
Tidak terlalu jelas apa yang terjadi setelah itu. Yang pasti, Lahar berhasil membawa kedua temannya keluar dengan dijaga oleh Wikar dari belakang. Mereka semua keluar dari ruangan itu dengan masing-masing dari mereka sudah membawa senjata. Mereka saling melindungi satu sama lain. Hal yang paling menakutkan bagi mereka adalah, saat alarm berbunyi.
Mereka berusaha keras untuk tetap bertahan dengan ribuan peluru yang mencoba menembus dan merobek tubuh mereka. Mereka tidak dapat menembak dengan baik. Yang bisa mereka lakukan hanyalah bertahan selama mungkin di tempat itu, sampai keberuntungan hadir diantara mereka.
Mereka diserang dari segala arah. Posisi mereka sangat menyulitkan mereka untuk bergerak. Apalagi dengan jumlah peluru yang mulai menipis. Sedangkan mereka tidak akan tahu kapan semua pasukan Mayor Jendral Maric akan habis. Sampai pada akhirnya Wikar memerintahkan Ambar untuk memasukkan Lahar ke ruangan dimana Ambar dan Loah disekap, untuk mengobati Lahar terlebih dahulu.
Loah dan Wikar akan berusaha menghambat pasukan Mayor Jendral Maric yang jumlahnya semakin banyak. Wikar kembali melemparkan granat kejutnya, dan cara itu cukup membantu meskipun tidak membuat semuanya selesai begitu saja. Dan tak disangka-sangka, saat Ambar sedang mencari obat untuk mengobati Lahar, dia melihat ada sebuah pintu rahasia di ruangan itu.
Saat itu juga Ambar baru sadar, kalau ini adalah ruangan untuk para eksekutor biasa berkumpul dan beristirahat. Di dalam ruangan itu juga terlihat banyak sekali senjata dan peluru yang bisa mereka gunakan. Jalan rahasia itu digunakan oleh para eksekutor saat ingin menyergap para tawanan yang mencoba kabur dari tempat ini. Dan jalan itu menuju ke sebuah ruangan lain, yaitu kantor utama milik Mayor Jendral Maric.
"Kau susul Ambar dan Lahar, aku akan menahan mereka sebisaku." perintah Wikar pada Loah.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!" jawab Loah.
"Kalau kita mati, maka teman juga akan mati." ucap Wikar.
Loah akhirnya menuruti perintah Wikar. Dia bergegas mengambil beberapa amunisi dan juga granat, lalu menyusul Lahar dan Ambar yang sudah masuk lebih dahulu.
Karena tidak ingin teman-temannya mati, Wikar dengan tekadnya yang kuat, harus menghadapi lawan yang sama sekali tidak seimbang dengan dirinya. Meskipun sedikit kewalahan, tapi rencana Wikar berjalan dengan sangat baik. Setelah dia masuk ke ruangan itu, Wikar pun mengaktifkan bom waktunya yang sudah terpasang di sebuah tabung minyak yang besar.
Sehingga tak lama kemudian ledakan dahsyat menghancurkan sebagian besar markas itu. Api menjilat-jilat di semua tempat. Semua orang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Akibat dari ledakan itu, Wikar tak sadarkan diri. Efek ledakan itu begitu dahsyat. Wikar salah satu orang yang mendapatkan efek terbanyak dari ledakan tersebut.
Hal itu membuat kedua mata Wikar tidak berfungsi dengan baik. Sekuat tenaga Wikar bangkit, sembari menahan sakit pada kedua bola matanya. Tak disangka, kalau banyak sekali puluhan mayat yang berserakan di tempat itu. Ada beberapa dari mereka yang masih hidup. Wikar mengambil kesempatan itu dengan menembak mereka semua satu persatu.
Setelah sedikit tenang, Wikar pun menyusul ketiga temannya.
"*Kenapa semua ini bisa terjadi?! ini sangat memalukan*!" ucap **Mayor** **Jendral** **Maric** dengan nada marah.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa hal kecil yang dilakukan oleh **Lahar** dan teman-temannya mampu membuat sebagian pasukannya mati. Sekarang tersisa hanya beberapa orang saja dari sekian banyak pasukannya. Itupun anggota biasa yang belum memiliki kemampuan dalam pertempuran semacam ini. Apalagi penyerangan ini seperti sebuah keberuntungan, bukan sesuatu yang direncanakan.
"*Mohon maaf Jendral. Para Don juga ditemukan sudah tewas. Kami juga tidak menemukan Lahar beserta ketiga pasukannya. Mereka pasti telah berhasil melarikan diri. Semua kamera pengawas juga mengalami kerusakan. Kita tidak bisa mengetahui secara pasti dimana keberadaan mereka*." kata salah seorang dari mereka.
"*Kita bisa membunuh mereka semua, dengan meledakkan tempat ini secara keseluruhan. Mereka semua tidak akan selamat*." kata **Mayor** **Jendral** **Maric** sembari pergi keruanganya, dengan dikawal oleh pasukannya yang masih tersisa.
"*Ruanganku dibuat untuk tahan terhadap ledakkan nuklir. Dan ledakkan dari bom yang aku buat sama sekali tidak akan berefek apa pun terhadap ruangan itu*." lanjutnya.
Namun dalam situasi seperti ini, **Mayor** **Jendral** **Maric** sama sekali tidak membaca situasi dengan baik. Dia tidak tahu, kalau ruangan itu telah diretas oleh **Ambar** dan **Loah** saat mereka sudah sampai kesana. Jadi, **Mayor** **Jendral** **Maric** sekarang sudah tidak bisa lagi membuka ruangan itu, sekalipun menggunakan sandi cadangan.
"*Hanya Jendral seorang yang mengetahui sandinya. Karena tidak ada satupun dari kami yang pernah memasuki ruangan ini*." jawab salah seorang dari mereka.
Saat itu **Mayor** **Jendral** **Maric** baru menyadari, bahwa dia dan pasukannya telah dijebak. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan **Lahar** dan pasukannya dengan baik. Sehingga dia tidak tahu kalau mereka adalah orang-orang yang jenius. Dia terkulai lemas saat menyadari semua yang telah dia perbuat. Dia menangis tersedu-sedu. Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika **Lahar** mengaktifkan bom buatannya itu.
Ledakannya jauh lebih mengerikan dari pada bom yang dipasang **Wikar** beberapa menit yang lalu. Setiap orang yang terkena ledakannya tidak akan langsung mati. Karena bom itu adalah senjata biologi yang bahkan mampu membunuh ribuan populasi jika bom itu sampai keluar dari area markas ini. Apalagi sebagian besar bangunan tempat ini sudah hancur.
__ADS_1
**Mayor** **Jendral** **Maric** memanggil-manggil nama **Lahar** dengan memohon agar dia tidak menyentuh tombol pemicunya. Namun **Lahar** sudah tidak peduli dengan semua itu. Dia sudah tidak sabar untuk menonton tikus tua itu mati menggelepar dihadapannya.
"*Lahar! Tunggu! Aku mohon jangan sentuh tombol itu*." **Wikar** datang dan mencegah **Lahar** agar dia tidak menyentuh tombol pemicunya.
"*Apa yang kau lakukan?! Apa kau ingin tikus tua itu*?!"
"*Tidak! Bukan begitu maksudku! Tapi jika kau mengaktifkan tombolnya, maka semua populasi di tempat ini akan mati. Itu senjata biologi Lahar*!" jelas **Wikar** pada **Lahar**.
**Ambar** dan **Loah** pun berusaha mencegah **Lahar**, tapi **Lahar** tetap saja bersikeras untuk mengaktifkan tombolnya.
"*Dengar Komandan! Kita masih bisa membunuh orang tua itu dengan cara lain*!" kata **Loah** berusaha mencegahnya.
"*Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada semua orang! Lagi pula aku sudah muak dengan semua perang ini! Aku ingin mati! Dan aku juga menginginkan kalian agar ikut bersamaku*!" ucap **Lahar** dengan senyum jahatnya.
"Tidak!" Wikar berteriak saat Lahar menyentuh tombol itu.
Suasana seketika hening, dan beberapa detik kemudian terjadilah sebuah getaran hebat di tempat itu. Saat itulah harapan telah pupus. **Wikar**, **Ambar** dan **Loah** hanya bisa terduduk lesu di tempat itu. Dia tidak menyangka kalau **Lahar** memiliki pemikiran sejahat ini. Demi kepuasannya sendiri, dia tega membunuh ratusan nyawa.
__ADS_1