
*Apa aku salah lagi Ken? Apa selama ini kamu membohongi ku? Apa kamu menganggap ku sebagai bahan pemuas n*fsu mu? Atau aku yg bodoh, menganggap kamu hanya milik ku*?
Dengan tangan bergetar Ruby membereskan perkakas untuk membuat mochi di dapur. Sumire yg melihat Ruby, langsung menghampiri kekasih Tuannya itu.
"Ruby? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Sumire.
"Aku baik-baik saja Sumire," jawab Ruby dengan suara bergetar.
"No! Kamu tidak baik-baik saja. Ayo duduk dulu," ajak Sumire.
Ruby duduk perlahan dan menerima segelas air minum yg diambilkan oleh Sumire.
"Terima kasih Kei," ucap Ruby.
"Katakan pada ku. Kamu kenapa?" Tanya Sumire.
"Aku hanya sedang pusing, mungkin sebentar lagi akan datang bulan. Sumire, bila aku pulang dulu apakah boleh?" Ujar Ruby.
"Aku akan menghubungi Ken," ucap Sumire.
Ruby menahan Sumire.
"Tidak perlu. Mungkin Ken sedang sibuk, nanti saja aku sendiri yg akan menghubunginya," ujar Ruby.
"Oke. Aku panggilkan taksi ya?" Ujar Sumire.
Ruby mengangguk.
Tak lama kemudian Taksi yg dipesan oleh Sumire sudah datang. Ruby segera masuk kedalam taksi dan taksi pun meninggalkan Kedai Mochi.
20 menit kemudian,
Ruby sudah berada di dalam apartemennya dan duduk termenung memikirkan apa yg dia lihat tadi di kedai.
Kling, pesan masuk diponsel Ruby.
From : No tidak dikenal
Bisa aku memesan kue mochi mu lagi 100 biji untuk besok sore?
Sakura, yg tadi beli mochi.
Ruby menyimpan no wanita yg tadi membeli mochi di kedainya, ternyata bernama Sakura.
To : Nona Sakura
Baik Nona, di kirim atau di ambil?
Klik, terkirim.
Kling...
From : Nona Sakura
Bisakah bila dikirim saja? Aku akan memberi ekstra charge sebagai biaya kirimnya.
To : Nona Sakura
Bisa Nona. Besok Nona kirimkan saja alamatnya.
Klik, terkirim.
Ruby meletakkan ponselnya di atas meja.
"Darimana Nona Sakura mendapat nomor ponsel ku ya?" Gumam Ruby heran.
Ruby akhirnya memilih untuk mandi agar badan serta pikirannya lebih fresh.
15 menit kemudian,
Ruby duduk di balkon yg ada di apartemen sambil menikmati pemandangan kota Tokyo yg ramai.
Grep!
Aakkhh!!
"Kenapa tidak menghubungi ku?" Ujar Ace yg baru saja datang dan memeluk Ruby dari belakang.
"Jangan membuat ku kaget Ken," balas Ruby dengan wajah cemberut.
"Aku merindukan mu sayang," bisik Ace.
Ruby hanya diam saja.
Ace mulai menc*umi leher putih Ruby dan tangan besar Ace sudah menjelajahi tub*h indah Ruby.
"Stop Ken! Aku lagi datang bulan. Mood ku tidak bagus," ujar Ruby mendorong tubuh besar Ace dan langsung pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Ace sendirian.
__ADS_1
Jriieet!
Ruby menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras.
"Kenapa dia? Apa aku bau?" Gumam Ace seraya mencium aroma tubuhnya dan mulutnya.
"Mana mungkin seorang Ace bau? Wangi gini, aku harus membujuknya," monolog Ace sendiri lalu menyusul Ruby ke dalam kamar.
Ceklek!
Ace membuka pintu kamar dan melihat Ruby sedang rebahan dengan posisi miring. Ace naik keatas ranjang dan memeluk Ruby dari belakang.
"Aku hafal tanggal datang bulan mu, jadi jangan coba-coba membohongi ku," ujar Ace tepat dibelakang Ruby.
Deg!
"Ken..."
"Katakan pada ku Ruby," desak Ace.
Ruby membalikkan badannya dan menghadap Ace.
"Apa arti diri ku untuk mu?" Tanya Ruby.
"Kamu segalanya," jawab Ace cepat.
Ruby masih mencari-cari letak kebohongan yg ada di mata Ace, namun tidak ada kebohongan. Ruby bingung, apakah dia harus bertanya kepada Ace tentang foto Ace yg ada di ponsel Nona Sakura atau tidak? Ace selama ini selalu jujur, bahkan uang, ponsel dan dompet Ace selalu dibiarkan tergeletak dimana saja tanpa ada yg ditutupi. Ruby akhirnya memilih mempercayai Ace daripada apa yg dia lihat diponsel Nona Sakura. Mungkin saja itu orang yg mirip Ace atau Ruby salah lihat saja.
"Jangan bohongi aku, jangan duakan aku. Aku mencintai mu," ujar Ruby memeluk Ace.
"Jangan ragukan aku Ruby," balas Ace.
Kedua insan itu akhirnya terlelap dengan saling berpelukan.
Keesokan harinya,
"Nak Ruby apakah semua sudah siap?" Tanya Paman Takagi.
"Sudah Paman, ayo kita antarkan saja lagipula saya sudah mendapat alamatnya," jawab Ruby.
"Baiklah ayo Nak. Eeh, Mire kamu tunggu kami kembali ya?" Ujar Paman Takagi.
"Iya Paman," jawab Sumire.
Ruby dan Paman Takagi menaiki mobil kecil milik Paman Takagi menuju alamat yg diberikan oleh Nona Sakura. 20 menit berlalu ketika hampir sampai di alamat yg dituju, tiba-tiba.
"Kita mungkin salah alamat Nak Ruby," ujar Paman Takagi gugup.
"Mati aku!! Kenapa aku baru menyadari setelah sejauh ini," batin Paman Takagi gelisah karena kecerobohannya yg tidak menyadari alamat yg mereka datangi itu adalah,
Citt!!
Paman Takagi menghentikan mobilnya dan menghubungi seseorang.
"Kenji, kita berada di kawasan Kenji," ujar Paman Takagi saat menelpon.
Ruby bingung, apa yg dimaksud oleh Paman Takagi.
"Paman Ayo, kita sudah di tunggu," ujar Ruby.
Paman Takagi hanya bisa pasrah, semoga bantuan segera datang.
Sesampainya disebuah rumah mewah yg dikelilingi pagar tinggi menjulang itu, Ruby langsung memberi tahu maksud kedatangannya dan dipersilahkan masuk kedalam rumah di temani Paman Takagi.
Ruby diarahkan untuk menuju ruang perjamuan.
"Nak Ruby, lebih baik biar Paman saja yg masuk menyerahkan pesanan ini. Nak Ruby tunggu di sini saja," ujar Paman Takagi gelisah.
"Paman kenapa? Dari tadi seperti gelisah? Sudah ayo kita masuk Paman, tidak enak kalau terlambat," ujar Ruby yg langsung berjalan menuju ruang pertemuan.
Tap!
Tap!
Dan,
Ceklek!
"Aku memang sudah merencanakan pernikahan kalian, agar kelompok kita semakin kuat. Kamu setuju kan Ace?"
Brruukkk!!
Semua orang yg ada didalam ruangan langsung menoleh,
"Ru..by."
Deg!
__ADS_1
Deg!
Deg!
Jantung gadis cantik bernama Ruby Ishikawa itu berdetak kencang, kala pria yg amat dicintainya akan dinikahkan dengan wanita yg kemarin membeli kue mochi di Kedainya.
"Pa..man, ayo kita pulang," ujar Ruby bergetar.
"Hei Ruby? Kamu sudah melihat dan mendengarnya kan? Aku dan Ace akan menikah?" Ujar Sakura yg tak lain adalah Inara Shinoda.
Jederr!!!
"Ken," gumam Ruby dengan bibir bergetar.
Sungguh hatinya sakit, seluruh tubuhnya ngilu seperti di tusuk ribuan jarum mendapati kenyataan yg menyakitkan ini.
"Ruby, ini semua salah paham! Dengarkan aku dulu," ujar Ace yg masih bingung dengan kejadian yg baru saja terjadi.
Ruby menggelengkan kepalanya dan berlari keluar ruangan.
"Ruby!!!!!" Ace berteriak memanggil Ruby.
Ruby tetap berlari meninggalkan rumah mewah itu. Paman Takagi berusaha mengejar Ruby yg berlari cepat.
Ace mengepalkan tangannya, Ace baru menyadari 1 hal bahwa ini sudah direncanakan.
"Kenji Shinoda!! Tunggu pembalasan ku," ujar Ace dengan suaranya yg menahan emosi.
"Dan Kau perempuan Jal*ng! Aku akan membuat mu menyesal karena berurusan dengan ku," ujar Ace kepada Inara yg terlihat santai.
"Kamu yg akan hancur bocah ingusan!" Balas Tuan Kenji.
"Hahahhahahahah!!!!" Ace tertawa keras dan nyaring.
"Tunggu saja Pak Tua!!" Ujar Ace seraya meninggalkan ruangan tsb.
Ace berlari menuju mobilnya.
Blamm!
Pintu mobil tertutup.
Bruuumm!!!
Ace langsung memacu kuda besinya sekencang mungkin agar bisa segera mencari Ruby.
"Diego, hubungi Uncle Okada! Minta dia pulang dan membawa yg lainnya!"
"........"
"Tua Bangk* itu harus dilenyapkan!"
"......"
"Buat cara yg cantik! Aku tidak ingin melenyapkannya secara langsung."
"......"
"Lakukan sekarang!!" Tut!
Ace menutup teleponnya dan mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di Apartemen.
30 menit kemudian,
Ace membuka pintu apartemen dengan tergesa-gesa dan tidak ada Ruby. Ruby tidak kembali ke Apartemen, Ace mencoba menghubungi nomor Ruby namun tidak diangkat.
Lalu Ace beralih menghubungi nomor Paman Takagi.
"......"
"Ruby dimana?"
"....."
"Tidak ada! Aku ada di apartemen."
"......"
"Brengs*k!!!"
Tut!
Bruuk!
Ace menjatuhkan dirinya diatas lantai dan mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa aku begitu tol*l? Aku tidak waspada sama sekali," batin Ace yg baru menyadari bila ini semua sudah direncanakan
__ADS_1
Flashback on,
Tbc,