The Ace

The Ace
The Story II


__ADS_3

...Dunia ku hampa tanpa mu Ace. Hidup dalam kemewahan sama sekali tidak membuat hatiku bahagia. Kebahagiaan ku hanya bersama mu Ace Xzander, sekarang aku akan menjalani kehamilan ku tanpa mu. Aku hanya berharap, Tuhan memberikan kebaikan kepada ku lagi agar kita bisa bertemu dan bersatu entah kapan itu terjadi....


Still flashback,


Hari ini Ruby pulang dari Rumah Sakit dan sudah dijemput oleh Tuan Kurt. Sepanjang perjalanan menuju rumah Tuan Kurt, Ruby hanya diam termenung memikirkan semua tentang Ace. Ruby sangat ingin bertemu dengan Ace dan mengatakan bahwa dia sekarang sedang hamil.


"Nanti sesampainya di rumah, aku akan menceritakan semua tentang aku dan Mama mu," ujar Tuan Kurt.


Ruby hanya diam, tak ingin menanggapi Tuan Kurt.


1 jam kemudian,


Tak ada raut wajah kagum, sumringah atau heboh saat Ruby tiba di rumah mewah dan megah milik Tuan Kurt. Mungkin lain ceritanya bila Ruby bersama Ace, wanita cantik yg tengah mengandung itu pasti akan sangat bahagia dan heboh sendiri.


Ruby duduk di sofa yg ada di ruang kerja Tuan Kurt, sementara Tuan Kurt tengah mencari sesuatu di laci kerjanya.


Tak beberapa lama kemudian, Tuan Kurt seperti sudah menemukan yg beliau cari.


"Ini, bacalah!" Ujar Tuan Kurt menyodorkan sebuah map berwarna abu-abu yg terlihat usang.


Ruby menerima Map tsb dan membukanya.


Srek!


Srek!


Mata indah Ruby terus memindai setiap isi dari kertas-kertas yg ada di dalam map tsb.


Hingga,


Deg!


"A..ku benar-benar anak mu Tuan?" Tanya Ruby dengan nada bergetar seolah tak percaya.


"Iya! Aku Papa mu! Dan Eleanora Lenin adalah Mama mu, Elena!" Jawab Tuan Kurt tegas.


Tes!


Ruby menangis, mendapati kenyataan yg sangat mengejutkan ini.


"Dia wanita cantik, lembut dan sangat pintar. Eleanora Lenin, wanita cantik yang amat sangat aku cintai. Dia mau menemani ku yang saat itu susah sampai sukses, namun baj*ngan itu merebut Elena dari ku dan juga kau anak ku," ujar Tuan Kurt dengan emosi.


Ruby hanya bisa menangis seraya mengusap perutnya yang masih rata.


"Igor, mengambil Elena dari ku saat dia tengah mengandung mu. Dia mencurangi ku, dia mengambil hak ku. Dia bahkan begitu tega membuat ku terpuruk dan kembali ke kemiskinan, dia lupa siapa yang membantunya hingga sukses. Aku sangat membencinya!" Ujar Tuan Kurt lagi.


"Ta..pi, darimana Tuan yakin kalau aku anak mu?" Tanya Ruby.


"Aku melakukan test DNA, dan hasilnya 99% kau putri ku. Namun, saat itu Igor berbohong dengan mengatakan bila Elena sudah keguguran. Dan ternyata kamu di asingkan ke Jepang hidup bersama karyawan kepercayaan Igor," jawab Tuan Kurt.


Rubu hanya terdiam mendengar semua kenyataan yang ternyata sangat membuatnya terpukul, bahwa pria di depannya ini adalah Papa kandungnya.


"Kau putri ku, dan ku tegaskan! Nama mu Eleanora Irina Edlind. Aku memanggil mu Elena sama seperti Mama mu. Tolong, jangan lagi mengingat pria Jepang itu. Papa yakin kita berdua akan bahagia sampai anak mu lahir, dia membawa pengaruh buruk untuk mu. Kamu mengerti!!!" Ujar Tuan Kurt dengan penekanan.

__ADS_1


Ruby hanya diam menatap pilu Tuan Kurt yang sudah berjalan meninggalkan kamar mewah yang di tempati Ruby.


Tak ada lagi yang bisa Ruby lakukan selain menangis dan menangis. Menangisi nasibnya yang terpisah dari cinta pertamanya Ace.


Pov Ruby,


Aku hamil Ace. Tapi kenapa harus begini? Aku sangat amat merindukan mu, aku butuh kamu, aku ingin kamu! Hikksss.


Di saat keinginan ku terkabul, aku bisa bertemu Papa ku tapi, di saat itu pula aku harus kehilangan mu cinta ku. Aku sangat mencintaimu, kamu cinta pertama dan terakhir ku Ace. Aku bersumpah, dengan cara apapun aku akan berjuang agar kita bisa bertemu dan bersatu. Meski dia Papa ku, tapi dia tidak berhak memisahkan kita. Aku yakin kita bisa bersatu lagi cintaku!


End.


Hari demi hari Ruby lalui dengan rasa sedih dan putus asa. Wanita cantik yang tengah mengandung itu harus menahan segala kerinduan yang amat sangat menyakitkan bersama calon buah hatinya.


Berbeda dengan Tuan Kurt, pria paruh baya itu sangat bahagia bisa menghabiskan hari tuanya bersama sang putri yang selama ini tidak bisa beliau besarkan. Tuan Kurt mengalihkan semua hartanya atas nama Ruby atau Elena dan calon cucunya kelak.


Sudah 5 bulan berlalu, Ruby masih saja diam dan dingin kepada Tuan Kurt. Namun, Tuan Kurt tak pernah menyerah untuk mengambil hati putri semata wayangnya itu agar bisa menerimanya sebagai Papa dan mereka bisa bahagia tanpa adanya Ace di antara mereka.


"Elena," panggil Tuan Kurt.


"Ya," jawab Ruby singkat.


"Ehhm, Papa ada sebuah ide atau saran untuk mu sayang. Bagaimana bila kamu ikut kegiatan sosial di rumah sakit yang ada di dekat rumah? Disana banyak wanita hamil namun kekurangan," ujar Tuan Kurt menjelaskan.


Ruby seakan tertarik dengan penuturan Papanya dan langsung menatap Tuan Kurt dengan mata berbinar.


"Benarkah saya boleh ikut kegiatan itu Tuan?" Tanya Ruby.


Deg!


"Tak apa kamu memanggilku Tuan, asalkan senyum itu akan terus menghiasi wajah cantikmu anak ku," batin Tuan Kurt senang.


"Tentu saja sayang boleh. Besok pergilah dengan Simon, bersosialisasilah agar kamu tidak bosan dan itu akan baik untuk kandungan mu," jawab Tuan Kurt dengan sabar.


Grep!


Bagai disengat listrik bertegangan tinggi, tubuh Tuan Kurt menegang saat Ruby secara tiba-tiba memeluknya.


"Terima kasih Tuan, saya sangat senang," ujar Ruby masih memeluk Tuan Kurt.


Tes!


Air mata Tuan Kurt menetes kala tangannya kini bisa mendekap putrinya dengan hangat.


"Tidak perlu berterima kasih, semua yang Papa miliki adalah milik mu. Papa sangat menyayangi mu," balas Tuan Kurt.


Ruby mungkin tersadar dari rasa bahagianya yang tanpa berpikir langsung memeluk Tuan Kurt begitu saja.


Ada rasa kecewa dihati Tuan Kurt saat Ruby melepaskan pelukannya, namun Tuan Kurt tetap bahagia karena baginya ini suatu perubahan besar Ruby.


Keesokan harinya,


Ruby berjalan bersisihan dengan Simon menuju ruang informasi Rumah Sakit yang dikatakan oleh Tuan Kurt.

__ADS_1


Ruby sedikit berbincang dan kemudian diarahkan agar menemui kepala perawat di rumah sakit tsb.


"Selamat pagi Nona cantik," sapa seorang perawat yang cantik di usia 40 tahunan.


"Selamat pagi Suster, perkenalkan nama saya Ru.. eeh, Elena Edlind," ujar Ruby memperkenalkan dirinya dengan nama Elena.


Perawat bernama Jessica Stuart itu kemudian mengajak Ruby dan Simon untuk suatu ruangan yang biasa untuk tamu-tamu berkunjung. Ruby nampak begitu senang dengan obrolannya bersama Perawat Jessie. Simon terus memperhatikan Ruby dari jauh,


"Anda memang cantik Nona, dan begitu baik," gumam Simon menganggumi Ruby.


30 menit kemudian,


"Tuan Simon, mari! Saya sudah selesai," ujar Ruby kepada Simon yang tengah duduk santai.


"Baik! Silahkan Nona," balas Simon sigap.


"Hati-hati Elena," ucap Perawat Jessie sambil melambaikan tangannya.


Ruby tersenyum manis dan membalas lambaian tangan Perawat Jessie.


Di dalam mobil,


"Tuan, mulai selasa depan aku akan sering ke rumah sakit ini. Aku ikut menjadi relawan sekaligus aku ikut senam kehamilan. Apa anda tidak keberatan mengantarkan saya?" Ujar Ruby membuka pembicaraan.


Deg!


"Dengan senang hati Nona Elena," jawab Simon tegas namun begitu senang.


"Terima kasih, nanti aku akan bicara dengan Tuan Kurt agar kamu yang mengantar jemput ku," balas Ruby senang.


"Eehm, beliau sangat menyayangi anda Nona. Sampai beliau membawa anda ke New York ini agar anda bisa memulai hidup baru. Kenapa anda tidak mencoba memanggil beliau dengan Papa?" Tanya Simon mencoba untuk membuat Ruby menerima Tuan Kurt.


"Pria itu memisahkan aku dengan suamiku, Ace!!!" Jawab Ruby dengan nada tinggi.


"Brengs*k!!!" Umpat Simon dalam hati begitu tidak senang mendengar Ruby selalu menyebut Ace dengan suami.


"Maafkan saya Nona," ujar Simon menunduk.


"Ace segalanya untuk ku, dia ayah dari anak ku. Dia yang membawa semua kebaikan dalam hidupku yang buruk. Dia memberikan perlindungan, kenyamanan, dan juga cinta tulus. Bagaimana Tuan Kurt dengan mudahnya mencap Ace sebagai pria yang membawa pengaruh buruk untuk ku??? Sungguh lucu!!" Ujar Ruby dengan emosi.


"Sial!!! Aku begitu tidak suka saat Nona Elena menyebut nama Pria Jepang itu," batin Simon kesal.


"Maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud untuk membuat anda sedih. Maaf saya lancang!" Ujar Simon berusaha meredam emosi Ruby.


"Aakhh!!!"


Ruby mengusap wajahnya kasar.


"Maaf Tuan Simon, aku tidak seharusnya begitu emosi. Maaf," balas Ruby menyesal.


Simon hanya mengangguk dan tersenyum kaku karena sungguh hatinya tidak menyukai Ace.


"Perasaan apa ini?"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2