
...Aku banyak belajar dari mu sayang. Aku tak mengira bahwa begitu besar rasa sabar yang kamu miliki untuk bertemu dengan ku walau mungkin itu rasanya tidak akan terjadi. Kamu selalu berharap, berdoa dan optimis bila kita suatu saat pasti bertemu. Kamu memang wanita ku yang hebat sayang, wanita terindah yang Tuhan ciptakan dan kirimkan kepada ku ya hanya kepada ku, Elena....
Tak ada yang menyangka bahwa Tuan Kurt bisa menerima Ace dengan cepat dan lapang dada. Hal itu dikarenakan Tuan memiliki watak yang sangat keras juga berpendirian teguh. Beberapa hari setelah kejadian Elena bersama Ace datang ke rumah utama, Tuan Kurt nampak bahagia dan akrab dengan Ace. Tuan Kurt juga tidak marah mendengar bahwa Ace langsung menikahi Elena secara diam-diam tanpa adanya restu dari dirinya. Justru malah Tuan Kurt mengakui tindakan berani Ace menikahi Elena sangat berani, karena tidak ingin kehilangan seseorang yang amat dicintai, tidak seperti dia dulu harus kehilangan sang istri karena di khianati seorang sahabat.
Kini nampak kedua pria beda generasi itu sedang asyik berbincang di halaman belakang rumah Tuan Kurt.
"Ace, jangan terjun langsung di dunia bawah tanah. Ingat, Elena sedang mengandung dan sebentar lagi melahirkan. Aku tidak ingin ada apa-apa dengan mu hingga membuat putri ku sedih," ujar Tuan Kurt tegas.
"Iya Papa, semua sudah di handle oleh Diego dan yang lainnya. Papa Tetsuya juga menyarankan hal yang sama," jawab Ace menjelaskan.
"Baguslah kalau begitu, sana temani Elena. Mungkin dia membutuhkan mu," ucap Tuan Kurt.
"Ayoo kita kesana bersama saja Pa, ayo!" Ajak Ace.
"Baiklah!"
Ace dan Tuan Kurt berjalan bersisian menuju dapur tempat Elena berada, yang sedang asyik membuat kue kering.
"Sayang, Papa! Kemarilah, ini sudah ada yang matang. Coba tolong cicipi, aku tidak yakin rasanya enak atau tidak karena aku sudah lama tidak membuat kue," ujar Elena tersenyum cantik.
"Pasti enak, dulu mochi mu selalu habiskan sayang waktu di Jepang," sahut Ace lembut.
"Mochi??" Tanya Tuan Kurt seperti keheranan.
"Iya Papa, dulu Elena membuat mochi lalu dijual. Tapi, karena begitu baik dan sayangnya menantu Papa ini, Ace membukakan sebuah toko atau kedai mochi untuk ku agar tidak capek berpindah-pindah saat jualan," jawab Elena dengan sabar.
Deg!
"Maafkan Papa nak. Hidup mu begitu kesusahan," batin Tuan Kurt yang sangat sedih mendengar perjuangan hidup putrinya di negara asing.
"Ayo Pa, dicoba!" Ujar Ace sengaja menepuk pelan pundak Tuan Kurt yang tengah melamun sedih.
"Eeh, iya iya ini Papa coba," jawab Tuan Kurt mencicipi kue buatan Elena.
Senyum sumringah terpancar dari wajah Tuan Kurt setelah merasa kelezatan kue kering buatan sang putri.
Ace, Elena dan Tuan Kurt larut dalam canda tawa serta cerita yang mereka lontarkan satu sama lain di tengah waktu bersantai. Namun,
"Kenapa anda begitu mudah menerima pria asing itu di dalam keluarga anda tuan?"
__ADS_1
1 bulan kemudian,
Elena berjalan santai sambil bergandengan tangan dengan Ace menyusuri jalan kota New York yang sangat ramai dengan lalu lalang pejalan kaki yang pulang dari kantor di sore itu. Elena menggunakan topi begitu juga dengan Ace untuk menyamarkan penampilan dan wajah mereka dari orang-orang yang mungkin saja musuh dan ingin bertindak tidak baik.
"Sayang, kenapa tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak kita?" Tanya Elena penasaran.
"Aku ingin itu menjadi kejutan untuk keluarga kita sayang. Biarpun perempuan atau laki-laki itu sama saja dan sama-sama sebuah anugerah yang tak ternilai sama seperti mu," jawab Ace tersenyum tampan.
Elena tersenyum mendengar jawaban sang suami.
"Hari perkiraan aku melahirkan 1 minggu an lagi sayang, aku agak deg-degan juga takut," ujar Elena kepada Ace.
"Jangan takut, aku akan selalu menemani mu sayang," jawab Ace memeluk Elena dari samping.
"Sayang, berhenti!" Elena tiba-tiba menghentikan langkahnya didepan toko perlengkapan bayi terkenal.
"Mau masuk?" Tanya Ace yang langsung paham maksud Elena.
Elena mengangguk senang.
"Ayo kita masuk dan belanja pemilik hatiku," mendengar ucapan Ace, Elena langsung menarik tangan Ace dan masuk kedalam toko tsb.
Ace berjalan dibelakang Elena yang begitu bersemangat melihat segala perlengkapan juga pernak pernik untuk bayi.
"Kamu pasti cantik bila memakainya. Otousama yakin kamu perempuan sayang dan akan secantik Okachan," batin Ace memegang sepasang sepatu tsb.
"Sayang," panggil Elena pelan.
"Iya sayang. Eehm, ini lihatlah! Cantik bukan?" Ujar Ace seraya memperlihatkan sepasang sepatu mungil itu kepada Elena.
"Iya cantik sekali. Tapi, bukankah kita sepakat akan memilih warna netral seperti kuning atau cream, karena kita belum tahu jenis kelamin anak kita sayang," jawab Elena.
"Iya aku tahu tapi, aku ingin membeli yang ini sayang," balas Ace tetap ingin membeli sepatu pink tsb.
"Baiklah kita beli saja sayang," ujar Elena menyetujui permintaan Ace.
Ace tersenyum senang dan memeluk Elena lembut.
Setelah membayar beberapa barang yang telah mereka beli, Ace dan Elena sudah merasakan lapar karena sudah akan masuk dalam makan malam. Ace mengajak Elena untuk makan di restoran Jepang, karena sudah lama Ace tidak makan makanan khas Jepang tsb.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia sayang?" Tanya Ace lembut.
Elena nampak tidak suka dengan pertanyaan Ace.
"Apa maksud mu?" Tanya balik Elena.
"Hehehehe, aku hanya bertanya sayang. Jangan langsung marah begitu," jawab Ace tersenyum.
"Jangan tanyakan pertanyaan konyol macam itu lagi. Kamu sangat paham dan mengerti aku seperti apa, jadi tolong berhenti bersikap konyol Ace Xzander Inagawa," ujar Elena dengan tegas.
"Hahahahaha, baik-baik saya mengerti Nyonya Inagawa," balas Ace tertawa.
Tak lama kemudian, makanan yang mereka berdua pesan sudah datang dan siap disantap. Ace mempersilahkan Elena menikmati terlebih dulu makanan yang tersaji dimeja baru kemudian Ace ikut menikmati.
2 jam kemudian,
"Darimana saja kalian?" Tanya Tuan Kurt yang sedaritadi menunggu kepulangan Ace dan Elena.
"Kami membeli beberapa perlengkapan baby lalu makan malam Pa," jawab Elena.
"Papa khawatir dengan kalian, mana Ace tidak mau menggunakan body guard, itu menambah kekhawatiran Papa," ujar Tuan Kurt memeluk Elena.
"Tenang Pa, sekarang kan sudah pulang," balas Elena menenangkan Tuan Kurt.
"Ace! Lain kali tidak ada bantahan lagi, kemanapun kalian pergi harus dikawal oleh Simon," ujar Tuan Kurt.
"Baik Papa," jawab Ace santai.
"Sekarang kamu istirahat ya sayang, besok jadwal kontrol ke dokter, ya?" Tanya Tuan Kurt.
"Iya Pa, besok jam 10 pagi Elena akan ke rumah sakit bersama Ace," jawab Elena pelan.
"Besok Papa ikut," sahut Tuan Kurt cepat.
"Hahahahaha mau apa Papa ikut?" Tanya Ace sambil tertawa.
"Diam kamu Ace!! Aku ingin melihat cucu ku kapan dia mau lahit sebenarnya, ini sudah 9 bulan kenapa tidak keluar-keluar," ucap Tuan Kurt tidak sabaran.
Hahahahahhahhaa....
__ADS_1
Sabar dung Kek!
tbc,