The Ace

The Ace
Ai Sora Inagawa! end!


__ADS_3

Hi sayang, little bunny! Panggil aku Dada, dan wanita cantik itu panggil dia Mama. Aku ingin dipanggil Otouchan tapi, wanita cantik itu bersikeras ingin panggilan lebih modern. Yaaah apa boleh buat, kita ikuti saja maunya oke? Kamu harus jadi anak yang baik, kuat dan cerdas ya? Dada akan mengajari mu menjadi anak gadis serba bisa, kuat namun tetap berhati lembut seperti Mama dan Nenek mu. Selamat datang di keluarga Inagawa dan Edlind, Ai.


Ai?? Siapa Ai?


Ai Sora Inagawa.


Itu nama untuk putri kecil kami. Nama dengan arti sederhana tapi sangat mendalam. Tapi, bukankah diawal Papa ingin ada nama Edlind? Memang iya, tapi Elena meminta agar nama keluarga Inagawa lah yang disandang oleh Ai. Bukan tanpa alasan, Elena sudah sah menjadi istri Ace jadi sudah sepatutnya nama keluarga Ace lah yang harus melekat dibelakang nama Elena juga anak-anaknya kelak. Dengan penjelasan tsb Tuan Kurt dengan legowo menerima keputusan yang diberikan oleh Elena, walau sebenarnya dia ingin sekali Ai menyandang nama Edlind.


Pagi hari di kediaman Tuan Kurt,


Tuan Kurt dengan hati-hati menggendong cucu cantiknya yang sedang tertidur pulas setelah menyusu dari Elena.


"Waah, Ai sangat nyaman berada didekapan Papa sampai dia tertidur pulas," ujar Elena dengan senang.


"Pasti itu, karena Grandpanya sangat mencintai Ai jadi dia tahu," jawab Tuan Kurt dengan bangga.


"Halah itu nanti sebentar lagi juga bangun mencari Dadanya yang tampan ini," sahut Ace yang berjalan mendekati Tuan Kurt dan Elena.


Tuan Kurt sungguh tidak suka dengan sifat tengil Ace.


"Terserah kau saja," ucap Tuan Kurt cuek tak mau ambil pusing dengan ocehan Ace.


Ace tertawa kecil melihat ekspresi kesal Tuan Kurt.


"Sayang aku mencintai mu," ucap Ace sambil mengecup kening Elena.


"Aku lebih mencintaimu," balas Elena.


Tiba-tiba,


Kring..


Kring..


Tit,


"Halo..."


"........"


"Hahahaa maaf aku lupa Kak, iya 3 hari yang lalu Elena sudah melahirkan. Maaf ya kakak ku sayang."


"......."


"Yaa baguslah kalau Diego sudah memberitahu Kakak kalau Elena melahirkan."


"........"


"Iya maaf kak namanya orang lupa saking bahagianya punya anak."


" ........"


"Benarkah?? Baiklah akan aku persiapkan untuk menyambut kedatangan kalian."


"......."

__ADS_1


"Elena sedang istirahat, sudahlah beberapa hari lagi kan kalian bertemu. Jadi nanti saja ngobrolnya."


"........"


"Oke." Tut!


"Kak Nara?" Tanya Elena menebak.


"Heumh, dia akan ke sini. Kak Rain sudah mengurus keberangkatan mereka," jawab Ace.


"Siapa Nara?" Tanya Tuan Kurt penasaran.


"Kakak ku Pa, dia putri Ibu ku dari pernikahan terdahulu," jelas Ace.


"Dari Tuan Michael?" Tanya Tuan Kurt lagi.


"Aaaahh, anda benar sekali Tuan Kurt. Anda kan sangat handal dalam segala hal," sahut Ace menggoda Papa mertuanya itu.


"Awas kau," belum sempat meneruskan omongannya tiba-tiba..


Ooeekkkk!!!


Ai menangis.


"Sini Pa, biar Lena bawa ke kamar," ucap Elena berdiri mendekati Tuan Kurt.


"Iya sayang," Tuan Kurt memindahkan Baby Ai dari dekapannya kepada Elena.


Elena pamit ke kamar untuk menidurkan Baby Ai, sementara Tuan Kurt dan Ace memilih untuk bersantai di halaman belakang.


Ace duduk disamping Tuan Kurt, sambil menikmati cuaca cerah di pagi itu.


"Apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Tuan Kurt.


"Semalam Elena meminta untuk kembali ke Jepang," jawab Ace.


"Apa tidak sebaiknya kalian tetap di sini?" Tanya Tuan Kurt lagi.


"Elena dari kecil hingga dewasa hidup juga tumbuh di Jepang. Dia sangat nyaman tinggal di Jepang, rencana ini sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari Elena ungkapkan, kemanapun kami pergi nantinya akan tetap kembali pulang dan hidup di Jepang," jelas Ace panjang.


Tuan Kurt terdiam mendengar penjelasan Ace, yang ternyata putrinya ingin kembali ke negara masa kecilnya.


"Baiklah, kalau itu keinginan Elena. Papa akan menerima dan menghargainya," ucap Tuan Kurt sedih.


Ace tersenyum melihat Tuan Kurt yang sedih.


"Elana meminta agar aku membujuk Papa untuk ikut ke Jepang juga dan tinggal bersama," ujar Ace lagi.


"Oke Papa ikut," jawab Tuan Kurt cepat dengan wajah berbinar bahagia.


"Hahahhahaha, sudah ku duga! Dasar, gitu aja pake acara nggak sebaiknya tinggal disini, menghargai kalian, apalah itulah," ujar Ace sambil tertawa mendengar jawaban Tuan Kurt.


Plak!!!


"Aku Papa mu, dasar kau!" Ujar Tuan yang kesal dengan Ace yang mengejeknya.

__ADS_1


"Haiss, sakit Pa! Ini kepala ku isinya otak cerdas dengan pemikiran cemerlang pake acara di keplak," dengus Ace sambil mengusap kepalanya yang baru saja di keplak Tuan Kurt.


"Hahahhahahahhha," giliran Tuan Kurt yang tertawa melihat wajah kesal Ace.


Di tengah-tengah obrolan dan candaan mereka berdua tiba-tiba,


"Permisi,"


Seketika Ace menghentikan tawanya.


"Ya, ada apa Simon?" Tanya Tuan Kurt kepada Simon.


"Tuan, saya mau mengingatkan tentang bisnis Tuan yang ada di sini dan masih akan berjalan beberapa tahun ke depan," ujar Simon menjelaskan.


Tuan Kurt diam sejenak setelah mendengar penjelasan Simon.


"Yaa sudah take over semua ke Jepang, biar aku yang urus. Kalau tidak bisa, aku akan menempatkan orang-orang Vasquez atau Inagawa untuk menghandle semua urusan juga bisnis Papa," sahut Ace secara tiba-tiba.


"Brengs*k!" Umpat Simon dalam hati.


"Tidak bisa begitu Tuan! Kontrak kerjasama dengan berbagai perusahaan dan juga orang-orang penting di negara bagian ini tidak bisa disepelekan. Mereka sudah membayar mahal agar mendapatkan yang terbaik dari kerjasama ini, jadi tidak semudah seperti yang anda katakan dengan mengganti atau mengambil alih semuanya. Lagi pula kami bekerja menggunakan kecerdasan dan taktik bukan otot," jawab Simon dengan penuh penekanan.


Tuan Kurt masih diam melihat perdebatan antara Ace dan Simon.


Ace tersenyum tipis lalu,


"Mungkin kamu bisa sedikit banyak membaca buku jaman dahulu tentang sejarah Inagawa dan Vasquez. Kami bekerja menggunakan naluri dan penafsiran yang tepat, bukan hanya kecerdasan dan taktik. Naluri kami kuat, kami di tempa bukan hanya dengan pendidikan tapi, kami bisa menyatu dengan alam." Tuan Kurt tersenyum mendengar jawab Ace.


"Sudah! Aku sudah memutuskan, biarkan orang-orang Ace yang mengurus bisnis Edlind. Dan kamu cukup ikut aku kemanapun aku pergi," ujar Tuan Kurt mengambil keputusan.


Dengan wajah memerah dan jari-jari besarnya mengepal, Simon mengangguk dan memilih pergi meninggalkan Tuan Kurt dan Ace.


"Silahkan tertawa sesuka mu, kita tunggu hari dimana kamu akan menangis di kaki ku."


Hari-hari berlalu dengan cepat, Ace, Elena dan Tuan Kurt sudah pindah ke Jepang tepatnya di Kota Kawasaki Prefektur Kanagawa. Ace mengajak anak, istri dan mertuanya tinggal dirumah peninggalan kedua orang tuanya.


Ai tumbuh berkembang dengan sangat baik, bayi cantik itu selalu ingin dekat dengan Dadanya. Apapun kegiatan Ace, Ai selalu ikut dan akan menangis bila Ace tak mengajaknya.


tap!


tap!


tap!


"Tuan!! Tuan."


"Ada apa?? Kenapa berlarian begitu.'


"Nyonya dan Nona."


"Kenapa? Apa yang terjadi dengan anak istriku?"


"Mobil yang ditumpangi Nyonya disabotase orang dan mereka membawa Nyonya."


END....

__ADS_1


__ADS_2