyatakan lepas tangan dari projek tersebut. Namun sebagian besar tim membujuknya untuk menyaksikan Gala Premiere tersebut. Akan sangat janggal jika sang penulis sendiri tak menyaksikan itu.
Bulan masih takut bertemu dengan para awak media, mengingat terakhir kali ia unjuk diri dihadapan media malah merusak acara.
Sampai-sampai Pak Tara sendiri turun tangan membujuk Bulan. Sebuah tim haruslah tetap bersama sampai misi selesai.
Setelah berbagai macam pertimbangan, akhirnya Bulan setuju untuk menyaksikan Gala Premiere bersama para tim.
...---...
Para Jajaran Bumantara films tampak menghayati 10 menit pertama pemutaran film tersebut. Para penonton yakni dari kalangan publik figur, juga tak kalah terpana dengan pembukaan kisah.
Di menit ke 20, sebuah insiden naas yang menimpa tokoh utama wanita, berhasil membuat penonton menangis sesenggukan. Tokoh wanita kehilangan orang yang paling ia sayangi, yakni ayahnya.
Yang membuat menarik, kecelakaan tersebut terjadi akibat ulah tokoh pria, yang tak lain adalah Pangeran dari cerita tersebut.
"Dia yang membunuh ayah mu..!" Ucap beberapa penonton tampak geram, saat tokoh wanita malah menganggap tokoh pria sebagai malaikat penolong.
"Kau sungguh berbakat Bulan.." Puji Pak Tara dari kursi depan. Ia mengacungkan dua ibu jari kepada putrinya itu.
Tangis, tawa, hampa dan bahagia terkemas begitu rapi di dalam cerita tersebut. Dengan ending bahagia setelah berbagai terpaan duka, film berdurasi 90 menit tersebut berhasil membuat para penonton tertawa bahagia dengan mata sembab.
"Bulan...! We Love You...!" Teriak beberapa penggemar, mereka menyambut Bulan saat baru keluar dari Bioskop.
Mereka adalah pembaca setia, sekaligus pendukung Bulan. Mereka bangga akhirnya cerita apik itu diangkat menjadi sebuah film.
Bulan tersenyum lebar kearah mereka semua, kedua matanya berkaca-kaca karena terharu bisa sampai dititik ini.
Bulan, Arkana, dan Bima berjajar di atas karpet merah. Di sisi kanan mereka ada Dania dan Farrel. Kamera tak henti-hentinya memijarkan cahaya kearah mereka semua.
...~~...
Setelah selesai acara, Pak Tara membawa tim nya ke sebuah restaurant mewah. Sebagai bentuk apresiasi karena mereka telah menyelesaikan Pangeran Ilusi dengan sangat apik.
"Pesan apapun yang kalian mau, Saya yang traktir malam ini." Ucap Pak Tara memamerkan blackcard nya.
"Sungguh..?"
"wah.. mari pesan apapun sepuasnya!"
"Makan besar...!"
Mereka semua tampak antusias. Tak terkecuali Bulan yang sudah meneguk air liurnya. Ia memegang buku menu, namun bingung karena makanan yang tertera belum pernah ia makan.
__ADS_1
"Ini enak tidak?" Tanya Bulan kepada orang disebelahnya, yang tak ia sadari itu adalah Arkana.
"Enak.." bisik Arkana tersenyum tipis, ia melayangkan tatapan pekat yang membuat Bulan jadi gugup.
"Lebih enak yang ini..," Tunjuk Bima pada salah satu menu.
Bulan langsung menoleh ke sebelah kiri, dan ternyata Bima duduk disana. Karena ia duduk lebih dulu, ia jadi tak sadar dua pria itu mengapitnya disana.
Bulan berpura-pura santai, seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka. Namun dibawah meja, kedua kakinya bergetar panas dingin.
"Jadi mana yang kau pilih?" Tanya Arkana memastikan.
"Yang ini saja," Bulan menunjuk menu yang dipilihkan Bima.
"Maksudku aku atau Bima." Bisik Arkana.
"hah..??" Bulan terkejut, padahal ia sudah memenangkan diri sedari tadi. Ia percaya Arkana takkan membahas hal itu.
"Aku.. mau ke toilet sebentar.." Bulan berdiri gelagapan. Rasanya seperti orang demam, lemas dan panas dingin.
Sesampinya di toilet, Bulan membasuh wajahnya dengan amat ganas. "Tenangkan dirimu Bulan, tenanglah.. Mereka tak serius dengan itu, mereka pasti mempermainkanmu lagi." ia menyangkal semua hal tentang dua pria itu. Mungkin saja Arkana dan Bima sedang melakukan taruhan seperti yang ada di film-film.
Masuklah Dania dengan wajah jengah, ia mencuci tangan tepat disebelah Bulan. "Seseorang dikantor bilang, Bima menyatakan perasaannya padamu. Di depan ibumu. Aku jadi penasaran, sehebat apa dirimu sampai Bima tergila-gila."
"Apa itu penting untukmu?" Sahut Bulan seraya mengelap wajahnya dengan tissu.
"Kau begitu menyukai Bima, hingga terganggu dengan ini?" Celah Bulan tak suka, baru sebentar ia menaruh simpati kepada Dania. Namun simpati itu hilang kembali karena sikap Dania sungguh menyebalkan.
"hmm..! Sangat-sangat menyukainya.." Dania mengibaskan tangannya, hingga percikan air mengenai baju Bulan.
Tak ingin terlibat dengan hal tak berguna itu, Bulan pun pergi meninggalkan Dania dengan wajah ketus. "Kalau suka ya bilang sama orangnya. Kenapa malah terus mengangguku." Rutuknya.
...~~~...
Pukul 02:00 Dini hari...
Bima dan Arkana baru pulang kerumah. Mereka merayakan dengan meriah hasil kerja kerasnya.
Dua pria itu sempoyongan memasuki kamarnya. Mereka sedikit mabuk, tak heran kelakukan mereka absurd. Arkana malah merangkul Bima memasuki kamarnya, sementara Bima hanya menurut.
"Menurutmu..., apa Bulan akan membalas perasaanku?" Oceh Bima sesaat setelah merebahkan diri diatas kasur.
"Kau sungguh mencintainya? Bukan hanya terobsesi oleh mimpi gila mu?" Tukas Arkana, ia turut merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi telungkup.
"Jujurlah, kau juga menyukainya kan?" Tebak Bima menunjuk wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
Arkana terdiam, pandangan dua pria itu saling terpaku.
"Aku tidak perlu izinmu kan, untuk mencintainya. Lagipula kau hanya mantan kekasihnya." Seloroh Bima lagi, ia menggeliat kuat sambil tersenyum lebar.
"mm, kau memang tak perlu izinku. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Aku akan memperjuangannya, agar kembali lagi kepelukanku."
Bima memejamkan matanya, "haiss... gadis bodoh itu membutakan mataku."
"ck..ck..ck.. Apa yang dibicarakan dua bujangan ini? Sudah berapakali kubilang agar melepas kaus kaki sebelum naik ke ranjang." Rutuk Ayana, ia memeriksa keadaan dua anak itu. Lalu menyelimuti keduanya.
...~~~~...
Pagi hari yang cerah, secerah rekening Bulan yang baru saja mendapatkan asupan gaji.
"yeayy....! Aku akan membelikan pacar untukmu!" Ia berjingkrak-jingkrak sambil menggendong Moly.
Selagi akhir pekan, Bulan bersiap hendak mendatangi petshop langganannya. Ia berniat membelikan kucing ras jantan untuk menjadi teman Moly.
-
-
"Hai..!" Sapa Arkana dengan senyum lebar. Ia sudah setengah jam menunggu didepan cafe.
"h..hai..," Lirih Bulan tersenyum tipis. Mampus lah ia, mati-matian menghindar saat di kantor. Eh malah yang dihindari datang.
"Aku ada urusan, kau pulang saja ya.." Bulan menghusir halus pria itu, ia menenteng keranjang kucingnya lalu beranjak.
"Mau kemana?" Tanya Arkana penasaran, ia merasa kecewa karena Bulan tak juga mau bertatap muka.
"Ke petshop..."
"aa.. mau membeli teman Moly?" Potong Arkana. Bulan memang pernah bercerita, jika ada uang ia akan membeli satu kucing ras lagi.
Bulan mengangguk sebagai jawaban, tampak ia masih menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Aku punya banyak kucing di rumah, kalau mau kau bisa..."
"Tidak, terimakasih.." Tolak Bulan cepat.
"Gratis..," Bisik Arkana.
Langkah Bulan langsung terhenti, "gratis..?"
"mm, gratis.. Kau bisa pilih jenis apa saja." Ucap Arkana tersenyum hangat.
__ADS_1
...******************...