The Ace

The Ace
Come True


__ADS_3

Mungkin aku pria yang kuat, dari fisik juga mental ku. Tapi, bila harus berhadapan dengan cinta, jelas aku tak akan bisa sekuat baja. Ayana Sora yang mengajarkan ku arti cinta dan kelembutan hati. Aku tak hanya harus kuat dalam segala hal tapi aku harus memiliki sisi lembut dan cinta. Ya, karena ajaran itulah yang sekarang membuatku begitu mencintai, ingin memiliki, ingin melindungi dan mampu melakukan apa saja demi seorang wanita bernama Ruby. Apapun yang terjadi nanti, percayalah bahwa kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan kita Sayang.


Brakkkk!!!!


Prangg!!!


"Bod*h kau Simon!!!! Breengs*k!!!"


Bughh!!


Akkhh!!!


Buughh!!!


"Maa..afkan saya Tuan."


"Sial*n kau Simon."


Tak ada yang berani mendekat ke ruang tengah di rumah megah itu yang sekarang kondisinya bagaikan kapal pecah. Semua barang nampak hancur, dan ada Simon yang sudah terkapar tak berdaya dilantai akibat amukan emosi Tuan Kurt yang sangat murka ketika mengetahui Ruby/Elena berhasil kabur dibawa oleh Ace.


"Bocah Jepang itu nampaknya ingin main-main dengan ku. Baiklah, aku akan meladeninya. Simon!!!! Bangun," ujar Tuan Kurt dengan nada tinggi.


Dengan susah payah Simon bangkit dan berdiri tertunduk di depan Tuan Kurt.


"Saya Tuan," ujar Simon tegas walau harus menahan rasa sakit.


"Siapkan semuanya, nanti malam kita bergerak! Ambil Ruby tapi awas jangan sampai melukai permata ku," titah Tuan Kurt tak terbantahkan.


"Mengerti Tuan," balas Simon yang kemudian berjalan meninggalkan Tuan Kurt.


Tuan Kurt juga akhirnya meninggalkan ruang tengah yang porak poranda tsb menuju ruang kerja pribadinya.


"Tuan Simon, tunggu!"


Simon menghentikan langkahnya.


"Mau apa?" Tanya Simon dingin.


"Apa yang terjadi kepada Tuan?? Kenapa anda diam saja?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Apa urusan mu??" Tanya balik Simon tidak suka.


"Ehm.. anda jadi terluka seperti ini," jawab si wanita.


"Bukan urusan mu. Aku seperti ini karena kesalahan ku sendiri yang teledor dan bodoh tidak mampu menjaga Nona Muda. Aku ingatkan, jangan sok dekat dengan ku, permisi!" Ujar Simon yang langsung pergi meninggalkan wanita paruh baya tsb yang terlihat kecewa.


"Simon,"


Beberapa jam kemudian,


Tuan Kurt dan Simon berserta anak buah lainnya sudah bersiap akan pergi mencari Ruby namun tiba-tiba,


"Permisi Tuan besar, ada tamu istimewa yang sudah menunggu di depan," ujar salah satu pelayan di rumah Tuan Kurt.


Tak ada jawaban dari Tuan Kurt.


"Persilahkan masuk ke ruang perjamuan," ujar Simon.


"Baik Tuan Simon. Permisi," jawab sang pelayan yang kemudian undur diri meninggalkan ruangan Tuan Kurt.


"Mungkin orang suruhan pria Jepang itu Tuan," ucap Simon memecah keheningan.

__ADS_1


Lagi-lagi tak ada jawaban.


Sementara itu,


"Silahkan Nona dan Tuan, mari ikut saya ke ruang perjamuan."


Tap!


Tap!


Tap!


Ceklek!


"Silahkan, mohon ditunggu. Sebentar lagi Tuan Kurt akan segera menemui anda. Saya permisi."


Jret!!


Pintu tertutup.


2 menit kemudian pintu ruang perjamuan di rumah Tuan Kurt kembali terbuka dan,


"Elena...," Ujar Tuan Kurt tak percaya melihat Ruby berdiri di dalam ruangan tsb.


Tuan Kurt tanpa pikir panjang langsung berjalan cepat menghampiri Ruby dan langsung memeluk Ruby dengan erat.


"Jangan membuat Papa khawatir Nak, jangan begini," ujar Tuan Kurt dengan nada bergetar.


"Saya tidak kemana-mana Papa, saya hanya ingin bertemu dengan suami saya."


Deg!!


"Apa kau tuli Tuan?? Putri mu sudah memanggilmu Papa. Kau malah fokus kepada ku yang mempesona ini?" Ujar Ace mengejek.


"Apa kau bilang?? Breng.."


"Papa!! Stop!"


Ucapan Tuan Kurt langsung dipotong oleh Ruby dengan tegas.


"Duduk," ujar Ruby.


Ace dan Tuan Kurt secara spontan langsung duduk bersamaan.


"Saya kesini, karena pria yang anda bilang brengs*k ini begitu sangat menghormati anda dan mengingatkan saya bahwa anda begitu mencintai saya dan tidak ingin satu apapun yang buruk terjadi kepada saya. Saya tidak membenci anda, tapi saya hanya sangat tidak setuju dengan pemikiran anda bahwa dia Ace, membawa hal buruk kepada saya hingga anda memisahkan saya dengan bapak dari calon cucu anda! Apa anda ingin menjadi Igor???? Mengulang kisah kelam, dipisahkannya seorang anak dari kedua orang tuanya?? Haaa? Apa itu mau anda??? Jawab KURT EDLIND YANG TERHORMAT!!!!!


JEDERRR!!!!!


Ace membelalakkan kedua matanya saat mendengar dan melihat Ruby begitu tegas dan emosi saat menyuarakan isi hatinya kepada Tuan Kurt.


Hening....


Tak ada satu kata atau sahutan dari bibir Tuan Kurt. Namun yang terdengar adalah,


Hikks...


Tes...


"Aku sangat takut kehilangan mu Nak, aku takut!"


Tak ada yang menyangka bila, pria kokoh, kuat, tegas dan kejam itu menangis pilu didepan putri dan menantunya. Ya, Tuan Kurt menangis sejadi-jadinya karena benar apa yang dikatakan Ruby. Bahwa dia tak ubahnya seperti Tuan Igor yang telah kejam memisahkan dirinya dengan Nyonya Elena juga Ruby.

__ADS_1


"Maafkan Papa, Sayang. Maaf," ujar Tuan Kurt tertunduk dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


Grep!!


Ace dengan cepat menahan tubuh lemah Tuan Kurt agar tidak sampai menyentuh lantai.


"Apa yang anda lakukan?? Haa? Peluk putri mu," ujar Ace kepada Tuan Kurt.


Tuan Kurt mengangguk dan dibantu Ace berdiri, Tuan Kurt ingin memeluk Ruby.


Grep!!!


"Aku senang saat tahu Papa ku masih hidup, aku senang. Tapi tolong jangan pisah aku dan Ace, aku mohon Pa!"


Tuan Kurt kembali menangis hebat saat tubuhnya dipeluk secara tiba-tiba oleh Ruby. Tak ada yang mampu membuat Tuan Kurt sebahagia ini, karena Ruby terus memanggilnya Papa dan ternyata Ruby bahagia karena dia adalah Papanya.


"Papa minta maaf Elena, Papa berjanji kita akan berkumpul semua. Papa tidak akan memisahkan mu dari Ace lagi, Papa janji sayang," ujar Tuan Kurt bersungguh-sungguh.


Hikkss!!


"Elena sayang Papa."


Deg!!


Pov Tuan Kurt,


Elena, sayang istri ku. Lihatlah, sekarang putri kita sudah kembali. Dia memeluk ku sayang, dia memanggil ku Papa. Aku bahagia Elena Istri ku. Terima kasih sudah menyampaikan keinginan ku kepada Tuhan, terima kasih sayang. Aku mencintai mu istri ku.


End.


Ace tersenyum bahagia melihat Ruby dan Tuan Kurt kini sudah berdamai. Hatinya lega karena begitu mudah dan cepat Tuan Kurt luluh oleh ucapan Ruby yang sangat wow!


"Ace," panggil Tuan Kurt.


"Iya, anda memanggil saya?" Balas Ace tengil.


"Mau ku hajar kau!!" Sahut Tuan Kurt emosi.


Hahahahhahaha...


Ace tertawa melihat ekspresi Tuan Kurt.


Grep!


"Terima kasih Tuan! Anda mau memberikan saya kesempatan menjaga dan mencintai Elena seumur hidup saya," ujar Ace seraya memeluk tubuh Tuan Kurt secara tiba-tiba.


"Huuffftt," Tuan Kurt menghela nafasnya dan membalas pelukan Ace lalu berkata,


"Bahagiakan dia Ace, cintai dia, jaga dia, tapi tolong jangan bawa dia jauh dari ku."


"Kita akan hidup bersama Tuan, anda, saya dan Elena juga kelak malaikat kecil di dalam perut Elena. Kita akan selalu bersama, karena anda adalah orang tua ku juga," ujar Ace penuh rasa haru.


Tak ada kata yang keluar dari bibir Tuan Kurt, hanya suara sesenggukan pria paruh baya itu karena tak kuasa menahan rasa haru juga bahagia di sisa usianya dia bisa bahagia berkumpul dengan orang-orang terkasih.


"Papa?? Sayang?? Kalian akan terus berpelukan atau?" Terdengar suara Elena menyadarkan dua pria sangar itu dan langsung melepaskan pelukan mereka.


"Kau gila Ace, terus saja memeluk ku," teriak Tuan Kurt.


"Dasar tua g*la,"


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2