
Aku bermimpi kita berjalan berdua di altar gereja yg menjadi saksi penyatuan cinta kita berdua. Aku memakai gaun putih tulang dengan bahu terbuka, lalu kamu memakai tuxedo dengan warna senada dengan gaun ku. Tapi, bukan cincin yg kamu sematkan dijari manis ku. Melainkan sebuah tiara berhiaskan mutiara cantik yg kamu pasangkan di atas kepala ku. Namun, bukan Ruby nama yg kamu ucapkan saat janji suci pernikahan kita. Tapi, nama yg kamu sebut adalah Eleanora. Ya, aku yakin kamu memanggilku Eleanora! Siapa Eleanora Ace? Siapa?
Hari demi hari dijalani Ace dan Ruby dengan bahagia. Ace tetap mencari siapa dan dimana anggota keluarga Igor Mikhailov yg masih hidup. Sedangkan Ruby kerap kali jatuh sakit, terkadang wanita cantik itu pusing, muntah dan demam. Ace berulang kali mengajak Ruby ke dokter namun Ruby selalu menolak karena memang sakitnya tergolong ringan, hanya sebentar datang sebentar pergi.
"Ace, aku ingin sekali jalan berdua dengan mu," ucap Ruby tersenyum cantik.
Ace menoleh ke Ruby.
"Bukankah kita sering jalan berdua?" Tanya Ace heran.
"Maksud ku kita jalan kaki berdua ke taman yang ada di dekat rumah kita. Aku pernah kesana bersama Nyonya Roxana, dan disana begitu asri juga tenang Ace," jawab Ruby.
"Boleh saja, nanti sore kita kesana ya sayang," ujar Ace mengusap lembut kepala Ruby.
"Benarkah? Kamu mau menemani ku ke taman Ace?" Tanya Ruby memastikan.
"Iya sayang. Nanti sore kita akan berjalan kaki menuju taman yg menurut kamu nyaman itu," jawab Ace tersenyum kepada Ruby.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menemani ku nanti," ujar Ruby begitu senang.
Ace mengangguk dan membawa tubuh Ruby kedalam dekapannya.
"Aku akan melakukan apapun dan menuruti semua yg membuat mu bahagia sayang," ujar Ace mengusap punggung Ruby.
"Dan aku akan selalu menemani mu, bersama mu kemanapun kamu pergi," balas Ruby.
Cup!
Ace mengecup kening Ruby.
"Aku mencintai mu," ujar Ace.
"Aku juga mencintai mu," balas Ruby.
Tiba-tiba,
Kring..
Kring..
Ponsel Ace berdering, terlihat nama Tuan Kurt Edlind yg muncul dilayar ponsel mahal milik Ace.
"Aku terima telepon dulu, ini dari orang kantor," ujar Ace berbohong.
"Iya angkat saja. Aku mau ke dapur dulu," balas Ruby beranjak dari pelukan Ace dan berjalan ke dapur.
Ace menekan tanda terima di layar ponselnya.
Tit!
"Yaa..."
"......"
"Oke." Tut.
"Sayang, aku pergi sebentar ya? Orang kantor membutuhkan aku," ujar Ace berbohong.
"Iya, tapi jangan sampai malam ya pulangnya," jawab Ruby.
"Iya sayang. Cup!" Ujar Ace seraya mengecup kening Ruby.
"Hati-hati sayang," ujar Ruby mengantar Ace sampai ke depan rumah.
Brummm!!!
__ADS_1
Deru mesin mobil Ace terdengar.
Ace memacu mobilnya dengan cepat agar segera sampai ke tempat Tuan Kurt.
20 menit kemudian.
Ace berjalan cepat menghampiri Tuan Kurt yg sudah menunggunya.
"Ada yg ingin aku sampaikan kepada mu," ujar Tuan Kurt.
"Silahkan," jawab Ace.
"Igor Mikhailov masih memiliki seorang putri yg sengaja dia sembunyikan, agar tidak ada yg bisa mengambil hartanya. Karena putrinya itulah yg menyimpan semua harta keluarga Mikhailov," ujar Tuan Kurt Edlind.
Kening Ace berkerut saat Tuan Kurt mengatakan bahwa Igor Mikhailov masih memiliki seorang putri yg masih hidup.
"Lakukan saja apa yg seharusnya kamu lakukan, aku ingin segera gadis itu kamu temukan!" Ujar Tuan Kurt lagi.
"Saya akan menemukan putri Mikhailov," jawab Ace.
"Temukan gadis itu! Setelah mendapatkan yg aku inginkan, bunuh keturunan terakhir Mikhailov!!" Perintah tegas Tuan Kurt Edlind.
"Baik!!"
Ace berbalik dan meninggalkan Tuan Kurt Edlind.
Sore hari,
Ruby merangkul erat lengan kokoh Ace sambil mereka berdua berjalan beriringan disekitar taman yg ada di dekat rumah mereka.
"Sayang," panggil Ruby.
"Ya," jawab Ace.
"Ayo duduk disana," ajah Ruby menunjuk bangku besi yg ada di ujung taman.
Pukk!
Ace dan Ruby duduk di atas bangku kayu yg ada di taman.
"Tidak terlalu ramai ya," ujar Ruby mengamati sekeliling.
"Mungkin karena bukan weekend sayang," jawab Ace.
"Heem bisa jadi. Ace, aku semalam bermimpi bertemu dengan Papa ku," ujar Ruby.
"Benarkah?" Tanya Ace.
"Iya, tapi Papa ku tidak seperti yg ada di foto. Dia berbeda Ace," jawab Ruby.
Ace menatap Ruby.
"Lalu seperti apa?" Tanya Ace.
"Dia jauh lebih tampan, tinggi dan memiliki mata hijau," jawab Ruby mengingat mimpinya semalam.
"Kamu bermata biru By, dan ibu mu orang Jepang kan? Jadi mana mungkin mata Papa mu Biru," ujar Ace menganalisa.
"Entahlah, tapi dia meminta maaf kepada ku karena telah salah dalam segala hal. Aku berkali-kali bertanya tentang apa? Tapi dia hanya terus meminta maaf," ujar Ruby mengingat mimpinya semalam.
Grep!
Ace membawa Ruby kedalam dekapannya.
"Sst, sudah! Itu hanya bunga tidur, aku tidak ingin kamu sakit hanya karena memikirkan hal itu. Aku sangat mencintai mu dan tidak ingin hal buruk terjadi kepada mu," ujar Ace.
__ADS_1
"Iya sayang aku mengerti," jawab Ruby.
"Apa kamu akan selalu mencintai ku By?" Tanya Ace.
"Selalu, dan hanya akan mencintai mu dalam segala hal, juga dalam keadaan apapun," jawab Ruby penuh keyakinan.
"Terima kasih dunia ku," ujar Ace.
"Terima kasih juga Udara ku," balas Ruby.
Sementara di belahan dunia yg lainnya.
"Segera hubungi Ace. Aku tidak ingin hal buruk terjadi kepada anak ku itu," ujar Tuan Tetsuya dengan mata memerah.
"Iya Uncle, 6 jam an lagi aku akan segera menghubungi Ace. Aku yakin sekarang dia sedang tidur," jawab Diego.
"Aakkhhh!!!! Diego, hubungi Jeremy sampai bisa agar dia menempatkan orang-orang untuk menjaga rumah Ace," ujar Tuan Tetsuya terlihat frustasi.
"Baik Uncle," jawab Diego yg langsung berusaha menghubungi Jeremy yg selama ini diperintahkan Tuan Tetsuya untuk mengikuti kemanapun Ace pergi.
"Sudah Uncle! Jeremy langsung bergerak," ujar Diego yg telah berhasil menghubungi Jeremy.
Wajah Tua dan lelah Tuan Tetsuya berubah menjadi lebih santai dan juga lega karena Jeremy begitu sigap.
"Segera hubungi Ace bila sudah pagi waktu sana, aku tidak ingin putra ku sampai kenapa-napa," ujar Tuan Tetsuya.
"Baik Uncle," jawab Diego.
Selepas Diego pergi, Tuan Tetsuya seketika meneteskan air matanya.
Flashback on,
Di sore hari yg tenang Tuan Tetsuya sedang menikmati secawan teh di halaman belakang rumahnya bersama Nyonya Audrey.
Kring....
Ponsel Tuan Tetsuya berdering.
"Halo."
"........"
Prangg!!!!
Cawan teh yg dipegang Tuan Tetsuya terjatuh saat mendengar perkataan si penelpon.
"Jadi?"
"......."
"Jaga Ace, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya."
"......."
"Aku akan mencari Diego."
Tut!
"Ada apa Pah?" Tanya Nyonya Audrey.
"Wanita itu bukan wanita biasa," jawab Tuan Tetsuya.
Nyonya Audrey bingung, siapa yg dimaksud wanita itu.
"Siapa?" Tanya Nyonya Audrey lagi.
__ADS_1
"Ruby."
Tbc,