
Flash back on
Pagi itu seperti biasa Elena berangkat sekolah dengan cantiknya. Bagi Elena masa SMA adalah masa yang sangat menyenangkan sampai akhirnya dia harus bertemu dengan cowok yang bernama Romy. Saat itu Romy menginjak kelas 3 SMA dan Elena masih kelas 1 SMA.
Romy adalah cogan alias cowok ganteng yang paling populer di sekolahnya dan juga karena sekolah itu adalah milik orang tuanya. Saat pertama kali melihat Elena dengan rambut panjang terurai dan tubuh yang seksi berjalan melewatinya, saat itu juga Romy langsung jatuh cinta pada Elena tapi lebih tepatnya teropsesi.
Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan perhatian dan cinta Elena, namun Elena tidak pernah mau menerimanya karena sifatnya yang arogan, selalu menyombongkan kekayaan orang tuanya dan suka sekali berganti-ganti pacar. Sampai suatu hari Romy nembak Elena untuk jadi pacarnya di depan semua warga sekolah termasuk para guru.
"Kok kita tiba-tiba disuruh ke aula ya?" Murid-murid saling bertanya.
Pagi itu setelah jam istirahat pertama, para murid diminta menuju aula sekolah bersama para guru. Tampak kain putih menutup panggung yang memang sudah ada disana. Semua murid merasa penasaran sampai salah satu murid membawa mic dan berbicara disebelah panggung.
"Selamat siang semua. Hari ini kita ada sedikit acara yang dibuat oleh teman kita Romy, kami harap kalian semua mendukungnya. Tiba-tiba kain putih terbuka. Nampak tulisan yang terbuat dari susunan bunga mawar bertuliskan "I LOVE U ELENA."
Romy segera naik kepanggung dan memberikan pidatonya.
"Selamat siang, maaf siang ini saya mengajak semua warga SMA kita untuk menjadi saksi bahwa hari ini saya akan menyatakan cinta dan meminta seorang gadis untuk menjadi pacar saya."
Dengan penuh percaya diri, Romy ditemani teman-teman genk nya yang semua anak orang kaya, berdiri di atas panggung dengan membawa bunga berwarna-warni ditangan mereka.
"Saya ingin Elena maju ke atas panggung sekarang juga!"
Semua orang saling berpandangan dan mencari keberadaan Elena. Namun tidak ada satu pun yang melihatnya. Salah satu murid berjalan mendekati Romy dan memberikan surat kepadanya.
Isi surat Elena.
"Romy, jangan pernah mengharapkan apapun dariku! Karena aku tidak akan mau berpacaran sama cowok arogan dan sombong sepertimu. Lebih baik cari saja cewek lain."
Setelah membaca surat Elena, Romy begitu marah dan menghancurkan bunga-bunga dan hiasan yang sudah ditata oleh nya di aula. Para guru mencoba menghiburnya, namun Romy tetap tidak mau mendengar. Dan seperti biasa, dengan menggunakan nama ayahnya, Romy mengancam para guru untuk mencari Elena dan mengintimidasi Elena agar Elena akhirnya mau menerimanya.
Namun Elena bukan gadis lemah, selang beberapa lama salah satu guru menemukan Elena yang bersembunyi di perpustakaan tempat dimana Romy tidak pernah kesana.
Guru itu membawa Elena menemui Romy.
"Berani-beraninya kau menolakku, Elena."
"Kau mau apa, Romy? Aku tidak akan pernah mau bersama cowok gila sepertimu." Elena menantang Romy dengan menatap tajam tanpa rasa takut dan malah membuat Romy kalap.
"Kau pasti akan menerimaku, Elena. Jika tidak aku akannnn..." Romy menaikkan tangannya hendak menampar Elena namun tiba-tiba tertahan.
"Romy, hentikan! Apa yang kau lakukan? Kau sudah membuat sekolah ini terhenti kegiatannya gara-gara ulahmu." Ayah Romy tiba-tiba datang dan memegang tangan anaknya.
Saat Elena tahu Romy akan memintanya jadi pacarnya dengan mengumpulkan semua orang di aula, Elena segera menelpon ayah Romy karena dirinya tahu jika Elena menolaknya, Romy pasti akan menyakitinya.
"Ayah, apa yang ayah lakukan disini?" Romy tampak ketakutan melihat ayahnya datang.
"Sekarang juga ikut ayah!"
Ayah Romy menariknya dan membawanya pulang. Sejak hari itu Romy tidak pernah menampakkan dirinya kembali karena ayahnya memindahkannya ke luar negeri. Dan Elena memutuskan untuk pindah sekolah karena teman-teman setia Romy masih menaruh dendam padanya dan sering menerornya. Akhirnya Elena pindah ke sekolah dimana para sahabatnya bersekolah dulu.
Flash back off
"Romy." Elena berbalik dan memandang Romy yang sudah berdiri didepannya.
"Kau benar-benar tidak pernah berubah, Elena. Masih saja cantik seperti dulu." Romy segera melepaskan tangan dari cewek-cewek yang menggandengnya.
"Hahaha, aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dirimu di sini." Romy memandang Elena dari atas sampai bawah.
"Yah, dunia begitu sempit, Romy. Dan kau juga tidak berubah, masih sama menyebalkan seperti dulu. Sepertinya aku tidak ada alasan untuk tetap disini." Elena berbalik dan menuju pintu untuk keluar dari ruang pesta bersama 4 sahabatnya.
"Tutup, pintunya! Jangan biarkan mereka pergi!"
Para pengawal Romy berdiri menghadang limo sekonco.
"Romy, jadi kau mengenal cewek-cewek itu. Kebetulan sekali." Kenzo tertawa sinis.
__ADS_1
"Ingat Kenzo, Elena milikku, yang lain kau boleh mengambilnya. Hahaha." Romy menepuk pundak sepupunya.
"Elena, lihatlah! Semua tamu undangan seumuran dengan kita dan sepertinya mereka memihak ke cowok itu." Alen berbisik ke Elena.
"Kau benar, aku baru ingat. Mereka adalah teman-teman Romy yang dulu menerorku."
Alen dan Siti berdiri disamping Elena dan bersiap menghadapi orang-orang di depan mereka. Siska diam-diam menyalakan ponselnya dan menghubungi Roki sejak mereka masuk ke tempat pesta karena sudah merasa ada yg tidak beres disana.
Empat kembar mendengarkan semua yang terjadi dan secepatnya menuju ruang pesta.
"Kalian, bawa Elena dihadapanku!"
Dua pengawal Romy hendak menarik paska Elena, namun secepatnya Alen dan Siti mengalahkan mereka.
Romy semakin marah dan menyuruh semuanya menyerang mereka. Karena kalah jumlah, tangan Siti, Mira dan Siska dipegang dibelakang punggung mereka orang para pengawal Romy. Sedangkan tangan Alen di pegang oleh Kenzo dengan memeluknya dari belakang.
Romy mendekati Elena dan memaksanya untuk menciumnya. Dengan emosi Elena menampar Romy hingga membuat Romy marah dan mencekik leher Elena. Semua yang hadir malah tertawa menyaksikan perbuatan bejat mereka.
"Lepaskan Elena, dasar orang gila!" Alen berteriak.
"Sutttt, kau juga akan sepertinya jika tidak menurut kepadaku." Kenzo mengeratkan dekapannya ke Alen.
Sebenarnya Alen bisa dengan mudah mengalahkan Kenzo, namun Alen tidak ingin mereka melukai para sahabatnya.
Elena nampak kesakitan menahan cekikan tangan Romy, perlahan Romy mengendurkan tangannya dan mendekatkan bibirnya untuk mencium Elena kembali.
"Bruakkkk...."
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka secara paksa. Empat kembar berjalan masuk diikuti para pengawal mereka. Dengan gesit Alen melumpuhkan Kenzo hingga tersungkur ke lantai, Siti menghajar pengawal Romy yang mencengkeram tangannya dan membebaskan Siska dan Mira.
"Kalian lima kembar, untuk apa kalian kemari?"
Romy melepaskan Elena dan terkejut melihat kembar didepan mereka. Tanpa berbicara Riki mendekati Romy dan mencengkeram krah bajunya kemudian meninju wajah Romy hingga tersungkur.
"Hentikan! kau bisa membunuhnya, Riki."
Riki langsung berbalik dan memeluk Elena yang terduduk dilantai sambil memegang lehernya yang sakit.
"Kau tidak apa-apa, darling?" Riki melihat tanda bekas tangan merah di leher Elena dan langsung membuatnya kalap. Riki berbalik mendekati Romy dan mencekiknya hingga tubuh Romy terangkat ke atas.
Melihat emosi Riki, Elena memanggil dengan suara yang serak.
"Riki, hentikan! Kemarilah, aku membutuhkanmu."
Mendengar suaran Elena, Riki melempar Romy ke lantai dan kembali memeluk Elena.
"Maafkan aku. Kau Raka ato Riko ato siapapun. Apa Elena itu adalah..." Romy bertanya dengan sangat ketakutan.
"Elena adalah milikku, jika kau atau siapapun berani menyentuhnya atau menyentuh mereka, kalian akan berhadapan dengan kami." Riki berteriak ke arah Romy sambil menunjuk ke empat sekonco.
"Sekarang juga kemasi barang kalian dan pergi dari resort ini, mengerti!" Riko berteriak sambil memandang ke semua orang yang ada disana.
Dengan wajah ketakutan, Romy dan semua teman-temannya beserta Kenzo berlari meninggalkan ruangan itu bersama para pengawalnya.
"Bagaimana mungkin Elena bisa bersama kembar. Untuk sementara kita harus pergi dari sini atau kembar akan menghancurkan kita seperti dulu." Romy begitu ketakutan dan segera meninggalkan resort itu bersama Kenzo dan teman-temannya.
Empat kembar membawa limo sekonco kembali ke villa mereka. Dengan lembut Riki mengambil air es dan mengompres leher Elena.
"Apa kau mengikuti kami, beb?" Tanya Elena dengan manja ke Riki.
"Tentu saja, aku kan sudah bilang kalo kau pergi kemana-mana harus ada aku. Maafkan aku terlambat datang sampai kau terluka begini, darling." Riki menunduk dengan sedih.
"Riki..hiks..hiks." Elena langsung memeluk Riki dengan menangis.
"Mas Riko, kok kayanya si Romy takut bener sama kalian ya? Emang pernah ketemu, to?" Siti bertanya ke Riko yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Dulu dia pernah berurusan sama kita. Dia hanya anak manja yang membanggakan kekayaan orang tuanya dan sok belagu. Tidak perlu dipikirkan." Riko mengelus rambut Siti.
"Aku ndak nyangka, Elena punya juga penggemar gila. Tak pikir penggemar yang agak miring otaknya cuman penggemarnya Alen. Untung kalian cepet datang. Kalo ndak, wes mungkin kita benjut kabeh, mas."
"Apa itu benjut, Siti sayang?" Riko bertanya dengan lembut kepada Siti.
"Emm, nganu maksudnya, benjol mas alias babak belur. Hehehe." Siti menjawab dengan malu-malu karena Riko akhir-akhir ini begitu lembut dan perhatian kepadanya.
"Alen, apa kamu baik-baik saja?" Reki bertanya kepada Alen yang melamun sambil menatap jendela yang mengarah ke laut.
"A..aku baik-baik saja. Elena apa lehermu masih sakit?" Alen mendekati Elena dan tiba-tiba memeluknya.
"Maafkan aku, El. Jika saja bukan karena aku, kita pasti tidak akan berlibur ke sini dan kamu tidak akan terluka..hiks...hiks." Alen menangis dipelukan Elena.
Ketiga sahabatnya yang lain mendekat ke arah mereka dan ikut berpelukan.
"Ini bukan salah siapa-siapa, Len. Lebih baik kita balik pulang aja ya." Elena memandang ke empat sahabatnya dan dibalas dengan anggukan.
Tak lama ponsel Alen berdering.
" tutttt...tuttt.."
"Halo, ayah ada apa? Kapan? Baiklah aku akan segera pulang."
"Sepertinya memang benar kita harus segera pulang. Aku harus berkemas dan menemui orang tuaku."
"Tidurlah! Kami akan berjaga disini malam ini. Besuk pagi kita akan kembali." Reki berbicara kepada Mira dan Mira langsung mengajak ke empat sahabatnya untuk tidur.
"Halo, iya kak Raka. Kami sudah mengatasinya. Alen baik-baik saja. Mereka semua aman. Besuk pagi kami akan pulang. Baiklah." Raka menelepon Riko setelah mengetahui kejadian di tempat liburan limo sekonco.
Rumah orang tua Raka.
"Raka, persiapkan pesta untuk beberapa hari kedepan. Ayah akan mengundang tamu istimewa. Dan suruh adik-adikmu pulang. Kalian semua harus menghadiri pesta itu." Ayah Raka memerintahkan kepada Raka.
"Pesta seperti apa, ayah? Kelihatannya penting sekali?"
"Iya, sangat penting. Nanti aku beritahu alasannya. Sekarang kau persiapkan saja!"
Raka merasa enggan untuk bertanya dan hanya menuruti perintah ayahnya.
Di dalam kamarnya, Alen tidak bisa menutup matanya. Pikirannya masih penasaran dengan perintah ayahnya yang tiba-tiba menyuruhnya pulang secepatnya.
"Tidak biasanya ayah seperti ini. Mungkin dengan bertemu keluargaku perasaanku jadi lebih baik." Alen mencoba untuk menutup matanya kembali namun bayangan Raka selalu saja memenuhi pikirannya.
"Pergilah, Raka! Pergilah dari pikiranku. Ini benar-benar menyiksaku." Alen menutup kepalanya dengan bantal.
Didepan kamar mereka, empat kembar menjaga limo sekonco sambil mengobrol saat Raka kembali menelepon Riko.
"Halo, kak. Jadi kita harus pulang? Lalu bagaimana dengan limo sekonco? Baiklah aku akan mengaturnya."
"Ada apa Riko? Kenapa kita harus pulang?" Riki penasaran.
"Entahlah. Kakak bilang ayah menyuruh kita pulang karena ada acara penting. Kita akan mengatur penjagaan untuk limo sekonco besuk."
Tak terasa pagi telah datang, limo sekonco merasa enggan membuka mata mereka karena rasa kantuk yang teramat sangat.
Elena bangun dari kasurnya dan keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana empat kembar tidak terlihat. Elena hanya melihat para pengawal yang berjaga di depan villa.
"Paling Riki dan saudaranya sudah balik ke villa mereka." Saat Elena duduk santai tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo, iya tante. Saya sendirian. Oo..begitu. Tenang saja saya akan mengatur semuanya. Bye, tante."
Elena menutup ponselnya dan melihat teman-temannya yang masih tidur.
"Sepertinya ini akan sangat menyenangkan. Alen kau akan sangat terkejut..hihihi."
__ADS_1