Tetanggaku Pencuri Hatiku

Tetanggaku Pencuri Hatiku
BAB 35: CIUMAN IMPIAN


__ADS_3

Ciuman impian


Wajah Alen memerah saat di pangkuan Raka. Bahkan Alen tidak berani menatapnya.


"Gimana nyuapinnya kalo kaya dini?" Alen berbicara sambil menunduk


Lalu Raka menarik pipinya yang menempel di pipi Alen dan sedikit melonggarkan pelukannya.


" Sekarang bisa kan? Buruan aku uda lapar!"


Alen mulai menyuapi Raka dan bergantian dengan dirinya.


" Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau tidak pernah disuapi oleh cewek cantik?"


" Pernah " Raka menjawab santai.


" ( apa..ternyata banyak wanita yang dia perlakukan seperti ini..dasar laki-laki) Jadi kamu sering disuapin sama cewek?" Alen bertanya dengan kesal sambil sedikit membanting sendok ditangannya.


"Sering...malah tiap kali bertemu" Raka tersenyum melihat Alen yang cemburu.


" Apa dia pacarmu?" Alen bertanya sambil memalingkan wajahnya.


" Bukan..tapi dia sangat berarti buatku. Suatu saat nanti pasti aku akan mengenalkanmu padanya" Raka sambil menyandarkan kepalanya di pundak Alen.


"( hah..dia mau mengenalkanku sama wanita lain) Lepaskan Raka, jangan memelukku! Kau makan saja sendiri!" Alen berusaha turun dari pangkuan Raka namun tertahan.


" Kenapa? Aku gak mau." Raka semakin mengeratkan pelukannya.


" Kenapa kamu tidak meminta wanita-wanitamu itu saja untuk menyuapimu? Sekarang lepasin aku!"


" Wanita yang mana?"


" Yang kau sebut tadi."


" Ooo...yang itu. Dia adalah ibuku. Kenapa kamu cemburu sama ibuku?"


" Apa? Ibumu? Emmm...aku tidak cemburu. Siapa juga yang cemburu?" Alen melemahkan suaranya dan menunduk malu.


" ( hihi...menggemaskan sekali kalo cemburu) Cuman ibuku dan kamu yang pernah nyuapin aku" Raka berbisik di telinga Alen.


" Tapikan aku bukan siapa-siapa kamu."


" Kamu itu gadisku, dan aku sudah bilang kalo kamu itu paca..aww( Alen menutup mulut Raka)"


" Kau ini benar-benar menghancurkan impianku...mana ada orang membicarakan suatu hubungan di dapur? Kau sangat menyebalkan!"


Alen turun dari pangkuan Raka dan pergi meninggalkan Raka sendiri, namun beberapa saat kemudian Alen kembali lagi ke dapur dan mengambil sisa nasi goreng yang akan dimakan oleh Raka.


" Stop...jangan dimakan! Ini kan nasi goreng untukku. Kamu bikin aja lagi!"


Sambil cemberut Alen kembali kekamarnya.


" Benar-benar cewek yang membingungkan. Bahkan dia belum berterimakasih padaku."


Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengambil hp nya dan menelpon pelayannya.


" Halo, kalian datang ke sebelah rumahku. Beresin dapurnya dan siapkan makan siang untuk mereka!...hem..mereka pasti lelah sekali " Raka lalu kembali ke rumahnya.


Hari itu 5 sekonco terlihat sangat lelah setelah latihan dengan keras hingga tampil mempesona di perlombaan, bahkan setelah membersihkan badan, mereka memilih bermalas-malasan di kamar sampai mereka tertidur hingga sore.


Mereka terbangun lalu sama-sama turun ke lantai bawah kecuali Siti.


" Duhhh...aku lapar. Ada makanan apa ya? Siti mana?" Siska.


" Bukannya kamu sekamar sama Siti?" Alen


" Tadi Siska tidur dikamarku. Dia lagi bantu aku catok rambutku. Jadi kita gak liat Siti deh." Mira.


" Iiuhhh...gaesss..liat deh. Ada yang nyiapain makanan buat kita nih." Elena berteriak di ruang makan.


Tersedia 5 piring makanan tertata dengan indah. Ditengah meja ada mawar merah segar dan harum. Bahkan di atas masing-masing serbet yang dibentuk kipas ada kertas kecil dengan nama 5 sekonco masing-masing.


" Kayanya yang ini buat aku deh. Tulisannya, teruntuk Miraku tercinta. Jangan lupa makan ya sayang. Love Reki. Iiihhhh..Reki baik banget deh" Mira langsung menikmati makanan yang ada dipiring.


" Buat Siskaku terenyah...makan ya manisku. From your handsome snack. Hehehe..ada-ada aja si Roki" Siska menikmati makananya .


" Khusus buat Elenaku yang seksi. Green salad just for you. From Riki. So sweettt...i like it" Elena langsung menyantap salad kesukaannya.


" El, kenapa gak jadian aja sama si Riki. Kmaren kan ciumannya dalam banget tuh." Siska


" I will think about it...semua tergantung sama Riki" Elena menjawab santai.


" Kalo yang itu buat Siti, berarti ini buat aku dunk. Tapi kok gak ada suratnya ya..ah bodo amat yang penting makan" Alen pura-pura cuek didepan para sahabatnya padahal dia bertanya tanya kenapa dia tidak mendapatkan surat sendiri.


Setelah 4sekonco selesai makan, mereka bersama- sama menuju kamar Siti untuk membawakan makanan untuknya.


"Astaga Siti, ternyata dia tertidur di meja belajarnya. Kasian banget, mending kita bangunin aja. Pasti Siti lapar." Mira


Pelan-pelan mereka membangunkan Siti yang tertidur di atas buku di meja belajarnya. Saat Siti terbangun, 4 sekonco teralihkan perhatiannya ke beberapa tumpukan buku Siti dan satu buku yang terbuka.

__ADS_1


" Aduhhh...boyokku pegel. Aku kayaknya ketiduran ya." Siti mengucek matanya.


" Iiuhhhh...Siti,apa kamu sadar kalo semua bukumu itu berbahasa inggris?" Elena membolak balik buku Siti.


" Ya iyalah. Aku kan sekolah dokter, pasti bukuku banyak yang bahasa inggris. Emangnya kenapa , El?"


" Kamu kan paling gak bisa bahasa inggris, Sitiii?"Mira duduk di samping Alen yang sedang berbaring di kasur Siti setelah memberikan makanan ke Siti.


" Aku itu kalo disuruh baca buku bahasa inggris ya pasti bisa dan lancar bahkan tau artinya semua apalagi kalo buku kedokteran. Tapi kalo disuruh ngomong, mbulet mulutku, gak iso blass"


" Udah...makan aja dulu. Tuh buka ada suratnya!" Siska


" Wahhh...ayu tenan makanan apa ini? Tapi kok daging tok? Nasinya mana?"


" Itu steak, Siti. Iiuhhhh"Elena ikut berebah.


" Putri jowoku yang cantik...makan yang banyak ya.love Riko. Banyak gimana to mas Riko ini? wong cuman daging tok gak ada nasinya. Mana kenyang..hehe." Siti langsung menikmati steak hingga habis.


Selang beberapa saat, hp Alen berbunyi. Seseorang mengirim pesan untuknya. Setelah membaca pesan, Alen langsung menuju kamarnya.


" Ngapain sih, dia ke balkonku lagi?" Alen membuka pintu balkon tapi Raka tidak ada disana.


Saat Alen berbalik, Alen melihat secarik kertas dengan bunga mawar merah diatas bantalnya. Alen membuka surat itu dan membacanya.


Isi surat Raka


" Maaf aku tidak meletakkan surat ini diatas serbet karena aku cuman mau kamu yang membacanya.


Untuk gadisku yang bawel. Kamu pasti uda makan dengan lahap kan makanannya, aku sudah menambahkan lada pada saosnya. Bukankah itu yang kau suka?


Emm..ini adalah surat pertamaku ke cewek jadi aku gak tau harus ngomong apa lagi. Jadi lebih baik aku temuin kamu langsung aja ya. Sekarang kamu keluar balkon dan liat aku dibawah!"


" Benar-benar surat yang aneh."


Alen segara ke balkon dan melihat Raka berdiri di bawah. Raka melambaikan tangannya dan menyuruh Alen untuk turun. Dengan tersenyum Alen langsung keluar dari kamarnya dan menemui Raka dihalaman rumahnya.


" Raka, kamu ngapain disini malam-malam?"


" Ayo ikut aku!" Raka menggandeng tangan Alen dan mengajaknya berjalan keluar dari rumahnya dan memasuki mobil sport Raka.


Raka mengendarai mobilnya masih dengan wajah datarnya dan Alen beberapa kali menatap Raka dengan penasaran.


Mereka hanya melakukan perjalanan hanya beberapa menit dari rumah mereka.


" Kita mau kemana,Raka? Ini sudah malam."


" Sebentar lagi sampe. Tenang aja."


" Kita mau ngapain disini?"


" Kita mau makan jagung bakar kesukaanku saat masih tinggal di indonesia sambil menatap bintang."


" Mana ada jagung bakarnya? Sepi gini lagi." Alen memandang sekitarnya yang sangat sepi.


" Sajikan sekarang!" Raka menelpon seseorang.


Tak lama beberapa pelayan Raka datang membawa meja, taplak, bunga mawar, dua gelas jus jeruk dan dua piring jagung bakar dengan hiasan yang cantik.


Setelah tertata rapi, para pelayan pergi meninggalkan mereka.


" Kamu cuman mau menatapku ato mau mencoba jagung bakarnya?" Raka membuyarkan tatapannya Alen.


" Hemmm..harum banget. Aku coba ya."


Alen mengambil jagung dan mulai menggigitnya lalu tangan Raka menyentuh tangan Alen dan mengarahkan jagung bakar Alen yang telah digigitnya ke mulutnya.


" Kamu kan punya sendiri, kenapa makan punyaku sih?"


" Karena lebih manis saat berbagi makan denganmu"


Raka mendekatkan duduknya ke Alen dan bergantian menikmati jagung bakar milik Alen sambil bertatap-tatapan.


Setelah selesai, Raka membersihkan mulut Alen dengan tisu dan memberikan jus jeruk padanya.


" Wahhh..kamu benar. Bagus banget bintangnya."


Alen menatap langit yang penuh bintang.


" Mau lihat yang lebih keren gak?"


Raka menarik tangan Alen dan mengajaknya berjalan mendekati kolam di tengah taman.


Banyak sekali kunang-kunang berterbangan di atas bunga-bunga diiringi suara jangkrik. Air kolam yang begitu tenang memantulkan cahaya bintang menjadi berkerlip-kerlip.


" Haaa...ini indah sekali...sangat romantis."


" Bener nih romantis, jadi boleh dunk ciuman? Katanya klo ciuman harus romantis dan dipenuhi bunga?" Raka menatap Alen


" Tapi kan aku gak pake baju cinderela? Setidaknya aku harus pake gaun yang indah dan harus ada alunan musik yang romantis." Alen mengucap dengan pandangannya yang menerawang sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kalo aku bisa membuat itu terjadi bagaimana?"


" Ahh..tidak mungkin" Alen menatap sinis.


" Halo, kemarilah!"


Raka menelpon kembali para pelayannya. Dan tak lama mereka datang dengan membawa gaun yang begitu cantik.


" Mari ikut kami, nona!"


Alen hanya terpana dan mengikuti dua orang pelayan wanita yang mengajaknya mengganti pakaian di ruangan yang telah disiapkan Raka.


Tak lama Alen keluar dengan menggunakan bold gown yang sangat indah dengan rambutnya yang sangat cantik.


Raka menatapnya dengan tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke Alen.


Mereka menuju gazebo berwarna putih yang telah dihiasi bunga berwarna-warni.


" Kau gadis roti isiku yang sangat cantik" Raka mencium punggung tangan Alen.


Seseorang mendekati gazebo dan melantunkan musik biola dengan indah.


Raka memegang pinggang Alen dan mengajaknya berdansa.


" Apakah ini sudah seperti impianmu?" Raka berbisik di telinga Alen.


" Ini melebihi apa yang kuimpikan." Alen menunduk malu.


Raka mengeratkan pelukannya dan mereka terhanyut dalam irama biola.


Setelah musik biola selesai dimainkan, pemain biola mohon ijin ke Raka untuk meninggalkannya.


Tinggallah mereka berdua disana.


" Kau menyukainya?"


" Iya..ini sangat indah, Raka. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Kapan kau menyiapkan ini semua?"


" Hemm...setelah kau menyanyikan lagu flashlight untukku."


" Tapi itu kan baru kmaren. Tidak mungkin secepat itu kan?" Alen yang memerah wajahnya


" Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu? Aku bisa melakukan semuanya."


" Iya benar, kau bahkan bisa membuat nasi goreng dengan sangat enak walaupun pertama kalinya memasak. Tapi ada satu yang kamu gak bisa."


" Apa itu? Cepat katakan!"


" Kau tidak bisa menghilangkan wajah jutekmu itu...haha"


" Akan aku coba khusus untukmu. Jadi apa aku sudah boleh jadi pangeranmu?"


Raka memegang dagu Alen dan mendekatkan bibirnya ke bibir Alen. Saat Alen menutup matanya, Raka perlahan mencium bibirnya dengan lembut.


" ( Ciumannya kali ini lebih membuat jantungku berdegup...aku tidak menyangka impianku terwujud)" Alen membatin sambil menikmati ciuman Raka.


" (Kenapa ciumannya lama sekali? Aku hampir tidak bisa bernafas) Raka...hah..hah"


" Hah...hah...maafkan aku. Aku terlalu terhanyut"


Raka memeluk erat Alen dan beberapa kali mengecup keningnya.


" Mulai sekarang kau harus menuruti semua yang kukatakan!" Raka menatap Alen dengan serius.


" Kenapa? Dan kalo aku tidak mau bagaimana?" Alen melepaskan pelukannya.


" Lihatlah! Belum apa-apa kau sudah membantahku."


" Membantah bagaimana? Kau bahkan belum mengatakan apa maumu? Bagaimana aku tau aku mau menurutimu atau tidak?"


" Kau tinggal bilang iya saja apa susahnya?" Raka mulai emosi.


" Kalo aku suka pasti aku bilang iya tapi kalo tidak suka bagaimana? Tentu saja aku bilang tidak. Ahhh...kau menyebalkan. Lebih baik aku pulang saja" Alen menarik jepit rambutnya hingga membuat rambutnya terurai dan berjalan meninggalkan Raka.


" Kau mau kemana? Mobilnya kan cuman satu."


Raka segera mendekati Alen dan kembali memeluknya.


"( kenapa aku tidak bisa mengatur wanita satu ini? Membuatku semakin menginginkannya) Baiklah, kau boleh mengatakan tidak jika tidak menginginkannya" Raka menyerah


" Benarkah?" Alen tersenyum puas.


" Iya benar. Ayo kita pulang ini sudah malam!"


" Raka tunggu! Trimakasih...malam ini sungguh indah" Alen mendekati Raka dan mencium bibirnya. Raka tidak menyiakan kesempatannya dan membalas ciuman Alen.


Setelah beberapa saat, Raka berteriak.


" Awww....kau menggigit bibirku?"

__ADS_1


" Emangnya cuman kamu aja yang bisa kasih tanda..hihi. Ayo kita pulang!" Alen berjalan mendahului Raka.


" Ternyata kau gadis roti isi yang liar..haha"


__ADS_2