
Letakkan senjatamu! Jangan kau sakiti Alen! Tembak saja aku!" Raka.
" Baiklah...hahaha."
" Raka....brak...dorr."
Saat Tama hendak menembakkan pelurunya ke arah Raka, Alen melemparkan pisau lipatnya ke arah tangan Tama dan melukainya hingga tembakan Tama melenceng tanpa mengenai Raka.
Raka mengambil kesempatan berlari ke arah Tama dan menghajarnya. Tama lawan yang cukup tangguh , dia mampu menangkis serangan Raka dan membalasnya sehingga terjadi pertarungan yang cukup sengit diantara keduanya.
Saat Tama tersungkur akibat pukulan Raka, Tama sempat mengambil pisau lipat yang dilempar Alen kearahnya yang tergeletak di lantai kemudian berdiri dan menyarang Raka dan mengenai tangan Raka.
Dengan kemarahan yang sudah memuncak, Raka menyerang Tama hingga tersungkur kembali dan memukul wajah Tama bertubi-tubi.
Alen berusaha menghentikan Raka yang sedang kalap.
" Raka hentikan! Kau bisa membunuhnya. Kumohon Rakaaa..hentikannn!" Alen berteriak dan menarik tubuh Raka supaya menjauh dari Tama.
Alen memegang wajah Raka dengan kedua tangannya mencoba menyadarkan Raka dari emosi yang menguasai pikirannya hingga kedua matanya menjadi merah.
" Raka, lihat aku! Ini Alen, Raka. Aku baik-baik saja."
Dengan nafas yang terengah-tengah Raka mencoba mengendalikan emosinya. Matanya yang memerah mulai memudar saat menyadari Alen sudah berada didepannya.
Raka membelai wajah Alen dan mencium bibirnya dengan mendalam seakan tidak mau terlepaskan. Alen larut dalam ciuman Raka dan memeluknya erat.
4 kembar bersama pengawalnya masih bertarung melumpuhkan para pengawal Tama yang berjumlah puluhan. Tak lama Erick beserta polisi mengepung tempat itu dan menangkap para pengawal Tama.
4 kembar bersama Erick naik ke atap mencari Raka dan Alen. Mereka lega saat mengetahui Tama terbujur tak berdaya dan melihat Alen telah berada di pelukan Raka dengan berciuman yang mendalam.
" Wahhh...kakak kita kayaknya gak mau lepas tuh. Jadi kangen sama Mira..hihi." Reki menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Kayanya aku harus segera nembak Siti , nih. Gak enak banget jadi yang paling jablai." Riko melipat tangannya di dada sambil menatap Raka dan Alen.
" Woi Riki, kamu keren...sekarang uda mulai berani nih. Gila kamu hebat banget." Roki memeluk Riki diikuti Riko dan Roki.
Erick mendekati Tama yang pingsan penuh luka diwajahnya.Saat Erick berbalik, Tama tiba- tiba bangun dan mengambil pistol hendak menembak ke arah punggung Raka, Alen yang melihat langsung menarik tusuk konde dirambutnya dan melempar ke arah tangan Tama hingga menembus.
" Wawww....tangan kamu bahaya banget."
Raka melotot melihat kehebatan Alen yang tidak pernah diketahuinya. Kemudian menarik tangan Alen lalu mencium punggung tangannya.
" Kayanya aku harus belajar kaya Alen deh...mantap gilaa...huss...huss.." Riki ternganga dengan Riko, Riki dan Reki sambil memperagakan tangannya melempar seperti Alen.
Tak lama komandan polisi datang ke atap dan meringkus Tama. Alen bersama 5 kembar dan Erick pergi meninggalkan tempat kejadian setelah memberikan keterangan kepada polisi.
Didalam mobil, Raka tidak melepaskan pelukannya kepada Alen. Berkali-kali Raka mengecup rambut Alen dengan mata yang berair.
" Raka, tangan kamu terluka."
" Tidak masalah, ini hanya luka kecil. Yang terpenting adalah keselamatanmu."
Saat Alen mendongakkan kepalanya ke Raka, Raka menatap Alen dan kembali mencium bibirnya.
__ADS_1
4 sekonco di rumah merasa gelisah menunggu kabar keadaan Alen.
" Iki piye yo...keadaannya Alen? Aduhhh aku takut banget." Siti mondar -mandir.
"Biarpun Alen jago beladiri, tapi aku juga kawatir banget. Tetep aja kan dia cewek." Siska
" Iiuhhh...kenapa Alen itu selalu aja diculik ya. Inget gak waktu kita masih sekolah? Alen hampir aja dibawa lari sama cowok aneh. Untung aja ayahnya cepet datang. Semoga 5 kembar bisa menyelamatkan Alen." Elena
" Pastilah...mereka kan hebat. Kita tunggu aja kabarnya!" Mira
Tak lama ada seseorang memencet bel rumah mereka.
" Ting..tong.." bunyi bel
Mira bergegas membuka pintu.
" Reki...kamu sudah kembali?" Reki masuk ke dalam dan langsung memeluk Mira.
Mira dan 3 sekonco hanya tercengang.
" Reki...kenapa dengan Alen? Dia baik-baik aja kan?" Siska berdiri mendekati Reki dan Mira.
" Ada yang mau ketemu kalian." Reki menjawab masih sambil memeluk Mira.
Semua memandang ke arah pintu keluar.
Tak lama Raka muncul di hadapan mereka lalu tangan Raka ke arah belakang menarik seseorang di belakang punggungnya.
Dengan tersenyum dan menggunakan gaun pengantin yang robek, Alen bergeser dari punggung Raka dan mengejutkan para sahabatnya.
Riko, Roki dan Riki masuk ke dalam dan tersenyum melihat ke 5 sekonco menangis bahagia.
" Are you ok, Alen?" Elena menatap wajah Alen.
" Aku baik-baik saja. Mereka sudah menyelamatkanku."
" Riki, kenapa kamu berpakaian seperti Raka?" Elena
" Kamu tau gak, Riki dengan berani menyamar menjadi kak Raka dan ikut disandra sama anaknya mafia. Bahkan Riki bisa mengalahkan banyak pengawal dengan jurusnya yang baru. Keren kan Riki?" Reki sambil memperagakan jurusnya Riki.
Riki memegang dagunya sambil tersipu malu menatap Elena.
" Iiuhhh...kamu makin hebat ya, beb. Emm...aku tunggu ajakan kencan dari kamu."
Elena mendekati Riki dengan gaya seksinya dan mengecup bibir Riki sambil mengedipkan satu matanya.
" Haduhhh...gaesss...dadaku berdebar gaess. Yes akhirnya aku kencan...hihihi. Tunggu undangan dariku ya sayangku..muach." Riki memberanikan diri mencium pipi Elena.
" Makasih semuanya...kalian uda menyelamatkan aku. Raka makasih ya, kamu jadi hero aku." Alen tersenyum dan menarik tangan Raka untuk mendekat.
" Itu bajumu kok kaya baju manten tapi kenapa robek-robek, len? Kamu habis ngapain?" Siti penasaran.
" Tau gak, aku hari ini hampir aja nikah ama Tama. Hufff...untung aja Raka bertindak cepat. Kalo enggak...huaaa...aku uda jadi istri orang. Trus aku didandanin gitu kaya pengantin."
__ADS_1
Alen bercerita dengan merengek santai seakan kejadian yang dialami biasa saja. Dan 4 sekonco melupakan air mata mereka yang baru menetes dan mendengarkan cerita Alen dengan seru.
" Brakkkk....tak akan kubiarkan kamu jadi milik orang lain. Sekarang lebih baik kamu ganti baju jelek itu!"
Raka menendang kursi dan mendekati Alen. Raka membelai wajah Alen dan mencium keningnya.
" Aku akan menemuimu lagi." Lalu Raka keluar dari rumah Alen dan menuju rumahnya.
Alen bersama 4 sekonco dan 4 kembar sangat kaget dan hanya bisa terdiam melihat reaksi Raka.
" Iiuhhh...Raka uda pergi. Alen, waktunya kita... girls talking... Hei 4 kembar, you know...girls talking....not boys... Husss sanahhh..go home." Elena mengusir 4 kembar agar segera pulang.
" Ya udah kita pulang dulu ya, sayang..cup." Reki mengecup Mira diikuti Roki kepada Siska.
" Emm..putri jowo..mas Riko itu..anu..mau..ehhh." Ketika Riko mau mendekati Siti, Reki dan Roki menariknya.
" Udahhh...tar aja jangan main nyosor."
" Bye..bye..Elena darling...see u soon..muahh..hihi." Riki cium jauh ke Elena dan Elena kali ini membalasnya.
Setelah para cowok-cowok pergi, 4 keconco menggiring Alen ke kamarnya sedangkan Siti membuatkan teh dan makanan ringan untuk Alen.
" Ok, Alen..sekarang ceritakan semua sama kita. Dan kalo tidak salah kamu menyebut nama Tama. Bukankah dia sudah mati?" Elena menatap Alen bersama dengan yang lain.
Alen hanya menarik nafas panjangnya dan melepas gaun yang dikenakan.
Alen masih mengenakan tang top dan celana pendek dibalik gaun itu. Ikatan pisau kecil masih terpasang di pahanya.
" Itu tali apa , len? Kok mbulet di pahamu?" Siti
" Ohh..ini buat naruh pisau kecil yang aku lempar tadi ke Tama."
" Tama?" 4 sekonco berbarengan.
" Hahhhh....Tama ternyata belum mati. Di ganti wajah. Ganteng sihh...tapi mengerikan. Tau gak, aku melempar tangannya dengan tusuk konde dari besi sampai tangannya bolong."
" Hahhhh....bolong." 4sekonco bareng
" Soalnya dia mau nembak Raka."
" Lho pake acara tembak-tembakan kaya di tv itu ya, len? Serem banget." Siti.
" Trus itu bibir bengkak semua kenapa? " Siska
" Ohhh..kalo ini..em..itu...haduh gaess aku capek banget. Critanya nanti aja ya. Ngantuk nih."
Alen pura-pura menguap dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Kamar Raka.
Raka melepas pakaiannya yang terkena darah. Dengan wajah datarnya, Raka menuju kamar mandi dan menyalakan shower.
Raka berdiri terdiam dibawah kucuran air hangat yang keluar dari shower dan membiarkan air itu membasahi tubuhnya yang kekar.
__ADS_1
Raka membayangkan bagaimana jika dirinya sampai kehilangan Alen. Bagaimana jika dirinya terlambat datang? Beberapa kali Raka memukul tembok yang ada di depannya.
" Buk..buk..buk..Kali ini, aku tidak akan membiarkamu pergi sendiri."