The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 43


__ADS_3

"Apa yang akan kita lakukan sekarang bos?" tanya Liam pada Lontro.


"Aku ingin kau meretas sistem keamanan istana tanpa diketahui. Aku tidak ingin mengancam Presiden untuk saat ini."


"Kenapa? Bukankah ini rencana awal kita?" tanya Liam lagi.


"Tidakkah kalian semua melihat tempat indah ini? Tempat ini begitu luas dan kuat. Sangat cocok untuk kita jadikan markas. Jika Presiden mengetahui kalau kita semua telah menguasai tempat ini, maka dia akan mengirimkan semua pasukannya yang dia miliki. Dan dia akan membantai habis kita semua dengan senjata-senjata mereka. Kita harus berfikir cerdas. Kita harus mengatur ulang rencana." jawab Lontro.


"Yah! kau benar bos. Kita bisa mendapatkan senjata, karena kita bisa menggunakan jet ski untuk membawanya. Kalau perlu, aku akan menemui adikku untuk meminta bantuan senjata." jawab salah seorang dari tahanan yang bernama Xander.


"Kalau begitu. Kita membutuhkan baju para sipir penjara agar bisa keluar dari tempat ini tanpa dicurigai. Dan kita juga membutuhkan seragam tentara agar kita bisa aman saat berada di kota." sambung Liam.


"Lalu bagaimana caranya kita bisa mendapatkan semua itu?" tanya Jim.


"Jangan bodoh Jim. Kita semua memiliki teman dan keluarga yang menjadi gangster. Kita bisa meminta bantuan mereka. Aku juga punya teman yang seorang mantan tentara. Dia memiliki banyak senjata di rumahnya. Bahkan dia bisa membuat senjata sendiri." jawab Liam.


Mereka akhirnya berkumpul dan saling bertukar informasi, sekaligus untuk menyusun rencana baru.



Sementara itu, **Jendral** **Hidi** dan lima orang bawahannya sedang mengumpulkan berbagai informasi dan juga jejak-jejak keberadaan **Wikar** yang mulai mereka temukan. Salah seorang tentara mengaku pernah melihat ada sebuah mobil van berwarna hitam yang berputar-putar di area pos jaga tentara di pusat kota.



Mobil itu mengitari area pusat kota setiap jam satu malam. Dan pada jam tiga, mobil itu tidak terlihat lagi. Hingga hal itu memancing salah satu tentara menguntitnya dari belakang. Namun mobil van berwarna hitam itu selalu berhenti di sebuah gang kecil yang sangat gelap dan sepi. Saat diperiksa, salah seorang tentara itu tidak mendapatkan seorang pun ada di dalam mobilnya.


__ADS_1


Hal itu semakin menguatkan keyakinan **Jendral** **Hidi**, bahwa orang yang berada di dalam mobil van berwarna hitam adalah **Wikar** dan pasukannya yang keberadaanya sampai sekarang masih dicari. Dari hasil pemeriksaan mobil yang mereka tahan, Kelima bawahan **Jendral** **Hidi** menemukan sebuah telepon genggam yang sangat tidak mungkin dimiliki oleh warga sipil.



Karena telepon genggam itu memiliki kode keamanan yang sangatlah rumit. Orang biasa tidak akan mampu melakukan hal itu. Satu-satunya orang yang ahli dalam membuat dan memecahkan sebuah sandi rumit hanyalah **Wikar**. **Jendral** **Hidi** yang sudah menjadi seorang Jendral Besar pun tidak mampu memecahkan sandi itu.



Sandi itu berisikan huruf, angka, dan juga tanda baca. Ditambah lagi dengan beberapa garis miring yang sulit untuk dipahami. Para tentara dibuat semakin bingung lagi, saat mereka menemukan sebuah kalung milik putri kecil **Jendral** **Hidi**. Seharusnya, kalung itu sudah ikut dimakamkan dengan putri kesayangan **Jendral** **Hidi** yang telah lama meninggal.



"*Aku khawatir akan semua ini. Mereka bahkan tahu soal kalung yang seharusnya ikut dimakamkan bersama putriku*." kata **Jendral** **Hidi** kepada kelima bawahannya itu.




"*Aku sangat yakin, kalau dia adalah Wikar. Panggil Lahar kemari. Aku akan tanyakan semua masalah ini padanya. Aku akan memaksanya untuk berbicara*!" ucap **Jendral** **Hidi**.



"*Lahar berada di penjara Lubang Hitam Jendral. Kita tidak bisa membawanya tanpa izin langsung dari Presiden*."



"*Kalau begitu, kalian temui Presiden. Serahkan surat ini kepada Presiden Jacob untuk ditanda tangani. Setelah itu cepatlah kalian pergi ke Lubang Hitam, dan bawa Lahar kemari*." perintah **Jendral** **Hidi** sembari memberikan sebuah surat perintah kepada bawahannya.

__ADS_1



"*Siap Jendral*!"



Mereka pun bergegas keluar dari ruangan **Jendral** **Hidi** dengan surat di tangan mereka.



Penjara Lubang Hitam adalah sebuah penjara bawah tanah dengan tingkat keamanan paling tinggi. Seluruh bagian penjara dilapisi dengan listrik. Dan banyak sekali jebakan di penjara itu. Siapa pun akan mati jika berusaha kabur dari sana. Orang-orang yang menjadi sipir di penjara itu pun bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang sudah terlatih.


Dan Lahar, dia sudah menjalani masa hukumannya selama dua tahun. Dia berhasil ditangkap oleh para tentara saat ada perburuan di pusat kota. Misi perburuan itu seharusnya berjalan dengan lancar, tapi Lahar secara tiba-tiba sudah ada disana dan membantai sebagian besar tentara yang terlibat dalam misi itu.


Sialnya lagi, saat Lahar ingin menyelamatkan anak kecil, dia justru terkena sebuah ledakkan dari granat yang dilemparkan oleh para tentara. Misi perburuan itu adalah perintah dari Jendral Hidi yang ingin membersihkan semua orang yang menentang Presiden Jacob kala itu. Sehingga misi itu bisa dibilang misi yang tidak manusiawi.


Siapa pun yang terlibat pada aksi demo, akan diciduk dan semua anggota keluarganya akan dihabisi secara sadis. Sedangkan para target operasi akan dibiarkan hidup dan ditahan di penjara bawah tanah yang dinamai Lubang Hitam.


Namun tidak semuanya, karena penjara itu sudah penuh dan tidak dapat lagi menampung banyak orang. Karena sistem penjara itu bertingkat. Mereka tidak akan bisa keluar, dan akan sulit jika masuk tanpa sebuah lift. Lahar adalah orang yang mendapatkan tingkat paling bawah. Dia menjadi satu-satunya orang yang paling menderita di dalam penjara itu.


Yang bisa dilakukan Lahar setiap hari hanyalah berbicara dengan dirinya sendiri. Tidak seperti tahanan di tingkat yang lainnya yang berjumlah sepuluh orang setiap selnya. Sedangkan Lahar hanya dibiarkan menyendiri tanpa satu orang teman pun.


Dalam situasi seperti itu, bisa dipahami bahwa untuk mendapatkan makanan saja Lahar harus rela menunggu selama dua hari. Dan makanan itu hanya datang satu kali. Sekali makan, dia hanya memakan makanan sisa dari orang-orang yang ada di lantai atas.


Untungnya, mereka semua bisa saling mengerti. Sehingga mereka berbagi satu sama lain agar semuanya bisa mendapatkan jatah makan. Karena menu makanannya hanyalah beberapa potong roti yang diletakkan pada sebuah kotak kayu.


Penjara itu benar-benar sudah seperti neraka bagi mereka. Tidak ada yang namanya belas kasih. Jika ada satu orang tahanan yang mengeluh atau protes, maka teman satu selnya akan ikut menanggung akibatnya.

__ADS_1


__ADS_2