
Mereka menunggu dan terus menunggu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk keluar satu persatu. Orang pertama berhasil keluar dari rumah. Begitu juga dengan orang kedua. Tapi saat orang ketiga yang mencoba keluar, baru sampai pintu orang itu sudah tertembak dengan kepala yang meledak.
Sekarang tersisa empat orang. Dua di dalam, dan dua lagi diluar. Yang di dalam rumah adalah Ketua kelompok dan satu anak buahnya. Orang yang diluar tetap dalam posisi tiarap. Mereka takut untuk bergerak. Apalagi saat mereka tahu, bahwa posisi mereka berada di tengah-tengah tiga mayat teman mereka.
Para Deathless memang sengaja ingin membelah mereka, agar mereka mati perlahan-lahan. Setelah menunggu sampai lima menit, akhirnya Para Deathless memberikan aba-aba kepada Loah dan yang lainnya. Bom asap pun dilempar. Dengan cepat Loah dan yang lain langsung menuju ke arah mereka.
Akibat bau asap yang menyengat, dua orang itu mencoba kabur dari sana. Tapi kemudian mereka ditembak oleh ketua mereka sendiri. Dan sekarang sisa dua orang di dalam rumah. Loah dan teman-temannya langsung menyergap lewat jendela. Dan menodongkan senjata kepada mereka berdua.
"Jangan ada yang membuka pintu! Pintu itu sudah dipasangi bom!" ucap Loah memperingatkan teman-temannya.
Dua orang itu pun hanya bisa pasrah saat Lontro memukul dan mengikat mereka. Mereka berdua dikeluarkan secara paksa dari jendela. Lontro menendangnya dengan sangat keras, hingga ketua kelompok itu mengalami patah tulang dibagian lengannya.
"Kebodohan apa yang kau lakukan?! Kalau dia mati, kita juga mati!"
"Oh.. maaf Loah."
"Sekarang ayo kita bawa dia ke markas untuk interogasi." perintah Loah kepada mereka.
Mereka memasukkan orang itu ke dalam mobil. Orang itu terlihat kesakitan karena terlempar dari jendela. Apalagi Loah juga tidak berhenti memukul orang itu, karena dia tetap bungkam tidak mau buka mulut soal kepentingannya di tempat ini. Sudah pasti mereka datang karena panggilan ketua mereka, yaitu Presiden Jacob yang masih terbaring lemah di dalam bunker.
"Kau tidak akan mendapatkan apa pun, sekalipun kau membunuhku." ucap orang itu.
Hal itu membuat Loah semakin kesal. Kemudian Loah pun memukul orang itu dibagian leher, agar dia tidak sadarkan diri. Karena setelah ini, dia akan dibawa ke markas besar Wikar yang berada di seberang pulau. Yaitu sebuah penjara yang dikuasai Lontro.
Diluar istana, para tentara yang masih setia kepada Presiden Jacob sedang berkumpul. Mereka secara sembunyi-sembunyi dan perlahan-lahan mereka memasuki ruangan demi ruangan untuk menemukan keberadaan bunker Presiden Jacob.
__ADS_1
Di dalam bunker, Hanam melihat beberapa tentara sudah dekat dengan bunker mereka melalui kamera cctv. Dia melihat ada tujuh orang yang sedang mengendap-endap masuk ke ruangan demi ruangan yang di istana ini. Selama beberapa menit, para tentara itu bolak-balik kesana kemari.
Mereka kebingungan mencari dimana ruang bunker Presiden Jacob. Karena mereka hanya membawa sebuah peta. Namun setelah itu mereka pun menemukan jalan menuju bunker rahasia yang pintunya ada dibalik sebuah lemari penyimpanan barang-barang pribadi Presiden.
Mereka menggunakan beberapa alat canggih agar bisa membuka pintu yang menuju bunker, karena hanya Presiden Jacob seorang yang bisa membuka pintu itu. Mereka mengotak-atik sistem keamanan pintu yang terkunci oleh sandi, yaitu ibu jari milik Presiden Jacob.
Yang kemudian mereka rubah agar pintu yang menuju bunker tetap terbuka. Sehingga mereka bisa dengan mudah untuk keluar masuk. Mereka menuruni tangga demi tangga menuju bunker. Setelah sampai, mereka langsung mengeluarkan semua peralatan yang mereka butuhkan.
Tak berapa lama kemudian, mereka berhasil menjinakkan bom yang menempel tepat di pintu bunker. Hanam pun langsung mengarahkan ibu jari Presiden Jacob untuk membuka pintunya. Tapi sayang, sandinya justru telah diubah oleh pasukan Lahar.
Para tentara itu pun kembali sibuk merubah sistem sandinya. Kali ini mereka membutuhkan waktu yang sangat lama. Karena salah sedikit saja, pintu bunker tidak akan terbuka untuk selama-lamanya. Dan Presiden Jacob akan selamanya akan terkurung.
Kali ini, sebuah rencana taktis untuk mengelabui Wikar benar-benar berhasil. Para pasukan yang datang dari Timur sengaja memancing Wikar dan kelompoknya agar menangkap mereka. Sedangkan para tentara menuju ke istana untuk menyelamatkan Presiden Jacob.
Akhirnya, pintu pun berhasil terbuka. Dan dengan cepat mereka semua bersama-sama membawa Presiden Jacob keluar dari tempat itu untuk segera diselamatkan. Mereka terpaksa harus membawanya dengan tandu tentara. Karena mereka harus menaiki tangga. Mereka pun akhirnya berhasil keluar dari istana.
Disitulah kesetiaan Hanam yang sebenarnya muncul. Dia berusaha keras menyelamatkan Presiden Jacob. Sedangkan dia sendiri tidak begitu peduli dengan keselamatannya. Dokter Stam mencoba menahan luka didada kiri Hanam. Tapi sepertinya Hanam mulai tidak terkontrol.
Mobil yang dikendarainya menabrak sebuah tiang. Dan sebelum meninggal, Hanam berpesan kepada Dokter Stam agar menyelamatkan Presiden Jacob. Karena dia memiliki sesuatu yang belum Wikar miliki.
"Ingat Dokter Stam. Bawalah Presiden Jacob ke tempat yang aman, selamatkan dia. Jangan sampai dia mati. Karena dia memiliki segala yang ada di negara ini. Wikar dan pasukannya memang berhasil menguasai negara ini. Tapi tidak dengan kekayaannya." ucap Hanam sebelum dia meninggal.
Dokter Stam bersama timnya pun telah sepakat untuk menyelamatkan Presiden Jacob. Karena mereka tahu, bahwa Presiden Jacob masih menguasai sebagian besar kekayaan negara ini. Sedangkan Wikar dan pasukannya belum mengetahui hal itu. Dokter Stam menjanjikan akan memberi mereka semua imbalan jika mau ikut bersamanya.
Karena sudah terlanjur dicap sebagai pengkhianat, mereka pun akhirnya setuju untuk ikut bersama Dokter Stam. Mereka membawa Presiden Jacob yang dalam keadaan setengah sadar ke sebuah tempat yang tidak diketahui. Untuk menghilangkan jejak, mereka terpaksa harus membuang ponsel dan segala alat komunikasi yang mereka miliki.
__ADS_1
Termasuk ponsel Presiden Jacob pun harus mereka buang. Karena itu akan sangat berbahaya. Jika Wikar dan pasukannya tahu, mereka pasti tidak akan diberi ampun. Sedangkan Hanam, dia sudah terbaring tak bernyawa di samping tubuh Presiden Jacob. Pengawal yang dianggap 'Setia' itu pun akhirnya benar-benar telah menunjukkan 'Kesetiaan-nya'.
**Wikar** meluapkan segala amarahnya, setelah dia tahu bahwa **Presiden Jacob** berhasil diselamatkan dari penyergapan itu. **Ando** bersama pasukannya masih terus mengejar kemana perginya **Presiden Jacob** bersama kelima dokter dan juga pengawal setianya itu.
Sungguh akhir yang tidak disangka-sangka. Setelah perjuangan yang begitu panjang, pada akhirnya **Wikar** harus menghadapi kenyataan bahwa dia belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan kepala **Presiden Jacob**. Terlebih, dia baru menguasai separuh wilayah dari negara ini.
Entah kemana perginya '**Sang** **Penguasa**' (**Presiden Jacob**). Dia lenyap bersama sisa-sisa para pengikutnya yang masih setia. Begitu juga dengan rahasia kekayaannya yang berlimpah. Semuanya seakan tenggelam. Menghilang tanpa jejak.
......................
...(**The End**)...
__ADS_1
......................