
"Apa anda membutuhkan sesuatu, tuan Raka?" Tanya salah satu pramugari.
"Tidak, terimakasih." Raka menyandarkan badannya dan menutup matanya.
Di pinggir landasan, Alen terduduk setelah berteriak berkali-kali memanggil nama Raka yang sudah melaju bersama pesawat pribadinya. Riko dan Riki menghampiri Alen dan ikut duduk di sebelahnya.
"Alen, mending kita masuk ke dalam ya, disini berbahaya."
Dengan lunglai Alen berjalan kembali ke dalam ruangan bandara. Disana para sahabatnya sudah menunggunya dengan wajah sedih. Begitu Alen masuk, Elena langsung berlari memeluknya diikuti ke tiga sahabatnya.
"Aku sangat lelah, kita pulang saja." Mereka akhirnya kembali menaiki mobil dan berlaju menuju rumah mereka. Sampai di rumah, Alen langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamar.
"Lebih baik kita biarkan dia sendiri dulu." empat sekonco juga ikut ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat dan meletakkan piala yang mereka idam-idamkan sejak lama dan karangan bunga di atas meja begitu saja.
Raka telah sampai ke negara x dan langsung menaiki mobil mewahnya menuju kediaman orang tuanya. Di depan rumah, ibu dan ayah Raka sudah menunggunya datang.
"Aku sudah membuatkan susu kenari hangat untuk anak kita. Dia pasti sangat lelah."
"Tapi dia sudah dewasa, sampai kapan kau akan memberinya susu?"
"Susu ini sangat baik untuk pertumbuhannya. Kau saja masih meminumnya. Benarkan, suamiku?"
"Iya, karena istriku yang selalu memaksaku untuk meminumnya."
"Apa, jadi kau terpaksa meminumnya?Hiks..hiks" Nyonya puja merengek dengan kesal.
"Tentu saja tidak, manisku. Aku suka sekali, jangan nangis ya..cup..cup!" Saat ayah Raka menghibur istrinya, mobil yang membawa Raka telah sampai di depan rumah.
"Anakku sudah sampai, duh senangnya." Nyonya Puja tiba-tiba berubah sangat ceria dan melupakan tangisannya.
"Halo ayah, ibu. Bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik-baik saja. Ini minum dulu susunya setelah itu ayo kita makan! Kau pasti sangat lapar."
"Ibu, boleh tidak Raka langsung ke kamar? Raka sangat lelah." Setelah menghabiskan susunya, Raka langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu.
"Suamiku, anak kita kelihatannya sangat sedih. Bukannya kau sudah membereskan semuanya?"
"Kau tenang saja, besuk pagi aku akan mengurus semuanya. Sekarang kita lebih baik masuk ke kamar saja, rasanya lelah sekali. Aku ingin kau memijatku, istriku sayang, hehehe."
"Kau ini benar-benar manja." Tuan Robert dan nyonya Puja berjalan menuju kamar mereka dengan bergandeng tangan mesra.
Di kamar Raka
Raka dikamarnya hanya berbaring setelah mengganti bajunya dengan piyama. Plester cintanya tak pernah lepas dari genggamannya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Apakah caraku ini tepat? Kau pasti akan sangat marah padaku, Alen." Raka mencoba menutup matanya namum bayangan Alen yang memakai jaketnya dengan begitu cantik sangat menyiksa batinnya.
Di kamar Alen
"Dasar Raka nyebelin. Berani-beraninya kamu ninggalin aku seperti ini. Aku tidak akan memaafkanmu. Buk...buk..buk."
Alen membanting semua bantal dan meninjunya berkali-kali. Setelah merasa puas, Alen merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mengambil kembali jaket pemberian Raka dan memeluknya sampai tertidur.
Keesokan paginya ayah Raka mengunci pintu ruang kantornya di rumah dan diam-diam menelpon seseorang dengan berbisik.
"Halo tuan Edward, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, tuan Robert. Kenapa suaramu berbisik?" Tuan Robert alias ayah Alen menjawab telpon ayah Raka dengan ikut berbisik.
"Aku berbisik agar anakku tidak mendengar percakapan kita. Tapi kenapa kau juga ikut berbisik?"
"Benar juga, kenapa aku juga berbisik? Ngomong-ngomong ada apa anda menelpon saya?"
"Apa lagi kalo bukan karena anak-anak kita. Sepertinya kita harus bergerak cepat. Hubungan mereka ini sangat membingungkan. Tapi sepertinya anakku sangat tergila-gila sama anak gadismu, tuan Edward. Hahaha."
"Sepertinya anakku juga sama. Tapi mereka saling gengsi, hahaha. Lalu bagaimana rencanamu, tuan Robert?"
"Sekarang waktunya kita harus turun tangan langsung. Bagaimana?"
"Baiklah, saya serahkan kepada anda bagaimana baiknya saja."
"Ok, sampai ketemu secepatnya calon besan, hahaha."
Ayah Raka mengakhiri telpon nya sambil mengintip karena kawatir Raka mendengar pembicaraannya dengan ayah Alen.
Rumah Alen.
"Gaes, ini sudah siang tapi Alen gak turun juga. Aku tadi uda ngetuk kamarnya tapi gak dibukain. Aku jadi kawatir." Mira menatap ke tiga sahabatnya dengan sedih di ruang keluarga.
"Gimana kalo kita ajak Alen liburan aja ke pantai? Bukannya Erick pernah bilang kalo dia abis liburan?" Elena
__ADS_1
"Asyik juga tuh. Nanti aku bisa diving, snorkeling, trus berjemur dipantai trus ketemu sama bule-bule trus...awwww. Apaan sih?"
"Siska, penyakit cerewet kamu kenapa kambuh? Bukannya uda sembuh?"
"Mungkin karena aku gugup jadi kambuh lagi. Hehe."
Tak lama tiba-tiba Alen turun dari tangga dan langsung menuju dapur untuk mengambil sarapan yang kesiangan. Empat sekonco langsung membuntutinya dan menyuruhnya duduk di ruang makan.
"Alen, kita tau kamu lagi galau. Karena itu kita mau ngajak kamu liburan ke pantai." Elena duduk mendekati Alen.
"Males, gak ikut." Alen dengan santai menjawabnya dan kembali kekamarnya.
" Plan B. Kita paksa dia."
Elena menelpon Erick untuk mengetahui tempat liburannya kemudian mulai memesan kamar hotel dan menyiapkan segala keperluanya. Setelah itu empat sekonco bersiap-siap. Di rasa semua sudah siap, mereka berempat menuju kamar Alen.
"Tok..tok..Alen, bukain dong! Bentar aja!"
Saat Alen membuka pintu kamar, empat sekonco langsung menyerbu kamar Alen dan menyiapkan semua keperluanya.
"Kalian ngapain, sih? Aku gak mau ikut. Bukain!" Siska tiba-tiba mengikat tangan Alen dengan plester dam membungkam mulutnya dengan mengikatnya dengan kain.
"Baju, ok. Charger, ok. Baju renang, ok. Make up...mana make up? Kamu cuman punya bedak sama liptik doang? Sungguh menyedihkan. Ok, perlengkapan Alen sudah siap semua. Ayo, kita berangkat!" Elena menyiapkan semua keperluan Alen untuk berlibur.
Setelah bersiap, mereka hendak menaiki mobil dengan membawa paksa Alen yang masih terikat tangan dan mulutnya. Tiba-tiba empat kembar menemui mereka.
"Kalian mau kemana? Kok bawa barang banyak banget?" Reki bertanya dengan curiga.
"Kita mau liburan ke pantai, sayang. Biar pikiran jadi fresh dan hati menjadi terhibur." Mira menjawab Reki sampil menunjuk ke Alen lewat matanya.
"Oo..kok baru bilang? Kita akan ikut."
"Iiuhhh, ini khusus cewek ya. Kalian sanahhh.. dan gak usah ikut." Elena melarang empat kembar ikut.
"Iya, gak usah ikut. Bye, Roki. Kita liburan dulu ya." Siska langsung masuk ke mobil dan membiarkan Roki cemberut.
"Elena darling, ikut dong."
"No, Riki...sekali no ya no. Ingat ya kalian gak boleh buntutin kita. Bye, boys."
Limo sekonco langsung meninggalkan mereka dengan mengendarai mobil Siska. Alen yang meronta tetap tidak dibukakan ikatannya dan akhirnya hanya bisa pasrah dan memilih tidur di mobil.
Rumah empat kembar.
"Ayo, cepat beres-beres! Kita tidak boleh membiarkan mereka liburan tanpa pengawasan." Riko
"Bagaimana jika mereka marah saat tau kita menyusul mereka?" Roki
"Siap, kakak kedua." Reki, Riki dan Roki menjawab bersama-sama.
Empat kembar langsung menuju kamar masing-masing untuk bersiap. Sedangkan Riko menelpon pengawal mereka yang ditugaskan oleh Raka untuk mengawasi limo sekonco kemanapun mereka pergi tanpa sepengetahuan limo sekonco.
"Halo, kemana mereka? Baiklah, jangan sampai lengah. Kamu pesankan kamar buat kita tapi jangan sampai mereka tau kita juga berada di sana!"
Tak lama mereka membawa dua mobil untuk berangkat karena Riki dan Roki membawa barang banyak sekali.
"Kenapa kalian banyak sekali barangnya?" Riko merasa heran.
"Aku harus bawa buku-buku, laptop, dan semua keperluan kuliahku. Jadi selain liburan, aku juga harus mempersiapkan ujianku untuk jadi dokter specialis." Riki mencoba menjelaskan kepada Riko.
"Lalu, kamu Roki? Ngapain bawa banyak-banyak?"
"Aku bawa sedikit. Itu cuman beberapa snack buat jaga-jaga jika di sana tidak ada yang jual."
Tiga kembar hanya geleng-geleng kepala saja mendengar penjelasan Roki. Mereka bersama-sama dalam satu mobil bersama supir dan mobil satunya hanya berisi barang dan dua orang pengawal.
Sampailah limo sekonco di depan sebuah resort yang sangat mewah dengan nuansa alam. Mereka memarkir mobil tepat di depan villa yang mereka pesan. Di villa itu lengkap dengan taman, teras dan kolam renang pribadi yang menghadap ke laut yang begitu biru dan indah.
Siska membukakan ikatan Alen yang terpana dengan keindahan alamnya sehingga melupakan rasa kesal terhadap ke empat sahabatnya yang membawa paksa dirinya untuk liburan.
"Wah, indah banget. Jadi gak nyesel aku dipaksa liburan sama kalian. Coba jelek tempatnya, bisa-bisa aku cekik kalian semua." Alen ngomel-ngomel di depan para sahabatnya yang tertawa cekikikan.
"Sadis amat, len. Hahaha.." Siska tos dengan Mira.
Limo sekonco masuk ke villa dan menata barang bawaan mereka.
"Uapik tenan iki. Ayo, kita lihat-lihat keluar! Lagian cacing di perutku wes bunyi-bunyi. Luaperr aku, gaes!" Siti sambil memegang perutnya.
"Tumben Siti yang laper, biasanya si montok Siska yang cacingnya suka protes duluan, tuh." Elena melirik Siska sambil menyibakkan rambutnya yang panjang.
"Hehehe, aku barusan habis roti satu kotak waktu perjalanan tadi. Tapi aku laper lagi." Siska meringis.
Limo sekonco meninggalkan villa mereka dan menuju cafe di resort itu. Mereka memesan makanan dan minuman. Beberapa cowok-cowok mencoba mendekati mereka, tapi mereka sangat cuek dan tidak memperhatikan.
Setelah selesai makan, limo sekonco menuju pantai untuk bersenang-senang. Karena Elena memesan villa pribadi, jadi pantai yang mereka nikmati termasuk area pribadi yang hanya ada mereka berlima disana dan beberapa pelayan.
__ADS_1
Setelah berganti memakai pakaian renang, limo sekonco berenang di laut dengan gembiranya kecuali Alen yang memilih duduk berselonjor di kursi panjang yang terbuat dari rotan dengan alas spon yang empuk dan lembut sambil menikmati minuman es kelapa muda kesukaannya.
"Apa yang dilakukan Raka sekarang ya? Apa dia memikirkanku? Lebih baik aku buang jauh-jauh saja dia dari pikiranku."
Tak jauh dari tempat mereka, nampak beberapa cowok-cowok yang bertemu dengan mereka di cafe resort, berjalan mendekati Alen dan teman-temannya.
"Hai, aku Kenzo. Apa kita boleh berkenalan? Kita hanya ingin mengundang kalian di pesta kami nanti malam."Seseorang mengulurkan tangan ke arah Alen.
"Terimakasih undangannya. Akan kami pertimbangkan." Alen tidak membalas uluran tangan Kenzo dan menutup matanya kembali.
"Ok, ini undangannya untuk kalian berlima. Kalian pasti akan datang."
Kenzo bersama teman-temannya meninggalkan Alen dan kembali ke villa mereka.
"Sombong sekali cewek itu, hahaha bikin penasaran saja."
Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo, pastikan penghuni villa sebelahku menghadiri acaraku nanti malam! Aku tidak perduli. Lakukan semua cara!"
Empat kembar telah sampai di resort tempat limo sekonco berlibur, saat akan memasuki villa ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan.
"Kok kita dapatnya yang kecil? Cuman ada satu kamar dan satu kamar mandi? Apa gak salah pesannya?"
"Maaf, tuan. Kita kehabisan karena ada tamu yang memesan semua villa untuk acara malam ini."
"Telpon pemilik resort ini, lalu berikan padaku!" Riko memberikan ponselnya kepada salah satu pengawalnya. Setelah pengawalnya menyambungnya ke pemilik Resort, kembali telepon diserahkan ke Riko.
"Halo, saya Riko. Iya benar Riko Edison. Apa saya dan saudara saya bisa mendapatkan villa yang terbaik? Ya, kami memang keluarga Edison seperti yang anda tau. Baiklah, akan kami tunggu."
"Kenapa harus pake nama ayah? Emang gak bisa dapat villa yang bagus tanpa nama ayah?" Riki protes ke Riko karena memang mereka jarang memakai nama ayah mereka jika tidak benar-benar terpaksa.
"Pemilik resort ini yang melihat kita terlebih dahulu. Dia dan istrinya adalah fans ibu kita jaman ibu masih jadi artis dan model. Karena itu mereka tau kita adalah anak kembar dari keluarga Edison."
Tak lama salah satu pegawai resort mendekati mereka.
"Tuan-tuan, maaf atas ketidaknyamanannya. Silahkan ikut kami ke villa yang sudah kami sediakan!"
Kedua mobil kembar menuju sebuah villa yang begitu indah dan lebih luas dibanding villa yang lain. Terdapat jakuzi pribadi, kolam renang, teras yang luas bahkan ruang gym pribadi.
"Waw, kayanya kita harus terimakasih sama ibu kita, nih. Hahaha.."
Riki meletakkan laptop dan buku-bukunya di meja. Beberapa kali melihat status di hp Elena untuk mengecek kegiatannya namun tidak ada.
Setelah bermain di pantai, limo sekonco menuju villa mereka dan segera membersihkan diri. Tak terasa malampun tiba, mereka bersiap hendak ke cafe untuk makan malam.
"Gaes, kita tadi diundang tuh sama cowok-cowok yang ada di cafe, malam ini."
Alen memperlihatkan undangannya kepada empat sekonco.
"Trus, kamu gak bilang kan kalo kita akan datang?" Mira sambil menyisir rambutnya.
"Tentu saja tidak. Aku sangat tau kalo kita ini sama-sama tidak suka mendatangi pesta orang-orang kaya yang kebanyakan anak-anak mereka gayanya sok belagu padahal yang kaya orang tuanya."
"Betul, seratus." Empat sekonco berbarengan.
Akhirnya mereka berjalan menuju cafe untuk makan malam. Namun saat tiba di pintu masuk, salah satu pegawai mendatangi mereka.
"Mohon maaf, malam ini cafe ditutup untuk umum karena ada pesta yang digelar oleh salah satu tamu kami. Dan hanya yang membawa undangan yang diperbolehkan masuk."
"Pantesan dia tadi bilang kita pasti akan datang. Gaes, kita masuk, makan, trus keluar. Apa setengah jam cukup?" Alen memandang teman-temannya.
"Cukup." Empat ekonco bebarengan.
Mereka menunjukkan kartu undangan dan dipersilahkan masuk.
Melihat limo sekonco masuk, Kenzo tersenyum licik dan mendekati mereka.
"Hai, akhirnya kalian datang juga. Selamat datang di pestaku ini. Aku sudah menyediakan semua yang kalian butuhkan untuk berpesta. Aku harap kalian menikmatinya." Kenzo dengan sombongnya memamerkan pesta meriah yang diadakannya.
"Apa sekarang aku boleh mengetahui nama kalian?"
Limo sekonco menatap tajam ke arah Kenzo sambil menyilangkan kedua tangan mereka di dada. Saat Alen hendak berbicara, Elena menyentuh tangannya dan berdiri di depan Alen.
"Iiuhhh, pestamu biasa saja. Tidak ada yang menarik, sepertinya kita akan kembali ke villa kita saja. However, thanks for the invitation."
Saat Elena dan lima sekonco akan berbalik, seseorang memanggil nama Elena.
"Elena, ternyata kau ada disini."
Seorang pria dengan wajah tampan, mengenakan baju bermerek yang sangat mahal dan diapit oleh dua orang perempuan seksi disamping kanan dan kirinya.
__ADS_1
Elena memejamkan matanya seakan mengenal suara pria itu dan berbalik pelan.
"Romy.."