
Setiap orang suku selalu memiliki rahasianya sendiri. Begitu juga dengan Wikar. Belum ada yang tahu dari mana dia berasal. Siapakah Wikar ini, dan siapa orang tua yang telah merawatnya dari kecil. Wikar tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Dia selalu menutupi asal-usulnya sebagai anak dari Kepala Suku.
Wikar tidak memiliki data diri yang pasti. Yang orang lain tahu, Wikar dirawat oleh seorang pengusaha dari kota. Padahal, orang itu bukanlah orang tua asli dari Wikar. Wikar dipindahkan ke kota karena saat itu ada perang antar suku yang sedang terjadi. Sehingga anak-anak Kepala Suku yang selalu menjadi buruan utama.
Setelah dewasa, barulah Wikar mengetahui dari mana asal-usulnya. Bahwa orang tua angkatnya adalah paman dan bibinya sendiri, yang dengan terpaksa harus membawa kabur Wikar bersama mereka. Karena saat itu situasi benar-benar sedang genting. Jika sampai Wikar dibunuh, maka ayahnya tidak akan memiliki penerus.
Beruntunglah, ayah dan ibu Wikar yang asli bisa selamat dari pertikaian itu. Sehingga masih bisa bertemu dengan Wikar sampai sekarang ini. Entah bagaimana mereka bertemu. Tidak ada yang pernah tahu, dan tidak ada yang pernah melihatnya. Pertemuan dilakukan secara rahasia. Hanya empat mata.
**Wikar** sendiri awalnya tidak percaya kalau dia anak seorang Kepala Suku. Tapi semua buktinya sudah jelas. Dari mulai kain yang dulu digunakan untuk membalut tubuh Wikar, hingga sebuah peti perak, sekarang masih utuh bersama kenangannya. **Wikar** kecil yang tidak tahu apa-apa, sekarang telah tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Dia menuruni seluruh bakat milik ayahnya. Salah satunya adalah instingnya dalam mencari sesuatu sangat kuat. **Wikar** seakan sudah tidak asing dengan alam liar. Mungkin **Wikar** menjadi satu-satunya orang yang tinggi empati, namun minim rasa takut. Semua itu murni lahir di dalam dirinya. Dan tumbuh menjadi satu kekuatan yang luar biasa.
Sejak kecil **Wikar** sudah terlihat perbedaannya dari anak-anak seumurannya yang lain. Dia cenderung belajar dari pada bermain. **Wikar** lebih suka duduk dibawah pohon rindang dengan ditemani oleh buku-buku kesayangannya. Dan walaupun fisiknya kuat, **Wikar** sama sekali tidak mau melawan saat dirinya dibully oleh teman-temannya.
**Wikar** lebih suka berdamai dengan mereka. Tetapi jangan salah. Meskipun begitu, **Wikar** tetaplah memiliki perasaan sebagaimana anak-anak pada umunya. Hanya saja, **Wikar** lebih mengutamakan otak dari pada fisik. Dia lebih suka cara halus dari pada cara yang kasar. Kecuali, jika situasi sudah benar-benar memaksanya untuk melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Melihat bahwa perbedaan di dalam **Wikar** mulai tumbuh, kedua orang tua angkatnya sebisa mungkin menutupi kekuatan itu. Dan mereka berusaha mengalihkan perhatian **Wikar**, agar dia tidak sadar bahwa dirinya berbeda dari anak-anak yang lain. Karena perang itu, semua orang memburu **Wikar** untuk dijadikan sebagai lambang kemenangan.
Pada waktu itu, **Wikar** berpindah-pindah tempat tinggal demi keselamatannya. Karena musuh yang dihadapi oleh Ayah **Wikar** bukanlah musuh sembarangan. Mereka sudah sangat terlatih dalam melakukan pencarian orang hilang. Mereka juga ahli membunuh. Dan ahli menyembunyikan bukti kejahatan mereka.
Walaupun Ayah **Wikar** telah mengirimkan murid-muridnya untuk menjaga anaknya, tetapi hal itu tidak menjamin kalau **Wikar** akan selamat. Dia tetap harus menjalani masa pengasingan. Selama itu pula, **Wikar** telah mempelajari banyak hal dari paman dan bibinya.
**Wikar** kini telah tumbuh menjadi sosok yang paling ditakuti dan dihormati. Semua orang mencintainya. **Wikar** sudah melampaui Ayahnya sendiri. Meskipun sekarang mereka sedang sulit untuk bertemu, tapi **Ayah Wikar** merasa senang mendengar kabar bahwa anaknya sekarang telah menjadi orang besar.
Ayahnya semakin bersemangat untuk melatih para pemuda di desanya. **Ayah Wikar** ingin semua pemuda di desa itu mengikuti jejak **Wikar** sebagai seorang pemimpin. Dan membantunya memperjuangkan keadilan di negeri ini.
__ADS_1
Karena semakin banyaknya orang yang mulai mengikuti Wikar, militer pun merasa khawatir. Para komandan pasukan dan pimpinan tertinggi di militer mulai melakukan pelatihan besar-besaran untuk melawan Wikar dan pasukannya. Mereka tidak mau kalah oleh Wikar, yang mereka anggap hanya seorang prajurit biasa.
Mereka mulai membentuk satuan-satuan pasukan khusus yang multitalent. Mereka dilatih untuk ahli dalam pembunuhan, pembersihan, dan juga ahli dalam pelacakan. Tak sampai disitu saja, mereka juga membuat senjata-senjata baru untuk mensukseskan kepentingan mereka.
Wikar telah dianggap orang paling berbahaya. Sepak terjangnya sebagai seorang pemberontak sudah malang melintang di seluruh jagad negeri ini. Sampai-sampai, tidak ada satu tentara pun yang berani keluar rumah seorang diri. Begitu juga saat menuju ke markas, mereka selalu berangkat ramai-ramai, dengan persenjataan super lengkap.
Sebegitu ditakutinya seorang Wikar?
Ya!
Bertemu dengan hantu mungkin jauh lebih baik dari pada harus bertemu dengan Wikar. Apalagi jika dia datang dengan membawa rombongan pasukannya. Setiap orang yang berani membicarakan tentang kehebatan Wikar, maka orang itu harus siap untuk menerima siksaan berat.
Sungguh kejam dan sangat tidak manusiawi. Rakyat direndahkan seperti budak. Pemerintah hanya memiliki impian untuk menjadi negara yang kuat, bukan menjadi negara yang maju. Dalam situasi seperti ini pun, Presiden Jacob masih berani mengancam negara lain. Jika ada satu saja negara lain yang ikut dalam urusan negaranya, maka mereka harus siap menanggung bencana.
Ancaman itu sama sekali tidak membuat negara lain takut dan cemas. Justru mereka malah menantang balik. Mereka juga mengancam, bahwa mereka akan membantu perjuangan Wikar dan siap untuk mendanai kelompok mereka secara penuh, sampai semua perang ini berakhir.
Ancaman itu membuat situasi semakin memanas. Presiden Jacob sendiri tidak menyangka kalau negara lain justru akan membalas ancaman itu dengan sangat serius. Tak berapa lama setelah kejadian itu, banyak negara-negara tetangga yang membuktikan ucapan mereka.
Mereka mengirimkan alutsista dan juga berbagai macam persenjataan untuk Wikar dan pasukannya. Para wartawan dari negara lain juga ikut meliput peristiwa itu. Akhirnya para wartawan di negara ini yang sudah lama tidak muncul pun kembali unjuk gigi. Mereka menyebarkan berita itu ke lintas negara.
Agar semua orang di dunia ini membuka mata mereka lebar-lebar. Dunia harus melihat kenyataan, bahwa negara yang dulunya makmur, kini telah hancur lebur. Gedung-gedung pencakar langit yang dulu menjadi kebanggaan negara ini, kini hanya meninggalkan puing-puing tak berguna.
Berita itu pun langsung menyebar dengan cepat, dan menjadi topik utama di setiap negara. Selama ini negara lain diam bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka sulit mendapatkan bukti untuk meyakinkan semua orang.
__ADS_1
Namun sekarang, Tuhan telah membuka jalan bagi negara ini. Kebenaran dan kesalahan kini terungkap, dan terpampang jelas di depan mata. Kisah yang dianggap dongeng, kini telah dianggap nyata.