
Di dalam penjara Lontro masih terus menyusun markas barunya itu. Dengan dibantu oleh ratusan narapidana yang sekarang sudah menjadi pasukannya. Seperti hari-hari biasa, Lontro memasok makanan dan persenjataan yang dikirim oleh pemerintah. Dia ingin mengumpulkan logistik sebanyak mungkin sebelum dia dan pasukannya menyerang kota.
"Bos! ada seorang laki-laki yang datang ke tempat ini untuk bertemu denganmu. Dia bilang saudaramu. Dia tidak mau menyebutkan namanya." kata salah seorang anak buah Lontro.
"Bawa dia masuk."
"Baik."
Laki-laki itu pun masuk, dengan setelan rapi seperti seorang tentara.
"Siapa kau?!" tanya Lontro.
"Kau lupa padaku? Bukankah kita pernah berjuang bersama."
"Ahh... Wikar?! Kau?!"
Lontro langsung memeluk Wikar dan menyuruhnya untuk duduk. Lontro sangat senang karena sahabat lamanya itu kini menjenguknya di penjara. Entah bagaimana Wikar bisa mengetahui kalau penjara ini sekarang sudah dikuasai oleh para narapidana. Yang jelas, Wikar masuk tanpa dihalangi oleh siapa pun.
Lontro sampai heran dengan kedatangan Wikar. Padahal, untuk menuju ke dermaga dia harus melewati penjagaan puluhan tentara. Siapa pun yang lewat ke tempat itu akan di tembaki, kecuali memang orang-orang yang sudah dipercaya. Seperti halnya yang dilakukan oleh anak buah Lontro, dia harus memakai pakaian sipir untuk mengelabui para tentara.
"Bagaimana kau bisa lolos penjagaan tanpa penyamaran?" tanya Lontro.
"Aku menghabisi semua penjaga dengan kedua tanganku." jawab Wikar.
"Waw! Ekhm!"
Lontro tidak berkata-kata, dia heran dengan perubahan yang terjadi pada Wikar. Dia menatap tubuh Wikar dari ujung rambut hingga ujung rambut, seakan menelanjanginya. Dulu tubuhnya sangat bersih dan wajahnya pun sangat lugu. Sekarang, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang begitu rumit. Bahkan wajahnya pun tak luput dari lukisan-lukisan itu.
__ADS_1
Wikar hanya tersenyum saat Lontro menatapnya heran.
"Sekarang waktunya kita bangkit! Kita balas kekalahan kita!" ucap Wikar.
"Aku tidak memiliki banyak hal. Jujur saja, aku dan pasukanku belum siap sekarang. Amunisiku terbatas. Dan sekarang aku tidak akan mendapatkan pasokan dari para tentara, karena kau sudah menghabisi mereka semua. Aku hanya bisa bertahan di tempat ini." jawab Lontro.
"Aku sudah memiliki banyak pasukan. Meskipun jumlah pasukanku tidak sebanyak yang kau miliki, tapi kami sudah berkembang. Aku sudah memproduksi senjata sendiri. Semua pakaian dan peralatan sudah kami produksi sendiri. Dan kedatanganku ke tempat ini adalah untuk meminta izinmu. Aku ingin menggunakan penjara ini sebagai markas kita. Karena tempat ini jauh dari segala tempat."
"Sialan kau Wikar! Kenapa kau tidak mengatakannya sedari tadi? Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan!"
Mereka berdua pun tertawa bahagia. Sekarang dua sahabat lama itu telah berkumpul kembali menjadi satu. Mereka akan menyusun kembali kekuatan mereka yang telah lama hilang. Sangat disayangkan, dalam situasi seperti ini Wikar tidak tahu bagaimana keadaan Lahar, sahabat lamanya.
"Sudahlah Wikar. Kita doakan saja sahabatmu itu. Semoga dia dalam keadaan baik-baik saja."
"Aku sudah melewati banyak hal di penjara ini. Aku disiksa, diinjak-injak, direndahkan, dan aku diperlakukan seperti hewan. Dulu aku bos besar, yang memiliki banyak uang. Aku bisa memiliki apa pun yang aku mau. Tapi sekarang, untuk bertemu dengan keluargaku saja aku tidak tahu harus bagaimana."
"Tenang Lontro. Kau hanya perlu beberapa langkah lagi untuk bertemu dengan keluargamu. Aku akan membantumu. Itu pasti. Aku akan mencari cara agar aku bisa membawamu pulang ke negara asalmu."
"Mungkin aku yang menghancurkannya."
"Apa maksudmu?"
"Setahuku tempat itu sudah dikuasai para tentara. Dimana ada para tentara, disitulah aku akan mendatangi mereka. Aku tidak bisa menahannya."
"Oh sial! Aku membuat Klab itu dengan uang jutaan dolar! Dan kau menghancurkannya hanya karena kau melihat beberapa tentara?! Wikar! Apa yang kau pikirkan waktu itu?!"
"Entahlah Lontro. Aku hanya membunuh para tentara."
__ADS_1
"Aku tahu! Tapi kau tidak perlu membakar lumbung hanya untuk membunuh beberapa tikus!"
"Memang.Tapi para tikus itu sudah menguasai lumbung."
"Oh Tidak! Tidak! Tidak! Lalu bagaimana dengan ruang bawah tanahnya?!"
"Yah.. Semuanya tak tersisa. Maafkan aku."
"Huffftt... Aku heran, apa yang sekarang mengisi otakmu?! Lihatlah tubuhmu sekarang Wikar, kau sulit untuk dikenali."
"Soal lukisan ditubuhku, kau tidak akan memahaminya. Sekalipun aku bersumpah, kau tidak akan percaya."
"Oke. Baiklah. Sekarang beristirahatlah. Sebentar lagi waktunya makan."
"Baiklah."
Lontro mengantarkan ke sebuah kamar seorang sipir penjara yang sudah mati. Tempat itu begitu nyaman. Wikar membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap langit-langit ruangan itu, sembari mencoba menidurkan kedua matanya. Badannya lelah, karena seharian ini dia telah berjalan jauh.
Dalam keadaan lelah pun, Wikar masih memikirkan para pasukannya yang dia tinggalkan. Wikar merasa tidak tenang jika harus berlama-lama di tempat ini. Dia khawatir jika para tentara datang dan menghancurkan semuanya. Jam ditangannya menunjukkan pukul tujuh malam. Di jam ini, orang-orang di markasnya pasti masih bekerja.
Mereka sangat ingin pembangunan itu cepat selesai. Mereka baru berhenti bekerja setelah pukul sembilan malam, yang dimulai dari jam delapan pagi. Mereka hanya beristirahat sejenak. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaan mereka. Mereka begitu bersemangat dalam mengerjakan pembangunan.
Dalam satu bulan ini, para warga yang ikut dalam pembangunan itu sudah mampu menyelesaikan benteng dan juga membuat pintu gerbang yang besar dan kokoh. Itu suatu prestasi yang hebat. Mereka sangat mencintai pekerjaan itu, meskipun bayaran mereka hanyalah jatah makan untuk sehari-hari.
Bagi rakyat, uang tidaklah berguna lagi. Selama perut mereka terisi, mereka akan melakukan apa pun. Hal itu juga didukung dengan keyakinan mereka untuk merubah nasib negara ini menjadi lebih baik. Mereka sudah rindu dengan suasana indah di negara ini yang dulu pernah menjadi rumah bagi semua orang.
Setiap orang yang datang ke negara ini selalu merasa bahagia. Pada pemerintahan sebelumnya, negara ini begitu tentram dan damai. Angka kejahatan juga minim. Itupun hanya terjadi di beberapa kota, yang bisa dihitung dengan jari. Hingga muncullah satu orang pengkhianat yang membuat semuanya menjadi kacau balau.
__ADS_1
Dulu orang-orang bebas mengutarakan pendapat mereka. Bersaing secara sehat. Tidak ada permusuhan dan pertikaian. Semua orang hidup rukun. Di setiap kota pasti selalu ada tempat wisata dan wahana hiburan yang indah. Apalagi saat tahun baru. Suasana begitu ramai dan semua orang sangat berbahagia. Bisnis meningkat dengan pesat.
Bahkan, sangat sulit untuk mencari orang yang hidup miskin. Semuanya berjalan dengan sangat-sangat tertata dan rapi. Rakyatnya taat pada aturan tanpa pemaksaan.