
Semua barang bawaan telah di packing. Limo sekonco bersiap kembali ke rumah. Setelah sarapan di villa, empat kembar menjemput mereka.
"Apa kalian sudah siap? Biarkan pengawal membawa barang bawaan kalian." Riko memerintahkan pengawalnya untuk memasukkan barang limo di bagasi mobil.
"Siska, nanti Roki akan bersamamu bersama Reki dan Mira. Siti dan Alen kalian ikut denganku dan Elena kau bersama Riki."
Mereka keluar dari villa dan menuju mobil masing-masing.
"Eh tunggu dulu, Siska ayo ikut aku!"
Roki mengajak Siska ke salah satu mobil yang berisi banyak sekali barang.
"Ini barang apa aja sih banyak banget?"
"Aku bawa banyak snack untuk liburan. Tapi karena kita harus balik jadi aku belum sempat memakannya. Mending kita bawa ke mobil dan kita makan sama-sama."
Dalam perjalanan, Roki dan Siska asyik saling suap snack favorit mereka. Sedangkan Reki dan Mira bersenda gurau di kursi belakang.
Riko terlihat mengambil kesempatan berdekatan dengan Siti. Sesekali Riko tersenyum sambil membelai rambut Siti saat mendengar omongan Siti yang sangat medok.
"Mas Riko dari tadi mesam-mesem tok denger aku ngomong. Emang mas Riko tau yang tak ucapkan?" Siti menatap Riko yang sedari tadi memandangnya.
"Hehe, ada yang ngerti ada yang gak ngerti. Tapi mas Riko seneng banget kalo denger Siti ngomong. Rasanya ademmmm...banget disini." Riko menujukkan ke jantungnya sambil memegang tangan Siti.
"Emang es adem?" Ono wae mas Riko ini. Aku tambah isin iki." Siti tertawa dengan pipi yang merona.
"Siti, kamu pernah punya pacar gak waktu SMA?" Riko memberanikan diri bertanya ke Siti.
"Belum pernah pacaran,mas. Soalnya bapakku galak. Cowok-cowok yang coba deketin aku pada kabur semua kalo ketemu bapakku. Lagian aku sibuk belajar jadi gak mikirin juga."
"Kalo sekarang mikirin gak?"
"Hehe, nganu aku kadang mikirin dikit-dikit." Siti menjawab dengan malu.
Alen yang duduk di sebelah sopir tertawa sambil menutup mulutnya mendengar percakapan Riko dan Siti.
Di mobil yang lain, Elena nampak menyandarkan kepalanya di bahu Riki. Tentu saja membuat Riki tersenyum sepanjang perjalanan.
"Iiuhhhh, Riki kamu itu nyebelin tau gak?" Tiba-tiba Elena memukul manja dada Riki yang bidang.
"Emang kenapa, darling?"
"Kamu uda bikin aku selalu bergantung sama kamu. Jadinya gak enak tuh, kalo kemana-mana gak ada kamu, honey." Elena merajuk manja.
"Hehe, ya gak pa-pa sama aku aja darling. Aku akan siap mendampingimu kemana saja." Riki mencium rambut Elena dengan mesra.
Setelah beberapa jam mereka sampai didepan rumah. Alen secepatnya membawa barangnya dan menuju kamar setelah mengucapkan terimakasih kepada empat kembar.
"Makasih ya atas semua bantuan kalian. Aku kekamar dulu."
"Kapan kau akan ke rumah orang tuamu, Alen?"
Riko bertanya ke Alen dan menghentikan langkah Alen yang sudah berada di tangga.
"Besuk aku harus berangkat. Ayahku sudah menyiapkan tiket untukku."
"Baiklah, kita akan mengantarmu ke bandara."
"Iya, terimakasih." Alen kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Darling, kita pamit dulu ya. Kamu dan yang lain lebih baik istirahat dulu." Riki mengecup kening Elena dan menuju rumahnya bersama saudaranya yang lain.
Empat sekonco menuju kamar Alen dan membantu mengemas barang yang akan dibawa Alen besuk ke rumah orang tuanya.
"Alen, kira-kira sampai kapan kamu akan berada di sana?" Mira bertanya dengan sendu.
"Entahlah, aku tidak tau. Ayahku bilang akan ada hal penting yang mau dibicarakan."
Setelah selesai membantu Alen, limo sekonco kembali ke kamar masing-masing. Alen duduk di balkon sambil menatap kamar Raka didepannya.
"Aku merindukanmu Raka. Apa yang sedang kau lakukan? Apa wajahmu masih jutek seperti biasa?" Tak terasa air mata Alen menetes dipipinya.
__ADS_1
Disebelah kamar Raka, Riko sedang melakukan vidio call dengan Raka. Alen tidak tau jika Riko mengarahkan hpnya ke arah kamarnya sehingga Raka bisa melihat wajah Alen yang menangis.
"Maafkan aku Alen, aku benar-benar tidak bisa jauh darimu. Setelah ini selesai aku akan menemuimu. Aku tidak perduli jika kau akan sangat marah padaku." Raka mematikan hpnya karena hatinya semakin sakit melihat Alen.
Keesokan harinya, limo sekonco dan empat kembar bersama-sama mengantar Alen ke bandara. Mereka menunggu 1 jam sampai akhirnya pesawat Alen telah siap berangkat.
"Aku pergi dulu ya, gaes. Jaga diri baik-baik." Alen memeluk ke empat sahabatnya dan mengucapkan terimakasih kepada empat kembar.
Setelah Alen tak terlihat, mereka kembali ke rumah masing-masing.
"Elena darling, apa kau mau mampir ke suatu tempat dulu sebelum ke rumah?" Riki menawarkan Elena namun Elena menolaknya.
"Tidak perlu, Riki. Kita harus segera kembali ke rumah. Ada hal penting yang harus aku diskusikan ke sahabatku. Dan ini rahasia jadi jangan bertanya!"
Riki yang penasaran langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sampai di depan rumah, Elena langsung menarik 3 sekonco masuk rumah dan menyuruh kembar untuk pulang.
"Gaes, kita harus bersiap. Beberapa hari lagi kita akan menyusul Alen." Elena menatap ke tiga sahabatnya.
"Apa?" Mira, Siti dan Siska bersamaan.
Setelah beberapa jam Alen telah tiba di tempat tujuan. Orang tua Alen dan Adolf telah menunggunya di bandara.
"Alen...sini!" Ibu Alen melambai padanya.
Dengan tersenyum Alen menghampiri keluarganya dan memeluk mereka dengan erat.
"Ayah dan Ibu sangat merindukanmu, sayang. Kau pasti sangat lelah. Ayo, kita pulang!"
Mereka bersama-sama menaiki mobil mewah dan melaju menuju kediaman mereka.
"Adolf, kakak sangat merindukanmu. Apa kau tidak rindu dengan kakak?" Alen memeluk dan mencubit pipi adiknya.
"Untuk apa aku rindu dengan kakak. Hidupku tenang sekali kalo kakak tidak ada dirumah. Tidak ada yang teriak-teriak dengan suara fals nya."
"Ihhhh, kamu tidak tau ya kalo kakakmu ini sekarang suaranya merdu sekali. Kakak sudah jadi juara band. Nanti kakak akan tunjukkan suara merduku padamu."
Adolf memegang kepalanya sambil berteriak.
"Hah, kalian ini selalu saja ribut. Tapi nanti kalo berjauhan saling kangen. Apa tidak bisa akur sebentar saja." Ibu Alen menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja! Kalo begini kan rumah kita jadi rame lagi. Hahahaha." Ayah Alen tertawa melihat kedua anaknya yang selalu saja bertengkar.
Mereka telah sampai di depan gerbang yang sangat megah. Dengan menggunakan remout pintu gerbang terbuka sendiri. Alen tersenyum bahagia saat melihat rumahnya yang begitu dirindukannya.
"Hah, home sweet home." Begitu mobil berhenti, Alen langsung keluar dari mobil dan berlari memasuki rumahnya dan memeluk para pelayan yang menyambutnya.
"Selamat datang, nona Alen kami sangat merindukan anda." Salah satu pelayan dengan tersenyum bahagia.
"Aku juga sangat merindukan kalian."
Setelah itu Alen langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
"Wah, kamar tercintaku, aku kanget banget."
Saat Alen melompat-lompat diatas kasur, Alen terkejut melihat koper yang berjajar di kamarnya.
"Untuk apa koper ini? Kok berat berarti ada isinya dunk. Ibuuu...ini koper buat apa?" Alen berteriak memanggil ibunya.
"Oo, itu koper berisi barang-barangmu. Lusa kita akan pergi ke negara x untuk menghadiri acara penting." Ibu Alen masuk kekamar Alen dan duduk di kasur.
"Tapi kenapa banyak sekali. Emang kita akan lama disana?"
"Sepertinya begitu. Sekarang kamu istirahat karena besuk kita punya banyak acara."
Ayah Alen masuk ke ruangan kantor di rumahnya. Perlahan menelpon seseorang lewat ponselnya dengan berbisik.
"Halo, tuan Roberth. Anakku sudah datang. Bagaimana persiapan disana?"
"Semuanya lancar, anda tenang saja. Kenapa sekarang anda yang berbisik?"
__ADS_1
"Aku takut anakku tiba-tiba mendengar percakapan kita. Tapi kenapa anda juga berbisik?"
"Oh iya aku lupa kalo anakku sedang dikantor. Hahaha."
"Baiklah tuan Roberth, sampai ketemu secepatnya. Bye calon besan. Hihihi."
Keesokan harinya Alen merasa bahagia bisa menikmati sarapan bersama orang tua dan adik tercintanya.
"Adolf, apa kamu sudah lihat perlombaan band kakak? Kan masuk tv. Kamu bisa lihat di youtube!"
"Gak mau males, paling juga malu-maluin kaya dulu."
"Bukannya kamu menangis melihat kakakmu jadi juara?" Ayah Alen melirik ke Adolf yang memberi kode ke Ayahnya agar tidak mengatakan ke Alen.
"Ups, maaf Adolf kamu sih telat bilang ke ayah kalo gak boleh ngomong." Ayah Alen kembali membaca korannya.
"Hahh..jadi kalian sudah lihat? Gimana aku keren kan?"
"Iya sayang, kau sangat keren. Ibu langsung mengundang ibu-ibu komplek untuk merayakan kemenanganmu dan menonton ulang bersama-mereka."
"Dan adikku Adolf menangis, ahhh aku begitu terharu...muah..muah...muah." Alen memeluk adiknya dan menciumi pipi tembemnya.
"Aku tidak menangis. Sana, hentikan." Adolf mendorong bibir Alen yang mencium pipinya.
"Alen, jangan mengganggu adikmu! Ayo, bersiap sebentar lagi kita akan ke salon! Kamu harus perawatan sebelum berangkat." Ibu Alen mengingatkan keberangkatan mereka untuk menghadiri acara penting.
"Ke salon? Apa harus, ibu? Ngapain sih pake nyalon?"
"Udah jangan banyak tanya. Turuti aja ibumu ini!"
Alen akhirnya mengikuti ibunya menuju salon kecantikan. Dengan heran Alen melihat ibunya yang mengambil paket perawatan untuk calon pengantin.
"Ibu, kenapa paket pengantin sih. Emang Alen mau jadi pengantin?"
"Udah diem aja! Sana masuk!"
Alen memasuki ruangan yang sangat harum dan memulai perawatan layaknya seorang pengantin.
"Enak juga ya jadi pengantin. Tau gini aku minta paket ini aja kalo ibu mengajakku ke salon. Hihihi..berasa jadi pengantin beneran."
Setelah selesai perawatan, ibu Alen mengajak memasuki boutique pakaian pesta dan pengantin.
"Ibu, ngapain kita kesini?"
"Ya mau beli baju dunk, kamu ini gimana sih. Ayo masuk!"
Ibu Alen memasuki boutique dan bertemu dengan pemiliknya.
"Hai, nyonya Sofia Edward. Saya sudah menunggu kedatangan anda. Ini sudah saya siapkan beberapa rancangan terbaru kami. Wah, apakah ini anak anda? Sangat cantik." Pemilik boutique menyambut Alen dan ibunya.
"Iya, ini anak saya. Tolong pilihkan yang cocok untuknya!"
Alen langsung digiring ke sebuah ruangan yang penuh dengan baju-baju pesta.
"Wah, ini sangat cocok untuk anda, nona. Pasti anda akan terlihat sangat cantik di acara penting itu." Pemilik boutique hampir keceplosan dan menutup mulutnya saat ibu Alen melotot ke arahnya.
"Baiklah, kami akan mengambil yang ini." Ibu Alen menuju kasir untuk membayar dan segera membawa Alen pergi dari tempat itu. Setelah sampai dirumah, ibu Alen menyuruhnya untuk istirahat karena besuk pagi-pagi mereka akan berangkat.
"Kau harus tidur, sayang. Agar kantung matamu tidak menghitam."
"Iya, ibu." Alen menuruti perkataan ibunya walaupun tidak biasa.
"Kenapa ibu aneh sekali sikapnya ya. Emang mau ada acara apa sih kok heboh banget. Paling-paling acara membosankan seperti biasanya."
Di kamar, ibu Alen langsung merebahkan badannya.
"Suamiku, hampir saja rencana kita terbongkar gara-gara pemilik boutique hampir keceplosan."
"Tapi masih aman, kan?ya udah kita harus istirahat. Besuk setelah sampai disana kita harua memberitahu Alen tentang perjodohan ini."
"Iya, suamiku."
__ADS_1