Tetanggaku Pencuri Hatiku

Tetanggaku Pencuri Hatiku
BAB 38 : PENCULIKAN ALEN


__ADS_3

Berkali-kali Raka memukul dasbord mobilnya melihat kemacetan didepannya. Rasa gelisah memenuhi hatinya.


" brak..brak..kenapa kalian membiarkannya keluar tanpa pengawalan?"


" Maafkan kami tuan, kami lengah."


Saat itu Reki sedang berbicara di hp dengan Mira. Tiba-tiba-Reki terkejut saat Mira berteriak dan mengatakan jika Alen diculik.


" Apaa...Alen diculik? Miraaa...haloo..haloo. Kakkk...Alen diculik." Reki berteriak dengan panik.


" Ini tidak boleh terjadi. Siapa yang berani menculikmu?" Raka berteriak.


Raka membuka pintu mobil dan berlari melewati kemacetan menuju supermarket yang berjarak beberapa ratus meter dari mobilnya. Raka melewati jalan-jalan kecil sehingga dia bisa dengan cepat sampai ke tujuan.


4 kembar mengikutinya dan menyuruh pengawalnya mencari jalan tercepat dan mengumpulkan para pengawalnya yang lain untuk bersiap melakukan pencarian.


Dengan kencang Raka berlari tanpa henti dan akhirnya sampai di depan supermarket. Raka menemui 4 sekonco yang menangis bersama beberapa petugas keamanan.


" Hah..hah..Mira...katakan apa yang kau lihat!" Raka mengatur nafasnya.


" Seseorang membawa Alen dan masuk ke mobil hitam didekat parkiran. Tapi aku tidak melihat orangnya...hiks...hiks." Mira sambil menanhis


" Saya membutuhkan cctv . Antar saya melihatnya!" Raka mendekati petugas keamanan.


Tak lama 4 kembar sampai dan mencoba menenangkan 4 sekonco.


" Reki...aku sangat takut. Ini salahku. Harusnya aku ikut Alen memarkir mobil...hiks..hiks." Mira menangis di pelukan Reki.


" Mir, jangan punya pikiran begitu. Ini bukan salahmu. Kita harus berdoa dan sabar." Siti mencoba menenangkan Mira dengan menangis. Riko langsung menarik Siti dan memeluknya.


Siska dan Elena hanya bisa menangis sesenggukan dipelukan Roki dan Riki.


" Riki...bagaimana jika Alen terluka...hiks..hiks." Elena dipelukan Riki.


" Tidak akan sayangku...kakakku pasti akan menyelawatkannya. Kamu tenang ya! " Riki mengeratkan pelukannya.


Raka mengamati dari kamera cctv dan mencatat plat nomer mobil yang membawa Alen. Wajah sang penculik tidak terlihat hanya terlihat bagian belakang tubuhnya.


" Kurang ajar...dia sepertinya sangat lihai. Aku harus segera menelpon polisi. Bertahanlah Alen, aku akan datang menyelamatkanmu."


Raka menelpon polisi kenalannya. Keluarga Raka termasuk orang yang berpengaruh dan memiliki banyak koneksi termasuk dikepolisian.


" Halo, komandan. Ini Raka, aku butuh bantuanmu. Lacak nomor plat mobil ini. Kekasihku di culik beberapa waktu lalu di depan supermarket."


Selang beberapa saat mobil polisi datang. Komandan dan anak buahnya memeriksa cctv dan mulai melakukan penyelidikan.


" Kami akan segera mengabari anda, tuan Raka. Lebih baik kalian tunggu di rumah saja dan menunggu info dari kami." Komandan polisi.


Raka hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya yang telah menunggunya. Sementara 4 sekonco telah diantar pulang oleh 4 kembar.


" Halo, apa kalian sudah mendapatkan info? Baik kirimkan semua ke hpku, sekarang!" Anak buah Raka sudah berhasil mendapatkan beberapa info tentang sang penculik dari cctv kampus.


" Aku pasti akan menemukanmu. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu." Raka memandang foto Alen di layar hpnya.


Kepala yang terasa sangat berat, Alen perlahan membuka matanya setelah sadar dari obat bius yang dihirupnya.


" Kenapa gelap sekali? Ahh..dia menutup mataku dan mengikat tanganku. Lepaskan...lepaskan aku!" Alen yang terbaring disuatu tempat meronta-ronta.


" Nona, tolong jangan berteriak! Kami akan melepaskan penutup mata anda, tapi tolong jangan berteriak." Ucap seorang wanita didekat Alen.

__ADS_1


Alen mencoba untuk tenang dan setelah penutup matanya terbuka, Alen melihat dua pelayan wanita didepannya.


" Siapa kalian? Tolong lepaskan aku! Katakan aku ada dimana!" Alen memandang sekitar ruanganya.


Alen berada di sebuah kamar yang sangat mewah dengan design clasik berwarna emas dan putih. Tempat tidur yang luas dengan tirai putih bak kamar putri kerajaan. Pelayan membantunya untuk duduk karena tangan Alen masih terikat.


" Maaf nona, kami tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Kami harus membantu anda untuk bersiap. Jika anda menolaknya, tuan akan marah dan kami bisa terbunuh."


" Aku tidak takut dengan tuanmu. Suruh dia kesini ! Aku akan menghadapinya!" Alen memberontak.


" Nona, jika anda ingin selamat lebih baik anda menurutinya. Tuan sudah menunggu anda. Ayolah nona, biarkan kami mendadanimu! Atau kami yang akan di hukum oleh tuan."


" Baiklah, aku akan mengikuti permainannya. Dia tidak tau dengan gadis seperti apa dia berurusan."


Para pelayan membuka ikatan Alen dan mulai menyiapkan gaun yang indah dan perhiasan yang berkilau.


" Apa aku harus memakai ini semua? Kalian tidak perlu membantuku, aku akan mengganti bajuku sendiri." Alen masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Alen memeriksa ruangan di kamar mandi, namun semua jendela dipasang teralis besi sehingga tidak mungkin ada yang bisa keluar dari sana.


" Sial...terpaksa aku harus mengganti bajuku." Alen mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata namun tidak ada di kamar mandi. Dia teringat dengan tusuk konde disebelah perhiasan yang harus dipakenya.


Setelah mengganti baju dengan gaun yang seksi, Alen keluar dari kamar mandi dan membiarkan pelayan mendandaninya.


Alen begitu terlihat cantik dengan rambutnya yang disanggul ke atas dengan tusuk konde dan perhiasan yang gemerlap. Tak lama seorang laki-laki datang mengetuk pintu.


" Tok..tok..apakah nona Alen sudah siap?"


" Sudah tuan. Kami sudah melakukan tugas kami." Pelayan mempersilahkan Alen untuk keluar dari kamarnya dan menuntunnya ke salah satu ruangan.


Alen memandang seluruh rumah yang sangat besar dan megah. Banyak sekali pelayan dan pengawal berjaga di setiap sudut ruangan. Sampai lah Alen ke ruang makan yang sangat besar dan indah dengan lampu kristal yang besar menggantung diatas meja.


" Halo permaisuriku. Akhirnya kau muncul juga. Aku begitu sangat merindukanmu."


Laki-laki itu berdiri dari duduknya dan mendekati Alen. Saat laki-laki itu ingin memegang tangan Alen, dengan sigap Alen menampisnya.


" Jangan coba-coba menyentuhku." Alen menatap sinis.


" Hahaha...aku suka wanita pemberani seperti dirimu. Duduklah! kita akan makan malam bersama."


Laki-laki itu menarik kursi untuk Alen dan memaksa Alen untuk duduk. Pelayan dengan sigap menyajikan berbagai makanan dan minuman.


" Siapa kau? Kenapa membawaku kesini?"


" Apa kau tidak ingat diriku? Bukankan pernah kukatakan dulu padamu kalo aku akan membangun istana untukmu dan menjadikanmu pengantinku. Lihatlah istana ini! Ini semua untukmu sayang. Dan sebentar lagi kita akan bersatu selamanya."


" Kau pasti salah orang, aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak suka istanamu. Kau cari saja gadis lain! Lagi pula aku tidak menyukaimu."


" Kau akan menyukaiku setelah aku menyingkirkan laki-laki yang bersamamu. Raka bukan? Tenang saja sebentar lagi dia akan mati dan tidak ada penghalang untuk kita berdua."


" Katakan siapa dirimu sebenarnya? Kenapa kau juga mengenal Raka?" Alen berteriak.


" Aku adalah penggemar sejatimu Alen. Sejak kau masih sekolah aku sudah mengagumi setiap penampilanmu. Walaupun semua orang menertawakan penampilan kalian tapi...aku selalu memujamu. Bahkan kau membantuku waktu itu, apa kau ingat?"


Flash back on


Saat itu 5 sekonco masih SMA. Mereka akan tampil dalam perlombaan di sekolahnya. Saat mereka sedang menunggu giliran tampil, Alen pergi untuk membeli makanan. Kebetulan di kantin penuh sesak orang berjubal dan akhirnya Alen memutuskan untuk keluar dari gerbang sekolahnya dan dan membeli makanan di mini market dekat dengan gedung sekolahnya.


Saat melewati lorong, Alen melihat ada laki-laki yang sedang dihajar oleh 2 orang laki-laki lainnya. Setelah seseorang tersungkur, dua laki-laki yang menghajar akan menembak namun terhenti saat Alen berteriak. Lalu dua laki-laki itu berlari meninggalkannya di jalan.

__ADS_1


Alen berlari dan menolong laki-laki yang terkapar


itu.


" Apa kau baik-baik saja? Aku akan membawamu ke rumah sakit."


" Tunggu..jangan! Aku tidak apa-apa. Tolong antar aku ke mobilku!"


Alen membantu laki-laki itu menuju mobilnya. Laki-laki itu mengenakan kecamata memakai kawat gigi dengan rambut gondrong sebahu dan sangat berantakan. Lalu laki-laki itu menelpon seseorang dan tak lama para laki-laki tinggi besar datang menolongnya.


" Tuan, apakan anda baik-baik saja? Siapa yang melakukan ini tuan? Kami akan membuat perhitungan dengan mereka."


Dengan memberi isyarat, laki-laki itu menyuruh para pengawalnya untuk menjauh.


" Apa aku boleh tau namamu, nona?"


" Namaku Alen. Dan siapa namamu?"


" Namaku Tama. Alen maukan kau ikut denganku? Aku berhutang padamu. Kau telah menyelamatkan aku. Aku akan memberikan segalanya untukmu."


" Maaf Tama, aku harus kembali ke sekolahku. Kau tidak perlu memberiku apa-apa."


Alen merasa curiga dengan Tama yang tiba-tiba mendesaknya bahkan mengunci pintu mobil.


Dengan cepat Alen membuka kunci pintu mobil dan langsung keluar dari mobil dan berlari menuju sekolahnya.


Sejak pertemuannya dengan Alen, Tama menjadi terobsesi dan sering membuntuti Alen bahkan beberapa kali mencoba menculiknya. Sejak itu Alen rajin berlatih beladiri. Ayah Alen mengarahkan semua pengawal dan dibantu beberapa polisi akhirnya bisa menangkap dan membuat Tama terbunuh.


Alen baru mengetahui bahwa Tama adalah anak dari ketua mafia yang berbahaya dan dua laki-laki yang menyerang Tama adalah mantan pegawai Tama yang keluarganya dibunuh oleh orang suruhan Tama.


Beberapa hari setelah Alen menyelamatkan Tama dari penyerangan, mayat dua orang laki-laki yang menyerang Tama ditemukan di pinggir jalan.


Flash back off


Alen memandang wajah laki-laki yang ada didepannya sambil mengernyitkan dahinya. Wajahnya sangat berbeda dengan Tama, laki-laki ini berparas tampan dan berbadan tegap.


" Tidak mungkin, Tama sudah mati."


" Sudah kuduga kau pasti mengenaliku dengan wajah baruku. Bagaimana apa kau suka wajahku yang sekarang?" Tama tersenyum dengan tatapannya yang menakutkan.


" Ini tidak mungkin...lalu siapa yang mati itu?"


" Dia hanya salah satu anak buahku yang kuubah menyerupai diriku. Aku mencarimu selama ini Alen, dan akhirnya aku menemukanmu. Dan luar biasa pertunjukan bandmu yang terakhir membuatku terpana..hahaha."


" Apa maumu dariku?"


" Aku ingin kita menikah besuk."


" Dan jika aku menolaknya?"


" Kau akan menghadiri pemakaman Raka dan ke empat temanmu."


Seketika Alen berdiri mengambil gelas didepannya dan menyiram ke wajah Tama. Perhiasan yang dipakainya ditarik oleh Alen dan dilempar ke arah Tama.


Pengawal langsung mendekati Alen dan hendak menarik tangannya namun dengan sigap Alen melawan dan melumpuhkan ke dua pengawal didekatnya.


" Plok..plok..plok...dari dulu kau memang luar biasa...hahaha."


Saat Alen mendekati Tama dan mau menyerangnya, pengawal masuk dan menodongkan senjata ke arahnya.

__ADS_1


" Pelayan...bawa calon istriku kekamarnya dan persiapkan dirinya besuk pagi secantik mungkin. Karena kami akan menikah..hahaha."


__ADS_2