
Hari itu udara sangat panas dan menyengat hingga membuat keringat terus bercucuran. Jam dua belas siang, tepatnya jam makan siang para limo sekonco yang saat itu agak berantakan penampilannya dan merasa kesal menerima kenyataan karena ternyata mereka satu kampus dengan tetangga mereka sikembar lima. Kecuali Siti dan Siska yang merasa biasa saja dengan kehadiran si kembar.
Penyamaran Alen dengan wig dan kacamata serta jaket yang dia kenakan sangat gagal tolal karena masih diketahui oleh para kembar terutama Raka.
Si seksi Elena menarik semua sahabatnya menuju ketaman belakang kampus. Dia masih penasaran kepada Alen kenapa kepalanya bisa benjol dan sama dengan salah satu sikembar.
" okee, ayooo Alen jelaskan what happen, itu merah and benjol sama kayak sidiam dan jutek kembar. "
" Iyaa Lennn, jelasin tuhhh, kenapaa kok sama, kita kan penasaran len?? " Mira dengan memegang pundak Alen memaksanya untuk bercerita.
" Hmmm paling itu kali pas jalan tabrakan, biasanya kan klo jidat sama jidat ketemu, berarti.. kiss.. dong, hahahah. "
Siska dengan santainya berbicara sambil memakan snacknya tidak sadar ketiga sahabatnya memandang dengan mata terbelalak lebar.
" Waaiiiiit, Siska kali ini aku agree with u, bener dia ituu. " Elena sambil menunjukkan jarinya kearah Siska.
" Beneran len, ayooo ceritaa!! " Mira yang kembali mengoyak tubuh Alen untuk bercerita.
" Wesssss, berhentiiii, hadeee sakno kasihan Alen sampai matanya nengok sana sini, wesss sekarang diem semua ayok dengerin Alen ceritaa. " Siti yang selalu bijaksana.
Disaat Alen mau bercerita, tiba-tiba sikembar tidak sengaja melewati taman kampus dan mengetahui ada limo sekonco. Mereka langsung mengintip di semak- semak menguping pembicaraan mereka.
" eh...ada cewek- cewek sebelah....ngintip yuk".
" Iyaaaaa, aku ceritaaaa, aku itu mau ketoilettt, ga sengaja aku bertabrakan ama dia. " Alen cerita dengan menutupi wajahnya.
" Ama sopo Lenn?? " tanya Siti sambil membenarkan kacamatanya.
" Sitiiii, iuuuuhh...ya ama kembar juteklahhh. " Elena dengan gayanya yang seksi.
" Paling beneran itu Alen tabrakan dan kissssss, hahaha. " sambil ketawa Siska membuat sahabatnya kesal.
" Sisssssskaaaaaa" teriakan sahabatnya.
" Duhhhhh udah aku mau ketoilet, nanti aku jelasin dirumah. " Ucap Alen yang kemudian berdiri dan lari meninggalkan sahabatnya.
" Hmmmm aku curigaa ama Alen kok dia malu yaa!?" Elena sambil menyilangkan kedua tangan didadanya sangat penasaran dengan Alen.
Tiba-tiba sikembar empat yang menguping disemak-semak terjatuh gara-gara ada semut yang menggigit telinga Riki.
" Aduhhh, telingaku ada yang menggigit."
Riki yang posisinya paling depan bergerak membuat kakinya tersandung dan...
" braakkkkk...."
Riki dengan ketiga saudaranya yang ada dibelakangnya terjungkal kedepan bersama-sama tepat didepan Elena.
" Aaaaaarrrghhhhhhh" sikembar empat.
" whaaattttt!!, iiiiuuuhhhhhh, tidakkk youu celana gajah pleasee, kenapa selalu mengikutiku, aahhhh"
Elena terkejut melihat Riki yang matanya tidak berkedip sama sekali. Mira yang melihatnya langsung menarik Elena kebelakang.
" Putri jowo haloo, maaf yaa hmm tadii itu tidak sengaja. "
Riko sambil membersihkan bajunya yang kotor dan ketiga saudaranya hanya melambai kepada empat sekonco.
"Kenapa kalian, mau menguping, ayo jawab!"
Mira yang menarik Reki dengan sinis membuat Reki semakin suka.
" Hmm, maaf tadi iya sihh kita menguping, maaf yaa, tapii kami tahuuu kenapa si Alen ama kakakku Raka kepalanya sama-sama benjol. "
" Ohhhhh Rakaaa namayaaa" empat sekonco secara bersamaan akhirnya mengetahui nama sikembar yang sangat jutek itu.
" Hahh kamu tahuu, darimanaa, ayo katakan?? "
Mira akhirnya melepaskan Reki dan menuju ke Riko.
__ADS_1
Sementara Riki selalu menatap Elena dan terus mengikuti kemanapun Elena bergerak membuat Elena sebal.
" Iuuuhh, ini kenapa sihhh ikut aja, noooo go awayy!!
Elena yang akhirnya menyerah dan memilih duduk diam membiarkan Riki berada terus disebelahnya.
" Wessssss, sudahhh jangan ributt, hmm mas Riko ayoo berikan penjelasannya."
" Aduhhh...putri jowo kamu klo penasaran gini bikin gemes". Batin Riko menatap Siti dan tersenyum lebar.
" Duhhhh, kenapa sih kalian ini, hehh Kamuu cepat jelaskan Jangan berbelit!!"
Mira membuyarkan tatapan Riko ke Siti.
" Okkkk, aku jelaskann, Roki berikan hpmu, ehh Roki kamu dimana sihh?? "
Riko menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Roki. Dan ternyata Roki berada dikursi taman berduaan dengan Siska sambil menikmati snack kesukaan mereka.
" Duhhhhh, Rokiii, gimana sih malah asik-asikan, Riki buka hpmu!"
Riki yang tetap memandang Elena menyerahkan hpnya kepada Riko.
" Ahhh, Riki kelimis, hadewe, ok, ini aku kasih tau yaaaa, duhhh kenapa pakai pasword, Rikiiiii!! "
" iuh seksi, paswordnya...pake K sama I . " ucap Riki sambil terus memandang Elena.
" Duh ribet banget sih, naaahh ini diaaaaa, ayo lihat! "
Akhirnya Riko menunjukkan foto Alen bersama Raka. Dan empat sekoncopun melihatnnya berteriak kencang bersama-sama.
" aaaaaaaapaaaaaaaaaa!!! " teriak empat sekonco.
*********************************************
Sementara Alen berusaha mencari Raka agar tidak memberitahukan kejadian yang mereka berdua alami tadi.
" Duhhh, susah banget sih nyari sijutek! "
Pada saat Alen membalikkan badannya dia terbentur dada yang sangat kekar dan Alenpun menengok keatas ternyata adalah Raka.
Tubuh Raka memang sangat besar, kekar, dan tinggi bahkan Alen yang paling tinggi diantara empat sekoncopun masih sepundak Raka.
"Aaahhhh, hadeww, bikin kaget, ayoo ikut aku."
Alen dengan cepat menarik tangan Raka menuju ke taman biologi yang ada didepannya.
Lalu bersembunyi disalah satu tempat dibawah rak tanaman sambil duduk jongkok. Rakapun mengikutinya.
" Huuuff, aman. " ucap Alen.
Alen yang duduk jongkok dengan Raka sambil melihat kanan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya, dan Rakapun dibelakang mengikuti semua gerakan Alen tanpa bersuara hanya memperlihatkan wajahnya yang terkejut heran dengan tingkah Alen.
" Sekarang ayo bilang, kamu kemaren lihat aku kan hmmmmn, ayo bilang. "
Alen yang awalnya bertanya dengan menarik krah baju Raka menjadi menutup mukanya karena malu wajahnya berdekatan dengan Raka.
Melihat itu Raka tersenyum sesaat dan kembali memperlihatkan wajahnya yang jutek.
" Ehhh kok diam sihh, ayo bilang lihat gakk.! " ucap Alen sambil memukul dada Raka dan salah satu tangannya masih menutupi wajahnya yang memerah.
Disaat Alen berbicara tiba-tiba Raka menjulurkan jarinya kemulut Alen dan menunjukkan kedepan kalau ada keempat saudara kembarnya masuk kedalam taman itu.
Alen tekejut hingga membuat matanya terbelalak dan tiba-tiba pinggang Alen ditarik Raka dengan kedua tangannya dan mendekap Alen untuk bersembunyi dibawah meja dekat rak tanaman tempat mereka berjongkok tadi.
Karena ruangannya sangat sempit mau tidak mau Raka harus menekuk kakinya dan mendekap Alen dari belakang dengan posisi Alen duduk terapit di antara kakinya Raka. Wajah Alen pun bersemu merah.
" Duhh, kok dia meluk aku dari belakang sihh, mulutku ditutup lagi trus kakinya ngapit aku gini...emang aku guling apa ya"
Ucap Alen dalam hati dan memejamkan matanya karena menahan jantungnya yang semakin berdetak kencang.
__ADS_1
Entah apa yang dibicarakan sikembar empat.Rakapun serius mendengarkan pembicaraan mereka dan semakin erat mendekap Alen sehingga detak jantung Alen berdebar semakin kencang dan berkeringat berada didekapan Raka.
Akhirnya keempat saudara kembar Raka meninggalkan taman biologi. Dan Raka masih saja mendekap Alen dari belakang.
"bau tubuhnya sangat harum membuat jantungku lari maraton" ucap Raka dalam hatinya sambil menempelkan hidungnya ke leher Alen.
Alen menepuk tangan Raka dan menunjukkan jarinya kearah tangan Raka agar melepas tangannya yang menutup mulutnya karena Alen kesulitan bernafas.
Raka terkaget dan segera melepaskan tangannya dan dekapannya.
Melihat Alen yang mengeluarkan keringat sangat banyak Raka secara spontan membersihkannya dengan saputangan miliknya sambil menarik Alen berdiri dari tempat persembunyiannya. Alen merasa terkejut melihat perlakuan Raka padanya
" Sudahhh, makasih, keringatku uda habis, sini aku cuci ya." Alen mengambil saputangan Raka dan langsung membelakangi Raka karena malu.
" Duhhh, ini cowok kenapa sihh, kemaren niup jidatku, sekarang ngelap keringatku, maunya apa sihh, malu tauuuu. Kenapa dia nggak ngomong sama sekali, jutek juga, jadi bingung aku. "
Ucap Alen dalam hati sambil menutupi wajahnya. Raka memperhatikannya dari belakang dengan tersenyum
" Ah aku pergi aja, tapi aku akan tanya sekali lagi tapiiii kalo dia gak mau ngomong gimana, ahhh sudahlah aku akan mencobanya".
Ucap Alen dalam hati sambil geleng-geleng sendiri membuat Raka semakin penasaran.
Raka menunduk mendekatkan wajahnya disamping wajah Alen dan ternyata Alen dengan cepat menengok kearah Raka secara bersamaan membuat mereka tidak sengaja bersentuhan wajah sampai bibir merekapun bersentuhan.
Sama- sama terkejut membuat mata mereka sama-sama terbelalak dan tidak melepaskan bibir mereka yang sudah menempel.
Alen tiba-tiba tersadar dan melepaskan bibirnya lalu menutupi mulutnya dengan kedua tangannya mendorong Raka dan berlari keluar dari taman biologi dengan cepat karena malu.
Raka memegang dadanya yang berdetak kencang dan mengusap keringat yang ada dirambutnya. Lalu melonggarkan dasinya karena nafasnya yang semakin kencang.
" Apa yang dilakukan gadis ini, kenapa aku selalu mengikuti kemauannya, perasaan apa ini?? "
Gumam Raka yang akhirnya berjalan keluar dari taman biologi dan menuju kelas tarinya.
Sementara Alen berjalan cepat sambil terus menutupi mulutnya menuju ke kelas.
" duhhh...hari pertama dikampus menyebalkan....dia mencuri ciumanku...waaaaa...harusnya ciumanku tidak seperti ini".
Alen dari kecil selalu membayangkan bahwa suatu hari dia akan bertemu pangerannya dan berciuman di tempat yang romantis dipenuhi bunga- bunga yang indah dan diiringi dengan alunan musik yang merdu.
Sambil menghentakkan kakinya berkali- kali dan memegang mulutnya,
" si jutek telah menghancurkan impianku...ahhhh sebelll...tapi kok bekas bibirnya ga hilang- hilang ya..kaya nempel terus gitu...tidak...tidak..tidak aku tidak mau memikirkannya". Alen memegang kepalanya dan berjalan cepat.
Sesampai dikelasnya Raka masih memegang dadanya yang terus berdetak kencang yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
" Kenapaaaa jantungku, ini ciuman keduaku, setelah dengan temanku pada waktu aku kecil, rasanya sama persis. "
Sambil bersiap untuk kelas tari Raka masih memegang dadanya.
Sementara dikelas, Alen merasa heran kenapa dia hanya disuruh duduk dan tidak melakukan apapun. Sambil termenung melihat siswa lain yang sudah berlatih tari, tiba-tiba ada yang menghampirinya dan meminta Alen untuk mengikuti kelas khusus tari dilantai atas karena akan ada guru khusus yang mengajarinya.
Alen terkejut, tetapi dia menduga mungkin karena tariannya sangat buruk hingga pihak kampuspun memberinya guru khusus.
Alen akhirnya pergi kekelas lantai atas. Ketika sampai dan membuka pintu kelas Alen sangat terkejut hingga matanya terbuka lebar melihat kelas tari ruangan khusus.
" waahhhh, luas sekaliii ruangannya...baguss baget, pantas saja disebut kelas khusus. "
Alen merasa senang dan tertawa pelan lalu mengelilingi ruangan yang sangat indah itu dengan melompat- lompat. Lantai kayu berwarna coklat yang halus membuat kaki tidak terpeleset, kaca yang mengitari seluruh ruangan yang membuat kita bisa melihat setiap gerakan yang kita mainkan. Langit-langit atap yang terdapat lukisan gaya eropa yang sangat indah, bahkan bau harum dari parfum ruangan yang sangat menyegarkan.
Raka mengintip Alen dari pintu dan tersenyum melihat Alen memutar-mutar tubuhnya sambil merentangkan tangannya merasa kegirangan masuk keruang tarinya. Lalu Raka membuka pintu dan masuk sambil menepukkan kedua tangannya
" plok....plok.... plok.... "
Alen langsung berhenti berputar dan menengok kebelakang.
" Apaaaaaaaaaaaaa.....kenapa dia disini!! "
Teriak Alen lalu menutup mulutnya ketika melihat Raka.
__ADS_1