
Okachan, Otouchan!!! Terima kasih sudah meminta kepada Tuhan untuk mengembalikan jiwa ku lagi. Dia ada didepan mata ku, dia hamil! Hamil 8 bulan, aku akan menjadi Ayah! Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan ku kebaikan yg tak ternilai ini. Ruby, telah kembali dan tidak akan pernah pergi lagi.
Tak ada yang mampu di ucapkan oleh pria bernama Ace Xzander Inagawa itu. Hanya air mata dan air mata yg terus saja keluar dari mata tajamnya. Selama 7 bulan, hidup Ace di selimuti kegelapan, kehampaan, keputusasaan dan penyesalan. Berkali-kali mencoba bunuh diri namun selalu gagal, sungguh Ace ingin mati saat tahu belahan jiwanya telah pergi untuk selamanya.
Namun kini, dengan kebaikan hati Nicholas Sanders dan campur tangan Tuhan. Ace bisa memeluk Ruby, ya Ruby. Wanita yang amat sangat dicintainya itu.
"Benarkah ini ka..mu?" Tanya Ace sambil menangis sesenggukan.
"I..ya ini aku. Ruby mu," jawab Ruby juga ikut menangis sedih.
"Apa aku tidak bermimpi?" Tanya Ace lagi dengan nada bergetar.
Cup!
"Tidak! Kamu tidak mimpi, karena aku memang masih hidup dan ada didepan mu," jawab Ruby mencium bibir Ace.
Hiikkss....
Tangis Ace semakin pecah, meraung, menangis bahagia karena dirinya benar tidak sedang bermimpi.
"Aku sangat merindukan mu sayang," ujar Ace terus menangis.
"Aku juga amat sangat merindukan mu Suami ku," balas Ruby.
Tak ada lagi yang dapat mereka berdua ungkapkan. Hanya euforia kebahagiaan yang sangat menggebu-gebu di dalam hati dua insan yang terpisah cukup lama itu.
Ace terus memeluk Ruby seakan tak ingin Ruby pergi.
"Ace tolong jangan terlalu erat, anak kita bisa sesak," ujar Ruby dengan sedikit melonggarkan pelukan Ace.
Deg!
"Gobl*k!!! Ruby hamil," batin Ace baru menyadari.
"Maafkan aku sayang, maaf! Aku terlalu bahagia hingga tidak menyadari bahwa ada malaikat didalam sini," ujar Ace seraya mengusap lembut perut buncit Ruby.
"Ace bawa aku pergi," ucap Ruby tiba-tiba.
Deg!
Jantung Ace kembali berpacu saat mendengar ucapan Ruby.
"Karena terlalu bahagia sampai tidak berpikir kemana kamu selama ini. Ayo kita ke ruangan sebelah," ujar Ace menggandeng Ruby.
Perawat Jessie sudah paham akan kondisi mereka, jadi wanita baik itu menyiapkan sebuah ruang rawat inap yang seolah-olah sudah dipesan untuk pasien paska melahirkan.
Di dalam ruang rawat inap,
Ruby terus berada dalam dekapan hangat Ace dan tak ingin lepas. Kerinduannya kepada pria tampan itu sudah sangat menggunung dan tak terbendung lagi.
"Aku sangat merindukan mu, aku ingin kamu," ujar Ruby dengan suara manja.
Ace tersenyum lembut, seoalah mengerti keinginan Ruby.
"Apa tidak apa-apa, bila kita melakukannya?" Tanya Ace ragu.
"Tidak apa-apa, justru akan bagus menjelang masa persalinan," jawab Ruby dengan senyum cantiknya.
"Aku tutup semua tirainya dulu," balas Ace.
Ruby mengangguk.
Ace menutup semua tirai yg ada, tak lupa mengunci pintu dan Ace menghubungi salah satu kobun untuk berpakaian santai dan berjaga di sekitar ruang rawat inap tsb.
"Aku akan berusaha melakukannya dengan lembut agar anak kita baik-baik saja," ucap Ace seraya melepas satu persatu pakaian yang dipakai Ruby.
Ruby hanya bisa pasrah, karena inilah yg amat diinginkannya. Mungkin karena hormon kehamilannya juga yg mempengaruhi Ruby yang begitu menginginkan Ace.
"Kamu sangat indah istri ku," bisik Ace yg terpukau dengan tub*h Ruby yg tengah berbadan dua itu.
"Lakukan suami ku, lakukan!" Balas Ruby dengan agresif.
Tanpa banyak bicara, Ace mulai mencumb* Ruby dengan lembut. Ace memanjakan Ruby dan membuat Ruby tenang juga nyaman.
__ADS_1
"Boleh?" Tanya Ace.
"Heeem," jawab Ruby.
Ruby sedikit memb*ka kedua kakinya agar Ace bisa leluasa menikmat* liang surg* dunia itu.
Ruby merem*s rambut Ace, saat lid*h Ace menyentuh l*ang kewan*taan Ruby. Ruby terus mend*sah dan meracau merasakan sensasi nikm*t yg diberikan oleh Ace.
"Ace, a..ku ke..lu..ar," ujar Ruby terbata-bata.
"Benarkah?? Keluarkan sayang, keluarkan!" Jawab Ace disela-sela permainannya dan terus membuat Ruby gelisah, hingga...
"Aakkhh!!!"
Ace tersenyum, melihat wanita cantik yang amat dicintainya itu bergetar hebat merasakan kl*maks walau hanya dengan permainan ringan dari Ace.
"Ace..," ucap Ruby.
Bukannya menjawab, tapi Ace justru membersihkan cair*n kewanita*n Ruby dengan lid*hnya tanpa rasa jijik sama sekali, Ace nampak menikmatinya.
"Aku sangat merindukan mu," ujar Ace yg berada di atas Ruby.
"Aku juga," balas Ruby dengan wajah memerah.
"Sekarang waktunya surga dunia yg sebenarnya."
Ace begitu tak percaya, kini didalam dekapannya ada wanita yg selama 7 bulan ini menghilang dan di anggap telah meninggal. Ruby tertidur pulas setelah kelelahan memadu kasih dengan Ace.
Kring..
Kring ..
"Ya!"
"......"
"Siapkan mobil lain yg biasa saja, aku akan lewat belakang."
"......"
"......"
"Jangan sampai mencolok, aku tidak ingin kehilangan istri ku lagi."
"......."
"Aku tunggu 10 menit lagi." Tut!
Setelah mematikan panggilan telepon, Ace membangunkan Ruby.
"Sayang, bangun! Ayo bangun dulu," ujar Ace membelai lembut pipi Ruby.
"Eeunghh, maaf aku malah tertidur," jawab Ruby.
"It's Okay, bersiaplah aku akan membawa mu pergi bersama ku dan kita akan menikah," ujar Ace.
Mata Ruby langsung terbuka lebar dan begitu berbinar mendengar kata-kata Ace.
"Aku sudah siap, bahkan sangat siap!" Jawab Ruby dengan penuh semangat.
"Hahahaha, love you By," ucap Ace tertawa.
"I love you more Ace," balas Ruby.
Sedangkan ditempat berbeda,
Nampak seorang pria gagah meskipun tak lagi muda, terlihat begitu gelisah. Pria tsb berjalan mondar mandir seperti menunggu kabar agar hatinya lega.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Masuk!"
Ceklek!
"Permisi Tuan," ujar seorang pria lain yg baru saja masuk.
"Heem, bagaimana? Dia benar-benar pergi ke rumah sakit itu?" Jawab Pria Tua tsb.
"Iya Tuan! Nona benar-benar ke rumah sakit, dan sekarang masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Menurut informasi dari perawat Jessie, Nona nanti akan melakukan kegiatan amal untuk janda-janda yg sedang hamil," beritahu pria yg baru saja masuk.
"Bagus, ya sudah kalau begitu. Awasi dia dari jauh, dia akan marah bila tahu kamu mengawasinya terlalu dekat," ujar Pria Tua.
"Baik! Mengerti Tuan. Kalau begitu saya, akan kembali dulu. Permisi," balas pria tsb.
"Heem," sahut pria tua.
Selepas orang kepercayaannya pergi, pria paruh baya itu duduk di kursi kerja kebesarannya seraya memandangi sebuat bingkai foto yg terpasang rapi di dinding dalam ruang kerjanya.
"Elena... Sayang ku. Dia benar-benar mirip dengan mu, hanya saja matanya yg mirip dengan ku. Elena, bisakah kau meminta Tuhan agar Dia memberikan mu hidup kembali? Agar kita bisa berkumpul bersama. Elena... Dia membenci ku! Dia tidak mau memanggil ku Papa. Dia hanya ingat dengan pria Jepang itu, dia selalu ingin bertemu pria sialan itu. Elena, bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya dan ingin dia hidup bahagia bersama ku saja. Elena... Bantu aku, bantu aku."
Kembali ke Ace dan Ruby,
"Sayang, kita kemana?" Tanya Ruby.
"Kita akan menikah di gereja, Diego sudah menyiapkan semuanya. Setelah menikah, baru kamu ceritakan semua yg sebenarnya terjadi," jawab Ace.
"Baiklah, lebih cepat lebih baik kita menikah," sahut Ruby tersenyum cantik.
"Kamu memang wanita ku," ujar Ace mendekap hangat Ruby.
Mobil van lawas berwarna coklat itu melaju cepat menuju sebuah gereja tak jauh dari rumah sakit tempat dimana Ruby dan Ace bertemu.
Tak sampai 30 menit,
Ace dan Ruby sudah sampai di gereja yg telah disiapkan oleh Diego untuk mereka berdua menikah.
"Apa sudah siap?" Tanya Ace kepada Diego yg masih terpaku bingung melihat Ruby dengan perut buncitnya.
"Dia hamil anak ku, bisa ku pastikan itu! Ayo cepat! Mana pendetanya," ujar Ace lagi.
"I..yaa ayo," jawab Diego tergagap.
Tanpa menunggu waktu lagi, Ace dan Ruby mengucap janji suci pernikahan di saksikan Diego, Jeremy dan Tuan Okada.
"Selamat anak ku," ujar Tuan Okada memeluk Ace.
"Terima kasih Uncle," jawab Ace.
"Ruby kamu memiliki hutang untuk menjelaskan kepada kami semua," ujar Tuan Okada sambil bergantian memeluk Ruby.
"Iya Uncle, aku akan menjelaskan semua. Dan terima kasih sudah repot-repot menyiapkan semua ini untuk pernikahan ekspress kami," balas Ruby.
Semua orang tertawa bahagia atas pernikahan Ace dan Ruby.
Setelah mendapat pesan-pesan dari pendeta, rombongan Ace dan Ruby bergegas meninggalkan gereja menuju rumah sakit tempat Tuan Tetsuya dirawat, sekaligus Ace ingin memeriksakan kandungan Ruby.
"Kamu ingin anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya Ruby.
"Kamu tidak tahu jenis kelamin anak kita?" Tanya balik Ace.
Ruby menggeleng.
"Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar saat aku melahirkan ada kamu di sisi ku. Dan aku yakin bahwa kita berdua akan pergi ke dokter bersama-sama untuk melihat jenis kelamin anak kita," ujar Ruby.
Grep!
Ace membawa Ruby ke dalam pelukannya.
"Terima kasih kamu begitu setia menunggu ku. Aku minta maaf karena aku bodoh, terkurung didalam kesedihan ku yg kehilangan mu," balas Ace penuh haru.
"Tidak apa, karena aku yakin Ace hanya untuk Ruby."
Tbc
__ADS_1