
Peluru itu melesat dengan cepat menembus dada sang Presiden. Seketika itu, tubuh pria besar itu langsung ambruk ke lantai. Semua orang panik, para penjaga langsung membawa tubuh Presiden yang sudah bersimbah darah. Akibat dari penembakan itu, Presiden harus dibawa ke bunker.
Para pasukan penjaga Presiden pun panik, mereka sama sekali tidak memperkirakan bahwa semua ini akan terjadi. Padahal, kurang dua menit lagi Presiden baru akan memasuki bunkernya. Mereka semua berlarian kesana kemari mencari sumber tembakan.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?! Bukankah kalian pengawal terbaik Jendral Lahar?! Apa saja yang kalian lakukan?"
Mereka saling tuduh satu sama lain, seperti yang telah Wikar perkirakan.
"Kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi. Kau tidak berhak menyalahkan siapapun." kata seorang pengawal Jendral Lahar yang ditugaskan untuk menjaga Presiden.
Mereka semua berdebat sembari menuju bunker pertahanan. Setelah sampai, penasehat Presiden baru menyadari, kalau Presiden takkan mendapat pertolongan jika tidak ada dokter yang merawatnya. Percuma saja jika mereka membawa Presiden ke tempat aman, kalau keadaanya sedang kritis.
Tidak ada yang mengetahui peristiwa itu kecuali para pengawal Presiden dan juga kelima anggota pasukan Jendral Lahar yang berada di tempat itu. Mereka juga tidak bisa menghubungi Jendral Lahar, karena saluran telah diputus oleh Para Lionet yang menyadap saluran telfon di ruangan itu.
Untunglah, salah satu anggota pengawal Presiden sedikit banyaknya mengetahui tentang luka yang didapatkan oleh Presiden. Ternyata Presiden masih hidup. Dia memang mengalami luka yang sangat parah, bahkan tangannya pun hampir putus. Dia masih belum sadarkan diri.
Wikar dan pasukannya yang mendengar bahwa penembakan itu berhasil dilakukan, merasa cukup tenang, karena dia sudah berhasil memecah belah kepercayaan para pengawal Presiden. Dengan begitu, semuanya akan semakin mudah untuk dilakukan.
Wikar dan pasukannya hanya perlu bersiap untuk bertempur dengan pasukan Jendral Lahar yang sebentar lagi akan sampai.
**Jendral** **Lahar** dan seluruh pasukannya sudah masuk ke kendaraan mereka masing-masing. Sebagian pasukan dibawa menggunakan helikopter untuk mengawasi keadaan dari udara. Mereka tidak tahu, kalau membawa helikopter adalah sebuah bencana besar.
Karena saat ini **Ando** dan pasukannya sudah menyiapkan **Drone** mereka untuk menyerang helikopter yang digunakan oleh para tentara. **Jendral** **Lahar** yang dianggap sudah berpengalaman dalam perang pun, sama sekali tidak menyangka bahwa kematian sedang menantinya.
Ini semua akan menjadi akhir bagi dirinya yang dianggap sebagai orang paling berbahaya. Tapi dia pun tidak tahu, bahwa sekarang yang dia hadapi adalah orang yang jauh lebih berbahaya dari pada dirinya sendiri.
"Jendral! Kita sudah dekat dengan mereka!" kata salah seorang pasukan memberitahu Jendral Lahar.
__ADS_1
"Cari keberadaan mereka. Gunakan Infra Merah." kata Jendral Lahar.
Kamera Infra merah lalu diaktifkan, pada tank yang digunakan oleh Jendral Lahar. Saat dia sedang memperhatikan sekelilingnya, dia dikejutkan dengan beberapa pasukan yang ditembaki dari arah yang tidak diketahui.
Tembakan itu begitu hening dan tidak sama sekali tidak terdengar. Jendral Lahar memerintahkan pasukannya agar tetap waspada dan menyebarkan mereka semua ke seluruh tempat. Bersembunyi dibalik puing-puing bangunan yang runtuh.
Lokasi mereka begitu terbuka, di siang bolong seperti ini, mereka sama sekali tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan. Suasana begitu hening. Lalu terdengar suara lantunan seruling dari salah satu bangunan yang masih utuh. Mereka semua hanya diam dan fokus mendengarkan suara lantunan itu.
Suara itu begitu nyaman terdengar ditelinga mereka, seakan menghipnotis setiap orang yang mendengarnya. Jendral Lahar yang masih di dalam tank pun mendengar suara itu. Dia seperti mengenal suara seruling itu. Seperti tidak asing di telinganya.
"Wikar!"
Salah satu anggota pasukan Jendral Lahar berteriak sembari mengarahkan senjatanya ke arah depan. Dia melihat kalau Wikar berlari keluar dari gedung itu. Mereka semua lalu menembakinya tanpa ampun. Tapi mereka sama sekali tidak mengenai apa pun.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Jendral Wikar kepada pasukannya.
Namun mereka sama sekali tidak mendengarkan perintah dari Sang Jendral. Mereka tetap maju dan mencari keberadaan Wikar. Mereka semua adalah tentara yang dididik oleh Angel. Sehingga mereka bertindak seenaknya sendiri.
Hal ini membuat Jendral Lahar marah. Rencananya kalau balau. Apalagi saat dia melihat, puluhan tentara itu mati karena jebakan yang telah Wikar pasang. Tapi semua itu memberikan keuntungan bagi Jendral Lahar, bahwa tempat ini sudah dipenuhi dengan jebakan.
"Baik Jendral! Semua pasukan! Bersiap untuk maju!"
"Siap!"
"Maju secara perlahan." perintah Jendral Lahar.
"Siap!"
Mereka maju secara perlahan sembari tetap melihat situasi. Mereka memasuki bangunan yang masih untuk dijadikan tempat bersembunyi.
Tetapi, karena terlalu lama memberi tindakan, Wikar memerintahkan Ando untuk menyerang semua pasukan Jendral Lahar dari udara.
"Wikar pada Ando! Masuk!" kata Wikar menghubungi Ando melalui saluran radionya.
"Siap Komandan! Kami menunggu perintah!" jawab Ando.
__ADS_1
"Laksanakan sesuai rencana. Sekarang!"
"Siap!"
**Ando** dan pasukannya langsung melaksanakan perintah dari **Wikar**. Mereka menerbangkan sebagian **Drone** yang telah disiapkan menuju posisi **Jendral** **Lahar**. Sedangkan sebagian lagi akan menyusul para tentara yang berangkat menggunakan helikopter.
Karena jumlah **Drone** yang sangat banyak, suaranya terdengar seperti terompet. Dan jika dilihat dari jauh, akan nampak seperti kawanan burung.
Satu persatu **Drone** itu terbang menuju posisi mereka masing-masing. Sedangkan para pengendali tetap berada di posisi awal mereka. **Ando** dan pasukannya menggunakan ruang bawah tanah sebuah bangunan bekas rumah sakit untuk digunakan sebagai markas.
Jumlah **Drone** di markas rumah sakit itu sangatlah banyak. Mereka bisa menggunakan semua **Drone** itu untuk lima kali serangan, jika pasukan **Drone** pertama diledakkan.
Cara itu sangat perlu dilakukan, mengingat bahwa jumlah pasukan yang dibawa oleh **Jendral** **Lahar** sangatlah besar dan tidak tanggung-tanggung. Mereka bisa kalah telak jika berhadapan secara langsung.
"Bllluaaaarrrrrr!!!"
Suara tembakan dari roket yang dikerahkan dengan Drone itu mulai mengenai helikopter musuh yang saat itu sedang terbang rendah. Para tentara itu panik. Ada yang melompat keatas gedung. Namun ada juga yang mati dengan helikopter yang ditembak jatuh.
Suara teriakan terdengar dimana-mana. Para warga sipil yang masih ada disana berhamburan keluar. Lalu beberapa dari mereka mengambil senjata, dan keluar rumah untuk menembaki para tentara yang masih selamat.
Belum sampai sepuluh menit, serangan itu sudah mampu menaklukkan para pasukan helikopter tentara. Walaupun hanya sebagian kecil, tapi serangan Ando dan pasukannya telah membuat para tentara kocar-kacir.
Begitu juga dengan tank yang dibawa oleh Jendral Lahar dan pasukannya. Mereka bukan hanya diserang melalui udara, tapi juga lewat darat. Serangan itu begitu sengit. Ribuan peluru dan puluhan mayat bertebaran dimana-mana.
__ADS_1
Wikar dan pasukannya tetap tidak mau mundur selangkah pun, meskipun mereka telah melihat sahabat-sahabat mereka mati di tembak oleh para tentara. Mereka tetap bertempur dengan keras demi mengalahkan para tentara yang selama ini telah menjajah mereka.