
Tubuh yang kaku seakan tak bisa bergerak tangan yang menutup mulut menahan teriakan dengan mata yang membelalak, tiba- tiba Alen merasa lututnya lemah tak sanggup menumpu tubuhnya sampai terduduk dilantai.
Memorinya muncul saat bibirnya menempel ke bibir lelaki yang ada didepannya.
Keringat dingin dan detak jantung yang semakin cepat membuat Alen tidak kuasa menahannya dan langsung membuatnya menggeser lututnya membalikkan badan.
Bayangan Raka yang semakin dekat menghampirinya membuat Alen semakin berkeringat.
"Duhhhh kenapa dia lagi...dia lagi...kenapa dimana- mana ada dia sihhhh"
Sambil menutup mukanya tiba-tiba ada yang menarik tangannya membuat Alen berdiri dan membalikkan tubuhnya.
" kamu...
Tanpa bersuara Raka memegang dagu Alen hingga mereka saling bertatapan.
Dengan lembut Raka mengarahkan satu tangan Alen ke pinggangnya dan satu lagi saling menggenggam posisi seperti berdansa.
Raka dengan isyarat kepalanya memberitahukan kalau Alen harus mengikuti dirinya.
" Aduhhh...kok deket banget sih...deg..deg..an...tau. pegang- pegang lagi...tapi ganteng banget hihihi, eehhhhh maaff! "
Alen yang senyum-senyum sendiri akhirnya pipinya dicubit Raka agar konsentrasi.
Alenpun mengikuti semua gerakan yang Raka contohkan.
Dengan gerakannya yang kaku Alen berusaha mengikuti gerakan Raka walaupun tetap saja selalu salah dan salah lagi.
" Susah amat sih....untung ganteng...klo gak...ihhh aku gigit..upss..kok bayangin bibir sih..hihi"
Raka memperlihatkan wajah juteknya membuat Alen membuyarkan lamunannya dan berusaha mengikuti gerakan Raka hingga jatuh berkali-kali.
Dan dengan telaten Raka membantunya berdiri mengulangi gerakannya kembali sampai akhirnya Raka berhenti.
" Hmmm, perhatikan nona, padahal goyang ngebor dan dada getarmu kemaren lumayan bagus."
Raka berbicara sambil memegang dagu Alen dengan mengedipkan salah satu matanya dan membuat Alen sangat terkejut.
" Haaaa, apaaaa, aahhhhh!!" teriak Alen.
" gubrakkk" Alen dan Raka terjatuh.
" Kaaaaamuuu, tahuuuu, aduuhhhhhhh! "
Alen yang menarik Raka dan memandangnya sinis sementara Raka hanya diam mengangkat salah satu alisnya.
" Jadi cewek ceroboh amat, untung hanya aku saja bagaimana jika semua. "
Ucap Raka sambil berdiri dan menarik Alen untuk ikut berdiri.
" Semuaaa, maksudmu kalian semua berlima, huwaaaaa".
Alen memukul dada Raka sambil menangis bombay.
" Hmmm, sudah hentikan...kaya anak kecil aja cengeng, pukulanmu ga terasa tau."
Raka memegang tangan Alen dan mengusap air mata alen.
" Hanya aku, laki-laki yang lain tidak boleh."
" Apaa yang ga boleh.... apa maksudmu? kamu kan juga tidak bolehhhh, emang kamu siapa sebel!!"
Alen kemudian menarik tangannya dan duduk dibawah lantai menutupi wajahnya meneruskan tangisannya.
" huhuhuhuhuhuhuuuuu" tangisan Alen.
" Loh, kok nangisss lagi, udah diamm, ayo berdiri, cuman aku yang lihat kok, tapiiiiii... "
Raka menarik Alen dan mengusap air mata Alen kembali dengan jarinya.
"Tapiiiiii, apanyaaaa, ayo jawabb!!"
Alen menarik pundak Raka dan memperlihatkan wajahnya yang merah masih menangiss.
" Kamuu, terlalu gemuk, kurang seksi, mmm, bagian itu kecil. "
Ucap Raka sambil tersenyum sinis.
" Apaaaa, aku tuh seksi tauuuu,...ihhhhh kok mmmm apa itu aku besar kok, aku kok ngomongin ini sih nyebelinnnnnnnnn! "
Alen kemudian kembali memukul dada Raka dan membalikkan badannya sambil menangis dan menuju pintu ruang tari hendak keluar. Ketika Alen membuka pintu ternyata pintunya terkunci.
" Selama pelajaran belum berakhir, kamu tidak boleh pergi, ayo kembali sini!! "
Perintah Raka sambil menyilangkan kedua tangannya didada dengan muka juteknya.
" Emang kamu siapaaaaaa, merintah- merintah aja "
Teriak Alen sambil menghentakkan satu kakinya.
" Mulai sekarang kamu muridku, kembali sekarang juga!! Jika tidak menurut kamu tidak akan lulus!! tariannnmu jelekkk, balik sekarang!! "
Mendengar Raka teriak Alen langsung berlari segera berdiri didepan Raka.
" Apaaa guruku, kok bisaaaa??"
Sambil berkacak pinggang menatap Raka.
" Bisa...milih keluar ga lulus ato nurut sama aku dan lulus". Raka mengancam Alen.
" Yaaa....lulus sih"
Alen menurunkan tangannya dan menunduk.
"Ikuti aku, jangan bengong, kaki, tangan semua salah, jelass! "
Alen mengikuti semua gerakan Raka walaupun tetap saja salah.
" Aku capek, adakah buat istirahat? "
Sambil memegang kakinya yang sudah lelah Alen memohon dan malah membuat Raka marah dan membentaknya.
" Udah cengeng, manja lagi, tarianmu sangat buruk sekali, tegakkan badanmu, jangan malas!!"
" Ganteng- ganteng galak"
Alen berguman pelan.
" Kamu ngomong apa barusan"
Raka pura- pura tidak dengar.
__ADS_1
"Sapa yang ngomong...ga ada yang ngomong kok"
Alen kembali ke posisinya dan kembali mengikuti gerakan Raka.
Tiba- tiba tanpa sengaja Alen menginjak kaki Raka sampai terjatuh kedua kalinya.
" Brukkkk.....auhhhhh"
Kali ini Raka terluka dagunya karena terkena kaki Alen.
" Apa yang kamu lakukan, konsentrasilah!! "
" Tapi aku capek bangettt!!"
Alen duduk sambil menangis dan mengambil saputangan Raka yang digunakan untuk mengusap keringatnya disakunya.
Sekarang digunakan Alen mengusap darah Raka yang terkena sepatu Alen.
" Aku minta maaf... sakit ya?... iya aku akan konsentrasi "
" Jika kamu begini terus, manja, cengeng, bagaimana bisa menjadi penari!!! "
Raka yang terus membentak Alen membuat Alen ketakutan dan menundukkan kepalanya. Merekapun lanjut berlatih.
Dengan kaki yang sudah lemas, mata yang berat akhirnya selesai juga latihan mereka.
Alen tanpa berbicara berjalan hendak keluar ruangan dan menuju pintu yang masih terkunci.
Kemudian Alen berbalik arah menuju Raka dan meminta kunci.
Rakapun menggandeng tangan Alen dan membuka pintunya mengantar keruang ganti.
Lalu Alen masuk ke ruang ganti dan duduk sambil memijat-mijat kakinya.
" Susah sekali jadi penari....kalo liat di tv kok kayanya gampang banget...jadi inget deh sama omongan ayah"
Flashback
" Alennnnn....ini apa- apaannnn?....kenapa kamu ambil jurusan tari...kamu kan kalo nari kaya orang- orangan sawah...kaku "
Ayah Alen teriak marah- marah saat tau kalo Alen merubah jurusan yang sudah ditentukan olehnya.
Walaupun ayahnya tau klo Alen sudah menguasai ilmu bisnis karena kepintarannya tapi ayahnya tidak pernah menyangka jika Alen akan mengambil jurusan yang bukan keahliannya.
" Iihhh ayah tega amat sih ngatain anaknya sendiri...liat aja nanti anak ayah ini akan jadi penari yang hebat sampe ayah keget liatnya."
Jawab Alen dengan cemberut.
" Ok ayah kasih kesempatan...paling- paling juga tengah semester kamu minta ganti jurusan. Emang gampang nari itu...gerakan kaya robot gitu mau coba- coba..hi.hi..hi"
Ayahnya berkata sambil tertawa membayangkan anaknya menari dengan gaya kakunya.
" Ok liat aja nanti Alen ga bakalan ganti jurusan...enak aja dibilang kaya robot".
Alen menggerutu kesal.
" Pokonya kalo kamu ga lulus... ayah akan nikahkan kamu aja"
Ayah Alen mengancam dengan wajah serius. Walaupun sebenarnya ayahnya cuman pura- pura mengancam karena sangat tau karakter anaknya yang jika tidak dipercaya bisa melakukan sesuatu maka Alen akan berusaha lebih giat lagi.
Lalu Ayahnya berjalan meninggalkan Alen dengan tampang sangar dan cuman meliriknya.
Mengingat kata- kata ayahnya membuat Alen tertawa di ruang ganti sambil menangis.
" Bener juga kata- kata ayah...tapiiiiii aku akan berusaha dan ga akan menyerahhhhh...aku akan buktikan kalo aku pasti bisa...........semangatttttt "
Alen berdiri sambil mengepalkan tangannya ke arah atas kepalanya dan kesamping kaya sailormoon.
Lalu Alen mengganti bajunya dan merebahkan tubuhnya di bangku karena memang dia sangat kelelahan.
Setelah mengganti bajunya Rakapun menunggu Alen di depan ruang ganti sambil bersandar di tembok.
" Apa aku terlalu keras padanya ya. "
Sambil melihat-lihat keruang ganti Alen, Raka merasa sudah menunggu terlalu lama dan Alen tidak kunjung keluar.
" Kok lama banget , ngapain aja sih, jangan-jangan ada apa-apa lagi "
Karena merasa khawatir Raka memasuki ruang ganti wanita yang sudah sepi .
Dan ketika masuk ternyata Alen tertidur dibangku ruang ganti.
Kemudian Raka duduk dan memandangi wajah Alen sambil membelai rambutnya dengan lembut.
" Baru hari pertama uda kaya gini...kayanya aku harus lebih lembut dikit....kenapa wajahnya cantik banget klo tidur ya...bikin gemes aja"
Raka pelan- pelan mendekatkan wajahnya ingin mengecup pipi Alen dan setelah berjarak 1 senti dari pipi Alen tiba- tiba hp Alen berbunyi dan Raka segera mengangkatnya.
" Iya, saya Raka nanti saya yang akan mengantarkannya pulang dengan selamat. "
Setelah menutup hp Alen, Raka mengambil hpnya dan menelepon pengawalnya agar meninggalkannya di kampus.
Kejadian di Mobil Siska pada saat menelepon hp Alen.
"Alen mana sihhhhh, kok lama bangett, capek tauuu. "
Siska dengan wajahnya yang sudah mengantuk.
" Udahh telepon aja Siskaaaa, Alennya "
Mira disebelah Siska yang sudah merebahkan badannya dikursi mobil depan.
" Duhhhh lama ga diangkat kemana sihh Alennnn "
Siska menelepon berkali-kali dan tidak diangkat juga.
"wesss, coba terusss yo Siska"
Ucap Siti dengan kepala menyandar pada kaca mobil karena sudah kelelahan.
Sementara Elena sudah memejamkan mata begitu memasuki mobil Siska.
Siska mencoba terus dan akhirnya diangkat juga.
" Haloo Alennnn kamu kemana sihh, ini udah pada ngantukkk, ayooo dong.......oh ini siapa, oh jadi pulang diantar, ok makasih ya"
Siska menutup hpnya.
" Gimana Siskaa Alen jawab apa?? "
tanya Mira
__ADS_1
" Katanya pulang diantar, ama itu eh sapa tadi...oh iya Raka sebelah rumah "
Siska yang tidak sadar membuat Mira, Siti, bahkan Elena terbangun.
" Apaaaaaaaaa, Rakaaaaaaa?? "
Elena, Mira, Siti secara bersamaan dan saling memandang.
"Udahhh, pulang aja dulu, nanti tanya Alen"
Siskapun mengendarai mobilnya sementara ketiga sahabatnya saling memandang heran dan kembali merebahkan badannya.
*********************************************
Raka memandangi Alen yang tertidur pulas dengan tersenyum.
" Apa aku terlalu keras ya, tapi tariannya sangat buruk, manja, cengeng lagi....tapi sangat cantik kalo marah, ternyata namanya Alen "
Tiba-tiba Alen terbangun dan terkejut melihat Raka ada disebelahnya.
" Hah jam berapa ini hadewww, aku lupa mengabari sahabatku "
Alen terkejut dan mencari hpnya yang sudah lowbat.
" Ayo pulang, aku banyak kerjaan, kalau tidak cepat aku tinggal "
Raka berdiri dan berjalan mendahului dengan tampang juteknya.
Memandangi sekeliling kampusnya yang sangat besar dan sudah mulai petang dan membayangkan dia sendirian, Alen menggelengkan kepalanya merasa ngeri sendiri dan berlari menghampiri Raka.
Raka dengan jalannya yang cool dan wajah juteknya serta langkah yang cepat membuat Alen terus berlari mengikutinya dan akhirnya kakinya terjatuh.
Raka spontan menghampiri Alen dan melihat kakinya merah, lalu Raka berjongkok di depan Alen.
" ayo naik punggungku!
" Lohhhh, kamuuu, ehhhh!! "
Alen kebingungan dengan perlakuan Raka. Tapi karena kakinya sakit dan lemas akhirnya Alen pun naik ke punggung Raka.
" Udah, jangan banyak gerak, kamu sih gendut, berat "
Ucap Raka dari depan sambil tersenyum.
" Aku gaaakkkkkk, gendutttttt "
Alen kesal dan tanpa sadar menggigit telinga Raka.
" Auwww....sakit tau...bilang aja kalo mau cium ga usa pake gigit"
Raka kaget dan menggoda Alen.
Alen yang malu dengan kelakuannya sendiri akhirnya memilih diam dan tertidur di punggung Raka.
Sampai digerbang kampus, Raka sudah ditunggu oleh satu mobil pengawalnya dan mobil satu lagi mengantar keempat adiknya pulang.
Merasa enggan menurunkan Alen dari gendongannya, Raka memerintahkan pengawalnya untuk meninggalkannya.
Memang jarak kampus dan rumah mereka hanya beberapa menit jika naik mobil jadi tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan jalan kaki.
Mobil pengawal tentu saja tidak meninggalkannya dan mengikutinya dari belakang.
" Dasar cewek ceroboh...bisa- bisanya dia tertidur..lucu sekali"
Sepanjang perjalanan Raka terus tersenyum membayangkan semua kejadian bersama Alen.
Sampai di gerbang perumahan, security nampak sudah membuka pintu gerbang setelah pengawal Raka terlebih dahulu menemui mereka.
Mereka langsung tercengang melihat Raka berjalan santai sambil menggendong seorang wanita dipunggungnya.
Keempat kembar sudah terlebih dahulu sampai di rumah mereka.
Dan mereka memutuskan untuk duduk santai diteras rumah mereka sambil minum teh dan menunggu kakaknya pulang.
Tiba- tiba Riko melihat kakaknya berjalan melewati rumah mereka sambil menggendong Alen tanpa menoleh ke arahnya.
" lho...lho...itu kakak ngapain....gaessss kalian liat apa yang aku liat?? "
Seketika ketiga saudaranya langsung berdiri ikut tercengang dan mengangguk bersamaan.
Sampai dirumah Alen, Raka kesulitan memencet bel.
Dia takut menjatuhkan Alen dari punggungnya.
Pengawalnya yang melihat dari mobil segera keluar dan membantunya.
" ting...tong..."
Siska mendengar langsung membuka pintu. Dan betapa kagetnya saat melihat Raka berdiri dan tiba- tiba masuk sambil menggendong Alen berjalan melewatinya langsung menuju tangga.
Mira, Siti, dan Elena yang berada di sofa pun langsung berdiri sambil menganga dan pelan- pelan membuntuti Raka menuju kamar Alen.
Sampai di dalam kamar, Raka menurunkan Alen dan menata posisinya.
Setelah itu Raka membuka sepatu Alen dan memasangkan selimut.
Raka lalu memandang Alen sebentar.
Kemudian Raka membuka balkon Alen dan dengan tali yang dibuat Alen diapun berseluncur kearah balkonnya dan masuk kekamarnya.
Keempat sekonco saling memandang heran sampai tidak bisa berkata apa-apa dan saling memandang sambil menunjuk ke arah balkon Alen. Sementara Alen tertidur pulas diranjangnya.
Kembar empat yang semula menunggu kakaknya keluar dari rumah sebelah sangat terkejut melihat Raka keluar dari balkon Alen dan meluncur ke kamarnya.
" Gaess...itu liat diatas...oh my goddd"
Riki menepuk - nepuk pipinya.
" Ini bukan mimpikannnn?? "
Ucap Riko sambil menepuk pundak Reki.
" Ini pasti mimpi...gak mungkinnn"
Roki menumpahkan snack nya sendiri tanpa sadar.
Akhirnya keempat kembar saling memandang.
" Kakakkkkkkkk, ternyataaaaaa. "
Ucap siempat kembar bersamaan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1