
Limo sekonco masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal dan berkumpul di ruang keluarga.
"Alen, tunggu! Kamu harus menjelaskan kepada kami apa yang terjadi!" Mira menatap Alen dengan penasaran.
"Hah, sejak penculikan itu, Raka jadi sangat posesif sama geng kita. Terutama sama aku. Dia takut jika kita ikut final, nanti akan ada Tama-tama yang lain."
Alen mencoba menjelaskan kepada empat sabahatnya dengan hati-hati karena tidak ingin membuat teman-temannya harus terlibat pertengkarannya dengan Raka seperti sebelumnya.
"Terus, apa yang akan kamu lakukan, Alen?" Elena menyilangkan kakinya di sofa.
"Tentu saja aku akan tetap membuat band kita tampil sebagus mungkin. Lagian kita sudah susah-susah latihan, mana mungkin aku membubarkan band kita." Alen memandang para sahabatnya dengan serius.
"Dengan resiko kehilangan Raka?" Siska tiba-tiba menyeletuk.
"Iiuhh, Siska. Kalo Raka memang sungguh-sungguh cinta sama Alen, apapun yang terjadi dia pasti akan kembali." Elena meyakinkan Alen.
"Sekarang, yang terpenting kita harus berusaha lebih giat lagi supaya band kita tampil lebih bagus dari sebelumnya."
Alen mengarahkan telapak tangannya ke depan dan ke empat sahabatnya memegang telapak tangan Alen bersama-sama sambil tersenyum.
"Sek ya, aku mau nanya. Penampilan sebelumnya kan memang penampilan kita yang paling bagus. Udah ndak ngisin-ngisini. Terus sekarang disuruh lebih bagus lagi iku seng piye , Len?"
Siti membuka kacamatanya dan menatap ke empat sahabatnya yang mematung mendengar pertanyaan Siti.
" Bener juga kata-kata Siti. Kita mesti tampil lebih bagus lagi kaya apa?" Siska ikut penasaran.
"Kali ini, harus sesuai sama gender kita. Rock n roll." Alen tersenyum diikuti anggukan empat sekonco.
Rumah Raka.
"Halo, saya ingin membicarakan tentang malam final di acara perlombaan kampus kita. Apa, semua sudah siap? Banyak yang jadi sponsor? Bagaimana mungkin? Oh, begitu. Baiklah, terima kasih."
Raka menelpon pihak penyelenggara perlombaan di kampusnya. Awalnya Raka ingin menundanya agar keamanannya bisa dipersiapkan lebih matang dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun pihak penyelenggara mengabarkan jika acara tersebut mendapatkan banyak sponsor dibanding tahun-tahun sebelumnya karena penampilan babak penyisihan yang luar biasa. Bahkan acara malam final nanti akan ditayangkan di salah satu stasiun televisi dan semua tiket telah terjual habis.
"Sialan, aku tidak bisa menunda acara itu."
Raka mengacak-acak rambutnya karena kesal.
"Bagaimana aku membuat Alen membatalkan penampilannya? Aku yakin pasti ada penggemarnya yang akan bertindak kurang ajar lagi. Aku harus cari jalan lain."
Raka menemui ke empat saudara-saudaranya untuk bertukar pikiran walaupun sebelumnya Raka selalu mengambil keputusan sendiri, namun kali ini berbeda.
"Reki, bagaimana menurutmu? Apakan kau setuju acara final ditunda? Kau pasti khawatir sama Mira, kan?"
Raka langsung bertanya saat di depan saudara-saudaranya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Sebenernya kakak ini kenapa sih? Kok tiba-tiba ngelarang mereka tampil. Apa kakak gak kasian, mereka sudah latihan seperti itu tapi malah dilarang?" Riko merasa aneh dengan tingkah kakaknya.
"Kak, aku pastinya khawatir sama keselamatan Mira, tapi gak adil juga kan kalo sampai acara itu dibatalin gara-gara satu satu pihak." Reki mencoba menjelaskan kepada kakaknya yang memang sangat keras kepala.
"Apa kalian pikir kakak setega itu? Kita harus berfikir bagaimana caranya agar limo sekonco aman. Nanti kakak akan jelaskan. Ingat satu hal, kalian harus mengawasi mereka tapi tanpa mereka sadari. Kalian bisa melakukannya?"
"Siap, kak." Empat kembar bersamaan.
__ADS_1
Setelah mandi dan sarapan, limo sekonco memanggil Eric dan bersiap untuk mulai latihan lagi. Setelah babak penyisihan, Alen sempat menyuruh orang untuk memasang alat meredam suara di ruangan bandnya agar mereka bisa latihan dengan tenang tanpa menganggu para tetangganya.
Diruang band, limo sekonco telah sibuk mempersiapkan alat musik mereka masing-masing. Erick berbincang dengan Alen tentang lagu yang dipilihnya.
"Kali ini, kalian mau lagu yang bagaimana?"
"Kita mau yang lebih rock n roll. Eh, ngomong-ngomong kamu sama anak-anakmu kemana beberapa hari ini? Aku lihat rumahmu sangat sepi, Erick."
"Anak-anak minta berlibur di pantai. Jadi aku menginap di penginapan pantai x yang sangat indah. Rasanya benar-benar membuat pikiran menjadi damai dan tenang kembali."
"Waow, sepertinya aku ingin kesana. Bagaimana teman-teman, apa kalian sudah siap. Kita mulai ya latihannya."
Limo sekonco bersama Erick menghabiskan waktu untuk berlatih. Sedangkan di samping rumah mereka, Raka tak henti-hentinya menelpon pihak penyelenggara untuk memastikan keamanan acara malam final.
"Kenapa tiap kali bertengkar, aku jadi semakin merindukannya? Ternyata lebih sulit mengatur wanita satu ini daripada beberapa cabang perusahaan ayah."
"Tut..tut..tut.." Hp berbunyi.
"Halo, ayah ada apa? Kenapa medadak begini? Aku tidak bisa, ayah. Baiklah, tapi aku minta waktu sampai malam final selesai."
Setelah menutup telepon, Raka mencoba menghubungi Alen, namun hp Alen tidak aktif.
"Waktuku tidak banyak. Aku harus benar-benar memastikan mereka aman."
Riko, Reki, dan Roki sibuk menyelesaikan tugas mereka. Raka masih tidak mengijinkan mereka menemui sekonco jika tugas mereka tidak selesai. Demi menemui pujaan hati, kali ini mereka benar-benar berusaha dengan baik meyelesaikan tugas mereka.
"Aku kanget banget ama Mira sayang. Pengen meluk. Setelah ini aku akan menemuinya." Reki dengan serius berada di depan laptopnya.
"Yes, tugasku udah selesai semua. Elena darling, im coming...hehe."
Riki merapikan buku-bukunya dan segera menelpon Elena.
"Iiuhhh, aku sedang latihan band sama Erick."
"Apa kau akan dekat-dekat dengannya? Ingat, kau sudah berjanji tidak akan dekat dengan laki-laki manapun selain diriku."
"Tentu saja aku ingat, ada apa menelpon?"
"Hehe, aku cuman kangen aja...muah."
"Tadi pagi barusan ketemu kan? Apa kau selalu terbayang-bayang oleh diriku, beb?" Elena bertanya dengan nada seksi.
"Tentu saja, aku tidak bisa melupakan dirimu barang sedetikpun. Boleh aku menemuimu?"
"Datanglah! Kita ada diruang band. Aku menunggumu...muaachhh." Elena merayu Riki
Tanpa berpikir panjang, Riki segera bersiap menuju sebelah rumahnya.
"Duh, yang habis jadian ma Riki. Kayanya happy banget nih." Siska menggoda Elena.
"Siapa bilang jadian? Gak juga." Elena tersenyum
"Emang Riki gak nembak kamu?" Mira penasaran
"Iya sih, dia nembak aku. Tapi aku bilang dia harus jadi dokter yang hebat dulu baru jadi pacarku."
__ADS_1
"Trus dia setuju?" Alen ikut penasaran
"Pastilah dia setuju. Tapi syaratnya panjang. Aku gak boleh deket cowok lain, kemana-mana harus sama dia, bahkan ciuman cuman boleh sama dia. Dan aku tiba-tiba setuju gitu aja."
"Bukannya sapa aja berarti kamu itu pacarnya, El? Hahaha." Siska tertawa
"Waww, Riki cowok yang keren dan smart ternyata ya. Kau sudah berada di genggamannya, Elena. Hahaha." Erick ikut tertawa mendengarkan cerita Elena.
"Sepertinya begitu. Hahaha." Elena menggelengkan kepalanya dan tertawa.
Tak lama Riki datang dengan membawa banyak sekali makanan untuk limo sekonco dan Erick.
"Pasti kalian belum makan, kan? Mending istirahat dulu. Ayo, kita makan! Elena darling, ini salad special buat kamu."
Riki dan Elena saling suap-suapan dengan manja membuat Erick tertawa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pasangan yang sangat lucu. Hahaha."
Setelah makan, Alen sengaja menjauh dari ruang band. Sejenak dirinya ingin menenangkan diri karena terus teringat dengan Raka. Alen mengecek hpnya, ternyata dia lupa menyalakannya sejak semalam.
"Kenapa banyak sekali misscall dari Raka hari ini? Mau apa di menelponku? Pasti mau melarangku buat tampil. Dasar nyebelin, biarin aja aku gak akan telpon dia balik."
Walaupun kesal dengan sikap Raka, tapi Alen tak henti-hentinya menatap foto Raka yang diambilnya dengan diam-diam saat membuat nasi goreng untuknya.
Secara bersamaan, Raka dikamarnya juga sedang memandang foto Alen di hpnya.
"Telpon gak ya? Aku telpon aja, ahh."
Saat Raka menelpon, Alen sudah mulai berlatih lagi dan tidak mendengar hp nya berbunyi.
"Kenapa dia tidak mengangkatnya? Lebih baik aku samperin aja kerumahnya.
Raka segera berjalan ke rumah Alen melewati halaman belakang. Sampai di depan pintu dapur, Raka mengetuk berkali-kali namun tidak ada yang membukakan pintu. Saat Raka mencoba membuka pintu, ternyata pintunya tidak terkunci.
"Dasar ceroboh. Bisa-bisanya mereka tidak mengunci pintu."
Raka memasuki dapur dan langsung menuju ke ruang depan namun tidak ada siapa-siapa. Terdengar suara ramai di salah satu ruangan. Raka mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.
"Ternyata mereka sedang latihan. Memang band mereka semakin lama semakin bagus. Apa yang harus aku lakukan?"
Raka menatap Alen dari celah pintu dengan pandangan yang syahdu. Betapa bahagianya wajah Alen saat menyanyikan lagu bersama teman-temannya. Raka yang semula berwajah dingin tiba-tiba tersenyum seakan ikut dengan perasaan bahagia Alen.
"Kau benar, Alen. Tidak seharusnya aku menghancurkan kebahagiaanmu. Tapi sekarang aku harus menata hatiku, karena setelah ini aku harus jauh darimu."
Perlahan Raka meninggalkan rumah Alen setelah mengambil foto Alen saat latihan dengan berbagai gerakan metalnya.
Alen yang tidak sengaja menoleh ke arah pintu terdiam saat dia merasa ada seseorang disana.
"Sepertinya Raka."
Alen berlari keluar ruangan namun tidak ada siapa-siapa.
"Mungkin karena aku merindukannya jadi berhalusinasi. Ah..sudahlah." Alen kembali melanjutkan latihannya.
"Dengarkan, kalian harus menjaga mereka terutama Alen! Kemanapun mereka pergi, kalian harus mengikuti mereka. Dan untuk kamu, tugasmu mengawasi Alen dan melaporan padaku kegiatannya setiap hari. Mengerti?"
__ADS_1
"Baik, tuan." Beberapa pengawal Raka mendapatkan tugas baru dari Raka.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Alen."