Tetanggaku Pencuri Hatiku

Tetanggaku Pencuri Hatiku
BAB 31 : Persiapan


__ADS_3

4 kembar berdiri saling berjajar menutupi tahu gimbal pemberian Siti karena Raka pasti sangat marah jika mengetahui mereka berkunjung ke tetangga sebelah.


" Kakak, cari siapa pagi-pagi gini? Riko berusaha tidak panik.


" Ya cari kalian lah. Ada hal penting yang harus kita persiapkan.( tingkah mereka mencurigakan sekali) Reki, apa kamu sudah menyiapkan lagu dan semua yang kita butuhkan untuk lomba besuk? Kita tidak boleh kalah!"


" Hehe...tenang saja kak, semua sudah beres. Studio kita juga sudah siap, kita tinggal latihan aja" Reki


" Ya sudah, hari ini kita tidak perlu ke kampus. Kita akan pergi ke studio. Lebih baik sekarang kalian sarapan dan bersiap"


" Iya , kak" 4 kembar tetap berdiri menutupi bungkusan tahu gimbal.


" Kenapa kalian diam aja?


" Emm...anu..kita mau olahraga dulu mumpung masih pagi. Kakak duluan aja!" Reki


" Ok, kakak kasih waktu 1 jam, kalian sudah harus siap!"


" Siappp..kakkkk" 4 kembar.


Raka berjalan masuk ke dalam rumah, namun mengintip di jendela yang mengarah ke ruangan gym.


" Hufff...untung aja kakak gak liat, kalo kakak sampe tau kita habis nemuin tetangga sebelah, wahhh bisa gempa rumah kita" Riko


" Hemm, emang enak sekali masakan Siti. Sayang, si play boy ini belum bisa menaklukkan hatinya( menepuk pundak Riko)" Roki sambil mengunyah.


" Liat aja tar! Siti akan bertekuk lutut sama aku. Lagian ini makanan dibungkusin buat aku, kalian aja nyosor. Untung dikasih dua bungkus" Riko


" Dasar pelit, harusnya minta 4 bungkus dunk! Udalah ayo kita beresin mumpung kakak gak tau!" Riki


" Ooo...jadi tadi ribut-ribut rebutan makanan dari sebelah. Gak tau malu, pagi-pagi minta makan ke tetangga. Hehe, dasar nakal!" Raka membatin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rumah Alen


" Friends, 1 jam lagi kita harus siap ya, kita mau ke boutique beli custom buat lomba besuk" Alen


" Kalian tenang aja, Elena yang smart ini sudah menyiapkan semuanya. Pemilik boutique sudah aku telpon dan dia akan menyiapkan pakaian-pakaian terbaru buat kita. Tentunya harus yang seksi and mempesonahhhh" Elena bergaya seksi.


Siska yang berada di belakang Elena menirukan setiap gaya Elena dan membuat 3 sekonco tertawa sambil menutup mulut mereka.


1 jam berlaku, sekonco sudah siap di teras mereka. Siska menyalakan mobil nya namun tiba-tiba mobilnya tidak bisa nyala.


" Kenapa mobilmu, Sis? Mogok lagi ya?" Alen.


" Iya nih, kemarin mau service lupa lagi...maaf ya gaess" Siska sambil meringis.


" Iiuhhhh..bukannya aku uda bilang sebaiknya kamu terima aja mobil yang disiapkan your daddy , Alen! Tapi kamu malah nolak. Trus kalo uda gini, kita pake apa?" Elena.


" Ayah aku ngasihnya mobil sport dan cuman cukup buat dua orang. Ya pasti aku nolak lah. Lagian itu bukan seleraku. Aku mintanya jeep Hammer malah dikasih kaya gitu" Alen cemberut


Siti dengan santai melewati teman-temannya yang ribut. Siti membuka pagar dan menemui Erick yang sedang memanasi mobilnya.


" Halo , mister. Lagi sibuk ya?"


" Hai, Siti. Kamu kelihatan rapi sekali. Apa kamu mau keluar?" Erick


" Iya, mister. Tapi sayang mobil temenku mogok. Padahal kita mau keluar cari klambi buat manggung besuk. Apa mister bisa nganterin?" Siti


" Maaf aku tidak mengerti, kamu mau cari clam..clam apa, Siti?"


" Oalah lupa aku kalo ngomong sama bule. Itu mister, cari custom buat lomba besuk"


" Dont worry, girls. Aku akan antar kalian jika kalian tidak keberatan saya membawa ketiga putri-putri saya"


" Tentu , mister. Gak masalah. Saya panggil teman-taman dulu" Siti menghampiri 4 sekonco yang masih cekcok masalah mobil.


" Wess ojo ribut! Ayo ikut aku! Kita uda dapat tumpangan" Siti menarik tangan Elena diikuti yang lain.


5 kembar saat itu juga berada di dalam mobil yang masih terparkir di depan rumah mereka. Mereka hendak pergi ke studio untuk berlatih. Namun Raka menahannya saat mengetahui keributan di depan rumah Alen.


" Sepertinya mereka mau pergi tapi mobilnya mogok. Kita liat aja, pasti mereka akan minta tolong sama aku, hehe" Raka


" Gaesss, lihat tuh! Mobil Siska kayanya mogok. Tar lagi pasti mereka kesini" Riko melihat dari jendela mobil bersama 3 kembarnya.


Dengan percaya diri 5 kembar menunggu 5 sekonco menghampirinya. Dan betapa terkejutnya saat 5 sekonco berjalan ke rumah seberangnya menemui Erick.


" Hai, girls. Hari ini saya akan antar kalian kemanapun kalian mau. Silakan ladies" Erick membukaan pintu mobil.


" Iiuhhhh....Siti is the best. Thank you Erick" Elena langsung memasuki mobil diikuti yang lain sambil tertawa ceria.


Saat Elena hendak duduk di kursi depan, tiba-tiba ada yang menariknya sampai hampir terpental.


" Auwww....sapa sih ini?" Elena


" Ini tempat dudukku dan El. Sana dibelakang..wekk!" Em dan El anak kembar dari Erick menarik Elena sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Sedangkan En duduk dikursi tengah diantar Alen dan Elena, Siska, Siti dan Mira di kursi belakang.


" Apaa? Bisa-bisanya mereka minta tolong sama bule itu. Kak, boleh gak..emm..kita...anu...itu cewek-cewek..emm" Reki ragu-ragu


"Kalian masih ingat lagu dan gerakan kita kan?" Raka


" Masih banget kak" 4 kembar


" Ya uda kita tidak usah latihan. Sekarang ikutin mereka! Raka memerintahkan supirnya untuk mengikuti 5 sekonco


" yesss..." 4 kembar saling tos.


Mobil Erick telah sampai kesebuah mall. Setelah didepan mall, mereka semua turun dari mobil dan digantikan oleh petugas valet untuk memarkirkan mobil Erick.


Elena berjalan mendekati Erick dan hendak menggandeng tangannya, tiba-tiba En menjambak rambut belakang Elena sampai tubuhnya tertarik kebelakang dan digantikan Em dan El yang menggandeng tangan ayah mereka.


" Auwww...huhhh nyebelin, wek" Elena merapikan rambutnya.


Tak lama 5 kembar sampai dan segera keluar dari mobil mengikuti mereka dari belakang.


5 sekonco memasuki sebuah boutique ternama dan disambut dengan sangat ramah oleh pemiliknya.


" Selamat datang Elena darling, senang sekali anda datang bersama teman- teman anda yang cantik-cantik ini. Silahkan pilih koleksi terbaru kami!" Pemilik boutique


" Iiuhhh...koleksi bajumu tidak pernah mengecewakanku, sayang. Kau tau seleraku kan? Tolong keluarkan, biar teman-temanku melihatnya!"


Setelah para pegawai mengeluarkan pilihan baju Elena, 4 sekonco tercengang melihatnya.


" El, ini baju kurang bahan masak mau ta pake? Isin aku, El. Satunya ada lengannya satunya klewer-klewer...gimana ini pakainya, El?" Siti


" Aku gak mau pake model kaya ini , ahh. Ini terlalu faminin untukku. Aku lebih suka yang satunya" Alen


" Wait, gaess...kalian harus mau pakai semua yang aku pilih ya...ini bagus. Selera Elena selalu terbaik" Elena


" Apanya terbaik? Aku gak suka warna-warni kaya gini, norak tau. Aku maunya yang hitam" Mira


" Kamu itu sangat monoton, Mira. Sekali-kali pake yg full colour biar kita gak kaya mau ke pemakaman" Elena emosi.


" Kau bilang apa? Aku monoton? Liat aja seleramu yang aneh itu! Aku gak cocok dengan gaya itu" Mira juga emosi.


Mira, Elena dan Alen saling cek cok menentukan model costum mereka. Sedangnya Siti dan Siska duduk didepan mereka sambil menopang dagu.


Tak lama Erick datang setelah menitipkan ketiga anak-anaknya di tempat bermain.


5 sekonco akhirnya sama-sama terdiam dan tidak saling bertegur sapa. Erick mendekati satu-persatu dan menepuk halus pundak mereka masing-masing untuk menenangkan.


5 kembar yang bersembunyi di belakang barisan baju-baju merasa geram melihat kedekatan Erick dengan sekonco.


" Ehh...pake pegang-pegang ngelus-ngelus pundaknya Alen, kurang ajar" Raka mengepalkan tangan.


Reki dan Riki sembunyi di dekat kamar ganti sedangkan Riko dan Roki berdiri diantara patung-patung.


Setelah merasa tenang, 5 sekonco mengambil baju secara terpisah dan masih tidak bertegur sapa. Setelah memilih, Alen menunggu 4 sekonco di depan meja kasir bersama Erick.


" Ngapain mereka jejer berdua disitu?" Raka tanpa sengaja menyengol patung manekin disebelahnya hingga membuat semua orang memandangnya.


" brakkk.." manekin jatuh


Secepatnya Raka bersembunyi.


" Kok kayaknya aku pernah liat orang itu ya?" Alen merasa curiga dan pelan-pelan mendekati Raka.


" Ehemm( pura-pura batuk) sepertinya ada yang mengikutiku kesini? Kenapa, kangen ya?" Alen berbicara dengan sinis


Raka yang sudah terlanjur ketahuan akhirnya berbalik menghadap ke Alen.


" Sepertinya ada yang kegeeran sampai merasa diikutin. Ini kan tempat umum, suka-suka dunk" Raka membalas menatap sinis Alen.


4 kembar langsung keluar dari tempat persembunyian mereka. Begitu juga 4 sekonco yang kaget melihat 5 kembar berada di tempat yang sama.


" Waduh, gawat. Bakal ada perang kedua nih" Riko


" Oww, jadi nggak ngaku kalo ngikutin? Trus kamu masuk di boutique ini mau ngapain?" Alen dengan menantang.


" Ya beli bajulah. Namanya juga boutique baju masak beli pisang" Raka tersenyum menggoda.


" Ooo.. beli baju. Buat siapa? " Alen


" Buat aku sendiri, emangnya kenapa? Gak boleh?" Raka


" Buat kamu? Hahaha...bolehhh. Sejak kapan kamu suka pake baju cewek? Gak liat apa ini khusus untuk wanita, hah? Alen tertawa puas.


" ( waduh kok aku sampai gak tau klo ini khusus buat cewek..duh ketahuan aku) udah puas ketawanya? Ayo ketawa lagi kalo berani! Aku cium kamu didepan semua orang" Raka mendekatkan wajahnya ke Alen dengan menantang.


" Awas kalo kamu brani akkk....."

__ADS_1


Saat Alen mengangkat telunjuknya di depan Raka, dengan cepat Raka memegang tangan Alen


" Kali ini aku tidak akan sembunyi- sembunyi lagi. Jadi jangan menantangku! Aku sudah tidak sabar ingin melihat penampilanmu besuk" Raka mencium punggung tangan Alen yang dipegangnya dengan mengedipkan satu matanya ke Alen.


" Duhh...ada apa ya kok ribut-ribut disini? Kalian bisa mengganggu pengunjungku yang lain. Tolong jangan bertengkar disini!" pemilik boutique


" Maaf , tapi kami tidak bertengkar, kami hanya bicara saja. Ya kan sayang?" Raka sengaja memeluk pundak Alen dengan lengannya.


" Lepasin jangan peluk-peluk!( sambil berbisik)" Alen


" Baiklah silahkan memilih koleksi kami!"


Setelah pemilik boutique itu pergi , Alen langsung melepaskan pelukan Raka. Saat Alen hendak marah- marah, Raka langsung menutup mulut Alen dengan dua jarinya.


" Sstttt...jangan banyak bicara atau aku benar-benar menciummu disini! Sampai ketemu di perlombaan" Raka menarik dua jari dari bibir Alen dan menempelkan ke bibirnya.


Raka berjalan keluar diikuti ke 4 kembarannya yang diam-diam di belakang Raka saling memberi tanda ke sekonco.


Reki memberikan ciuman jauh ke Mira hingga Mira tersipu.


Roki memberi isyarat jempol dan kelingkingnya di telinga seperti orang menelpon kepada Siska.


Riko mengedipkan satu matanya ke Siti dan Riki menggunakan jarinya berbentuk love ke Elena.


" Kali ini kamu menang, Raka. Liat aja besuk, aku akan membalasmu"


Alen mengembalikan baju pilihannya dan mengambil salah satu baju seksi pilihan Elena.


Setelah itu Alen membayar semua baju pilihan teman-temannya dan keluar dari Boutique diikuti yang lain.


" Lebih baik kita makan siang dulu lalu kita langsung pulang dan bersiap latihan. Bagaimana?" Erick menjemput anak-anaknya dan mengajak mereka makan siang.


Selama makan siang,5 sekonco hanya terdiam. Elena dan Mira saling merasa kesal.


Tak lama mereka kembali ke rumah dan bersiap latihan.


Erick menidurkan anak-anaknya yang sudah tertidur saat perjalanan sehingga Elena harus memangku En yang tertidur di mobil. Setelah itu, Erick mulai melatih kembali sekonco.


" Ayo semangatt....kenapa kalian seperti ini? Music itu adalah penyatuan jiwa kita dengan alat yang kita mainkan. Come on girls...tomorrow is your day to show what you can, chee up" Erick memberi semangat.


5 sekonco hanya saling pandang dan memulai latihan mereka tanpa berbicara.


Setelah selesai latihan, Erick sengaja mengajak Alen berbicara berdua sambil berjalan menuju rumahnya.


Sedangkan 4 sekonco langsung masuk ke kamar masing-masing.


" Alen, aku ini juga pernah muda seperti laki-laki yang menemuimu tadi. Dia tetangga kita kan? Apapun masalahmu, tugasmu sekarang adalah menyatukan grup kalian biar menjadi satu harmoni yang indah. Kalian sangat berbakat, percayalah padaku!" Erick memeluk Alen memberi semangat.


" Terimakasih, Erick. Aku akan mencobanya" Alen dan Erick masuk ke rumah masing-masing.


Kamar Alen


" Kenapa sekarang Raka lebih berani menunjukkan sikapnya di depan orang ya? Liat aja besok, aku akan membalasmu, kau tidak tau bagaimana lebih nekadnya Alen yang sebenarnya?"


Alen mengambil salah satu jaket pemberian Raka dan sedikit merubahnya dengan gayanya metal.


Kamar Raka


" Brakkk..brakk..kenapa dia memeluknya? Harusnya aku cium Alen tadi didepannya biar dia tau klo Alen adalah milikku. Buk..buk...( melempar bantal dan guling)" Raka yang kesal saat melihat Erick memeluk Alen didepan rumah mereka.


" Tut..tut..( suara telpon)" Raka menelpon


" Ngapain dia telpon aku? Emm aku angkat gak ya...angkat aja deh" Alen mengangkat telpon Raka


" Halo, ada apa?"


" Denger ya, kalo sampai si pirang itu brani meluk kamu lagi, akan aku hajar dia sampai babak belur. Kau mengerti!"


" Jadi kamu cemburu?"


" Iya..aku cemburu, emang knapa?"


" Apa kamu mau minta maaf dan mengaku salah?"


" Tidak akan"


" Kalo begitu peperangan dilanjutkan!"


" Oke terserah"


" Ya uda terserah..brakk ( Alen menutup telpon)"


" Hihihi...ternyata dia ngaku juga cemburu...tunggu aja ya ini belum seberapa" Alen memeluk jaket pertama dan tertidur.


" Dasar cewek bandel...liat aja nanti!" Raka memegang kembali plester cintanya dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2