The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 62


__ADS_3

"Oh.. jadi kau yang kabur dari tempat ini kemarin malam?" tanya Wikar pada pengkhianat itu.


"I..ii...yaa..."


"Baiklah."


Sesuatu yang tak semua orang duga pun terjadi. Wikar dengan cepat mengambil pisaunya, dan menusuk leher orang itu.


"Wikar?!"


Loah dan semua orang yang ada disana pun kaget. Apalagi saat Wikar dengan santainya menggorok leher orang itu sampai putus.


"Kumpulkan semua orang! Aku akan menunjukkan bajingan ini kepada mereka." perintah Wikar pada Loah.


"Baiklah."


Loah lalu pergi menemui Jason untuk membantunya mengumpulkan semua orang. Mereka yang sedang bekerja atau pun beristirahat pun langsung berkumpul, dan menghentikan semua akitivitas mereka. Saat itu, ada dua orang yang berkelakuan mencurigakan disana.


Jason yang melihat berpura-pura tidak tahu. Dia hanya melaporkannya kepada para penjaga untuk mengawasi semua keadaan dengan baik. Jason pun sengaja berbaris di barisan paling belakang, agar dia bisa mengawasi dua orang itu. Karena Jason tahu, sejak awal datang ke tempat ini, mereka sudah bergelagat aneh.


Jason terus memperhatikan mereka. Lama kelamaan mereka mundur secara perlahan. Kemudian mereka mengeluarkan sebuah benda dari kantong mereka masing-masing, entah itu benda apa. Tapi dari yang Jason tahu, itu sejenis alat pelacak atau sebuah kamera kecil yang biasanya digunakan oleh Badan Intelijen.


Jason pun berpura-pura mendekati mereka dan bertanya-tanya soal hal yang tidak penting. Terlihat dengan sangat jelas, mereka menanggapi pertanyaan-pertanyaan konyol dari Jason dengan nada yang tidak senang. Lalu Jason pun mencoba memperingati mereka, dengan bahasa halusnya yang penuh dengan ancaman.


"Apa kalian berdua tahu kenapa sekarang Wikar mengumpulkan kita? Hah? Dia mengumpulkan kita untuk menunjukkan mayat pengkhianat di depan semua orang. Agar tidak ads satu orang pun di tempat ini yang berkhianat kepadanya. Dan jika kalian mau tahu, aku baru saja melihatnya sendiri. Keadaanya begitu buruk. Meskipun aku seorang veteran, tapi aku tidak mau mengorbankan nyawaku untuk hal bodoh semacam itu." ucap Jason pada mereka.


Mereka berdua pun saling pandang satu sama lain. Dan dengan sigap, Jason menggenggam kedua tangan mereka dengan sangat kencang. Mereka pun panik, semua orang menatap ke arah mereka bertiga. Mereka jadi pusat perhatian semua orang.


Para penjaga menodongkan senjata kepada mereka bertiga. Terutama kepada Jason, yang menjadi awal keributan ini.

__ADS_1


"Lepaskan kami!"


"Dasar orang tua sialan!" kata mereka memaki Jason.


"Aku tidak akan diam jika jadi kau Loah." kata Jason dengan menunjukkan kedua tangan mereka yang menggenggam sesuatu.


Loah pun tahu apa yang ada ditangan kedua orang itu, karena dia sangat berpengalaman dalam dunia teknologi.


"Cepat borgol dua orang itu!"


Setelah diborgol, dua orang itu pun diperintahkan untuk berlutut. Mereka berdua dipertontonkan di depan semua orang, sebagai peringatan atas apa yang mereka lakukan.


"Hari ini sahabatku Loah, telah menemukan salah satu dari kita yang bergabung dengan para tentara, dan memberikan berbagai informasi kepada mereka. Tapi sekarang dia telah menjadi mayat. Dan sekarang, dua orang ini pun akan bernasib sama." ucap Wikar kepada mereka semua.


"Aku akan menerima siapa pun yang ingin bergabung dengan kita. Tapi aku juga tidak akan diam begitu saja saat aku tahu ada para pengkhianat di tempat ini. Karena itu bisa membahayakan semua orang. Dan kalian sudah melihat mayat disebelahku ini, dialah orangnya. Sekarang, aku akan meminta pendapat kalian, hukuman apa yang pantas untuk para pengkhianat?"


"Dua orang ini adalah agen rahasia yang dikirim oleh Presiden Jacob untuk mengawasi kita. Buktinya adalah, dua alat ini. Alat ini berperan seperti sebuah kamera, yang digunakan untuk mengawasi keadaan di markas kita. Mereka telah mendapatkan banyak hal. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Jika kalian tidak memutuskannya, biarkan aku sendiri yang akan memberikan hukuman kepada mereka."


Tetap tidak ada yang mau bicara. Mereka sudah pasrahkan semua keputusan kepada Wikar. Dengan bukti yang ada, mereka tidak mungkin menyangkal. Mereka juga takut membuat keputusan sendiri.


"Kami semua menyerahkan segala keputusannya kepadamu Wikar. Kau adalah pemimpin kami." kata Jason pada Wikar.


"Tolong jangan bunuh kami. Kami akan pergi, dan kami berjanji tidak akan membuka mulut." ucap salah satu dari dua agen rahasia itu.


"Aku tidak memiliki pilihan lain. Kalian seharusnya mendukung kami. Kami berjuang untuk negara kami. Presiden Jacob selalu memandang rakyatnya sebelah mata. Dan adanya kalian berdua di tempat ini, sudah cukup untuk membuktikan kalau dia belum menyerah. Namun kami beruntung, karena berkat kalian, kami telah diajari untuk lebih berhati-hati lagi." jawab Wikar.


Saat itulah semua mata melihat sebuah kebenaran dari sebuah dongeng. Lukisan-lukisan di tubuh Wikar bertambah, setelah dia membunuh kedua agen rahasia itu dengan pisau kesayangannya. Semua orang akhirnya percaya sepenuhnya kepada Wikar. Bahwa Wikar dilahirkan untuk sesuatu. Bukan hanya sekedar menjadi pemimpin kelompok kecil ini.


Wikar kembali ke ruangannya dengan penuh kesedihan. Dia terduduk melamun memikirkan yang telah dia lakukan selama ini.

__ADS_1


"Yang Maha Kuasa, apakah Engkau menciptakan aku untuk menjadi seorang pembunuh? Mengapa aku terlahir seperti ini?" ucapnya dalam hati.


Akhirnya, semua orang yang ada di luar kembali dengan aktivitas mereka masing-masing. Sedangkan tiga mayat yang tergeletak dikubur oleh para penjaga. Meskipun Wikar seorang pembunuh, tapi Wikar masih memiliki kebaikan hati. Setiap orang yang mati di wilayahnya, baik itu musuh atau bukan, Wikar tetap menghormati mereka. Dan menguburkan jasad mereka dengan layak.



Hanya selang setengah jam dari kejadian itu, **Presiden Jacob** mendapat laporan bahwa dua agen rahasianya telah dibunuh oleh **Wikar**. Dan foto mayat mereka disebarkan ke beberapa tempat, untuk mengancam para tentara yang suka berlalu lalang di wilayah kekuasaan **Wikar**.



Walaupun itu hanya sebuah foto, tetapi hal itu sudah berhasil membuat para tentara khawatir. Mereka menjadi takut untuk melalukan operasi di wilayah kekuasaan **Wikar** dan kelompoknya. Karena para tentara berfikir, bahwa yang sudah ahli dalam penyamaran saja bisa ketahuan, apalagi yang hanya sekedar tentara biasa.



Para tentara itu tak lebih dari sekelompok penakut yang hanya berani kepada orang-orang yang lemah. Mereka semua tidak berani berhadapan dengan lawan yang sepadan. Meskipun telah mendapatkan pelatihan yang sangat berat, tapi hal itu tidak menjamin para tentara berani mengambil tindakan.



"Dua agen terbaik yang Bapak kirim saja bisa mati, apalagi mereka Pak." kata Hanam kepada Presiden Jacob.


"Seharusnya mereka membunuh Wikar. Bukan hanya sekedar mengawasi keadaan."


"Tapi Pak..."


"Diam! Tutup mulutmu Hanam! Itu tidak akan merubah apa pun. Kita kalah karena para tentara terlalu lemah. Mereka bahkan tidak memiliki nyali sedikit pun untuk mengambil tindakan. Yang mereka lalukan hanyalah makan dan tidur!" ucap Presiden Jacob marah.


"Beritahu semuanya kepada Jendral Hidi. Sekarang!" perintah Presiden Jacob kepada Hanam.


"Baik Pak Presiden."

__ADS_1


__ADS_2