
"Tes..tes.. Okey, aku mulai rekamannya. "
Sambil mengotak-atik hpnya, Alen membuat video rekaman yang akan dikirim ke empat sahabatnya.
"Alen, itulah namaku. Entah mengapa orang tuaku menamaiku, Alen Edward. Eitss, aku adalah perempuan alias cewek. Dan Edward adalah nama ayahku, tuan Edward. Seorang produser terkenal yang menerbitkan banyak sekali artis terkenal. Aku punya empat sahabat. Mereka sangat dan sangat hebat. Ada si seksi, si cerewet, si oon, si perfect dan akulah si tomboy. "
Ketika asik merekam, Alen terpaksa menghentikan rekamannya karena ibunya memanggilnya.
"Alen, turunlah! Kau harus segera menaiki pesawat!" Ibu Alen berteriak memanggilnya agar segera turun kebawah.
"Iya, aku dengar ibu." Sambil menjawab ibunya, Alen segera berlari turun kebawah.
"Hem, dandanan kakak seperti nama kakak. Jangan-jangan kakak itu..." menghentikan ucapannya.
"Jaga mulutmu Adolf, aku cubit pipi kamu." Ucap Alen
"Aargh, ibu, kakak mencubitku."
Adolf adalah adik Alen yang sangat usil, hobbynya menggoda kakaknya, sangat pintar, musuh utama Alen namun sangat menyayangi kakaknya.
"Alen, sudahlah! Kamu sudah tahu yang memberimu nama adalah kakekmu. Dan nama itu adalah nama wanita pujaan kakekmu yang bernama Alen dan dia sangat cantik dan feminim. Tentu saja berbeda dengan kamu, sayang."
Ibu Alen menggelengkan kepalanya sambil berjalan menghampiri ayah Alen dan kembali bertanya, kenapa anak perempuannya dinamakan Alen Edward. Dan seperti biasa, ayah Alen hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.
"Hahaha, kakakku ini ternyata laki-laki yang tidak jadi. Wkwkwkw." Sambil berlari, Adolf kembali menggoda Alen.
"Awas ya, kalo kakak pulang nanti aku gigit pipimu yang seperti bakpau itu." Alen berlari mengejar Adolf tapi tidak kena.
"Kenapa kalian selalu saja ribut? Tapi kalo tidak bertemu saling kangen."
Ibu Alen mendekatinya dan memeluk erat putri semata wayangnya.
"Hmmm, aku mencintaimu, ibu. Dan tolong tanyakan kakek, kenapa aku dinamai Alen pakai Edward lagi!" sambil berpamitan dan mencium kening ibunya, Alen segera bergegas pergi menuju mobil ayahnya yang akan mengantarnya kebandara.
"Alen, bagaimana ibu menanyakan hal ini kepada kakekmu yang sudah meninggal?" dengan mengangkat kedua tangannya, ibu Alen bertanya kepadanya.
"Dalam mimpi ibu, tolong tanyakan!"
Setelah mencium adiknya, Alen segera masuk kedalam mobil dan membuka jendela mobilnya lalu melambaikan tangan kepada ibu dan adiknya.
"Oh, Alen anakku, jagalah dirimu baik-baik disana!" sambil berbicara sendiri, ibu Alen melambaikan tangannya kepada anaknya yang harus meninggalkannya untuk menempuh pendidikan.
"Ayah, kenapa kakek menamaiku Alen Edward? " masih dengan penasaran Alen bertanya kepada ayahnya.
"Hahahah, apapun namamu yang penting jadilah anak yang berguna! Apalah arti sebuah nama jika kamu tidak berguna." dengan santai Ayah Alen menjawab pertanyaannya.
"Kau benar, ayah. Semoga dikampus aku baik-baik saja."ucap Alen dalam hati.
Dalam perjalanan, Alen melakukan chat grup dengan keempat sahabatnya.
"Hai, Mira." Alen
"Hai, Alen." Elena
"Mira, kamu lagi dimana?" Elena
"Mira, aku Elena siseksi."
__ADS_1
"Hai, Elena. Aku uda dijalan, kenapa?" Mira
"Aku lagi otw ke bandara." Alen
"Hei, tau ndak, kenapa lampu iku iso mekan? iki Koncomu." Siti dengan logat jawanya.
"Hem, Siti mulai deh. Kamus jawa mana ini?" Mira kesal.
"Hai, tau gak, tadi dikampus ada cowok ganteng dan bibirnya merah banget, gaes. Dia itu dari Ko-re-a. Duhh tamfan alias tampan. Gaes, kok diem sih?" Siska
"Siska, simpan dulu kecerewetanmu itu! Sekarang, jangan lupa jemput kami, biar kami ga naik taxi online. Ini elena si seksi badai. Ahh, gimana sih pak sopir ini? Kecoret tau, lipstikku"
Keempat sahabatnya tertawa mendengar elena.
"Hahahahaha, kecoret sampai mana, El?" Mira
"Sampai jidatmu. Wkwkw, eh salah sampai dengkullll, haha. Eh, ojok ngomong kasar ga oleh aku karo bapak ibukku pamali arek perawan." Siti
"Njih, Siti." Keempat sahabatnya menjawab bersama-sama di chat grup mereka
"Loh, jemput sopo to? Aku wes nang omah iki."
Siti masih dengan logat jawanya bertanya kepada para sahabatnya.
"Rumahku Siti, didekat kampus" jawab Alen.
"Oh, tak pikir omahku seng nang Jogja. Wes, aku pamit disik. Ojok lali jemputen aku, yo!"
"Sitiiii." Keempat sahabatnya menjawab dengan kesal digroup mereka yang bernama geng limo sekonco.
Nama geng itu berawal dari kelima sahabat yang saling berebut untuk memberi nama geng.
Dan Siti yang selalu bijak diantara mereka berlima memberi saran untuk mengundi siapa yang namanya muncul yang akan menjadi nama geng kami.
Dan undian dilakukan dengan wajah kelimanya yang tegang. Siapa sangka nama Siti yang keluar dan akhirnya limo sekonco menjadi nama geng kelima sahabat itu. Tentu saja membuat Elena lemas dan hampir pingsan saat itu. Mira dan Siska segera mengipasi Elena, sementara Alen hanya tertawa terpingkal-pingkal dilantai melihat Siti melompat-lompat dengan gembira.
"Hei, kamu dari tadi tertawa sendiri. Ayo, turun kita sudah sampai dibandara!" Ayah Alen mengajak Alen keluar dari mobilnya dan mengantar Alen masuk ke bandara.
"Sebelum kamu pergi, ingat pesan ayah! Jaga nama baik keluarga, jangan neko-neko, belajar yang rajin, dan satu lagi kalau main band, hemm jangan fals kasihan tetangga!" Sebelum berangkat, ayah Alen menasehatinya dan memeluk Alen.
"Okay, tuan Edward. Eh ayah, kenapa harus Edward, sih?" Alen tetap protes atas namanya sambil berjalan.
Tuan Edward melambaikan tangan kepada Alen dan meninggalkan bandara.
"Akhirnya aku duduk dipesawat, leganya aku mau tidur."
Saat mau tidur, Alen mencium sesuatu yang aneh.
"Hah ketiak, bau ketiak. Huek..huek" Alen mencari masker segera menutup wajahnya.
"Huh, sebelahku ini bule dari mana, sih? Ketiaknya sampai tembus." dengan kesal Alen menutup hidungnya dengan masker double.
"Halo, im sorry sir, this is not your chair" kata salah satu pramugari kepada bule yang berada disebelah Alen.
"Ahhh, syukurlah dia pindah." Alen merasa lega.
Tiba-tiba dikejutkan dengan pria yang sangat tampan, putih, tinggi dan kekar duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Hah, tampannya. Hi..hi." Alen langsung melepas maskernya.
"Halo, mbak aku nitip dompet ,ya!" Pria itu menitipkan dompet kepada Alen.
"Loh, kok isinya bedak mas?" tanya Alen penasaran
"Iya, tau gak? Itu bedaknya bisa menghaluskan kulit, trus lipstikku itu juga bagus warnanya. Lihat, bibirku seksi, kan?" jawab pria itu yang ternyata adalah.........
"Hah,tidakkkk. Kenapa hariku benar-benar sial?" kembali Alen menutupi wajahnya dengan masker.
Setelah dua jam lamanya, akhirnya Alen sampai di Singapura tempat dia memulai kuliahnya.
Alen segera turun dari bandara dan antri mengambil koper. Setelah itu segera keluar dari bandara untuk bertemu keempat temannya.
"Duh, dimana sih mereka?" sambil duduk diatas kopernya Alen menunggu para sahabatnya.
"Alen, hai." Mira berteriak manggil Alen dan disusul kedua teman lainnya Elena yang selalu menor dan seksi, Siska yang paling cerewet.
"Ya Ampun, aku kangen banget ama kalian." mereka berpelukan bersama-sama.
"Heh, mana satu lagi?" tanya Alen
"Sitiiii." Ketiga sahabatnya serentak menanyakan Siti.
"Telpon aja, Elena!" Mira meminta Elena untuk menelpon Siti.
"Duh, Siti ini repot banget, sih. Akukan barusan ngecat kuku." Elena kesal sambil merapikan kukunya.
"Tau gak, tadi aku dipesawat denger kalau bapak disebelahku itu kalau makan, aarghhhh" Elena menutup mulut Siska agar tidak melanjutkan omongannya lagi.
"Iiuhhh, lebih baik kamu telpon Siti aja sekarang!" Dengan kesal elena menyuruh Siska segera menelepon siti
Siska menelepon Siti.
"Siti, halo ini siska. Eh sit, tau gak tadi ada bapak dipesawat sukanya makan apa itu buah, ehhhhh Mira." Mira merebut telepon Siska.
"Siti, kamu dimana ini? Kita menunggu kamu." ucap Mira
"Aku emmm, aku." Hah, apa siti?"
Mira memencet speaker supaya didengarkan sahabatnya yang lain.
"Siti, jawab kamu kenapa!" dengan khawatir Alen kembali bertanya.
"Aku, ini friend." Siti menjawab dengan terbata-bata dan semakin membuat para sahabatnya khawatir.
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti terompet yang sangat keras," preeeetttt."
"Hah, suara apa itu, Siti?" Keempat sahabatnya bersama-sama menanyakan kepada Siti.
"Maaf gaes, iki mau aku eating rujak wetengku mules. Wes-wes ojok telpon disik!" Siti tiba-tiba menutup telponnya.
"Ah sialan kamu, Sit" ucap Mira dan ketiga sahabatnya.
Beberapa saat kemudian, Siti menghampiri mereka dan mereka berpelukan sangat bahagia karena sudah lama sejak lulus sma tidak pernah ketemu.
Akhirnya mereka menaiki mobil Siska yang kebetulan tinggal di Singapura dan menuju Rumah Alen yang ada di Singapura.
__ADS_1
Yah Alen adalah anak orang kaya dan mempunyai Rumah dimana-mana.