The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 34


__ADS_3

Loah merasa sangat kesulitan membawa Lahar yang saat itu kondisinya sangat lemah. Dia juga khawatir kalau sampai ada orang yang melihat mereka. Loah akhirnya menemukan sebuah ide, yaitu menyembunyikan Lahar di tempat sampah yang besar. Kemudian Loah bergegas mencari Wikar dan Ambar.


"Hey... Aku sudah menemukan Lahar. Tapi jangan beritahu siapa pun. Aku menyembunyikannya di tempat sampah, dan sampah itu akan dibuang setelah isinya penuh. Bagaimanapun caranya, kalian harus bisa mengalihkan perhatian semua orang." kata Loah.


"Apa maksudmu?!" tanya Wikar yang melihat temannya terengah-engah itu.


"Duduklah dan ceritakan pelan-pelan." kata Ambar.


"Begini, aku menemukan Lahar keluar dari sebuah ruangan. Aku tidak tahu itu ruangan apa. Yang jelas, aku belum pernah memasuki ruangan itu." kata Loah.


"Lalu?" tanya Wikar kembali.


"Dia keluar dari ruangan itu dengan bersimbah darah, dan luka disekujur tubuhnya. Lalu dia menceritakan semuanya padaku. Kalau yang melakukan semua itu adalah Mayor Jendral Maric dan para petinggi pasukan. Karena takut ketahuan, aku menyembunyikan Lahar di tempat sampah. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menunggu sampai tempat sampah itu penuh, dan siap untuk dibuang." jelas Loah kepada Wikar dan Ambar.


"Aku sudah menduga ada hal yang tidak beres dengan ruangan itu. Mayor Jendral Maric ada disana hampir setiap waktu. Awalnya aku fikir itu adalah tempat eksekusi yang baru untuk para tawanan. Tapi ternyata, dia menggunakan ruangan itu untuk menyiksa sahabatku. Orang tua itu harus diberi pelajaran." ucap Wikar.


"Sebaiknya kita utamakan Lahar terlebih dahulu, setelah itu baru urus yang lain. Karena sangat tidak mungkin kalau kita menghajar orang tua itu sekarang. Apalagi dengan jumlah pasukan sebanyak ini, kita bisa mati konyol." kata Loah mengingatkan Wikar.


Hati Wikar benar-benar sudah panas. Dia tidak menyangka, kalau selama ini Mayor Jendral Maric yang menyembunyikan Lahar. Padahal sebelumnya Mayor Jendral Maric pernah berjanji untuk selalu melindungi pasukannya. Tapi mendengar semua yang dikatakan oleh Loah, membuat Wikar merasa sangat kecewa. Mayor Jendral Maric telah mengkhianati janjinya sebagai seorang pemimpin.


"Loah benar, Wikar. Kita harus mengutamakan Lahar terlebih dahulu. Setelah itu kita baru susun rencana untuk menuntut balas atas penindasan ini." kata Ambar.


Wikar menatap wajah kedua temannya, lantas dia berlalu meninggalkan mereka. Wikar menuju ke ruangannya, dia mengambil semua senjata dan amunisi yang sudah dia kumpulkan di tempat ini. Dia juga menyiapkan Drone buatannya, lalu mengisi Drone itu dengan amunisi.


Dia melepas pakaiannya, dan menggantinya dengan kaos tipis yang dia simpan di dalam tasnya. Rompi anti peluru, baret, sarung tangan, dan sepatu, dia pakai saat itu juga. Dia juga mengambil beberapa bubuk mesiu dan granat yang juga tersimpan di dalam tas. Lalu Wikar membuat sebuah peledak sederhana.


Wikar sudah paham dengan setiap sudut tempat ini. Dia juga mengetahui tempat penyimpanan minyak dan bahan-bahan yang mudah meledak. Dengan bom kecilnya, Wikar ingin memicu ledakan dahsyat di tempat ini, untuk membuat kepanikan. Saat semua itu terjadi, kesempatan baginya untuk keluar dari tempat ini akan terbuka lebar.




Dengan sisa-sisa tenaganya yang ada, **Lahar** mencoba bertahan dari luka yang kian parah. Darahnya mengucur deras dari pusarnya. Sekuat tenaga dia menahan teriakannya agar tidak terdengar keluar. Apalagi dia harus bertahan dengan sampah yang sekarang menutupi seluruh tubuhnya. Baunya begitu menyengat, dan akibatnya **Lahar** menjadi kesulitan bernafas.



Sudah berjam-jam **Lahar** menunggu kedatangan teman-temannya. Sampai sekarang belum ada bantuan apa pun. **Lahar** mulai pasrah di sisa-sisa hidupnya. Dia merogoh saku celananya, mencoba mencari foto dirinya bersama kakaknya. **Lahar** sudah lupa kalau dia membuang foto itu di depan pintu ruang kerjanya sendiri.



Tapi tak disangka, kalau hal itu justru yang memancing **Lahar** untuk bangkit dari keterpurukannya. Dia marah dan kesal karena beranggapan bahwa fotonya telah dicuri. **Lahar** berusaha mencari benda apa pun yang bisa melubangi tempat sampah itu. **Lahar** berhasil menemukan sebuah kawat kecil di tempat itu, dan dia melubangi tempat sampah itu sedikit demi sedikit.

__ADS_1



Setelah berhasil, **Lahar** mengawasi keadaan dari lubang kecil itu. Dia melihat salah satu anggota pasukan yang menenteng beberapa pucuk senjata. Dengan sekuat tenaga **Lahar** menahan sakitnya, dan dia mencoba bangun agar dia bisa menyerang orang itu dan merebut senjatanya.



"*Hyaaatt*!!!"



**BRuuAkkk**!



Orang itu pun jatuh dengan empat pucuk senjata di tangannya. Seketika orang itu tewas di tempat. Tiba-tiba datang beberapa penjaga yang lain. **Lahar** pun panik, tapi dengan cepat dia mengambil senjata itu. Karena tidak sigap, ketiga penjaga itu pun berhasil ditembak oleh **Lahar**.



**Lahar** berjalan dengan sekuat tenaga. Mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini. Ruangan demi ruangan **Lahar** lewati, dan setiap ruangan memiliki setidaknya empat atau tiga penjaga. **Lahar** melawan sebisanya dengan senjata yang dia bawa. Saat dia tiba di salah satu ruangan, dia melihat ada **Loah** dan **Ambar** yang sedang disekap dan mereka dipukuli oleh beberapa penjaga.



**Lahar** yakin kalau mereka pasti ketahuan saat akan menyelamatkannya. Mereka berdua tidak mungkin bisa melawan, apalagi tanpa satu pun senjata ditangan mereka. Saat **Lahar** sedang memperhatikan mereka dari pintu, tiba-tiba ada seseorang yang membungkam mulutnya dari belakang. **Lahar** berusaha memukul orang itu, tapi orang itu menghindar dan membalikkan tubuh **Lahar**.




"*Wikar*?!" tanya **Lahar** heran melihat temannya yang sudah berpakaian lengkap.



"*Lima orang itu mudah untuk kita lawan, tapi hal itu akan membahayakan teman-teman kita*." kata **Wikar**.



"*Benar. Lalu apa rencanamu*?" tanya **Lahar** padanya.



"*Berapa jumlah pelurumu sekarang*?" tanya **Wikar** kembali.

__ADS_1



"*Aku memiliki dua magazin dan tersisa sepuluh peluru di dalam senjata*." jawab **Lahar** sembari menunjukkan sisa peluru yang ada di tangannya.



"*Baiklah. Rencananya adalah kau harus masuk, setelah mereka sedikit menjauh dari teman kita, aku akan melemparkan granat kejut. Usahakan mereka tetap berada di dekatmu*." kata **Wikar**.



"*Baik aku akan masuk*."



**Lahar** pun masuk ke ruangan itu dengan masih membawa senjatanya. Kelima penjaga itu pun tertawa melihat **Lahar** dalam kondisi yang lemah. Sedangkan **Ambar** dan **Loah** berusaha memperingatkan **Lahar** agar dia cepat keluar dari ruangan itu.



"*Pergi Komandan! Selamatkan dirimu*." teriak **Ambar** pada **Lahar**.



"*Pergilah! Jangan pedulikan kami*!" teriak **Loah**.



Melihat itu adalah kesempatan bagus untuk **Lahar**, dia pun secara perlahan berbalik berusaha menjaga jarak dengan teman-temannya.



"*Lihatlah pasukan terkuat pemerintah ini. Dia sekarang sudah lemah tak berdaya*." mereka berlima pun tertawa melihat **Lahar**.



Salah seorang dari mereka menendang dan memukul wajah **Lahar**.



"*Sekarang*!"


__ADS_1


Dengan cepat Wikar melemparkan granat kejutnya. Saat itu pula Lahar melompat ke arah teman-temannya agar mata mereka bertiga tidak terkena efek granat kejut itu.


__ADS_2