Tetanggaku Pencuri Hatiku

Tetanggaku Pencuri Hatiku
BAB 44: TANTANGAN RAKA


__ADS_3

Malam itu menjadi malam tak terlupakan bagi Elena dan Riki. Setelah adegan suap-suapan dan candaan manja Elena ke Riki, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah.


Sampai di depan rumah, Riki kembali membukakan pintu untuk Elena. Elena keluar dari pintu dengan wajah berseri. Riki membawakan dua kotak hadiahnya dan mengantar Elena sampai ke depan pintu masuk.


" Iiuhhh...terimakasih, Riki. Malam ini sungguh luar biasa. Kau membuatku sangat happy, beb." Elena membelai wajah Riki.


" Apapun kulakukan untukmu, darling."


" Baiklah, aku masuk dulu, ya. Aku tidak sabar ingin mencoba gaun yang kau berikan." Elena berbisik di telinga Riki.


" Kapan aku bisa melihatmu memakainya?" Riki masih menahan Elena membuka pintu.


" Iiuhhh...kau sungguh lucu. Nanti pasti ada saatnya aku memakainya, bersabarlah, honey!"


Elena dengan menggoda mengelus dada Riki lalu berbalik membuka pintu.


" Apa aku tidak mendapatkan ciuman selamat malam?" Riki memegang tangan Elena yang menyentuh handle pintu.


Dengan tersenyum Elena berbalik dan tubuh Riki sudah sangat dekat dengannya. Elena mengecup pipi Riki namun Riki tidak membiarkannya begitu saja. Perlahan Riki mencium bibir Elena, saat tahu Elena memberi lampu hijau, ciuman itu semakin lama semakin dalam.


Elena sengaja menggoda Riki dengan menggigit pelan bibir bawah Riki beberapa kali hingga membuat nafas Riki tidak beraturan. Lalu sambil sedikit tertawa, Elena langsung meninggalkan Riki yang masih setengah mematung di depan pintu.


" Good night, Riki." Elena masuk ke dalam rumah.


" Good night, Elena darling. Hah..hah..haduh..gimana ini tubuhku kembali mematung. Kau memang luar biasa seksiku."


Riki berjalan dengan gaya robot dan segera dibantu berjalan oleh salah satu pengawalnya yang memang membuntuti mereka dari awal atas perintah Raka.


Didalam rumah, Riko, Reki dan Roki sudah menunggu Riki dengan penasaran.


" Astaga,Riki. Kenapa tubuhmu mematung lagi? Bukankan kau sudah mulai pintar berciuman? Emangnya kamu diapain lagi sama Elena?"


3 kembar berganti memapah tubuh Riki dan mempersilahkan pengawalnya untuk meninggalkan mereka.


" Elena makan bibirku." Riki menjawab dengan pandangan yang menerawang sambil tersenyum.


" Apaaaa?" 3 kembar barengan


Flash back on


" Kak Raka, bisa bantu aku nggak?" Riki diam-diam menemui Raka dikamarnya.


" Mau aku bantu apa, Riki?"


" Aku mau kencan sama Elena tapi aku gak tau gimana caranya nyari hadiah buat dia."


Riki menceritakan semua ke Raka. Dan Raka dengan seksama mendengarkan Riki lalu memberi saran ke Riki untuk memberikan hadiah ke Elena sesuatu yang disukainya. Karena ini adalah kencan pertama Riki, tentu saja Raka tidak tanggung-tanggung memberikan bantuannya.


Raka menelpon beberapa koneksinya sehingga dirinya bisa berbicara langsung dengan Anthoni Laurent designer favorit Elena, dan mendapatkan rekaman exclusif acara fashion show yang diselenggarakan oleh Anthoni, tentu saja setelah Raka menjadi salah satu sponsor dadakan di acara tersebut.


Kemudian Riki mengambil alih telepon Raka dan berbicara langsung dengan designer itu serta memesan salah satu baju limitednya, dan meminta saat itu juga dikirim bersama buku yang sudah ditandatangani langsung oleh Anthoni Laurent.


Sebagai ucapan terima kasih, Anthoni menambahkan rekaman dirinya yang mengucapkan terimakasih ke Riki dan Elena.


Namun karena kejadian yang tidak terduga di cafe x, akhirnya Riki menelpon Raka dan mengalihkan pengiriman hadiah Elena ke cafe yang menjadi tujuan akhir Riki dan Elena.


Flash back off


Malam itu Riki tidur sangat lelap dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Berbeda dengan Raka yang gelisah karena beberapa kali menelpon Alen namun tidak diangkat. Bahkan Raka mendatangi balkon Alen, namun tidak ada orang di kamar itu.


" Apa yang Alen lakukan? Dia benar- benar membuatku pusing."


Di rumah Alen


Seharian Alen berada di ruang band nya untuk melatih vocalnya. Kali ini dia ingin mempelihatkan gender vocal aslinya yang lebih ke lagu Rock. Alen tidak menyadari jika hp nya berada pada posisi suara silent sehingga tidak mendengar panggilan dari Raka. Bahkan Alen tidak memasuki kamarnya sama sekali hingga malam hari.


Saat lampu kamar Alen mulai menyala, Raka segera menuju balkon Alen dengan wajah yang jutek.


" Tok..tok..tok...bukain pintu!"

__ADS_1


" Hai, Raka. Kenapa malam-malam gini kekamarku? Kamu belum tidur?" Tanya Alen dengan lembut.


" Gimana aku mau tidur, kamu bahkan tidak mengangkat telponku. Apa yang kamu lakukan sepanjang hari?" Raka bertanya dengan nada ketus namun sambil memeluk Alen.


" Kenapa marah-marah sih? Aku kan tidak kemana-mana. Emang gak boleh latihan buat persiapan final kita?" Alen menjawab dengan cemberut.


" Apa, final?" Raka melepaskan pelukannya dan menatap Alen dengan serius.


" Apa kamu lupa, sebentar lagi kan kita akan mengikuti final?"


" Aku tidak lupa. Tapi aku lebih ingat saat kamu diculik gara-gara penampilanmu itu. Aku tidak mau menanggung resiko kehilangan kamu lagi. Lebih baik kamu tidak usah ikut final saja."


Raka mengernyitkan dahinya dan berbicara dengan tegas. Tentu saja membuat Alen terkejut mendengar perkataan Raka.


" Apa maksudmu, Raka? Ini sangat tidak masuk akal." Alen berbalik dan duduk di ranjangnya dengan cemberut.


" Dengarkan aku, Alen! Kalo kau ingin menjadikan band mu terkenal, aku bisa mewujudkannya tanpa kalian mengikuti perlombaan itu." Raka mendekati Alen dan memegang tangannya.


" Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak butuh kau atau siapapun untuk membuat kami terkenal. Mengapa kau sangat egois, Raka?" Alen mencoba untuk bersabar dengan membelai wajah Raka dan mencium keningnya.


" Egois? Aku hanya ingin melindungimu, itu saja."


" Tapi ini bukan hanya band ku saja. Tapi band 5 sekonco. Kau juga akan menghancurkan impian teman-temanku. Aku tidak mau itu." Alen sudah tampak emosi.


" Mengertilah, Alen! Apapun hasil final, itu tidak sebanding dengan keselamatan kalian. Bisa jadi penggemar para sahabatmu juga bisa membahayakan mereka."


" Kalian kan bisa melindungi kami. Kau bisa melindungiku, Raka." Alen mendekati Raka dan mencium mesra bibir Raka, namun Raka tetap pada pendiriannya.


" Aku tetap tidak bisa mengijinkanmu dan teman-temanmu mengikuti final itu"


" Lebih baik kau balik saja ke kamarmu! Aku ingin sendiri." Alen membelakangi Raka dan menyuruh pergi Raka dengan ketus.


Dengan menarik nafas yang panjang, Raka melangkah keluar dari kamar Alen. Setelah beberapa langkah, Raka berhenti dan berbalik mendekati Alen kembali.


" Kau sangat berarti bagiku, Alen. Aku harap kau mengerti. " Raka memeluk Alen dari belakang namun Alen tetap diam dan tidak mau menanggapi perkataan Raka.


Namun bayangan saat Alen diculik dan perasaan takut yang begitu sangat akan kehilangan dirinya selalu membayangi pikiran Raka.


" Ini benar-benar membuatku gila."


Dikamarnya, Alen merasa kesal dengan sikap Raka yang berlebihan.


" Bagaimana jika teman-temanku tau apa yang dibicarakan Raka barusan? Bisa-bisa nya dia jadi egois seperti itu, menyebalkan."


Alen melihat layar hpnya dan mengetahui banyak sekali misscall dari Raka. Dengan kesal Alen mematikan hp nya, dan berbaring dengan menutup matanya menggunakan bantal.


Keesokan harinya 5 sekonco bersama 4 kembar sudah bersiap melakukan rutinitas baru mereka. Raka tampak tidak terlihat karena harus mengurus surat- surat perusahaan yang dikirimkan oleh ayahnya.


Kali ini Riko yang memimpin mengajarkan 5 sekonco gerakan pertahanan diri. Tentu saja dimanfaatkan untuk mendekati Siti. Saat harus melakukan gerakan berhadap- hadapan, Alen memilih untuk duduk dan hanya melihat saja.


" Putri jowo ayo, serang mas Riko! Pake gerakan yang tadi mas Riko ajarin, ya !" Riko bersiap menghadapi serangan Siti sambil tersenyum.


" Oo...pake gerakan yang tadi ya. Hehe saya belum hafal. Tapi ya wes tak cobanya."


Siti menyerang Riko dan Riko dengan cepat menangkis serangan Siti dan memeluknya dari belakang.


" Nah...Siti harus bisa nangkis kaya gini, ya. Biar kalo ada yang macem-macem langsung tepar." Riko berbisik di telinga Siti.


" Tapi aku diajari Bapakku juga bisa nangkis orang jahat. Malah ndak tepar lagi, tapi langsung patah-patah tulangnya." Siti berbicara dengan tampang polosnya.


" Wahhh, pasti hebat banget gerakannya. Mas Riko boleh tau gak? Ajarin dunk!"


Semua menjadi terdiam menunggu reaksi Siti.


" Ya wes tak ajari, tapi kalo sampe badannya sakit-sakit, jangan salahin aku lho!"


" Tenang aja, mas Riko kuat kok."


" Ayo, mas Riko serang aku sekarang!"

__ADS_1


Siti sedikit membuka kakinya dan berdiri dengan santai.


" Ini cewek beneran nantangin ya? Ya udahlah lumayan bisa peluk-peluk dikit."


Sambil membatin, Riko tersenyum dan menyerang Siti dengan gerakan seolah ingin memeluk secara paksa. Tiba-tiba Siti menggerakkan tangannya dengan tangkas dan membanting Riko ke lantai dengan cukup keras.


" Wowww...gerakan apa itu Siti? Hebat banget...plok..plok..plok." 3 sekonco dan 3 kembar bertepuk tangan bersama-sama.


" Hehe, itu gerakan pencak silat. Ilmu beladiri dari Indonesia."


" Kamu ikut pencak silat, Siti? Uda berapa lama?" Reki bertanya dengan takjub.


" Cuman dari kecil kok. Waktu SMA sering disuruh ikut lomba dan kebetulan ndak pernah kalah..hehe. Kalo pas mudik, kadang-kadang disuruh jadi guru. Kebetulan Bapakku yang punya tempat pelatihannya jadi ndak bisa nolak." Siti menjelaskan lagi- lagi dengan tampang polosnya.


" Apaa? Kayanya kita yang harus berguru dengan Alen dan Siti." 4 kembar kaget.


" Mas Riko ndak apa-apa kan? Tadi aku pelan kok, mas. Sini Siti pijit punggungnya kalo sakit!


Siti mendekati Riko yang masih terbaring di lantai. Setelah Siti menawarkan pijitannya, Riko langsung pura-pura sakit dan meletakkan kepalanya di pangkuan Siti.


Alen yang melihat dari jauh tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


" Mereka belum tau siapa Siti sebenarnya."


Saat Alen kembali duduk sendiri, tiba-tiba terdengar suara kucing mendekatinya.


" Ihhh...lucu banget kucing ini, kamu tersesat ya?"


Alen menggendong kucing itu sambil mengajaknya berbicara seakan kucing itu mengerti apa yang dia ucapkan.


" Ihhh...jangan gigit aku dunk. Kamu itu seperti si jutek aja suka nggigit. Tapi kamu sangat lucu gak kaya si jutek itu, menyebalkan sekali. Pengen banget aku kucel-kucel aja wajahnya biar dia tidak seenaknya."


" Jadi sekarang kamu nyamain aku sama kucing?"


Raka tiba-tiba berada di belakang Alen dan mengagetkannya.


" Ehhh...siapa bilang kamu kaya kucing? Jelas-jelas kucing ini lebih lucu, menggemaskan, gak jutek dan egois kaya kamu."


Alen berbicara dengan ketus sambil melirik Raka.


" Jadi masih marah nih? Sampai kapan?" Raka duduk disebelah Alen.


" Sampai kamu gak nyebelin dan egois melarang band ku buat tampil di final." Alen memalingkan wajahnya.


" Pokoknya aku tetep gak setuju kalian ikut final."


" Apa? Emangnya kita butuh ijin dari kamu? "


Tanpa Alen dan Raka sadari, 4 kembar dan 4 sekonco mendengarkan perdebatan mereka.


" Wait gaes, apa maksudnya Raka gak setuju kita tampil?" Elena bertanya sambil berkacak pinggang.


" Aku tidak setuju kalian tampil di final karena itu bisa membahayakan hidup kalian. Apa tidak cukup penculikan Alen menjadi contoh?" Raka mencoba menjelaskan ke 4 sekonco.


" Apa kalian juga setuju dengan ide konyol kakak kalian?" Mira menatap 4 kembar terutama Reki.


" Emm..kita..itu..anu." 4 kembar saling tatap dan tidak berani menatap kakaknya.


" Cukup! Kalian suka atau tidak, 5 sekonco tetap akan tampil." Alen berteriak sambil menatap 5 kembar.


" Apa kau menantangku, Alen?" Raka mendekat dan menatap Alen.


" Iya, aku menantangmu. Kamu tidak bisa melarang kami untuk tampil. Apa yang mau kau lakukan, hah?"


Alen mendekatkan wajahnya ke wajah Raka dan mereka berdua saling berpandangan dengan tatapan yang menusuk.


" Lihat saja nanti." Raka mengecup bibir Alen dengan cepat dan Alen mengusap bibirnya dengan menantang.


" Siapa takut?"

__ADS_1


__ADS_2