
Malam final
Pagi-pagi limo sekonco begitu sibuk dengan persiapan mereka menjelang final. Elena nampak kebingungan memilih costum yang akan mereka gunakan nanti. Karena banyak kejadian yang menimpa mereka akhir-akhir ini, membuat limo sekonco tidak punya persiapan untuk menyiapkan custom mereka dengan maximal.
"Iiuhhhh, gimana ini? Sepertinya aku harus memadu padankan dengan baju-baju yang ada." Elena tampak kebingungan.
"Gaesss, kemarilah kita kumpul sebentar!" Alen berteriak memanggil teman-temannya dan mereka langsung menghentikan aktifitas masing-masing untuk menemui Alen
"Sepertinya kali ini kita tidak harus pake custom kembar. Bagaimana jika kita memakai baju sesuai dengan gaya kita masing-masing? Kau tidak keberatan kan, Elena?"
"Yah, sepertinya lebih baik begitu. Tapi apa itu tidak akan mengurangi penampilan kita?"
"Kalo begitu kita harus tampil dengan sangat bagus, jadi penonton akan lebih fokus dengan lagu kita. Bagaimana?"
"Okayyy." Empat sekonco bersamaan.
"Apa kita akan berangkat bersama Erick?" Siska bertanya kepada Elena.
"Tidak. Erick harus ke suatu tempat dulu lalu dia akan menyusul."
Dirumah kembar, juga sama sibuknya dengan geng sekonco. Mereka juga sibuk dengan costum yang akan mereka kenakan.
"Sudahlah, tidak usah bingung! Bukankah kita punya wajah yang tampan, kita pake baju biasa aja juga pasti banyak yang suka."
Riko berdiri santai saat ketiga saudara kembarnya kebingungan memilih baju buat acara nanti malam.
"Bener juga. Ya udahlah, aku mau nyantai aja." Reki menghentikan kesibukannya dan memilih main game diikuti dengan yang lain. Sementara Raka lebih banyak menelpon ke bagian even organizer penyelenggara acara untuk memastikan acara berlangsung dengan aman.
Tak terasa waktu sudah lewat tengah hari. Limo sekonco sudah menyiapkan segala keperluan dan hendak menuju salah satu gedung terbesar dimana final dilaksanakan.
Saat berada di depan rumah hendak masuk ke mobil, mereka melihat lima kembar juga hendak menuju ke lokasi perlombaan.
"Hai, sekonco. Mau berangkat nih? Mau bareng gak?" Riko menyapa dengan ramah.
"Ndak usah, mas Riko. Terimakasih sudah ditawarin. Kita sudah noto-noto barang di mobil. Mosok dikeluarin maneh. Capek, mas." Siti menolak dengan halus dengan logat jawanya.
"Ok, sampai ketemu disana ya."
Alen sesekali mencuri pandang mencari keberadaan Raka namun tidak terlihat. Akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan mobilnya Siska.
Setelah menempuh waktu satu jam, limo sekonco dikagetkan dengan banyaknya spanduk berukuran sedang dengan foto mereka berlima disepanjang jalan mendekati tempat final.
"Eh, lihat! Itu bukannya band kita ya?" Mira melotot melihat kearah pinggir jalan.
"Iya, gaes. Sebelah sini juga ada banyak." Alen memandang disebelah sisi satunya.
Sampailah mereka di depan gedung. Mereka lebih terkejut lagi saat melihat spanduk dengan foto mereka berlima terpasang dengan sangat besar bahkan lebih besar diantara spanduk lima kembar dan tiga peserta lainnya.
"Ini kacamataku seng rusak ato beneran spanduknya guedeee banget?" Siti melepas dan memasang kaca-matanya berkali-kali.
Seseorang mendekati mobil Siska dan mempersilahkan mereka untuk turun sedangkan orang itu yang akan memarkir mobil Siska. Saat turun, tiba-tiba banyak sekali laki-laki berbadan besar mendekati mereka dan mengawal mereka memasuki ruang ganti yang sebelumnya para penggemar berlarian ke arah limo sekonco dan berdesakan untuk mengambil foto mereka.
Sampai di lobby, limo sekonco lebih dikagetkan oleh para wartawan yang menyerbu mereka dan menanyakan berbagai pertanyaan kepada mereka.
"Sudah berapa lama membentuk geng sekonco? Apa kalian berpacaran dengan five brothers? Atau kalian berpacaran dengan juri supaya bisa masuk final?" Para wartawan berebutan memberi peetanyaan.
"Apaaa? Kok pertanyaannya begitu?" Alen sangat emosi hendak mendekati wartawan yang bertanya tapi di tarik oleh Elena dan mereka langsung lari menuju ruangan mereka dengan para bodyguard mengelilingi mereka.
Di dalam ruangan, empat kembar sudah menunggu mereka. Ruang ganti lima kembar bersebelahan dengan geng sekonco.
"Dasar ngebelin banget. Bisa-bisanya mereka berfikir kita pake cara tak senonoh biar sampai masuk final." Alen membanting tas nya dengan kesal.
"Jangan emosi, Alen! Itulah resiko jadi terkenal. Santai saja!" Reki mencoba menghibur Alen sambil membantu Mira membawakan barang bawaannya.
Malampun tiba, acara segera dimulai dengan mc yang membuka acara.
"Selamat malam semuanya. Akhirnya acara yang kita nantikan akan segera dimulai. Malam ini adalah malam final yang merupakan malam paling mendebarkan bagi ke lima peserta kita. Tapi....ada yang berbeda. Kali ini pemenang akan diputuskan berdasarkan vote para penonton. Jadi siapkan hp kalian dan banyak-banyak vote untuk idola kalian. Are you readyyyyy....?" Mc membuka acara
" yessss." Para penonton berteriak.
Orang tua Alen sedang duduk santai sambil mengobrol saat dikagetkan oleh Adolf adik laki-laki Alen.
"Ayah, ibu ayo, ikut aku! Kakak mau masuk TV." Adolf menggandeng kedua orang tuanya dan mengajak mereka melihat acara di salah satu stasiun tv.
__ADS_1
"Astaga, ayah lupa kalo limo sekonco iku ternyata band nya anak kita. Mangkanya ayah kok merasa pernah dengar ya nama band itu. Terus waktu di kantor tadi, staf ayah mengingatkan untuk melihat final perlombaan band pendatang baru, tapi ayah lupa."
"Ayah, bisa-bisanya ayah melupakan hal penting tentang anak kita sampai nama bandnya aja bisa lupa, tapi malah inget sama band-band orang lain. Untung Adolf mengingatkan, kalo tidak, ibu akan sangat marah jika kita sampai melewatkannya."
"Hehe, iya sayang, maaf."
"Sudah, jangan ribut. Lebih baik kita siap-siap mendengarkan band kakak yang hancur itu, hahaha."
"Adolffff." Ayah dan ibu melotot ke arahnya.
"Ups...sorry."
Di ruang ganti, limo sekonco nampak duduk tegang ditemani empat kembar. Alen beberapa kali melihat ke arah pintu masuk, berharap Raka datang.
"Kemana sih, Raka? Apa dia tidak datang? Tapi kan dia harus tampil."
Tak lama terdengar suara teriakan penonton saat peserta pertama mulai tampil. Elena nampak menyandarkan kepalanya di pundak Riki, Roki memijat jari-jari Siska supaya lemas dan kuat saat menabuh drum, Reki membantu Mira melatih bas nya, sedangkan Riko mengajari Siti memetik gitar melodinya dengan duduk di belakang Siti terlihat seperti sedang memeluk.
Sampai akhirnya tiga peserta telah tampil. Empat kembar kembali ke ruang ganti mereka untuk bersiap.
"Wowwww...makin malam makin hottttt. Sekarang yang ditunggu-tunggu para gadis-gadis, penampilan dari lima cowok ganteng yang mampu menghipnotis para wanita. Kalian siap ladiessss....kita panggilll...five brotherrrr..." Mc memanggil lima kembar.
"Yeahhhh....five brother...five brother...i love uuuu." Teriakan para fans.
Empat kembar segera naik ke atas panggung dengan melambaikan tangan mereka ke arah penonton.
"Lho, Raka kok gak naik? Apa dia gak ikut?" Alen maju ke samping panggung mencari Raka.
Selang beberapa menit, Raka melewati kerumunan para fans nya dan menaiki panggung. Tentu saja teriakan para fans menjadi bertambah menggila.
"Len, itu Raka uda dipanggung." Elena menarik tangan Alen untuk kembali mendekat ke panggung karena Alen sempat tertunduk saat tau Raka tidak ada.
"Maaf, saya sedikit terlambat. Kali ini kami akan membawakan lagu dari justin beiber berjudul intention. Lagu ini menceritakan niat seseorang yang ingin menjaga kekasihnya karena dia sangat berarti untuknya. Semoga kalian suka."
Lagu dibuka dengan alunan keyboard dari Riko. Setelah itu Raka mulai menyanyi dengan penuh penghayatan. Matanya tak henti-henti mencari Alen.
Picture-perfect, you don't need no filter
Gorgeous, make 'em drop dead, you a killer
Shower you with all my attention
Yeah, these are my only intentions
Heart full of equity, you're an asset
Make sure that you don't need no mentions
Yeah, these are my only intentions
Shout out to your mom and dad for making you
Standing ovation, they did a great job raising you
When I create, you're my muse
The kind of smile that makes the news
Can't nobody throw shade on your name in these streets
Triple threat, you a boss, you a bae, you a beast
You make it easy to choose
You got a mean touch I can't refuse (no, I can't refuse it)
Picture-perfect, you don't need no filter
Gorgeous, make 'em drop dead, you a killer
Shower you with all my attention
Yeah, these are my only intentions
__ADS_1
Heart full of equity, you're an asset
Make sure that you don't need no mentions
Yeah, these are my only intentions
Seperti biasa Riki mengkombinasi tabuhan drum nya sehingga musiknya menjadi berbeda lebih rock tapi tetap romantis.
Mata Elena tak henti-hentinya menatap Riki sambil mengigit bibir bawahnya. Riki menatap Elena dengan tersenyum lebar dan mengedipkan satu matanya.
Disudut ruangan, Alen duduk sendiri dan hanya mendengarkan suara merdu Raka.
"Sepertinya aku harus menguatkan hatiku untuk tidak dengan mudah memaafkannya. Huff...selalu saja keras kepala."
Saat mendekati akhir lagu, biasanya Raka dan saudara-saudaranya menari break dance. Namun kali ini berbeda, Raka menggantikan posisi Riko di belakang keyboard.
Empat kembar asyik melakukan gerakan ala-ala k-pop sedangkan Raka memainkan keyboard nya ala-ala DJ. Tentu saja penampilan mereka membuat penonton berteriak histeris. Tapi wajah Raka dari awal tampil hingga akhir lagu tetap dingin dan datar.
"Alen, lihat tuh! Musik Raka keren banget."
Mira berusaha mengajak Alen yang duduk sendiri di ruang tunggu dan hanya mendengarkan suara five brothers tanpa mau melihat penampilan mereka.
Setelah selesai tampil, five brothers meninggalkan panggung dengan tertawa ceria dan langsung menghampiri limo sekonco. Tentu saja Elena, Siska, dan Mira langsung memeluk dan mencium pasangan masing-masing.
"Bagaimana penampilanku, Mira?" Tanya Reki.
"Kamu keren banget, sayang. Aku suka sekali." Mira memeluk Reki dan langsung mendaratkan ciumannya ke bibir Reki dengan lembut.
"Kenapa setiap di atas panggung kamu begitu hot, Riki?" Elena mengelus dada Riki dan membuat Riki menahan nafas.
"Kalo hot, diciumnya juga hot boleh gak, darling?"
Elena langsung menarik leher Riki dan memberikan ciuman mautnya ke Riki sampai Riki ngos-ngosan kehabisan nafas.
Sedangkan Siska memijat pundak Roki yang lelah karena sempat menari gaya robot dipanggung.
Dengan tersenyum Riko mendekati Siti yang memberikan selamat kepadanya.
"Selamat ya mas Riko, penampilannya mantep."
"Masak cuman ucapan aja. Kasih yang lain, dong!" Riko tersenyum semakin mendekat ke Siti.
"Ooo...minta yang lain, to? Ini...!" Siti mengulurkan sebuah notebook ke arah Riko.
"Kok, buku?" Riko keheranan.
"Mau minta tanda tangan. Kan mas Riko udah kaya artis, penggemarnya buanyakkk. Masak ucapan selamat aja, tanda tangannya juga dong. Biar kayak artis-artis yang papannya di atas itu lho."
"Artis papan atas maksudnya? Haha.." Riko menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
Raka yang langsung pergi menjauh dari keramaian entah kemana, membuat Alen semakin kesal.
"Maunya apa sih? Kok langsung menjauh gitu. Apa dia tidak mau bertemu denganku? Iihhh...dasar nyebelin. Liat aja ntar!"
Selesai tampil, Raka berjalan dengan cepat menuju keluar gedung menemui seseorang setelah menerima telpon.
"Tuan, saya menemukan orang ini mengendap-endap sangat mencurigakan. Setelah kita tangkap, dia mengaku fans dari limo sekonco dan membawa barang-barang ini, tuan."
"Apa maumu, brengsek?" Raka mengeluarkan berang-barang tak senonoh dari tas orang yang ditangkap.
Dia membawa kamera mini yang hendak dipasang secara diam-diam di ruang ganti limo sekonco. Selain itu, ada juga alat kontrasepsi seperti pengaman, vidio porno dengan tulisan limo sekonco di covernya, dan benda-benda tak senonoh lainnya.
"Kurang ajar, bawa dia ke kantor polisi segera!"
Raka dengan penuh emosi berjalan kesetiap sudut gedung untuk mengecek semua keamanan sambil berbicara di telpon.
"Sebentar lagi limo sekonco akan tampil, kalian semua harus siaga! Jangan ijinkan orang asing mendekati mereka, mengerti!"
"Baik, tuan."
"Okayyy...sekarang peserta yang terakhir. Peserta yang sempat membuat gempar dengan penampilan mereka yang memukau. Beri tepuk tangan yang meriah untukkkkk...Limo Sekonco....!"
"Oke, gaes. Just be your self."
__ADS_1