The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 22


__ADS_3

Pertempuran masih berlanjut. Tidak ada waktu bagi kedua belah pihak untuk beristirahat. Mereka saling adu kekuatan satu sama lain. Tidak ada waktu untuk mengalah dan menyerah. Mereka sama-sama unggul. Entah sudah berapa slot peluru yang habis dalam pertempuran.


Begitu juga dengan para pasukan keduanya yang mulai kelelahan. Tetapi, semua itu tidak mereka pedulikan. Mereka semua tetap berkeyakinan kuat untuk terus melanjutkan peperangan ini. Mereka tidak mau berhenti sedikit pun. Kecuali, untuk mengisi ulang amunisi mereka.


Suara tembakan dan ledakan ada dimana-mana. Langit yang tadinya begitu cerah, kini mulai menggelap karena kepulan asap. Semua orang bertempur dengan kemampuan mereka masing-masing. Warga sipil juga tidak tinggal diam, mereka ikut ambil bagian dalam pertempuran ini.


Mereka memungut senjata dari para pasukan yang telah mati. Wikar dan pasukannya mendapat dukungan penuh dari warga sipil. Mulai dari orang tua, sampai anak-anak pun ikut membantunya. Meskipun mereka tidak lihai dalam menembak, tapi Wikar merasa sangat bersyukur dan berterimakasih.


Karena pada kenyataannya, perjuangan Wikar selama ini telah menumbuhkan hasil yang sangat luar biasa. Mereka begitu antusias untuk menyelesaikan perang yang sudah lama terjadi. Mereka ingin merdeka sepenuhnya dari penindasan yang telah dilakukan oleh pemerintah.


Selama ini rakyat tak pernah mendapatkan hak mereka. Pemerintah bertindak seenaknya. Semuanya hanya tentang uang. Yang ber-uang yang disayang. Pemerintah selalu memandang rendah rakyatnya sendiri. Orang-orang kaya akan mendapatkan haknya sebagai rakyat. Sedangkan orang yang dirantai makanan paling bawah, hanya akan dijadikan umpan.


Mereka akan diumpankan kepada negara lain untuk mendapatkan bantuan. Setelah bantuan datang, rakyat hanya akan mendapatkan janji tanpa bukti. Negara ini benar-benar sudah hancur akibat perang saudara yang berlarut-larut.


Hingga pada akhirnya, rakyat membabi buta dan kebencian mereka telah mereka luapkan pada hari ini. Tidak sedikitpun mereka memikirkan tentang lapar yang sekarang sedang menghantui mereka. Mereka lebih memilih mati, dari pada harus ditindas terus menerus.



Keadaan **Presiden** sama sekali belum membaik. Dia masih harus dirawat, akibat luka yang dia dapat. Para pengawal **Presiden** merasa sangat kecewa dengan pasukan **Jendral** **Lahar** yang seharusnya bisa menjadi penjaga **Presiden**. Mereka masih berdebat satu sama lain.



Bukannya malah memecahkan masalah, para pasukan **Jendral** **Lahar** yang ditugaskan untuk menjaga **Presiden** justru sekarang berani menodongkan senjatanya kepada pengawal **Presiden** yang lain. Mereka benar-benar sudah muak dengan perintah yang mereka dapat.



Menjaga **Presiden** bukanlah perkara yang mudah. Karena yang menjadi taruhan bukan hanya saja nyawa **Presiden** saja, tapi juga nyawa mereka sendiri. Memang, pasukan **Jendral** **Lahar** terlatih untuk membunuh. Namun belum tentu mereka terlatih untuk melindungi.


__ADS_1


Kenyataannya, mereka justru menambah masalah semakin rumit.



"*Apa yang kalian lakukan?! Seharusnya kalian menaati peraturan Jendral Lahar! Bukannya menambah keadaan semakin rumit*!" kata salah seorang pengawal **Presiden** dengan nada tinggi.



"*Apa katamu?! Kau dan kalian semua adalah pengawal Presiden yang sebenarnya! Kenapa kalian hanya berdiri saja seperti ini? Seharusnya kalian lebih mempersiapkan semuanya*!" jawab orang itu.



Mereka semua lalu diam tak menjawab apa pun. Karena semua yang telah terjadi bukanlah sepenuhnya kesalahan **Pasukan** **Jendral** **Lahar**. Mereka hanya ditugaskan untuk melakukan perlawanan jika ada serangan dari depan mata mereka. Sedangkan serangan **Para** **Deathless** sangatlah tersembunyi.



Mereka begitu hening dan tidak dapat diketahui posisinya. Mereka cenderung menunggu untuk menyerang musuh. Sangat berbeda dengan pasukan **Jendral** **Lahar** yang sekarang bersama dengan para pengawal **Presiden**. Mereka dilatih di medan tempur yang luas. Bukan tempat tertutup.




Tertera dibajunya, bertuliskan **Hanam**. Dia adalah anggota pengawal **Presiden** sedari dulu. Dia seorang pengawal **Presiden** yang paling setia. Kemanapun **Presiden** pergi, dia selalu ikut. Tapi setelah semua ini terjadi, dia mulai berfikir bahwa ini semua bukanlah kesalahan para pengawal.



Tapi semua ini adalah kesalahan **Presiden** sendiri yang tidak mau melakukan persiapan untuk semua yang akan terjadi.


__ADS_1


Beberapa Hari Sebelumnya...


Hanam saat itu sedang membereskan berkas-berkas penting milik Presiden di mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebentar lagi dia harus menghubungi seorang Jendral baru yang dipilih oleh Presiden untuk menyerang Wikar dan pasukannya.


Namanya adalah Jendral Lahar, itulah yang tertulis di sebuah buku yang dia pegang. Hanam sebenarnya sudah tidak sanggup lagi harus mengurus semua kepentingan Presiden. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai orang yang dipercaya dia harus mau melakukan semua itu.


Dia juga sudah menghubungi para pengawal Presiden yang lain, guna mempersiapkan pengamanan. Tapi Presiden menolak, karena itu dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Presiden menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Lihatlah Hanam. Dibalik kantorku, banyak pasukan yang berjaga. Apakah kau masih beranggapan bahwa Wikar dan pasukannya akan menembus tempat ini dan membunuhku?" tanya Sang Presiden kepada Hanam.


Hanam menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Meskipun dia sudah kesal karena dia sudah menghabiskan banyak waktunya untuk mempersiapkan para pengawal yang akan bertugas nantinya.


"Mohon maaf Pak. Saya hanya mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika pengawalan tetap seperti biasa, maka itu akan sangat membahayakan diri Bapak, selaku pemimpin negara." jawab Hanam.


"Baiklah. Tapi asal kau tahu, bahwa tidak pernah ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyentuhku. Karena aku memilih segalanya." kata Presiden dengan sombongnya.


"Memang benar Pak. Saya mengetahui hal itu. Tapi..."


"Sudahlah!"


Belum sempat Hanam menyelesaikan perkataannya, Presiden langsung marah dan tidak terima karena terus menerus diatur oleh bawahannya. Dia merasa direndahkan. Presiden lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.


Dia memandang keluar jendela kantornya, dia tersenyum bangga karena telah berhasil memiliki semua impiannya. Cita-citanya menjadi seorang penguasa kini telah tercapai. Meskipun dengan cara yang sangat kotor.


Dia menyingkirkan semua saingannya pada saat pemilu. Semua anak buahnya dikerahkan untuk menjatuhkan lawannya. Dan salah satu orang menjadi Eksekutor pada saat itu adalah Hanam. Dia beserta anak buahnya menculik dan membunuh beberapa calon yang ada.


Tapi kebanyakan dari mereka dibunuh secara perlahan, dengan menghancurkan harga diri mereka terlebih dahulu. Mereka dijebak untuk difitnah. Agar mereka tidak mendapatkan dukungan. Sedangkan Presiden yang sekarang, dia sedikit demi sedikit mengambil simpati dari rakyat.


Setelah dia mendapatkan semuanya, dia ingkar pada sumpahnya sendiri. Dia juga melupakan janjinya kepada Hanam. Sebelumnya Presiden telah berjanji akan memberikan sejumlah uang kepada Hanam. Tapi sampai sekarang, uang itu tidak pernah berada digenggaman Hanam.

__ADS_1


Hanam melakukan ini semua karena dia masih berharap bahwa uang itu akan diserahkan padanya. Tidak semuanya tentang kesetiaan. Hanam bukanlah orang yang benar-benar jujur. Dia juga pernah mencuri sejumlah uang milik Presiden untuk dia pakai keperluannya di rumah.


Tanpa melakukan hal itu, dia dan keluarganya bisa mati kelaparan. Karena gaji yang dia terima menjadi seorang pengawal sama sekali tidak cukup untuk satu bulan. Hanam adalah tulang punggung keluarga. Dia tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun pekerjaan itu kotor. Yang terpenting baginya, semua keluarganya bisa makan.


__ADS_2