Terpikat Sang Bulan

Terpikat Sang Bulan
Bab 6 : Ingatkah?


__ADS_3

Bulan masih terus memandangi ponselnya, berharap ada balasan. Ia masih berpikir positif, mungkin saja kekasihnya kehabisan baterai, atau ponselnya sedang tidak ada sinyal. Pokoknya ia terus berpikiran positif, sama sekali tak terlintas di benaknya bahwa sebenarnya ia tengah di bohongi.


Ia sampai tertidur dengan ponsel di genggamannya, berharap balasan pesan yang amat dinanti. Namun sayang, hingga menjelang pagi pun ponselnya tak berbunyi. Pesan yang di kirim Bulan juga tidak di baca, akun itu benar-benar nonaktif sejak pertemuan mereka kemarin.


Hari demi hari, kini Bulan sadar dirinya telah di campakkan setelah pertemuan pertama. Tak bisa di pungkiri ia menangis kala teringat perlakuan manis Bima yang ternyata hanyalah bohong. Perhatian, tatapan, serta bunga itu. Semuanya bohong.


Bulan menatapi dirinya di depan cermin, apakah fisik yang membuat Bima menghilang begitu saja di tengah hangatnya hubungan mereka? Padahal sebelumnya hubungan mereka berjalan sangat manis dan hangat, lalu kenapa setelah bertemu kekasihnya itu malah menghilang tanpa kabar?


Terpuruk, sudah pasti. Apalagi Pria itu satu-satunya orang yang selama ini mau mendengarkan kisah pilu hidupnya. Pria itu dengan sangat sabar menyemangatinya, membuat hari-harinya berwarna, membuatnya yakin bahwa di dunia ini masih banyak hal-hal indah.


Tahun demi tahun terlewati, semenjak kejadian itu. Bulan tak ingin lagi membuka hati. Sekian tahun ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang salah hingga Bima mencampakannya. Lalu bunga yang melambangkan duka itu, apakah Bima sengaja memberikannya?


Sejak saat itu, Bulan tak pernah menghiraukan segala jenis pria yang mendekatinya. Ia benar-benar muak dengan mulut manis pria, mereka hanya pandai bicara tanpa bukti. Melontarkan kata-kata manis seenaknya, lalu mencampakkan bila di rasa bosan. Ia membenci para pria bermulut manis seperti itu.


Beberapa tahun berselang, Bulan mengetahui bahwa ternyata Bima sudah menjadi Sutradara ternama. Menjadi kaya raya, terkenal bahkan di gemari banyak orang. Bulan merasa, memang pantas dirinya di tinggalkan waktu itu. Karena prestasi dan posisi mereka sangat berbeda kelas.


*flashback selesai...


Tanpa seekor pria, tanpa embel-embel perasaan cinta. Hidup Bulan sejauh ini aman damai sentosa. Hanya saja penampilannya sangat berantakan. Ia tak lagi perduli dengan penampilannya.


Seperti hari ini, Vidia bahkan sudah menyuruhnya untuk berganti dengan pakaian yang lebih feminim dan formal, tapi Bulan malah tak mengindahkan nasihat Vidia.


Celana hitam longgar, kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai ke siku, lalu rambut yang hanya di cepol dengan bantuan sumpit. Ia bahkan tak memakai riasan, mencuci muka saja sudah cukup membebani baginya.


Ia berdiri dengan penampilan itu, di hadapan dua sutradara terkenal yang mengajaknya untuk bekerja sama. Namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa yang datang menemuinya.


"Bima..?" lirihnya dengan mata membelalak, sungguh tak percaya ia di pertemukan lagi dengan pria itu.

__ADS_1


Sementara Arkana, ia sangat syok melihat siapa wanita yang ada di depannya itu. Walaupun ia hanya pernah melihat Bulan lewat foto, ia masih mengenali betul wajah mantan kekasihnya itu.


Arkana meneguk dalam ludahnya, ia gugup dan panas dingin walau Bulan tak melihat ke arah nya.


"Kau pasti penggemarku." ucap Bima percaya diri.


"ssst...!" bisik Arkana sembari menarik siku Bima.


Lalu Arkana menunjukkan ponselnya, ia menuliskan bahwa gadis yang ada di hadapan mereka itu adalah Bulan, orang yang sembilan tahun silam mereka bohongi soal pertemuan kencan.


Bima terkejut melihat itu, ia heran kenapa Arkana mengenali wajah gadis itu padahal mereka tak pernah bertemu. Kemudian ia mengamati wajah Bulan dari kejauhan, jika di pikir-pikir, memang mirip dengan Bulan yang dulu. Tapi yang ini agak lecek.


Bima dan Arkana memikirkan hal yang sama, bagaimana kalau Bulan mengamuk karena di campakkan? Atau bagaimana jika Bulan menyiram mereka dengan air minum seperti yang ada di film-film? Yang lebih parah lagi, mereka membayangkan bagaimana jika Bulan menangis dan memohon untuk balikan, sementara di luar Cafe banyak orang yang merekam kehadiran mereka di sana sebagai sutradara terkenal.


"Silahkan duduk." ujar Bulan mempersilahkan.


"Begini.., Kami akan langsung ke intinya untuk membicarakan cerita yang Anda buat." ucap Arkana memberanikan diri, ia menatap wajah Bulan dengan degup jantung melaju kencang bak kuda sedang berlari.


"Apa Cafe kami terlalu panas?" tanya Bulan memotong.


"Tidak kok, bagus, suhunya pas." sahut Bima tertawa hambar.


"Tapi kenapa kalian berdua berkeringat?"


"Kak, coba periksa AC kita." seru Bulan pada Vidia yang tengah menguping pembicaraan dari balik tembok.


"Iya..." Vidia menyahuti dengan seruan pula.

__ADS_1


Dibawah meja, kaki Arkana dan Bima senggol senggolan. Mereka kikuk dan bingung, padahal sudah bagus kan Bulan tak membicarakan masalalu itu.


"Boleh saya bertanya kenapa sutradara terkenal seperti kalian melirik cerita yang saya buat? Padahal cerita yang Saya buat itu hanya memiliki pembaca tak kurang dari 80 ribu." ujar Bulan menahan gugup, ingin sekali ia mencubit dirinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.


Bima melipat kakinya, ia menepis dulu semua rasa gugup. Karena ini urusan pekerjaan, bukan perasaan.


"Kami berada di rumah produksi Bumantara film. Label besar yang selalu mengangkat kisah berdasarkan kekuatan cerita di sebuah karya. CEO kami, Pak Tara selalu bisa melihat peluang besar dari balik cerita yang mungkin belum banyak peminatnya. Ia juga sudah banyak membesarkan nama penulis yang tak pernah mendapatkan perhatian sebelumnya. Dan kali ini, Pak Tara memilih cerita anda, setelah kami baca pun memang cerita anda sangat menarik. Dan kami berniat menerbitkan kisah yang anda tulis menjadi sebuah film."


"Persyaratan apa saja yang harus saya ikuti? Apa saya masih di bolehkan update 5 bab terakhir?" tanya Bulan lebih lanjut. Cerita yang ia buat memang sudah di rancang sampai 50 episode saja. Dan ia baru saja hendak menerbitkan 5 Episode terakhir.


"Tentu saja boleh, justru itu bagus untuk menarik perhatian para pembaca, terutama jika Anda memberitahu mereka bahwa cerita itu akan segera di filmkan. Namun anda tidak bisa mengontrak cerita itu pada Platform. Kami juga sudah meneliti Platfrom yang anda naungi, tidak perlu ada pembayaran dan izin dari pihak mereka karena cerita anda belum di kontrak."


"Lalu Saya hanya perlu menandatangi kontrak dengan kalian kan?"


"Kami akan mengajak anda bekerja sama, sampai pembuatan film selesai. Walaupun kami sutradara terkenal, nyawa cerita itu tetap ada pada anda. Jadi hanya anda yang bisa menentukan bagaimana arah dialog dan improvisasi para aktor nantinya."


Bulan mengangguk kecil, ia memahami syarat dan ketentuan dari Bima. Namun ia tak menyangka kalau ia akan terlibat juga dengan pembuatan film sebagai penulis nya.


"Bagaimana? Jika anda setuju, datanglah ke kantor kami besok pagi. Kita akan langsung bahas sisanya di sana." imbuh Bima.


"Baiklah.. Tapi, anda..? Apa tidak ada yang ingin anda sampaikan?" Bulan membulatkan tatapan Arkana yang sedari tadi melihat kearahnya, tanpa ia sadari.


"Aku..?" Arkana menjawab dengan informal, entah kenapa otaknya reflek merasa bahwa ia dan Bulan masih berhubungan dekat.


"Besok langsung saja naik ke lantai 7, kami permisi dulu." ucap Bima memecahkan rasa bingung Arkana. Ia tau mungkin sahabatnya itu takut ketahuan. Makanya ia segera beranjak dari sana.


...**************...

__ADS_1


__ADS_2