
Pagi-pagi sekali Riki sudah bangun dan langsung ke tempat gym untuk melatih ototnya.
" Aku harus melatih ototku biar Elena klepek-klepek..hihi."
Riko dikamarnya merasa sesak karena Reki dan Riko selalu saja ikut tidur dikasurnya. Memang kamar Riko paling besar dilantai bawah dan paling dekat dengan kolam renang.
" Duhhh...kayanya aku salah deh milih kamar. Sesak tauuuu...buk..buk.." Riko melempar bantal ke Reki dan Roki.
" Huaaa( menguap)...apaan sih..berisik..buk" Reki melempar kembali bantal ke Riko.
Menghabiskan beberapa novel dalam semalam adalah kebiasaan Alen yang tidak bisa ditinggalkan. Sambil menangis dengan tisu yang berceceran dikasur, Alen membaca bab per bab novel yang telah dibelinya bersama Raka hingga tertidur.
" Tut...tut...tut ( bunyi hp berdering)"
Masih dengan mata yang terpejam, Alen menggerakkan tangannya mencari hp di sekitar kasurnya.
" Halo...sapa ini?" Alen menjawab dengan suara yang serak.
" Ini uda jam berapa, kok belum bangun juga. Bangun dunks, ayo olahraga!" Raka
" Males..masih ngantuk."
" Hemm...kalo gitu aku kekamar kamu trus aku gendong kamu dan aku bawa ke bawah. Gimana?"
" Hahhhh....gak usah. Aku tar lagi turun..hehe."
Alen bergegas mengganti piyamanya dan turun menemui Raka di halaman belakang rumahnya.
Di sana Raka sudah menunggu bersama 4 sekonco dan 4 kembar yang masih setengah terpejam kecuali Riki yang memang sudah bangun duluan.
" Mulai hari ini, kalian harus rajin berolahraga dan melatih otot-otot kalian agar lebih kuat. Kalian juga harus berlatih beladiri!" Raka berbicara dengan serius.
" Kenapa?" Siska bertanya sambil bersandar di bahu Roki yang sama-sama setengah terpejam.
" Supaya kalian bisa melawan orang yang berniat jahat sama kalian."
Raka membuka kaosnya dan hanya bertelanjang dada menunjukkan perut sixpack nya. Tentu saja membuat 5 sekonco langsung membuka lebar matanya sambil berbisik-bisik mendekati Alen.
Merasa diabaikan, 4 kembar melupakan kantuknya dan ikut membuka kaos mereka dan memamerkan tubuh mereka yang sekarang tidak kalah seksi dari kakanya.
Pagi yang membosankan berubah seketika menjadi pagi yang cerah dan menyenangkan.
Riki tak henti-hentinya mendekati Elena sambil menunjukkan beberapa gerakan perlawanan untuk perlindungan diri. Sedangkan Elena yang senang melihat tubuh Riki yang semakin kekar sesekali sengaja terjatuh manja agar Riki mendekapnya.
" Auwww...sakit. Gimana sih caranya? Aku gak bisa." Rengek Elena.
" Hati-hati darling, sini aku bantu ya." Riki begitu perhatian ke Elena.
Setelah selesai, merekapun kembali ke rumah masing-masing setelah berpamitan mesra.
" Elena darling, jangan lupa nanti malam aku jemput ya. Kita kan mau kencan..hehe."
" Oke deh. See u.." Elena mengedipkan satu matanya ke Riki.
Sedangkan Raka dan Alen masih bertarung menunjukkan keahlian bela diri mereka karena Raka penasaran dengan kemampuan Alen.
" Sekarang kamu serang aku!" Raka memerintah.
" Ok. Jangan menyesal ya..."
Alen tersenyum dan menyerang Raka, namun dengan mudah Raka mengalahkannya dan mencengkeram Alen dari belakang.
Alen yang tidak mau kalah sengaja mendekatkan bibirnya ke Raka hingga membuat Raka melonggarkan cengkeramannya hendak mencium Alen. Lalu dengan gerakan yang cepat, Alen menjatuhkan badan Raka di lantai dan menindih perut Raka dengan sikunya.
" Bukk...auww..kamu main curang ya?" Raka
"Emang ada aturannya kalo itu dibilang curang?...hehehe."
Saat Alen mau berdiri, Raka dengan cepat menarik Alen hingga terjatuh diatasnya dan langsung mencium bibir Alen dengan sedikit mengigitnya.
" Itu hukuman karena kamu sudah curang."
" Iihhh...dasar."
__ADS_1
Raka tersenyum sambil memandang Alen yang berlari menuju rumahnya dengan wajahnya yang memerah menahan malu.
Malam sebentar lagi akan menggantikan langit yang terang. Riki dengan hati yang gugup telah bersiap dengan memakai baju setelan jas yang dipilihkan oleh saudara-saudara kembarnya.
" Gimana penampilanku, bro? Apa aku uda keren?" Riki bertanya sambil jalan mondar-mandir.
" Kamu keren banget, Riki. Ingat ya gak boleh gugup. Just be your self, ok!" Riko mengingatkan.
Setelah merasa siap, Riki menjemput Elena di rumah sebelah.
" Ting....tong..." Riki memencet bel.
Seperti biasa selalu Siti yang membuka pintu.
" Eh..mas Riki, mau jemput Elena ya? Tumben mas Riki kelihatan ganteng banget hari ini." Siti
" Emang yang kemaren-kemaren gak ganteng ya , Siti?"
" Ya pasti ganteng namanya juga laki-laki. Tapi banyakkan hari ini..hehe. Benerkan, gaess?" Siti bertanya sama Mira, Siska dan Alen saat mendekat.
Tak lama Elena terlihat menuruni tangga dengan begitu cantik menggunakan gaun yang seksi. Riki menatapnya dengan terpana seakan waktu berjalan lambat.
" Woww you look amazing , darling." Riki tersenyum sambil mengecup punggung tangan Elena.
Sambil menggandeng lengan Riki, Elena mengikuti Riki menuju mobil sport Riki yang mewah.
Riki membukakan pintu mobil untuk Elena dan Elena masuk sambil membelai dada Riki dengan menggoda.
" Haduhh, kenapa tubuh bagian bawahku tegang terus? Semoga Elena tidak mengetahuinya. Bisa malu aku..hihi." Riki mengucap dalam hati sambil menarik nafas panjang.
Selama di perjalanan, wajah Riki tidak pernah lepas dari senyumannya dan dengan seksama mendengarkan cerita Elena tentang hobbynya walaupun kadang tidak mengerti dengan apa yang Elena bicarakan.
Sampailah mereka di sebuah cafe x yang sangat mewah. Dengan memarkir valet, Riki membukakan pintu untuk Elena. Kaki jenjang dan putih Elena nampak sangat seksi dan menggoda saat keluar dari mobil. Dengan bergandengan,mereka memasuki cafe tersebut dan membuat banyak pria menatap dengan iri.
Setelah pelayan mempersilahkan mereka menempati meja vip pesanan Riko, Riki dan Elena memesan makanan dan minuman.
" Darling, kamu mau pesan apa?" Riki bertanya dengan mesra.
" Oke, darling." Riki menatap buku menu dengan serius dan memesankan hidangan untuk Elena dan dirinya.
Selang beberapa lama, pelayan datang untuk menghidangkan makanan pembuka.
" Waw..rupanya kamu tau banget selera aku ,ya." Elena nampak sangat senang.
Sambil mengobrol, mereka menikmati cashew cream soup kesukaan Elena. Tiba-tiba ada salah satu pelanggan cafe yang mabuk dan membuat keributan hingga terjatuh di dekat meja mereka.
" Aaaa..bruakk...hahaha. Maaf kan, aku tidak sengaja ya. Wahhhh...cantik sekali. Apa aku boleh kenalan?" Pelanggan mabuk mendekati Elena.
Riki dengan sigap berdiri dan menghalangi orang itu. Namun orang yang mabuk itu malah menantang Riki dan merayu Elena dengan tidak sopan.
" Jangan berani-berani kamu mengganggu gadisku! Aku hajar kamu!" Riki memperingatkan.
" Hahaha...lebih baik kamu duduk dan biarkan aku bersama wanita cantik ini!" Orang mabuk itu mendorong Riki.
Tanpa berpikir, Riki memukul wajah orang itu hingga tersungkur. Manager cafe datang dan memperingatkan agar orang mabuk itu keluar namun orang itu malah menyerangnya.
Saat bagian keamanan datang, beberapa teman orang mabuk itu berdiri dan ikut menyerang sehingga terjadi perkelahian yang hampir menghancurkan cafe tersebut.
" Ayo, darling kita pergi dari sini saja." Riki menarik Elena untuk keluar dari cafe, namun Elena hampir terjatuh saat berdesakan dengan pelanggan lainnya yang berlari berhamburan meninggalkan cafe itu.
" Auwww...Riki, tolongg." Elena merengak.
Akhirnya Riki menggendong Elena dan mendekapnya di dadanya. Saat sudah berhasil keluar dari cafe itu, Riki segera membawa Elena ke mobilnya dan melaju dengan kencang.
Selama perjalanan Elena menangis sambil memegang gaunnya yang robek di sebelah bawah.
" Hiks...hiks...aku takut sekali, Riki. Dan lihat, gaun kesayanganku robek."
Riki menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan mencoba menenangkan Elena.
" Maafkan aku darling, aku tidak tau kalo akan terjadi seperti ini. Kamu jangan takut, aku akan selalu melindungimu." Riki memeluk Elena sambil menelpon seseorang.
" Haduh...malam ini semua full boked. Sepertinya aku harus mengajak Elena ke tempat favoritku." Riki membatin lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
Setelah Elena tenang, Riki membawa Elena ke cafe x langganannya. Cafe yang sekarang bukan cafe yang romantis karena memang konsepnya lebih ke perpustakaan.
" Elena, maukan kamu ikut aku masuk? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu!"
Elena menatap cafe di depannya lalu mengiyakan ajakan Riki. Riki membuka jasnya dan memasangkan ke tubuh Elena kemudian menggandeng tanganya dan mengajaknya masuk.
Disana, pelayan langsung mempersilahkan Riki masuk dan menuntun mereka menuju ruang VIP.
Alangkah terkejut saat Elena memasuki ruangan itu, ternyata ruangannya sangat romantis dengan bunga mawar merah di setiap sudut ruangan walaupun terdapat beberapa rak buku berjajar mengelilinginya dengan rapi. Didepan mereka ada TV flat berukuran besar.
Setelah Elena duduk, Riki segera memesan makanan dan minuman tanpa bertanya ke Elena dan berbisik sesuatu ke pelayan. Setelah mengganggukan kepalanya, pelayan itu meninggalkan mereka.
" Riki, aku tidak menyangka ada tempat seperti ini. Emang kamu sering kesini ya?" Elena penasaran.
" Iya, ini salah satu cafe favoritku. Tapi aku tidak pernah memesan ruangan ini. Biasanya aku hanya duduk di ruangan biasa."
" Kenapa? Inikan sangat indah dan romantis."
" Karena aku hanya mau memesannya jika aku bersama wanita yang special aja." Riki tersenyum.
" Iiuhhh, ternyata kamu pandai merayu ya." Elena kembali meraba dada Riki dan membuat Riki menarik nafas panjang menahan sesuatu yang bergerak di bagian bawah tubuhnya.
Selang beberapa lama, pelayan menyajikan hidangan dan Riki memberikan kode untuk menyalakan Tv besar dihadapan mereka.
" Elena, aku mau kamu melihat sesuatu. Kamu perhatikan TV itu ya." Riki mendekati Elena dan berbisik ditelinganya.
Tv itu menyala dan memperlihatkan rekaman fashion show model-model papan atas yang sedang berlenggak-lenggok sambil memakai baju rancangan disigner favorit Elena.
" Waoo...Riki, ini kan acara Fashion show Antoni Laurent yang baru diselenggarakan kemaren di eropa? Kok kamu bisa punya rekamannya? Ini kan acara privat ?" Elena terkejut menatap Riki.
" Iya benar, ini rekaman baru aku dapat beberapa waktu yang lalu. Apa kau menyukainya?"
" Tentu saja, beb. I like it. Thank u honey." Elena mengecup bibir Riki.
Elena menikmati hidangan sambil melihat layar tv dan betapa terkejutnya saat diakhir acara Elena melihat Antoni Laurent sang designer secara pribadi menyebut namanya.
" Hai, saya Antoni Laurent. Pada kesempatan ini, saya mau menyapa fans saya nona Elena yang mungkin sekarang sedang kencan dengan seorang pria yang sangat baik yaitu Tuan Riki. Semoga hari ini kalian menikmati acara kalian. Dan terimakasih sudah membeli baju saya yang tiada duanya ini khusus dipesan untuk nona Elena dari Tuan Riki. Have nice day..muah."
Rekaman terhenti dan membuat Elena mematung.
" Riki, itu benar- benar nyata? Dan dia menyebut namaku...." Elena tercengang.
" Iya darling, ini buku yang kamu cari kemaren dan sudah ditandatangani dan ini salah satu rancangan Antoni yang belum dipublikasi. Aku pesan khusus untukmu." Riki memberikan dua kotak ke Elena.
Elena menerima pemberian Riki dengan terharu dan langsung memeluk Riki dan mencium bibirnya dengan begitu dalam.
Riki yang kini sudah pandai berciuman, membalas ciuman Elena dengan lembut. Sesekali tangan Elena dengan nakal meraba paha Riki hingga Riki mendesis dan semakin memainkan bibirnya menikmati ciuman mereka berdua.
" Elena darling, apa kau mau menjadi pacarku?"
Tiba-tiba Elena menarik ciumannya dan melepaskan pelukan Riki.
" Apa kamu benar-benar serius, Riki?"
" Iya , aku serius. Aku sangat mencintai kamu."
" Huhhh...kalo kamu benar-benar mencintai aku, maukan kamu memenuhi persyaratanku?"
" Katakan! Aku akan melakukan semuanya."
" Kalo kau mau jadi pacarku, kamu harus menjadi orang yang hebat. Karena kamu dokter ya berarti kamu harus jadi dokter ya hebat. Setelah itu, mungkin aku sendiri yang akan memintamu untuk menjadi kekasihku." Elena mengucap dengan serius.
" Baiklah, tapi aku juga mau mengajukan syarat. Selama aku menyelesaikan pendidikanku dan berusaha menjadi dokter yang hebat, kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Dan selama aku didekatmu, aku yang akan menemanimu kemanapun kamu pergi. Satu lagi, kamu hanya boleh meminta bantuanku dan tidak boleh meminta bantuan laki-laki lain. Kamu hanya boleh menciumku dan tidak boleh mencium laki-laki lain. Deal?"
Riki berbicara dengan cepat dan tegas dengan menatap tajam mata Elena. Tanpa Elena sadari dia langsung mengiyakan persyaratan Riki.
" Oke, deal."
Keduanya bersalaman lalu Elena tersadar dalam keterpanaan tatapan Riki.
" Eh..kok kayanya aku kejebak sama syaratnya Riki ya. Bukannya sama aja itu berarti aku ini pacarnya Riki? Ternyata dia sangat licik. Hihi...aku suka gayanya menjebakku." Elene membatin dan tersenyum menatap Riki.
" Akhirnya kau menjadi milikku, Elena darling." Riki membatin sambil mengecup punggung tangan Elena.
__ADS_1