The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 61


__ADS_3

Setelah penyerang malam itu, Wikar semakin gencar melatih para pasukannya, agar mereka lebih sigap dan lebih tanggap dalam situasi sesulit apa pun. Begitu juga dengan Loah, Ambar dan Jason. Mereka bertiga semakin memperkuat pertahanan markas ini, baik keamanan sistem, ataupun keamanan fisik.


Karena para tentara bukan hanya menyerang lewat jalur darat. Namun mereka juga mulai meretas komputer milik Loah, dan hampir saja mengambil semua data-data penting yang ada. Untung saja Loah orang yang sudah sangat berpengalaman, sehingga dia tidak begitu kerepotan menghadapi Tim Cyber para tentara.


"Kita sudah diserang dari berbagai arah. Mereka semakin gencar melakukan penyerangan. Kita harus berlatih lebih keras dari pada sebelumnya. Karena jika tidak, maka bukan hanya kita saja yang mati, tapi rakyat juga akan ikut menanggung akibatnya." ucap Wikar kepada pasukannya.


"Kita adalah pejuang! Kita akan mengambil kembali hak kita sebagai rakyat! Sekarang adalah waktunya kita untuk bersatu! Kita bunuh para tikus yang telah menguasai lumbung kita!" ucap Jason kepada orang-orang yang telah bergabung dengannya.


Jason telah mewanti-wanti, jangan sampai ada rakyat yang terhasut dengan pemerintah. Apalagi saat ini Presiden Jacob mulai menggunakan akal liciknya untuk mempengaruhi rakyat yang sedang berada dalam keterpurukan.


Saat-saat seperti ini, semua orang juga menginginkan tempat tidur yang empuk, makanan yang berlimpah, dan juga hal-hal menyenangkan lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tergoda dengan semua itu. Mereka rela berkhianat demi sebuah pakaian baru.


Mereka sudah tidak lagi memikirkan apa itu kesetiaan. Yang terpenting adalah, mereka bisa hidup nyaman. Walaupun pada akhirnya mereka harus kembali menderita akibat penindasan yang Presiden Jacob. Mereka hanya diberi kesenangan sesaat, agar membuat mereka percaya.


Setelah mereka memberikan apa yang Presiden Jacob inginkan, maka mereka akan kembali di intimidasi. Semua yang dijanjikan oleh pemerintah hanyalah omong kosong belaka. Mereka sama sekali tidak peduli dengan nasib mereka selanjutnya. Mereka akan dibuang, dan dibiarkan mati kelaparan.



"*Wikar, beberapa orang kita kembali menemukan mayat warga. Di tubuh mereka*.."



"*Aku sudah tahu*." kata **Wikar** menyela laporan yang **Loah** berikan.



"*Apa yang harus kita lakukan sekarang? Rakyat sudah mulai tidak tahan dengan situasi seperti ini. Kita harus memberikan pembuktian kepada mereka Wikar*." ucap **Loah**.



"*Aku sudah merencanakan semuanya. Semua yang terjadi di tempat ini adalah bentuk dari rencanaku. Aku sengaja diam saat beberapa orang diam-diam keluar dari tempat ini. Agar aku tahu dan mendapatkan bukti sebanyak mungkin, untuk aku tunjukkan kepada semua orang, bahwa semua yang dikatakan oleh Presiden Jacob dan para tentara hanyalah omong kosong*." jawab **Wikar**.

__ADS_1



"*Tapi akan semakin banyak orang yang berkhianat jika kau tidak melakukan sesuatu Wikar*."



"*Tidak. Tidak akan ada lagi orang yang mau berkhianat, jika kita menunjukkan mayat-mayat itu kepada semua orang*."



"*Apa kau yakin*?"



"*Yah.. tidak ada cara lain selain menunjukkan hal itu kepada mereka. Kalau perlu, kau ambil foto para pengkhianat bersama para tentara*."




"*Berhati-hatilah. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan kepadaku*."



"*Siap Komandan*!"



"Lihatlah bajingan ini." kata salah satu tentara tertawa saat menyiksa salah satu warga sipil yang berkhianat kepada Wikar.


Terlihat beberapa orang tentara yang sedang menyiksa warga sipil di depan teman-temannya. Anak perempuannya juga telah ikut menjadi korban. Salah satu keluarga itu sudah mendapatkan jatah siksaannya masing-masing.

__ADS_1


Para tentara itu dengan senang hati memukul dan menginjak-injaknya tanpa perasaan. Bahkan mereka dengan tega mengencingi dan meludahinya. Mereka semua menganggap hal itu sebuah hiburan. Apalagi saat mereka melihat wajah memelas dari warga sipil itu.


Mereka hanya tertawa dan sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Rasa penyesalan mulai mendatanginya. Dia benar-benar menyesal telah mengkhianati Wikar demi kepentingannya sendiri. Sekarang, dia bukan mendapatkan hadiah yang dijanjikan, dia justru mendapatkan siksaan yang sangat pedih.


Yang lebih menyedihkan lagi adalah, dia harus melihat putri satu-satunya yang masih berusia dua puluh tahun itu digilir oleh para tentara, untuk memuaskan hasrat mereka. Dia hanya bisa menangis dan berteriak meminta tolong, tanpa bisa berbuat apa-apa. Putrinya sendiri pun sudah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


Darah keluar dari hidung dan telinganya. Suara pekikan putrinya membuat dia tidak kuasa melihat apa yang menimpa putrinya itu. Dia mencoba bangun dan melawan, tapi setiap dia bangun, para tentara itu langsung menginjak dan memukulnya. Sehingga dia hanya bisa menangis tersedu-sedu saat mendengar tarikan nafas terakhir dari putrinya itu.


Loah yang dari kejauhan melihat hal itu hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Wikar,


"Ambil mayat mereka sebagai bukti."


Tapi dalam hatinya Loah tidak bisa menerima perintah itu. Entah karena nalurinya yang menolak atau apa, yang jelas jari-jari Loah ingin sekali menarik pelatuk senjatanya dan menembak semua tentara yang ada disana.


"Aku harus melakukan sesuatu. Yah! Aku harus. Eh.. tapi... Ah! Sudahlah!" ucap Loah berusaha meyakinkan dirinya.


"Mati kalian tentara keparat!"


Loah menarik pelatuk senjatanya. Dari jarak begitu jauh, Loah menembak ke enam tentara itu tanpa adanya perlawanan dari mereka. Karena para tentara sama sekali tidak mengetahui dimana lokasi Loah berada. Loah menggunakan senjata snipernya untuk membunuh mereka semua.


Dan untuk kesekian kalinya, para tentara itu pun kalah. Kemudian Loah pun mendatangi orang itu. Loah ingin membawanya kepada Wikar, agar dia bisa menjadi saksi bagi semua orang, kalau semua yang dijanjikan pemerintah hanyalah omong kosong belaka.


"Aku sudah menolongmu, meskipun aku tahu kau adalah seorang pengkhianat. Aku hanya memintamu untuk menjadi saksi di hadapan semua orang, bahwa yang selama ini pemerintah janjikan kepadamu hanyalah sebuah omong kosong." ucap Loah kepada orang itu.


"Lalu bagaimana dengan anak dan istriku?" tanya orang sembari memeluk jasad anaknya.


"Apa kau tidak mendengar Pak Tua? Apa kau belum pernah melihat bagaimana sadisnya seorang Wikar saat melihat pengkhianat sepertimu?! Hah?!"


Loah mencekik leher orang itu, untuk mengancamnya. Karena dia tidak mungkin mampu melawan Loah. Akhirnya dengan terpaksa dia harus kembali menghadap kepada Wikar. Apalagi Loah terus mengancam orang itu, dengan mengatakan kalau Wikar pasti akan menyiksanya dengan cara yang amat sadis, jika sampai dia memberikan keterangan palsu.


"Aku juga akan sangat senang jika Wikar menyuruhku untuk mencincang dagingmu, dan memberikannya kepada gerombolan anjing untuk mereka santap." ancam Loah kepadanya.

__ADS_1


Pria itu pun tak berhenti menangis. Ditambah lagi dengan ancaman-ancaman Loah yang menurutnya menakutkan. Bayangan-bayangan akan kesadisan menyelimuti dirinya. Dia merasakan ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai dia kencing di celananya sendiri.


__ADS_2