The Ace

The Ace
My Passion


__ADS_3

Adrenalin ku terpacu saat berada disituasi yg lama tidak aku alami. Bunyi tembakan, teriakan, kegaduhan begitu memacu rasa ingin bertarung ku.


Ace duduk di kursi tunggu yg ada di dekat ruang IGD sebuah rumah sakit.


"Anda yg bernama Ken?" Tanya seorang pria berpakaian serba hitam.


"Iya," jawab Ace.


"Mari ikut saya," ujar pria tsb.


Ace berjalan mengikuti pria itu yg ternyata menuju lantai 5 rumah sakit tsb.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Ruang 101, silahkan anda masuk kesana. Tuan besar menunggu anda," ujar pria itu.


Ace hanya mengangguk dan langsung berjalan kearah kamar rawat inap nomor 101.


Ceklek!


Ace masuk ke dalam ruang rawat inap tsb dan,


"Masuklah," ujar seorang pria paruh baya.


Ace mendekat ke ranjang pasien.


"Terima kasih sudah melindungi ku dan menyelamatkan nyawa ku. Nama ku Kurt Edlind," ujar pria bernama Kurt Edlind.


"Ini tugas saya Tuan, saya sudah menandatangani kontrak dan wajib bagi saya untuk mematuhi kontrak tsb," jawab Ace.


"Kamu kontrak permanen dengan agensi Alan?" Tanya Tuan Kurt.


"Tidak Tuan," jawab Ace.


"Aku ingin kamu bekerja untuk ku," ujar Tuan Kurt langsung.


Ace nampak mengerutkan keningnya mendengar permintaan Tuan Kurt.


"Ini kartu nama ku. Datanglah ke sana besok lusa, aku akan menjelaskan kepada mu lebih detail," ujar Tuan Kurt sambil melempar kartu namanya ke arah Ace.


Ace mengambil kartu nama Tuan Kurt.


"Aku bekerja di dunia bawah tanah,"


Deg!


"Bawah tanah?" Batin Ace.


"Anda?" Ucap Ace menggantung.


"Yaa, aku banyak meminta bantuan orang untuk melancarkan apa yg aku inginkan. Aku jujur saja kepada mu, karena aku melihat mu bukan hanya sebagai pria yg jago bela diri saja. Tapi kamu memiliki kemampuan lebih," jawab Tuan Kurt.


"Jeli juga pria tua ini," batin Ace.


"Anda terlalu mudah membuka jati diri anda kepada orang baru seperti saya Tuan," ujar Ace.


"Hahhahahahh, entahlah aku hanya yakin dengan melihat cara mu bertarung dan juga taktik mu," jawab Tuan Kurt.


Ace tersenyum tipis.


"Saya akan datang. Selamat beristirahat Tuan," ujar Ace yg langsung meninggalkan ruang rawat inap Tuan Kurt.


Tuan Kurt tersenyum melihat sikap acuh Ace.


"Aku menemukan orang yg tepat untuk mencari keturunan mu Igor."


Dirumah Ace dan Ruby,


Ruby begitu khawatir dan panik saat melihat penampilan Ace yg lusuh, banyak noda darah di jas dan kemeja Ace.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Mana yg luka?" Tanya Ruby.


"Ayo duduk dulu," ujar Ace menggandeng tangan Ruby.


Ace dan Ruby duduk disofa ruang tengah.


"Aku tidak apa-apa. Aku tidak terluka sedikitpun," ujar Ace dengan lembut.


"Lalu ini darah siapa? Dan kenapa kamu seperti habis bertengkar?" Tanya Ruby.


"Baiklah aku akan bercerita sayang. Sudah jangan khawatir," jawab Ace.


Ace kemudian menceritakan kejadian yg dialaminya saat melakukan tugas pengamanan. Tanpa di duga-duga ada penyusup berjumlah 5 orang yg ingin mencelakai Tuan Kurt Edlind. Berkat kerja sama antara Ace dan Nicho juga dibantu rekan-rekan yg lainnya penyusup tsb berhasil di lumpuhkan.


Tidak ada korban jiwa, namun ada beberapa orang yg ada didalam acara tsb mengalami luka-luka ringan. Disinyalir para penyusup itu adalah musuh pribadi dari Tuan Kurt Edlind yg notabene seorang pengusaha kaya dan juga memiliki pengaruh kuat di Rusia, walau Tuan Kurt Edlind bukan warga negara Rusia.


Ruby merasa lega karena Ace tidak terluka sama sekali.


"Jangan kerja seperti itu lagi," ujar Ruby dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu?" Tanya Ace.


"Ya sudah kerja yg lain saja, asal jangan yg membahayakan nyawa mu," jawab Ruby asal.


"Kamu yg menginginkan agar aku bekerja dan menghasilkan uang sendiri tanpa mengandalkan warisan dari kedua orang tua ku kan?" Ujar Ace.


Deg!


Ruby kaget saat Ace mengatakan hal tsb.


"Apa Ace tersinggung?" Batin Ruby.


"Tapi jangan yg berbahaya seperti ini," balas Ruby.


"Minat ku di bidang seperti ini dan aku akan tetap bekerja di bidang ini. Aku orang yg memiliki prinsip tinggi Ruby, aku memang sangat mencintai mu. Tapi, bila kamu tidak ingin hidup dengan hasil warisan kedua orang tua ku, aku akan mengabulkannya," ujar Ace dengan serius.


Hati Ruby rasanya sakit saat Ace berucap seperti itu, sungguh bukan maksud Ruby tidak menghargai peninggalan kedua orang tua Ace tapi, Ruby ingin belajar mandiri. Ruby tidak menyangka dibalik sikap santai Ace, pria tampan itu memilih memendam rasa kecewanya kepada Ruby.


"Maafkan aku Ace, aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai peninggalan kedua orang tua mu. Tapi, aku ingin kita mandiri itu saja," balas Ruby merasa bersalah.


"Aku mengerti By. Doakan saja aku selalu sehat dan dilindungi oleh Tuhan, agar kita bisa selalu bersama," ujar Ace tidak ingin bila Ruby sampai merasa sedih.


"Aku minta maaf," ucap Ruby lirih.


"Kamu tidak salah, jadi jangan meminta maaf. Sekarang bantu aku membersihkan diri," ujar Ace mengakhiri perdebatan mereka.


"Iya aku akan membantu mu," jawab Ruby masih menunduk.


"Aku sangat lelah setelah melewati hari ini yg cukup berat. Bisakah gadis cantik ku ini membuat ku lebih bersemangat lagi?" Bisik Ace lembut di telinga Ruby.


Blush!


Wajah Ruby langsung memerah saat mendengar bisikan m*sum dari Ace.


"Bisa?" Tanya Ace lagi.


Ruby mengangguk malu-malu.


Ace langsung menggendong Ruby masuk ke dalam kamar mereka.


Malam hari,


Ace melihat Ruby yg sedang duduk didepan meja riasnya sambil memakai krim wajah. Ace yg duduk didekat jendela terus menatap Ruby, entah apa yg ada didalam pikiran Ace. Ace tersenyum saat Ruby menoleh ke arah Ace.


"Kenapa duduk disitu? Ayo cepat tidur," ujar Ruby berjalan mendekati Ace.


"Kenapa kamu begitu cantik, Ruby?" Ujar Ace.


Wajah Ruby memerah mendengar pertanyaan Ace.


"Aku sangat mencintai mu," ujar Ace memeluk Ruby dari belakang.

__ADS_1


"Aku juga mencintai mu," balas Ruby.


"Ayo kita tidur," ajak Ruby.


Ace mengangguk.


Keesokan harinya.


Ruby bersiap berangkat ke tempat kursus bahasa, sedangkan Ace menunggu diruang tamu.


"By, setelah mengantar mu, aku akan pergi menemui Tuan Alan membicarakan masalah gaji ku," ujar Ace berbohong.


"Iya sayang, hati-hati ya nanti," jawab Ruby.


"Pasti sayang," balas Ace.


Beberapa saat kemudian,


"Segera hubungi aku kalau kamu sudah selesai," ujar Ace.


"Iyaa aku mengerti. Tumben sampai ikut turun," jawab Ruby heran dengan Ace yg biasanya tidak pernah sampai ikut turun bila mengantarnya kursus.


"Aku hanya ingin melihat istri ku ini masuk kelas dengan selamat," ujar Ace.


"Terima kasih suami ku," balas Ruby.


Deg!


"Aah, seperti ini ya senangnya di panggil suami," batin Ace senang.


"Ya sudah sana masuk," ujar Ace.


"Aku masuk dulu. I love you," jawab Ruby.


"I love you more," balas Ace.


Ruby sejenak melambaikan tangan kepada Ace lalu masuk ke dalam ruangan kelas. Ace berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju sebuah tempat.


Selama diperjalanan Ace hanya memikirkan tentang Ruby. Hanya Ruby yg ada di otak Ace, Ruby benar-benar menguasai Ace.


Ace turun dari mobilnya dan,


"Saya mencari Tuan Kurt Edlind, Kenzo Takahashi," ujar Ace kepada salah satu penjaga rumah Tuan Kurt.


"Silahkan masuk," jawab si penjaga.


Rumah mewah bergaya mediterania itu begitu luas, hingga memiliki semua fasilitas mewah.


Ace disambut langsung oleh Tuan Kurt yg sudah menunggunya di ruang kerjanya.


"Tidak susah kan mencari rumah ini?" Tanya Tuan Kurt.


"Tidak," jawab Ace.


"Mau minum?" Tawar Tuan Kurt.


"Tidak!" Jawab Ace.


"Aku ingin kamu bekerja untuk ku," ujar Tuan Kurt.


Ace tersenyum tipis mendengar permintaan Tuan Kurt.


"Untuk?" Tanya Ace.


"Mencari seseorang," jawab Tuan Kurt.


"Aku bukan detektif atau polisi," ujar Ace.


"Lebih dari sekedar mencari, tapi juga mengambil semua hak ku yg dibawa oleh orang itu lalu melenyapkannya," ujar Tuan Kurt.


"Siapa?" Tanya Ace.

__ADS_1


"Keluarga Igor Mikhailov."


Tbc,


__ADS_2