The Ace

The Ace
Without You!


__ADS_3

Tubuh dan hati ku seperti selaras, enggan beranjak dari kenyamanan melamunkan dirimu Cinta Ku Ruby. Melihat kembali dunia luar setelah sekian lamanya, nampak begitu asing untuk ku. Tak ada tangan kecil yg aku genggam, tak ada pinggang ramping yg aku peluk. Aku berjalan sendiri, berjalan dengan segala kehampaan yg aku rasakan. Masih sangat jelas, bila kamu ingin segera menikah dan memiliki seorang anak tapi hanya dalam sekejap mata, Tuhan mengambil mu dari ku Ruby. Maafkan aku tidak bisa menjaga mu, aku patutnya mati dan membusuk di neraka karena atas kebodohan dan keteledoran ku, kamu meregang nyawa di tangan bajingan itu. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain kamu Ruby, cinta sejati ku.


Ace berjalan bersisihan dengan Diego dan dikawal oleh beberapa orang bodyguard menuju mobil yg menjemputnya di Bandara Internasional John F. Kennedy New York Amerika Serikat.


Blam!


Pintu mobil tertutup, dan mobil berwarna hitam mengkilap itu langsung melaju menuju ke New York-Presbyterian University Hospital of Columbia and Cornell, tempat dimana Tuan Tetsuya dirawat.


Beberapa saat kemudian,


Ace berjalan cepat agar bisa segera bertemu dengan Tuan Tetsuya Jiro.


"Silahkan Tuan," ujar seorang Kobun yg berdiri diluar ruang rawat inap Tuan Tetsuya.


Ace mengangguk dan,


Ceklek!


Tap


Tap


Tap!


Ace berjalan mendekati ranjang Tuan Tetsuya.


"Kau kah itu Ace anak ku?" Ujar Tuan Tetsuya.


Deg!


"Maafkan aku Uncle," batin Ace merasa sangat bersalah karena terlalu kehilangan Ruby hingga tak menghiraukan orang-orang baik dan menyayanginya.


"A..ku datang Papa," jawab Ace terbata.


"Kemarilah Nak," balas Tuan Tetsuya.


Ace mendekati Tuan Tetsuya yg nampak kurus dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.


"Maafkan aku," ujar Ace lirih.


"Aku yg seharusnya minta maaf. Aku tidak bisa menjaga mu, hingga kamu begitu terluka dan hancur," sahut Tuan Tetsuya lemah.


"Aku yg bodoh! Aku yg tidak menyadari situasi dan malah membuat Ruby meninggal," jawab Ace pilu.


"Sstt... Aku yg salah Ace! Harusnya aku melarang mu pergi dari Jepang, tapi aku tak kuasa kala melihat mu begitu bahagia dengan Ruby," ujat Tuan Tetsuya.


"Hiiksss!!!"


Akhirnya tangis Ace pecah, saat Tuan Tetsuya terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Ruby yg jelas-jelas adalah keteledorannya.


"Jangan menangis anak ku! Maukah kamu menemani Papa mu ini sampai ajal menjemput?" Ujar Tuan Tetsuya berusaha menghapus air mata Ace.


Ace mendekatkan wajahnya yg terlihat tirus kurus ke tangan tua Tuan Tetsuya.


"Aku akan menjaga Papa disini," jawab Ace.


Senyum merekah diwajah Tuan Tetsuya.


"Terima kasih anak ku," sahut Tuan Tetsuya.


"Apa aku akan mampu hidup lagi, Papa?" Tanya Ace tiba-tiba.


"Kamu putra Kenzo, kamu lebih kuat dari Kenzo! Hiduplah lebih baik, Ruby akan selalu bersama mu di dalam hati dan otak mu! Semua yakin, Tuhan memiliki rencana dibalik ini semua," jawab Tuan Tetsuya berusaha menyemangati Ace.


"Terima kasih Papa," balas Ace tersenyum untuk pertama kalinya setelah 7 bulan kepergian Ruby.


Air mata merembes melalui ekor mata Diego, kala melihat Ace kembali tersenyum seolah memiliki semangat hidup lagi.

__ADS_1


"Hiduplah lagi Ace."


Beberapa jam kemudian,


"Kita akan tinggal dimana?" Tanya Ace kepada Diego.


"Di rumah kita tentu saja, aku sudah menyiapkan semua untuk mu. Jangan khawatir bro!" Jawab Diego.


"Oke," sahut Ace.


Diego dan Ace berjalan menuju mobil yg sudah terparkir menunggu mereka di luar lobby rumah sakit.


"Silahkan Tuan," ujar driver.


Ace dan Diego mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil.


Blammm!!


Bruummm!


Pintu mobil tertutup dan mobil mewah itu melaju meninggalkan area rumah sakit tempat Tuan Tetsuya di rawat.


Beberapa saat kemudian,


Ace berjalan mendahului Diego setelah keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam sebuah rumah mewah yg berada di kawasan 740 Park Avenue yg terkenal akan kemewahan setiap huniannya.


Ace tak menghiraukan beberapa pelayan yg menyapa dan menyambutnya. Ace hanya ingin segera masuk ke dalam kamar mana saja yg ada didalam rumah mewah tsb.


"Kamar mu ada dilantai 3, anggap saja pent house!" Teriak Diego.


Tak ada jawaban dari Ace, pria tampan yg kini tak lagi berkepala plontos itu langsung masuk ke dalam lift.


Diego hanya diam menatap Ace yg kembali berubah menjadi dingin setelah meninggalkan rumah sakit.


Ting!


"Selamat datang Tuan Muda Inagawa. Silahkan," sambut salah satu pelayan pria yg tak lain adalah,


"Ojisan??" Ujar Ace kaget melihat Paman Takagi menyambutnya didepan kamar.


Grep!


Paman Takagi langsung memeluk Ace.


"Bangkitlah anak ku! Bangkit, Nona Ruby akan sangat sedih bila anda terus-terusan seperti ini," ujar Paman Takagi sedih.


"Aku akan bangkit Ojisan, bantu aku!" Balas Ace berusaha menahan air matanya saat membicarakan tentang Ruby.


"Terima kasih anak ku," sahut Paman Takagi senang.


Ace mengeratkan pelukannya kepada Paman Takagi yg sudah dia anggap sebagai Ayah.


"Sekarang beristirahatlah anak ku," ujar Paman Takagi melepaskan pelukannya.


"Heem, aku masuk dulu," pamit Ace.


Paman Takagi mengangguk.


Ceklek!


Ace membuka pintu kamar dan masuk kedalam kamar mewah tsb.


Bukk!


Ace langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang yg empuk, mata tajamnya menerawang jauh ke atas langit-langit kamar tidurnya.


Pov Ace,

__ADS_1


Sayang? Kamu sedang apa? Sudah makan? Aku sangat merindukan mu By, sangat. Aku sangat ingin bertemu dengan mu, datanglah ke dalam mimpi ku sekali saja. Maafkan aku yg sudah sangat bodoh ini By, apa kamu begitu benci kepada ku? Hingga kamu tak pernah datang ke mimpi ku. Aku sangat mencintai mu, Ruby Inagawa.


End.


Ya, semenjak kepergian Ruby, Ace sama sekali tidak bermimpi tentang Ruby. Biasanya orang yg sudah meninggal akan datang ke mimpi orang yg menyayangi mereka untuk meninggalkan pesan atau hanya menampakkan diri saja. Namun, Ruby sama sekali tidak pernah mendatangi Ace dalam mimpi.


Ace mengusap wajahnya dan duduk ditepi ranjang.


Ace mengeluarkan ponselnya yg berdering dari saku jas hitam yg dipakai.


Ting!


Hiks!


Lagi dan lagi, Ace kembali menangis saat sebuat nada pengingat bahwa besok adalah hari ulang tahun Ruby.


"Aku merindukan mu sayang," gumam Ace dengan nada bergetar seraya mengusap layar ponselnya yg ada foto Ruby memakai Kimono.


Tak ada yg mampu Ace lakukan, segala cara telah di upayakan agar bisa mencari dimana jazad Ruby. Tuan Kurt Edlind terlalu rapi dalam menyimpan segala pergerakannya, hingga jazad Ruby pun tak mampu ditemukan oleh Inagawa dan Vasquez. Ace terus berusaha mencari bahkan dengan bantuan Nicho, namun juga nihil.


Akankah Ace menemukan dimana makam Ruby?


Hari demi hari berlalu, Ace setiap harinya selalu datang ke rumah sakit untuk menemani Tuan Tetsuya melakukan terapi untuk kesembuhannya. Sama dengan hari-hari kemarin, Ace mengendarai sendiri mobilnya menuju rumah sakit.


Tit!


Tit!


Ace mengunci mobil mewahnya dan berjalan meninggalkan area parkir.


Kring...


Kring...


"Ya halo."


"......."


"Aku sudah ada di lobby, ini mau masuk lift."


"......."


"Apa? Nicho? Nicholas?"


"......."


"Mau apa anak itu?"


"......."


"Okay aku masuk lift dulu." Tut!


Ting!


Ace mengakhiri sambungan telepon tsb dan masuk lift.


Ting!


"Kenapa lama sekali kesininya?" Ujar Nicho yg sudah menunggu Ace didepan lift.


"Ckk... Mau apa lagi?" Tanya Ace dengan wajah datar.


"Apa kau ingin bertemu Ruby?"


Deg!


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2