The Ace

The Ace
Wishes


__ADS_3

Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku percaya Tuhan pasti ikut campur dalam hubungan kita. Aku akan sabar, menanti saat itu tiba Ace. Bangun sayang! Bangun! Ayoo bangkit! Ayo temukan aku, aku disini menunggu mu Ace bersama calon buah hati kita sayang.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dengan begitu cepat hingga sampai di usia kehamilan ke 8 bulan ini Ruby masih setia menunggu kabar baik dari Nicho yang juga sedang berusaha sebaik mungkin di Jepang sana. Tak ada kata putus asa dan menyerah wanita cantik itu terus berdoa agar Tuhan memberikan sedikit keajaiban agar dirinya dan Ace bisa bertemu dan bersatu lagi seperti dulu bahkan angan-angan Ruby, ingin saat dia melahirkan nanti Ace bisa menemaninya dan menyambut calon buah hati mereka bersama.


"Elena," panggil Tuan Kurt.


"Ya," jawab Ruby singkat.


Huufftt ...


Yaa hanya mendengus lelah yang bisa dilakukan Tuan Kurt, karena Ruby masih sama saja tetap tidak mau memanggilnya Papa dan tidak mau mencoba mengakrabkan diri dengan Tuan Kurt.


"Ayo kita makan siang?" Ajak Tuan Kurt lembut.


"Maaf, tapi nanti saya harus ke rumah sakit karena ada kegiatan amal untuk para ibu hamil. Jadi saya makan siang di Rumah Sakit saja bersama Perawat Jessie," jawab Ruby dengan nada datar.


Mendengar jawaban Ruby, rahang tegas Tuan Kurt mengetat. Bukan tidak suka tapi dia merasa bahwa Ruby terlalu sering menghabiskan waktunya di rumah sakit sederhana khusus ibu dan anak tsb. Memang Tuan Kurt yang menyarankan Ruby untuk bersosialisasi di rumah sakit itu tapi, bukan malah terus-terusan berada di rumah sakit itu.


"Apa tidak bisa besok saja sayang ke rumah sakitnya? Papa ingin mengajak mu makan siang bersama di Resto favorit Papa," bujuk Tuan Kurt sekali lagi.


"Maaf Tuan, ini kegiatan penting. Saya sudah berjanji dan mengagendakan acara ini dari lama bersama Perawat Jessie. Akan sangat tidak baik bila saya tidak datang," jawab Ruby dengan tegas.


"Baiklah sayang, Papa mengerti. Kamu boleh ke rumah sakit," ujar Tuan Kurt pasrah.


Tuan Kurt akhirnya tetap mengalah karena dia tidak ingin Ruby semakin membencinya dan membiarkan putri cantiknya pergi ke rumah sakit tsb tanpa di awasi Simon yang sedang berada di perusahaan Tuan Kurt karena ada berkas penting yang harus Simon sendiri turun tangan untuk mengawasi.


Beberapa jam kemudian,


"Elena, kamu masuk saja dulu. Nanti biar aku yang menyelesaikannya," ujar Perawat Jessie.


"Eehmm, tapi apa tidak apa-apa saya tidak membantu?" Jawab Ruby ragu-ragu.


"Hei, aku bisa di bun*h Tuan Besar bila kamu sampai lelah. Sudah sana masuk sayang," balas Perawat Jessie seraya mengantar Ruby ke dalam ruangan family di dalam rumah sakit tsb.


Ruby duduk beralaskan matras yoga sendirian, sementara disekelilingnya para peserta alias ibu hamil (janda) bersama para relawan sudah duduk berdampingan karena sebentar lagi kelas senam kehamilan tingkat akhir akan di mulai.


Ruby berkali-kali menoleh ke belakang lebih tepatnya ke arah pintu masuk ruangan family. Hatinya sungguh gelisah, karena semalam Nicho memberi kabar bahwa Ace sudah ada di New York dan Nicho bertemu dengan kekasih hati Ruby itu. Ingin sekali Ruby menangis, karena sampai pukul 3 sore belum ada tanda-tanda Ace datang sedangkan kelas senam ibu hamil sudah hampir dimulai.


"Sayang, apakah Otousama tidak akan datang?" Gumam Ruby sembari mengusap perut buncitnya.


Dug!


Aaww!


"Hehehe, iya sayang. Otousama pasti datang, sampai-sampai kamu menendang begini," gumam Ruby tersenyum sedih.

__ADS_1


Hati wanita cantik itu begitu berharap Ace akan segera datang. Kerinduannya kepada pria tampan itu sudah tak terbendung lagi, berbulan-bula Ruby mencoba dan berpura-pura baik-baik saja. Padahal hati dan otaknya sangat rapuh dan hampir ingin menyerah, hanya menangis dan terus berdoa yang ia lakukan agar hatinya lebih tenang.


"Berjanjilah, kamu akan kuat sayang bila nanti Otousama tidak datang. Kita akan terus berusaha bersama agar bisa bertemu Otousama, kita pasti bisa sayang."


Disela-sela obrolan dengan bayi yang ada diperutnya, Ruby merasakan ada seseorang di belakangnya dan,


Grep!!


"Aku mencintai mu Ru..by,"


Jeder!!!!!!!!


Tes!


Tangan kekar Ace terasa dingin dan basah terkena lelehan air mata dari wanita tsb.


"Terima kasih sudah da..tang, aku telah lama menunggu mu suami ku,"


Hiikss!!!


Ini seperti mimpi yang sangat tidak mungkin untuk terkabul menjadi kenyataan. Pria yang selama ini dirindukannya kini tengah mendekapnya dan mereka bertemu berkat campur tangan Tuhan melalui seorang pria baik bernama Nicholas Sanders.


"Terima kasih Tuan Nicholas Sanders."


Flashback End.


"Jadi Papa harus memanggil mu Elena atau Ruby Nak?" Tuan Tetsuya memecah keheningan.


Senyuman Ruby yang cantik terukir diwajahnya saat Tuan Tetsuya bertanya.


"Terserah Pa..pa saja," jawab Ruby agak canggung mengucapkan Papa untuk pertama kalinya kepada Tuan Tetsuya.


"Ruby saja, karena Ruby lebih cocok dengan mu yang begitu bernilai nan indah seperti batu Ruby," ujar Diego menyela.


Ruby dan Ace tersenyum mengangguk.


"Papa, besok aku akan langsung menemui Kurt. Aku tidak ingin semua semakin rumit, mau tidak mau Ruby adalah istri ku dan dia harus terima itu," ucap Ace dengan serius.


"Papa mendukung mu, Kurt harus menerima mu dia tidak bisa bersikap bodoh seperti itu memisahkan mu dengan Ruby. Papa akan menghubungi orang kita agar bersiap karena Kurt bisa saja melakukan hal nekad," balas Tuan Tetsuya menyetujui ucapan Ace.


Ace mengangguk mengerti.


"Sayang, ayo kita pulang kerumah. Disana akan aman untuk mu, lagipula kamu pasti lelah," ujar Ace lembut kepada Ruby.


Dengan manja Ruby bergelayut di lengan kekar Ace.

__ADS_1


"Ayo suamiku," jawab Ruby.


Cup!


Ace mengecup kening Ruby dengan lembut.


Beberapa jam kemudian,


Ruby sudah membaringkan tubuhnya yg berisi diatas ranjang besar dan nyaman, sementara Ace berganti pakaian.


"Nanti malam aku akan kerumah Papa mu sayang," ujar Ace berjalan kearah Ruby.


Seketika Ruby duduk dan menatap Ace dengan resah.


Puk!!


Ace disamping Ruby.


"Jangan khawatir, kita sudah resmi menikah dan Beliau tidak akan bisa memisahkan kita," ujar Ace.


"Kenapa kamu tidak marah dengan Tuan Kurt?" Tanya Ruby heran.


Ace tersenyum mendengar pertanyaan Ruby.


"Mau tidak mau, suka tidak suka Tuan Kurt adalah Papa mu. Dia orang tua mu, aku tidak marah sama sekali bahkan mungkin bila aku diposisi beliau aku akan melakukan hal yang sama. Beliau berpuluh tahun tak bertemu dengan mu dan setelah bertemu dengan mu, kamu malah mencintai seorang pria dari kalangan kriminal seperti ku. Tentu saja beliau tidak ingin putrinya mengalami masalah bila hidup dengan pria seperti ku," jawab Ace menjelaskan dengan sabar.


"Tuan Kenzo dan Nyonya Ayana, anda berdua telah berhasil mendidik pria di depan ku ini menjadi pria kuat, mandiri, namun sangat baik dalam segala hal. Terima kasih," batin Ruby terharu dengan sikap Ace yang sangat dewasa juga bijaksana.


"Aku mengerti Ace, aku akan selalu percaya kepada mu," ujar Ruby memeluk Ace.


"Harus sayang, harus! Hanya aku yang boleh ada di otak dan hati mu," balas Ace sambil mengeratkan pelukan.


"Aku akan ikut dengan mu nanti malam," ujar Ruby.


Ace perlahan melepaskan pelukan mereka.


"Apa kamu yakin?" Tanya Ace.


"Tentu saja, aku yakin Beliau akan mengerti dan akan merestui kita. Aku yakin," jawab Ruby yakin.


"Baiklah, kita akan pergi nanti ke rumah Papa," balas Ace tersenyum.


"Cinta kamu Ace,"


"Aku lebih mencintaimu Sayang."

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2