Tetanggaku Pencuri Hatiku

Tetanggaku Pencuri Hatiku
BAB 39 : Memaksa Menikah


__ADS_3

Dengan perasaan gelisah dan amarah, Raka membaca petunjuk dan file yang didapat dari para pengawalnya. Beberapa kali Raka memutar rekaman cctv untuk memperjelas gambar wajah seseorang.


Raka baru menyadari bahwa orang yang ada di cctv beberapa kali berpapasan dengannya.


" Sepertinya orang ini mengikutiku. Aku harus berhati-hati dan mengecohnya."


Dengan bantuan beberapa kenalannya, Raka berhasil melacak nomer hp Alen saat menyala terakhir kali.


" Tuan, kami melacak nomer hp nona Alen terakhir kali berada di daerah tengah hutan 25 km dari sini. Beberapa pengawal sudah mendahului pergi kesana."


Raka membuka peta dan mengamati semua jalan alternatif 8 menuju titik tempat tujuan mereka.


"Baiklah, kita bagi team kita menjadi 3 bagian. Aku dan Riko bersama 3 orang pengawal akan melewati jalan ini. Reki, Roki dan dirimu serta bawalah dua orang, kalian lewat jalan tembusan sebelah timur. Riki dan 5 pengawal, kalian melewati jalan utama untuk mengecoh mereka."


" Mengecoh mereka? Apa maksud kakak?." Riko penasaran


" Beberapa kali aku melihat orang ini berada di sekitarku. Awalnya aku curiga , namun tiba-tiba orang ini menghilang. Aku mencoba mencari tau tapi tidak menemukannya. Sepertinya penculik Alen sudah lama mengintai kita. Karena itu aku memerlukan Riki untuk menyamar menjadi diriku dan mengecoh mereka. Apa kau siap , Riki?"


" Siap kak, serahkan padaku."


Setelah itu mereka segera melakukan tugas masing-masing. Raka menempatkan penjagaan yang lebih ketat lagi dirumah Alen untuk menjaga 4 sekonco.


Riki memakai baju Raka bersama ke 5 pengawalnya keluar dari rumahnya lewat pintu depan dan melajukan mobil mereka terlebih dahulu.


"Halo tuan, sepertinya Raka dan saudaranya telah meninggalkan rumah mereka. Baik, kami akan membuntutinya."


Anak buah Tama yang mengintai rumah Raka menelpon Tama dan segera mengikuti mobil yang dikendarai oleh Riki.


Rumah Raka dibuat gelap seakan sudah tidak berpenghuni. Selang beberapa saat team Reki dan Roki mengendap-endap menuju mobil yang berada di luar gerbang perumahan mereka dan melaju melewati rute jalan sesuai rencana mereka.


Raka dan Riko sembunyi di dalam mobil Erick. Sebelumnya Raka meminta bantuan Erick untuk memuluskan rencannya. Tentu saja Erick langsung bersedia membantu.


Petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang membukakan pintu untuk Erick.


" Selamat malam, tuan Erick. Silahkan tuan!" Petugas pintu gerbang.


" Terimakasih ,pak."


Erick mengendarai mobil sendirian sambil menyalakan radio di mobilnya dan bernyanyi-nyanyi agak tidak mencurigakan.


Raka kawatir orang yang menculik Alen masih mengintai mereka. Karena itu mereka sembunyi-sembunyi keluar dari rumah mereka.


Erick memasuki sebuah bengkel mobil dan pura-pura hendak mencucikan mobilnya. Di dalam bengkel, Raka dan Riko keluar dari bagasi mobil Erick dan pindah ke mobil Raka yang sudah menunggu bersama beberapa pengawal.


" Trimakasih, Erick. Tunggulah kabarku! Aku masih memerlukan bantuanmu." Raka


" Baiklah Raka, kau bisa mengandalkanku."


Secepatnya Raka memasuki mobil dan melaju meninggalkan Erick.


Para pengawal Raka yang telah menyelidiki tempat terakhir keberadaan Alen, mengabari bahwa mereka menemukan hp Alen yang dibuang.


" Halo, kalian menemukan hp nya? Apa, hanya ada hutan disana? Itu tidak mungkin. Telusuri daerah itu pasti ada sesuatu."


Setelah menutup telpon dari pengawalnya, Raka kembali menelpon seseorang.

__ADS_1


" Apa kau sudah memperoleh petunjuk? Ooo...begitu rupanya. Baiklah kabari aku jika ada sesuatu yang lain!"


" Ada apa kak?" Riko


" Aku baru mendapat kabar jika seseorang membeli lahan yang cukup luas didekat hutan. Bangunan itu tampak tertutup dan tidak bisa dilewati sembarang orang. Kita harus melihatnya."


Sementara Riki dan pengawalnya melewati kota dengan berkendara santai. Saat berada di jalan yang sepi, tiba-tiba beberapa mobil menghadang mereka.


Orang-orang berpakaian hitam membawa senjata menggedor pintu mobil Riki. Mau tidak mau Riki membukakan pintu dan mereka menangkapnya.


Para pengawal Riki diikat dan ditinggalkan di gudang yang sepi. Mereka membawa Riki dengan tangan yang terikat dan mata yang tertutup.


Sampailah Riki di sebuah rumah. Mereka menuntunnya memasuki sebuah kamar dan mendorongnya masuk.


" Siapa kalian? Kenapa membawaku kesini?"


" Sebentar lagi tuan kami akan menemuimu...brukkk( suara pintu ditutup)"


Reki memutar jam tangannya dan menyalakan alat pelacak untuk Raka.


Di mobil, Raka melihat hpnya berkedip. Alat lacak Riki mulai menyala.


" Mereka sudah membawa Riki, ayo kita kesana! Lacak para pengawal yang bersama Riki dan selamatkan mereka"


" Baik , tuan."


Raka menghubungi team Reki dan memberikan lokasi Riki berada.


Sementara Alen membanting semua barang yang ada dikamar mewah itu.


" Aku harus keluar dari rumah ini."


" Halo calon pengantinku. Kau pasti sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kita esok kan?hahaha."


" Jangan memanggilku seperti itu dan besuk aku tidak akan mau menikah denganmu dasar psikopat."


Alen berteriak dan mendekati Tama hendak menyerangnya namun ditahan para pengawalnya.


" Kupastikan beberapa jam lagi kau akan menerima pernikahan kita."


" Aku tidak akan pernah menerimanya." Alen menantang.


" Baiklah sepertinya kau harus menemuinya. Pengawal bawa laki-laki itu kesini!"


Pengawal membawa Riki masuk keruangan. Alen sangat terkejut melihat Riki diikat dan didorong didepannya.


" Halo tuan Raka, senang kau bisa mengunjungi istanaku. Kau adalah undangan khusus dihari pernikahanku dengan Alen...hahahaha."


Pengawal membuka penutup mata Riki. Riki melihat Alen dan menatapnya.


" Semoga Alen tidak membongkar penyamaranku menjadi kak Raka" Batin Riki.


" Sepertinya Tama tidak tau jika dia bukan Raka. Aku harus berpura-pura." Alen mendekati Riki dengan memanggil nama Raka.


" Raka, apa kamu tidak apa-apa? Lepaskan dia, Tama!" Alen memeluk Riki

__ADS_1


" Aku akan melepaskannya saat kita sudah menikah. Tapi kalo kau menolak, kau hanya akan melihat jasad pacarmu itu. Bawa dia kembali!"


Saat Alen memegang jaket Riki, Riki memasukkan alat pelacak dan pisau lipat ke dalam saku baju Alen.


Mereka membawa Riki dan Alen ke kamar mereka masing-masing.


Saat itu sudah lewat tengah malam, Raka berada di depat Rumah Tama yang seperti istana di tengah hutan. Dengan memakai pakaian serba hitam, Raka , Riko dan beberapa pengawalnya mengendap-endap mendekati rumah Tama.


Para pengawal Tama yang berjaga di depan telah berhasil dilumpuhkan.


Raka dan Riko memasuki pintu dapur dan bersembunyi di salah satu ruangan. Ternyata ruangan itu adalah ruang ganti para pelayan. Raka dan Riko menyamar menjadi pelayan dengan menggunakan kacamata dan kumis palsu.


Mentari telah nampak dari ufuk timur. Tama telah bersiap dengan menggunakan tuxido bersama beberapa tamu yang diundangnya diruangan yang digunakan untuk melakukan pernikahan.


Dikamar, Alen membiarkan para pelayan mendandaninya. Saat akan berganti baju, Alen melakukannya sendiri dan menyuruh pelayan menunggunya.


Alen memasukkan alat pelacak di pakaian dalamnya dan menyimpan pisau lipat dengan tali pengikat di pahanya.


Selesai berdandan bak pengantin, Alen keluar dari kamarnya. Dia melihat Riki yang diikat dan ditutup mulutnya didepan kamarnya. Alen berpura-pura menangis dan memanggil Raka.


" Raka...hiks..hiks( aku akan melepaskan ikatanmu Riki) ." Alen pura-pura menangis dan berbisik.


Saat memeluk Riki, Alen melepaskan ikatan tangan Riki di belakang punggung Riki dengan pisau lipat dan memasukkan kembali ke pahanya.


Mereka membawa Alen ke ruangan pernikahan. Tama dengan tersenyum lebar menyambut Alen. Dia tidak tahu Raka berada di ruangan itu menyamar menjadi pelayan. Sedangkan Riko tetap berada di dapur dan merencanakan sesuatu.


" Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Cepat ucapkan janji pernikahan kami!"


Tiba-tiba terdengar bunyi alrm kebakaran dan terlihat asab mengepul di dapur. Para tamu berhamburan dengan panik.


Dengan cepat Tama membawa Alen bersama beberapa anak buahnya ke atap rumahnya. Di atap, sebuah helikopter sudah menunggunya.


Reki dan Roki telah tiba dengan para pengawalnya dan bergabung dengan pengawal Raka yang berada didepan. Mereka melumpuhkan para pengawal Tama yang berjaga di sekeliling rumah.


Riki perlahan membuka ikatannya dan melumpuhkan dua pengawal yang menjaganya. Sejak kejadian membela Elena dari Anton, Riki semakin melatih beladirinya.


Raka melacak keberadaan Alen karena rumah Tama sangat luas dan mengikutinya ke lantai atas.


Riko masih sibuk melumpuhkan para anak buah tama di dalam ruangan dibantu Reki dan Roki.


Sampai di atap, Alen menarik pisau lipatnya dan menggores tangan Tama yang menggenggamnya hingga terlepas kemudian menjauhi Tama.


Raka berlari dan menghajar para pengawal Tama yang berada di depan Tama untuk melindunginya.


" Pengawal, tangkap wanita itu!"


Dua pengawal mendekati Alen hendak menangkapnya. Alen berdiri dan merobek rok gaun pengantin panjangnya yang menjuntai.


Dengan pisau lipat ditangannya Alen menghajar pengawal yang mendekatinya lalu membantu Raka menghajar para pengawal Tama yang mengelilingi tuannya.


Saat para pengawal berhasil dilumpuhkan oleh Raka dan Alen, lagi-lagi Tama menggunakan senjatanya dan mengarahkannya ke Alen dan Raka.


" Jika dia tidak bisa kumiliki, kaupun tidak boleh memilikinya Raka."


" Letakkan senjatamu! Jangan kau sakiti Alen! Tembak saja aku!" Raka.

__ADS_1


" Baiklah...hahaha."


" Raka....brak...dorr."


__ADS_2