
Banyak istilah yg menggambarkan bila cinta itu tak harus memiliki. Contohnya, Cinta datang tak tepat waktu, saat salah satu sudah memiliki pasangan. Ada lagi, Cinta tak pernah salah tapi kepada siapa kita jatuh cinta itu yg salah. Dan tentu masih banyak lagi istilah-istilah untuk menggambarkan bila cinta tak harus memiliki. Sekuat apapun usaha untuk memisahkan dua orang yg saling mencintai, sekuat itu pula cinta mereka bertahan. Cinta atau obsesi semata yg kamu rasakan saat ini?
"Apa kamu yakin Ace?" Tanya Diego.
"Tentu saja," jawab Ace.
"Aku percaya kepada kemampuan Vasquez, tapi ini Yamaguchi Ace," ujae Diego dengan wajah khawatir.
"Bukan Yamaguchi yg kita hadapi! Tapi, segelintir orang yg memiliki pemikiran picik dan licik yg harus kita singkirkan!" Balas Ace dengan tegas.
Diego hanya mengangguk patuh.
"Persiapan di rumah tua sudah 100%?" Tanya Ace.
"Sudah Ace," jawab Diego.
"Aku kesana sendiri, jangan ada yg ikut. Ichiro memiliki naluri yg kuat, dia akan tahu waktunya untuk bergerak," ujar Ace seraya memakai jaket kulit hitam miliknya.
"Aku mengerti," jawab Diego.
"Aku pergi," ucap Ace meninggalkan Diego.
Setelah Ace pergi Diego menghubungi Ichiro menyampaikan apa yg telah dikatakan oleh Ace. Setelah itu Diego juga pergi menemui Tuan Okada.
1 jam kemudian,
Nampak sebuah rumah kuno khas negeri sakura yg terawat dengan baik yg berada dipinggiran kota Tokyo agak jauh dari pusat kota. Sebuah mobil mewah berwarna kuning menyala terparkir dihalaman rumah tua tsb. Seorang wanita cantik turun dengan anggun dari dalam mobil mewah berwarna kuning itu.
Sang wanita berjalan lenggak lenggok bak peragawati masuk kedalam rumah tua itu.
Srekk!
Wanita cantik menggeser pintu rumah dan,
"Sudah lama menunggu Ace?"
"Baru saja aku sampai disini Inara Shinoda," jawab Ace.
Ya!! Wanita cantik itu adalah Inara Shinoda.
"Sudah bosan dengan Gadis Gaijin itu?" Tanya Inara seraya duduk bersimpuh dilantai beralaskan tikar khas Jepang.
"Iya, hanya menarik diwajahnya saja. Untuk permainan r*njang sangat monoton," jawab Ace santai.
"Hahahahah, kau terlalu jual mahal kepada ku Ace," ujar Inara tertawa.
"Maaf, aku terlalu meremehkan mu," balas Ace.
"Berubah pikiran?" Tanya Inara sambil melepaskan blazer hitam yg dikenakannya.
"Dengan adanya aku didepan mu, sudah menjawab pertanyaan mu bukan?" Jawab Ace tanpa ekspresi.
Bruk!
Inara melemparkan blazernya kesembarang arah dan berjalan mendekati Ace lalu,
Puk!
Inara duduk di atas pangkuan Ace.
"Ingin bermain dengan ku?" Tanya Inara dengan gaya sens*al.
"Kau tak curiga kepada ku Inara? Bisa saja aku balas dendam kepada mu? Atau aku merencanakan sesuatu yg buruk kepada mu?" Tanya balik Ace.
__ADS_1
Cup!
Inara mengecup bibir Ace dengan lembut.
"Tidak! Inagawa tidak akan pernah bisa menang melawan Yamaguchi, bahkan disaat Kenzo Inagawa yang di gadang-gadang sebagai yang terbaik, nyatanya tetap tidak becus membawa Inagawa menjadi lebih baik," jawab Inara dengan entang dan sombong.
Tak ada ekspresi apapun di wajah tampan Ace.
"Kau tidak tersinggung Ace? Aku menghina Ayah mu," tanya Inara.
Senyum terukir di wajah Ace.
"Untuk apa aku marah dan tersinggung? Bila menurut mu Ayah ku tidak becus memimpin Inagawa, ya sudah! Toh, dia sudah mati kan?" Jawab Ace biasa saja.
"Hahahaha! Kamu memang laki-laki yg liar dan luar biasa. Laki-laki seperti mu yg seharusnya menjadi Oyabun," ujar Inara senang.
"Ingin segera bermain?" Tanya Ace yg mulai menjam*h tub*h indah Inara yg berada dipangkuannya.
Inara memejamkan kedua matanya karena terbuai dengan sentuhan yg Ace berikan di tubuhnya.
"Tunjukan kemapuan mu," bisik Ace penuh ga*rah tepat ditelinga Inara.
Aahh... Des*h Inara.
Inara dengan nafs* yg menggebu naik di atas tubuh Ace dan merobek kemeja yg dikenakan oleh Ace. Ace hanya diam saja saat Inara seperti wanita kesetan*n dan tiba-tiba,
Tok!
Tok!
"Siapa itu?" Tanya Ace kaget.
"Entahlah, mungkin orang yg mengurus rumah ini," jawab Inara kesal.
"Kamu menaruh kobun disekitar sini? Kamu tidak percaya dengan ku?" Tanya Ace dengan nada bicara yg mulai meninggi.
"Lalu siapa itu?" Tanya Ace mendorong Inara agar turun dari tubuhnya.
"Akan aku urus, tapi jangan pergi Ace," jawab Inara yg langsung berdiri menghampiri pintu masuk.
Srek!
Inara membuka pintu dengan kasar.
"Maaf Nona, saya Imamura. Saya yg merawat rumah ini, saya membawakan minuman karena saya pikir Tuan Kenji yg datang," ujar seorang kakek tua bernama Imamura.
Emosi Inara sedikit mereda saat melihat Kakek Imamura yg datang.
"Berikan kepada ku! Kau boleh pergi," ujar Inara mengambil nampan dari tangan Kakek Imamura dan langsung menutup pintu.
"Siapa?" Tanya Ace.
"Orang yg merawat rumah ini. Ini minumlah, dia membawakan Ocha. Karena dia berpikir Kakek yg datang kesini," jawab Inara.
Ace mengambil cawan kecil berisi teh hijau dan langsung meminumnya.
Inara tersenyum lalu ikut meminum teh tsb.
Inara dan Ace kembali bercumb* dengan penuh gair*h membara. Namun tiba-tiba,
Uhhuuukk .... Uhhuukk!
"Kamu kenapa?" Tanya Ace.
__ADS_1
"Tenggorokan ku terasa panas dan sakit Ace," jawab Inara memegangi lehernya.
"Ini minumlah, aku selalu membawa air minum sendiri," ujar Ace menyodorkan sebotol air mineral kepada Inara.
Tanpa pikir panjang Inara meminum air pemberian Ace dan,
Uhhuukk!!!
Inara kembali terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah.
"Ka..u!!!" Ucap Inara terbata.
Ace berdiri didepan Inara yg kesakitan di tenggorokannya dengan wajah dingin.
"Silahkan menikmati rencana yg kau buat untuk kekasih ku," ucap Ace tersenyum mengerikan.
Mata Inara terbelalak saat mendengar ucapan Ace.
"Masuk!!!!" Teriak Ace.
Tap!
Tap!
Tap!
Terdengar derap suara langkah kaki masuk kedalam rumah tua itu.
"Silahkan nikmati hidangan istimewa kalian," ujar Ace dengan senyum di wajah tampannya.
"Dengan senang hati Tuan," jawab salah satu dari 9 orang yg ada di dalam rumah.
"BANGS*T!!!! KAU AKAN MAT* ACE!!!!" Teriak Inara.
"Tidak ada yg bisa melindungi mu lagi Nona Muda," ujar Ace tersenyum mengejek ke arah Inara.
"Aahh panas sekali, kau akan aku bun*h Ace! Kau memberi ku obat," ujar Inara terputus karena seluruh tubuhnya merasakan panas seperti yg dirasakan oleh Ruby dulu.
"Hahahhaha!!! Selamat bersenang-senang Nona Shinoda," ucap Ace dan kemudian meninggalkan rumah tua itu.
Ace berjalan santai menuju pintu gerbang dan telinga Ace mendengar sayup-sayup teriakan Inara yg mungkin sedang di gil*r oleh 9 orang pria.
"Aku harus membersihkan tubuh ku dengan air dari 7 samudera," gumam Ace seraya menghapus jejak-jejak sentuhan Inara di tubuhnya.
Hari berganti dengan cepat,
Ruby begitu merindukan Ace. Ace terkadang mengirim pesan namun hanya beberapa kali. Ruby takut bila terjadi apa-apa dengan Ace, namun Ruby selalu berusaha baik-baik saja di depan Reina.
"Rei, bisakah kamu mengantarkan aku pulang kerumah ku?" Tanya Ruby penuh harap.
"Aku tidak bisa By. Ace dan Diego melarang ku untuk membawa mu keluar dari rumah," jawab Reina.
Hati Ruby begitu kecewa karena Reina selalu menolak.
"Maafkan aku By," ujar Reina merasa kasihan dengan Ruby.
Ruby mengangguk mengerti.
Pukul 11 malam,
Mata Ruby masih setia memandang kolam ikan Koi yg ada ditaman belakang rumah Reina. Sungguh Ruby sangat merindukan Ace dan,
Grep!
__ADS_1
Akkh!!!
Tbc,