The Ace

The Ace
Elena!


__ADS_3

...Aku seperti sampah, tak ada artinya bila harus tanpa mu....


Diego berjalan cepat menuju mobil yg sudah menjemputnya di bandara di Kota Saint Petersburg. Di ikuti oleh Ichiro dan banyak Kobun yg berjalan namun berpencar agar tidak ada orang yg curiga, karena ini Negara Rusia yg memiliki banyak agen-agen rahasia yg handal.


Mobil hitam legam itu melaju cepat meninggalkan bandara menuju suatu tempat yg sudah diberi tahu oleh Ace, agar rombongan Diego segera kesana.


1,5 jam kemudian,


Ace langsung memeluk erat Diego. Diego membalas pelukan erat namun rapuh dari Ace tsb.


"Aku gagal! Aku kehilangan dia Diego," ujar Ace dengan suara bergetar.


"Tidak! Seharusnya aku ikut dengan mu, sebelum Tuan Jeremy memberikan info itu, aku sudah tahu tentang Ruby. Tapi, Tuan Yamada Papa Reina sedang sakit, jadi konsentrasi ku terpecah," balas Diego penuh sesal.


"Aku hancur! Hati ku kosong, aku tak bisa melihatnya Diego," ujar Ace dengan nada penuh keputusasaan.


Mata Diego memanas mendengar sahabat sekaligus saudaranya itu begitu hancur dan putus asa.


"Kita akan menemukan Ruby dengan selamat dan baik-baik saja. Kami Inagawa disini untuk mu," balas Diego.


"Aku sakit Diego, hati ku sakit! Demi Tuhan, aku tidak bisa hidup tanpa Ruby," lagi-lagi Ace mencurahkan betapa hancur perasaannya tanpa Ruby.


Tes!


Air mata Diego menetes, kala melihat pandangan kosong Ace menerawang keluar jendela yg ada dirumah mewah itu.


"Kami ada untuk mu Tuan," ujar Ichiro yg berdiri didepan Ace dan Diego.


"Aku juga ada untuk mu Kenzo alias Ace," ujar seorang pria tampan yg berdiri disamping Ichiro.


"Dia?" Tanya Diego kepada Ace.


"Nicholas Benjamin Sanders. Dia pemilik rumah ini dan putra dari Tuan Benjamin Sanders," jawab Ace memperkenalkan pria yg berdiri disamping Ichiro adalah Nicho atau Nicholas Sanders teman satu tim Ace saat bekerja menjadi pengawalan di agensi Tuan Alan saat di Stockholm Swedia.


Dan ternyata rumah yg di datangi oleh Ace adalah rumah Nicho. Ya! Ace pernah melihat Nicho berjalan cepat bersama 2 orang berpakaian serba hitam saat Ace mengantarkan gadis kecil yg terpisah dari Ibunya. Dan dari situ Ace langsung tahu siapa Nicho atau Nicholas yg sebenarnya.


"Hi, aku Nicho! Kamu Diego?" Ujar Nicho.


"Iya aku Diego," jawab Diego biasa saja.


"Kenapa orang-orang disekitar mu sangat judes sih Ken?" Ujar Nicho cemberut.


"Apakah harus ku jawab?" Tanya Ace dengan ekspresi datar.


"No! Okay tidak perlu dijawab! Sekarang langsung saja ke misi kita mencari istri mu," jawab Nicho yg memilih mengalihkan topik pembicaraan.


Semua orang yg ada diruang kerja rahasia milik Nicho sedang membicarakan langkah selanjutnya untuk menemukan Ruby sebelum Tuan Kurt Edlind melenyapkan Ruby.


Di tempat berbeda, Ruby terus menangis karena di bawa paksa oleh anak buah Tuan Kurt Edlind.


"Aku ingin kamu Ace, tolong datanglah!" Gumam Ruby dengan terus menangis.


Akkhh!!


Ruby memegangi perutnya yg terasa begitu sakit.


"Aku ingin kamu Ace!" Gumam Ruby lagi dan lagi seraya memeluk erat tubuhnya sendiri yg berbalut sweter milik Ace.


Brakk!!


Pintu kamar yg ditempati Ruby terbuka karena dibuka dengan kasar dari luar. Ruby hanya melirik pria yg masuk kedalam kamar tsb, karena perutnya begitu sakit.


"Jangan berlagak lemah!!!" Bentak pria yg berdiri di depan Ruby.


"Ini memang sakit Tuan!" Jawab Ruby berani.


Srekk!


Akkh!


Pria itu menarik paksa bagian kerah dari sweter yg dipakai oleh Ruby dan mencengkeramnya kuat. Ruby menahan air matanya agar tidak jatuh didepan Pria itu, karena hanya Ace yg boleh membuatnya menangis.


"Katakan, dimana kamu menyimpan surat-surat penting milik Igor!!!" Bentak Pria yg tak lain adalah Tuan Kurt Edlind.


"Aku tidak tahu apa yg anda katakan!! Aku hanya gadis miskin yg tidak memiliki kedua orang tua!!!" Teriak Ruby tepat di wajah Tuan Kurt.


"Kurang ajar! Dasar anak Igor sialan!!"


Plak!!!


Akkh!!


Bruk!

__ADS_1


Tubuh Ruby terhuyung kesamping kanan saat tangan besar Tuan Kurt menampar dengan kuat pipi Ruby.


Ruby tak kuasa menahan air matanya, sakit sekali wajah Ruby hingga sudut bibir gadis cantik itu robek dan mengeluarkan darah.


"Akkhh!! Sakit!" Rintih Ruby merasakan perutnya terasa sakit berkali-kali lipat.


"Bangun!!! Brengsek!!" Teriak Tuan Kurt.


Namun,


Buuk!


Ruby tiba-tiba pingsan, tersungkur di atas lantai.


"Hei, jangan bercanda! Bangun cepat!" Suruh Tuan Kurt.


Namun tak ada jawaban dari Ruby.


"Akan ku tembak kepala mu kalau tak juga bangun! Bangun!!!" Ujar Tuan Kurt lagi.


Dan, Ruby tetap tak sadarkan diri.


Tuan Kurt berjongkok sambil menepuk-nepuk pipi Ruby yg sudah terlihat memar dengan bibir robek.


Deg!


"Elena!"


Tuan Kurt begitu terkejut, dia seperti mengingat seseorang.


"Simon!!! Siapkan mobil cepat!!" Teriak Tuan Kurt keras.


"Baik Tuan!" Jawab pria bernama Simon yg dengan sigap langsung berlari ke Carport.


Tuan Kurt langsung mengangkat tubuh Ruby dan menggendongnya keluar kamar menuju mobil.


Brummm!!!


Mobil yg di kemudikan Simon langsung melesat menuju rumah sakit.


30 menit kemudian,


Tuan Kurt berjalan cepat mengikuti para perawat yg membawa Ruby ke Ruangan IGD.


Pintu IGD di tutup!


Tuan Kurt berdiri dengan gelisah diluar IGD, entah apa yg tengah dirasakan oleh pria paruh baya itu. Hingga dia merasakan ketakutan setelah melihat dengan jelas wajah Ruby.


"Tuan tenanglah! Anda duduk dulu, dokter akan melakukan yg terbaik. Mungkin gadis itu hanya pingsan biasa," ujar Simon menenangkan Tuan Kurt.


Tuan Kurt tidak menjawab, Tuan Kurt hanya diam saja dan duduk di bangku besi yg ada diluar IGD.


10 menit kemudian,


"Tuan Edlind?" Ujar Dokter yg keluar dari ruangan IGD.


"Iya Dokter Frank, bagaimana keadaan gadis itu?" Tanya Tuan Kurt.


"Dia saudara anda?" Tanya Dokter Frank.


"Eemmh, iya dia keponakan jauh saya. Bagaimana keadaannya?" Jawab Tuan Kurt.


"Oow, dia kurang baik Tuan. Sekarang yg terpenting dia membutuhkan donor darah, dia ternyata terserang anemia cukup parah. Dia membutuhkan kurang lebih 1 kantong darah," ujar Dokter Frank.


Nyuut!


Hati Tuan Kurt tiba-tiba terasa nyeri saat mendengar penjelasan Dokter Frank tentang keadaan Ruby.


"Apa golongan darahnya? Saya akan mendonorkan darah saya," ujar Tuan Kurt dengan cepat.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan, stok darah kami sangat cukup. Anda tidak perlu sampai mendonorkan darah anda," balas Dokter Frank.


Srekk!!


"Ambil darah saya! Cepat!" Ujar Tuan Kurt sambil mencengkram kerah kemeja Dokter Frank.


"Ba..ik Tuan! Mari ikut sa..ya," jawab Dokter Frank kaget sekaligus takut.


Tuan Kurt langsung diperiksa tekanan darah dan lainnya, apakah bisa dilakukan donor darah kepada Ruby. Dan hasilnya Tuan Kurt memenuhi syarat untuk donor darah kepada Ruby.


"Golongan darah Tuan dan Nona itu sangat cocok AB- sesuatu kebetulan yg baik," ujar Dokter Frank.


Jeder!!!

__ADS_1


"Elena," batin Tuan Kurt mengingat wanita yg amat sangat dicintainya itu.


Setelah melakukan donor darah, Tuan Kurt sekarang berada didalam ruangan rawat inap Ruby. 10 menit yg lalu Ruby sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap VVIP sesuai dengan permintaan Tuan Kurt.


Mata Tuan Kurt terus menatap wajah Ruby dengan seksama dan serius.


"Simon, masuk ke ruangan!"


"....."


"Cepat!" Tut!


Tuan Kurt menutup panggilan teleponnya dan memasukkan ponsel mahalnya kedalam saku Jas nya.


Ceklek!


Tap


Tap


Tap!


"Saya disini Tuan," ujar Simon yg berdiri dibelakang Tuan Kurt.


"Ambil beberapa helai rambut gadis itu, serahkan kepada Dokter Vladimir," ujar Tuan Kurt.


"Baik!" Balas Simon.


Tuan Kurt terus saja memandang Ruby yg terlelap karena pengaruh obat.


"Eleanora Irina Lenin."


Kembali ke Ace,


Jantung pria tampan itu berdetak sangat cepat. Ace merasakan dirinya terserang kepanikan mendadak yg membuat Ace kesusahan bernafas dan linglung.


Prang!!


Ace bahkan sampai menabrak vas bunga yg ada didalam kamar dirumah Nicho.


Ceklek!


"Ace!!!" Diego langsung masuk kedalam kamar saat mendengar bunyi benda pecah.


Grep!


Diego langsung memeluk tubuh Ace yg lemas.


"Lihat aku! Lihat aku Ace!!" Ujar Diego yg berusaha menenangkan Ace.


"Ruby, hoosh.. hosh..," ujar Ace dengan nafas terengah-engah.


"Ace dengarkan aku! Lihat mata ku, Ace!!!" Bentak Diego.


"Ruby, Ruby!" Ujar Ace tidak menghiraukan Diego.


Brukk!


Diego terjengkang karena Ace mendorongnya kuat agar pelukan Diego terlepas.


Ace berjalan kearah pintu seperti ingin keluar dari kamar tsb. Namun,


Diego menarik tangan Ace dan,


Bugh!!!


Brakk!


Diego memukul wajah Ace sekuat tenaga hingga Ace terjatuh.


Ace nampak berusaha duduk dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Diego berjongkok dan menyodorkan segelas air kepada Ace. Ace meminum sedikit air tsb dan mulai mengatur nafasnya secara perlahan hingga dirasa nafasnya mulai teratur.


"Okay?" Ujar Diego.


"Terima kasih," jawab Ace.


"Maaf aku memukul mu," ujar Diego.


"Apa yg kamu lakukan sudah benar. Maaf aku merepotkan mu," balas Ace.


"Kamu saudara ku. Aku akan melakukan apapun untuk mu," ujar Diego.


"Kita harus segera menemukan Ruby. Aku seperti melihat Ruby kesakitan."

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2