The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 29


__ADS_3

Dengan semua bekal makanan dan juga berbagai amunisi serta senjata yang mereka bawa, Lahar dan timnya mengintai keadaan di wilayah ini. Mereka semua menggunakan senjata M21 agar mereka bisa membunuh musuh dari jarak yang jauh, jika ada musuh yang datang ke tempat ini.


Sepertinya sebelumnya, mereka harus bergantian mengawasi keadaan. Karena hari sudah malam, mereka menggunakan kacamata mode malam, agar mereka tetap bisa melihat keadaan pada malam yang gelap gulita. Bukit ini terasa begitu mencekam. Apalagi udara mulai terasa dingin.


Sangat aneh, padahal mereka berada di tempat yang penuh dengan pasir dan bebatuan. Tapi udara dingin sangat menusuk hingga ke tulang. Apalagi mereka harus melihat mayat para penjahat dan juga teman-teman mereka yang masih bergelimpangan. Tempat itu menjadi semakin menakutkan.


"Letnan?"


"Ada apa Loah?" tanya Lahar pada Loah.


"Tempat ini begitu mencekam. Apakah kita akan terus disini?" tanya Loah balik kepada Lahar.


"Apa kau berharap kita mati disergap? Aku lebih baik melihat hantu bergentayangan, dari pada harus mengantarkan nyawaku untuk hal yang sia-sia." ucap Lahar.


Loah hanya bisa diam mendengar jawaban Lahar. Dia bingung, antara harus mengikuti perintah Lahar, atau dia harus menghubungi MayJen Maric. Karena perintah MayJen Maric adalah melanjutkan misi sesuai dengan rencana yang telah diatur. Tapi kenyataannya, rencana itu sudah rusak sejak awal.


Tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Saat ini mereka hanya bisa mengawasi dan mengawasi keadaan sekitar. Tapi sepertinya bukan hanya Loah yang bosan dengan situasi ini. Lahar pun mulai merasakannya. Dia ingin sekali pergi dari tempat ini, dan membalas kematian anggotanya.


Tapi saat dia melihat ketiga anggotanya yang tersisa, itu sangat mustahil untuk dilakukan. Apalagi Lahar tidak bisa menghubungi markas. Saluran radio mereka terputus. Sekarang penderitaan mereka lengkap sudah. Diam mereka tidak berarti apa-apa, begitu juga jika mereka menyerang.


"Wikar. Ambar. Bangunlah. Siapkan senjata kalian." perintah Lahar pada mereka.


"Ada apa Letnan?" tanya Wikar.


"Gunakan kacamatamu." kata Lahar.


"Sial! Aku tidak mau mati di tempat ini." ucap Wikar.


Mereka semua terkejut saat melihat tiga kelompok pasukan musuh yang jumlahnya puluhan orang. Mereka semua menaiki tiga truk berukuran besar, dengan M249 diatas truk itu. Jumlah mereka sangat tidak seimbang dengan Lahar dan pasukannya yang hanya berjumlah tiga orang.


Jumlah peluru mereka juga tidak sepadan dengan jumlah musuh yang akan mereka hadapi. Apalagi dengan persenjataan lengkap. Mereka bukan hanya membawa senjata biasa, tapi senjata kelas berat. Beberapa dari mereka juga menggunakan RPG. Mereka hanya bisa menunggu sampai musuh melewati jebakan yang telah mereka siapkan.


Tapi sebelum truk-truk itu sampai pada gari jebakan, komandan mereka memerintahkan semuanya untuk turun dan menyebar ke seluruh tempat. Dan jumlah mereka ternyata jauh lebih banyak dari yang mereka lihat sebelumnya. Sepertinya mereka menggabungkan pasukan yang sudah berada di sekitar tempat ini.


Karena ada beberapa penjahat yang memang sengaja ditempatkan di sekita wilayah ini, untuk memastikan Lahar dan pasukannya tidak bisa pergi kemana-mana.

__ADS_1


"Apa yang akan kita lakukan Letnan?" tanya Wikar.


"Apa boleh buat. Kita harus menyerang mereka. Berapa granat yang kalian miliki?" tanya Lahar.


"Aku membawa sepuluh granat." jawab Wikar sembari menunjukkan granat-granat itu yang terpasang pada tubuhnya.


"Oh yang benar saja Wikar. Itu sangat beresiko jika dibawa seperti itu." kata Lahar dengan nada kesal.


Karena jika Wikar sampai tertembak, maka semua granat yang ada di tubuhnya juga akan meledak bersama dirinya. Satu granat saja sudah mampu merusak sebuah truk. Apalagi jika granat itu meledak bersamanya.


"Ya sudahlah. Loah, berapa granat yang tersisa?" tanya Lahar pada Loah.


"Aku hanya memilki dua granat." jawab Loah.


"Berarti jumlah granat ada tiga belas, karena aku hanya memegang satu granat. Dan granat yang Ambar bawa sudah digunakan untuk membuat jebakan. Sekarang bagi granatmu Wikar. Masing masing dari kalian memegang empat. Dan aku akan memegang satu granat untuk situasi darurat." ucap Lahar pada mereka bertiga.


"Siap Letnan!" jawab mereka.





Saat salah seorang memasuki rumah yang digunakan oleh **Lahar** sebelumnya, mereka secara tidak sengaja menginjak sebuah tali kecil yang disiapkan oleh Lahar disana. Sehingga memicu kunci granat terlepas, hingga membuat ledakan besar di rumah itu.



Belum lagi dengan tabung gas yang ditaruh oleh **Ambar** di dekat pintu masuk rumah itu. Ledakan itu berhasil menewaskan lima orang. Dan membuat yang lainnya terpancing untuk menuju ke rumah itu. Mereka melihat ke kanan dan kiri mereka, mencoba mencari keberadaan **Lahar** dan pasukannya.



Saat salah seorang dari mereka menyadari kalau ada jebakan di bawah tanah, mereka seketika melompat untuk mengindari ledakkan dari rantai granat dan juga jebakan kayu yang telah dipasang. Tapi sayangnya, tak banyak dari mereka yang selamat. Seketika itu pula, mereka menembak ke segala arah.


__ADS_1


Yang membuat **Loah** tertembak di bagian lengannya. Teriakan Loah terdengar oleh komandan pasukan mereka, dan tanpa ampun mereka langsung menyerang **Lahar** dan pasukannya.



**Lahar** dan teman-temannya berusaha melakukan perlawanan kepada mereka. Tapi tetap saja, jumlah yang menjadi masalah di pertempuran kali ini. Namun mereka tetap berusaha sekuat tenaga melawan mereka. Sekarang senjata **M21** mereka tak terlalu dibutuhkan.



Karena **Wikar**, **Loah**, dan **Lahar** menggunakan senjata **AK-47** yang mereka ambil dari musuh untuk membalas serangan. Sedangkan **Ambar** tetap menggunakan **M21** untuk menembak musuh yang menggunakan senjata **M249** dan juga **RPG**.



Desingan peluru terdengar begitu menggelegar di tempat itu. Suara ledakan juga tidak kalah dengan butiran peluru yang terus menghujani **Lahar** dan pasukannya. Mereka begitu kewalahan karena kalah jumlah dan kalah persenjataan.



Untunglah, saat semua kekacauan itu terjadi, bantuan pasukan dari markas datang untuk membantu mereka. Semua itu sama sekali tidak disangka-sangka oleh **Lahar** dan yang lainnya. Bahkan mereka heran, karena **Mayor** **Jendral** **Maric** sendiri yang memimpin penyerangan itu.



**Wikar** dan **Lahar** semakin bersemangat untuk melakukan perlawanan. Mereka berdua turun dari atas bukit agar lebih dekat dengan jangkauan musuh. **Ambar** tetap bersama **Loah**, karena luka yang didapat **Loah** cukup parah, sehingga harus cepat diobati.



**Mayor** **Jendral** **Maric** terlihat begitu mengagumkan, karena dia tanpa takut maju ke barisan musuh dan meledakkan dua truk sekaligus hanya menggunakan sebuah korek dan senjata **M16**. Ketepatan menembaknya sungguh luar biasa. Dia masih bisa menembak musuh dari jarak yang jauh dengan satu kali tembakan di kepala.



"*Apa yang kalian lihat*?!" tanya **Mayor** **Jendral** **Maric**.



"*Kami sama sekali tidak menyangka kalau komandan akan datang ke tempat ini*." kata **Lahar**.


__ADS_1


"*Aku tidak gila! Aku tidak akan membiarkan satu pun dari pasukanku mati*!" ucap **Mayor** **Jendral** **Maric** dengan tegas.


__ADS_2