The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 24


__ADS_3

Setelah keadaan mulai tenang, para pengawal Presiden itu pun saling bekerja sama untuk menyelamatkan nyawa Presiden. Hanam berusaha mengalihkan perhatian mereka, dengan berpura-pura mencari makanan dan minuman. Dia juga berdalih mencarikan perban untuk digunakan.


Padahal, dia sangat menginginkan kematian Presiden. Penembakan itu ternyata bukan hanya dilakukan oleh para Deathless. Tapi juga telah direncanakan oleh Hanam dan Jendral Lahar. Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan Presiden dengan cara yang telah mereka susun sebelumnya.


Pada intinya, penembakan yang dilakukan oleh Deathless sama sekali tidak mengenai Presiden. Tembakan mereka sebenarnya terhalang oleh sebuah besi, dan membuat besi di kantor kerja Presiden patah. Tapi tidak ada yang menyadari hal itu. Karena dalam waktu yang bersamaan dengan anak buah Jendral Lahar yang berhasil menembak Presiden.


Tidak ada dari mereka yang mencurigai gerak-gerik Hanam, kecuali pasukan Jendral Lahar sendiri. Semua perdebatan dan kepanikan di tempat ini telah diatur dengan sangat teliti. Mereka sengaja tidak langsung membunuh Presiden, agar mereka bisa puas melihat Presiden mati secara perlahan.


Mereka bisa saja menembak semua pengawal Presiden saat ini juga. Tapi mereka kurang menyukai hal itu, karena itu terlalu mudah bagi untuk orang yang kejam. Mereka ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang tempat ini. Karena sebenarnya, dibalik sebuah lemari yang ada di dalam bunker, ada sebuah pintu rahasia menuju lorong.


Itu adalah jalan menuju ruang terakhir penyelamatan jika suatu saat nanti bunker tidak dapat lagi digunakan. Di dalam ruangan itu terdapat banyak sekali persediaan makanan, senjata dan juga amunisi. Bukan hanya itu saja, tapi ada juga tumpukkan emas dan berlian yang terdapat diruangan itu.


Kalau mereka bisa mendapatkan semua itu, maka mereka bisa membagikannya kepada rakyat, dan bisa mengembalikan ekonomi negara ini yang telah hancur.



Waktu kembali kepada **Wikar** dan **Jendral** **Lahar**. Meskipun mereka bertempur dengan sangat ganas di medan perang, tapi mereka tidaklah bermusuhan. Semua perang ini hanyalah rencana **Wikar** dan **Jendral** **Lahar** untuk menghabisi semua tentara yang ada. Karena para tentara sudah tidak diperlukan lagi.



Ketika semua ini berakhir, **Jendral** **Lahar** akan mengangkat semua pasukan **Wikar** menggantikan para tentara. Mereka akan mendapatkan kehormatan atas perjuangan mereka selama ini. Walaupun **Jendral** **Lahar** dan **Wikar** sangatlah berbeda faham, tapi bukan berarti mereka berdua lantas menjadi musuh.


__ADS_1


Justru dengan perbedaan itu, mereka bisa bersatu untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Agar mereka bisa menggantikannya dengan pemimpin yang baru. **Jendral** **Lahar** awalnya setuju kalau suatu saat nanti dia yang menjadi pemimpin negara ini, tapi suatu hari dia menolak. Dia menganggap kalau **Wikar** jauh lebih pantas dari pada dirinya.



Dia siap untuk menjadi **Jendral** untuk **Wikar**. Dia akan melatih seluruh pasukan **Wikar** agar bisa menjadi tentara yang baik dan setia kepada negaranya. **Jendral** **Lahar** menolak menjadi pemimpin karena dia lebih senang berada di lapangan dari pada di dalam ruangan. Dia juga lebih suka melindungi, dari pada harus dilindungi.



Tapi semua ini memerlukan proses yang panjang. Bukan hanya satu atau dua langkah saja. Mereka memerlukan ribuan langkah agar sampai pada puncak keberhasilan. Rencana ini pun sebenarnya sudah disusun dari dulu, hanya saja mereka berdua belum menemukan kesempatan seperti hari ini.



Walaupun **Wikar** harus mengorbankan pasukannya, tapi **Wikar** tetap ingin menjalankan rencana besar ini. Semua pasukannya pun sudah setuju dengan rencana bunuh diri ini. Mereka semua sepakat untuk mengorbankan diri mereka di medan perang. Karena yang mereka hadapi adalah para tentara, bukan **Jendral** **Lahar**.




Mereka juga harus mendapatkan dukungan dari warga sipil. Karena pada saat pertama kali perang ini pecah, masih belum banyak orang yang mempercayai **Wikar**. Mereka semua takut akan terancam kehidupannya oleh para tentara yang mengejar **Wikar** setiap saat. Setiap orang yang menyembunyikan **Wikar** pasti akan dibunuh.



Sehingga mereka harus sangat berhati-hati dalam menjalankan setiap rencana. Setelah pabrik senjata selesai dibangun, dengan cepat **Wikar** mengerahkan semua anggotanya untuk memulai pembuatan senjata untuk dibagikan kepada warga sipil yang mendukung pergerakan **Wikar**. Dan pabrik senjata itu terus mengalami perkembangan.

__ADS_1



Yang awalnya hanya membuat senjata standar, sekarang mereka bisa merancang senjata mereka sendiri. Pada saat itulah pergerakan **Wikar** mulai direspon baik oleh warga sipil. Wikar mendapatkan banyak sekali anggota baru dikelompoknya. Dia membuat semuanya berubah. Sekarang warga sipil pun menjadi ancaman bagi para tentara.



Saat terpecah dan berada dirumah sendiri, mereka memang lemah. Namun saat bergerombol, mereka akan sangat sulit untuk dikalahkan. Apalagi para warga sipil terlatih dengan sendirinya. Karena mereka semua dipaksa dengan keadaan mencekam, sehingga semakin hari mereka semakin terbiasa dengan keadaan semacam itu.



Jendral Lahar berdiam diri di dalam kendaraannya. Dia sangat menikmati pertunjukkan ini. Jiwa psikopatnya mulai meronta-ronta. Dia ingin sekali terjun ke pertempuran dan membantai semua tentara. Tapi itu sangat tidak mungkin dia lakukan, karena semua rencananya bisa ketahuan.


Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk menyerang para tentara dari belakang. Pasukan yang bersamanya di dalam tank sengaja dia perintahkan untuk ikut dalam pertempuran, dan diganti oleh pasukannya sendiri. Dengan begitu Jendral Lahar bisa membantai semua tentara dengan tank yang dia gunakan.


Jendral Lahar menggunakan asap putih untuk memberikan tanda pada Wikar.


"Mundur! Ini bagian Lahar. Kita terima bersih!" perintah Wikar pada pasukannya.


"Siap!"


Wikar dengan cepat mundur bersama seluruh pasukannya. Dengan bantuan Ando dari udara, Jendral Lahar membokong semua tentara yang sedang bertempur. Mereka semua terkejut saat melihat Jendral Lahar menggempur mereka. Jendral Lahar yang seharusnya menjadi tiang utama, justru membuat para tentara itu mati.


Tank yang masih dikuasai oleh para tentara, akhirnya menyerang Jendral Lahar, karena mereka sudah tahu siapa Jendral Lahar sebenarnya. Tetapi, Ando yang sudah hadir diatas kepala mereka tidak tinggal diam begitu saja. Dia ikut menyerang para tentara itu dengan Drone yang dia gunakan.

__ADS_1


Seperti biasanya, para tentara itu kembali mengalami kekalahan. Setelah melihat kematian di depan mata mereka, kebanyakan memilih kabur dan bersembunyi. Tapi hanya beberapa tentara saja yang berhasil selamat. Karena mereka terus menerus dihujani oleh peluru.


Entah sudah berapa ratus tentara yang mati hari ini. Mereka semua tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Mayat mereka pun sudah tidak lagi utuh. Apalagi Jendral Lahar tidak henti-hentinya menembaki mereka semua.


__ADS_2